Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?
Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 12
Gerimis malam di Distrik Barat turun semakin rapat, membasahi jubah rami Qin Mu dan menyamarkan deru napasnya. Di balik bayangan tiang penyangga kedai tua yang sudah tutup, mata hitam pemuda itu tidak berkedip, mengunci dua sosok bertopeng di atap seberang Penginapan Kuda Pincang.
Keduanya berjongkok di balik bubungan atap tanah liat. Pakaian abu-abu mereka menyatu sempurna dengan kabut malam. Dari posisi mereka, garis pandang keduanya lurus mengarah ke deretan jendela kayu lantai dua penginapan tempat Gu Shanyin terbaring lemah tanpa daya.
Jantung Qin Mu berdegup kencang, memompa darah panas ke seluruh ototnya yang baru ditempa.
Jika aku masuk lewat pintu depan penginapan untuk memperingatkan Kakek, dua orang itu akan langsung melihatku, pikir Qin Mu cepat. Otaknya memutar skenario dalam hitungan detik. Kakek tidak bisa menggunakan Qi-nya lagi. Jika mereka menyerang dari jendela, Kakek pasti mati.
Ia tidak tahu bagaimana musuh bisa menemukan mereka secepat ini, namun setelah melihat tato tengkorak di leher preman Geng Serigala Besi tadi, Qin Mu yakin jaring musuh sudah menyempit.
Satu-satunya keuntungan yang ia miliki saat ini adalah posisi. Kedua pengintai itu terlalu fokus menatap lantai dua penginapan hingga tidak menyadari bahwa mangsa yang mereka cari berada di punggung mereka.
Qin Mu mundur perlahan ke dalam kegelapan gang tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Ia memutar melalui belakang bangunan tempat kedua pengintai itu bertengger sebuah gudang beras kosong berlantai dua.
Mengandalkan kekuatan cengkeraman jari dan kelenturan tahap Awal Body Tempering, Qin Mu melompat meraih balok kayu penyangga atap. Otot-otot lengannya menegang seperti tali busur, menarik tubuhnya naik meniti talang air bambu yang licin oleh lumut.
Setiap pijakannya di atas genteng basah diatur dengan hati-hati, meniru cara macan tutul gunung mengendap mendekati rusa. Pelajaran berburu selama sepuluh tahun di Pegunungan Qingluo kini berubah menjadi seni mencabut nyawa.
Di ujung bubungan atap, lima langkah di depannya, suara bisikan rendah kedua pengintai itu terdengar samar di sela-sela rintik hujan.
"...aromanya berhenti di lantai dua penginapan kumuh itu," bisik pengintai di sebelah kiri sambil menyimpan sebuah piringan kompas perunggu ke dalam bajunya. "Tidak salah lagi. Dia menyembunyikan lukanya dengan ramuan murahan."
"Bagus. Tuan Muda sudah kehilangan kesabaran," sahut pengintai di sebelah kanan dengan suara dingin. Tangannya meraba tabung sinyal di pinggangnya. "Pastikan orang tua keras kepala di lantai dua itu tidak lolos malam ini. Jika dia melawan, tebas saja lehernya."
Orang tua di lantai dua.
Kalimat itu menghapus sisa keraguan di kepala Qin Mu. Darahnya mendidih, namun ekspresi wajahnya justru membeku sedingin batu nisan.
Tanpa menunggu pengintai itu menarik tali tabung sinyalnya, kedua tangan Qin Mu bergerak menyilang ke punggung bawahnya.
Sring.
Bilah Kembar Taring Hantu keluar dari sarungnya tanpa suara. Kaki Qin Mu menolak genteng di bawahnya, melontarkan tubuhnya menembus tirai hujan bagaikan anak panah hitam.
Pengintai di sebelah kiri baru saja merasakan perubahan tekanan angin di belakang punggungnya ketika bayangan Qin Mu sudah tiba. Sebelum pria itu sempat menoleh, bilah lengkung di tangan kiri Qin Mu menyabet dari belakang, menggorok tenggorokannya hingga menembus tulang leher. Di saat yang bersamaan, bilah di tangan kanan Qin Mu menghunjam lurus ke punggung kiri pria itu, menembus pelindung kulit kerasnya semudah menusuk tahu, langsung mengoyak jantungnya.
Campuran Batu Bintang pada baja lipat ratusan kali buatan Han Tie menunjukkan kengeriannya. Bahkan semburan darah pun tertahan selama satu detik karena sabetan yang terlalu cepat dan tajam.
"Siapa—?!"
Pengintai kedua tersentak kaget melihat rekannya ambruk tanpa sempat menjerit. Namun pria ini bukan preman jalanan seperti Geng Serigala Besi. Refleksnya sangat terlatih. Tubuhnya memancarkan hawa panas tipis seorang praktisi tahap Akhir Body Tempering yang hampir menyentuh ranah Qi Gathering!
Pria itu berguling ke samping, menghindari sabetan susulan Qin Mu, lalu mencabut sebilah golok pendek sambil menendang keras ke arah perut Qin Mu.
Qin Mu menyilangkan kedua bilah kembarnya di depan perut untuk menahan tendangan itu.
BAM!
Kekuatan tendangan pria itu membuat Qin Mu tergeser mundur tiga langkah di atas atap yang licin. Beberapa keping genteng di bawah kakinya pecah berderak. Lengan Qin Mu terasa sedikit kebas.
Dia lebih kuat dan lebih cepat dariku dalam ilmu bela diri, batin Qin Mu tajam. Lawannya memiliki gerakan kuda-kuda militer yang rapi, sedangkan Qin Mu hanya mengandalkan insting hutan dan kebrutalan fisik dari Sutra Penempaan Tulang Kehampaan.
"Bocah ingusan dari mana yang berani mencampuri urusan kami?!" geram pengintai itu, matanya memerah melihat mayat rekannya. Ia tidak berani berteriak keras agar tidak membuat target di dalam penginapan kabur, namun golok pendeknya langsung berkelebat ganas, mengincar leher, dada, dan pergelangan tangan Qin Mu dalam tiga tebasan beruntun.
Trang! Trang!
Bunga api memercik di tengah hujan malam. Qin Mu dipaksa mundur selangkah demi selangkah hingga tumitnya menyentuh tepi atap. Teknik golok pria itu terlalu rapat. Satu sabetan golok berhasil merobek bahu kiri Qin Mu, mengalirkan darah hangat.
Pengintai itu menyeringai di balik topengnya, mengira pemuda di depannya sudah terpojok. Ia melangkah maju, menusukkan goloknya lurus ke dada Qin Mu dengan seluruh berat tubuhnya.
Namun di mata Qin Mu, tusukan lurus yang penuh percaya diri itu justru memperlihatkan celah yang sama seperti saat Serigala Bayangan menerkamnya di hutan.
Alih-alih menghindar, Qin Mu sengaja memiringkan tubuhnya sedikit ke kiri.
Jleb!
Ia membiarkan sisi tumpul golok itu menggores rusuk kanannya hingga berdarah, mengorbankan dagingnya sendiri untuk mengunci posisi lawan! Sebelum pengintai itu sempat menarik kembali goloknya, tangan kiri Qin Mu mengayunkan bilah Taring Hantu dari atas, menjepit bilah golok lawan dengan lekukan tajam senjatanya.
Mata pengintai itu membelalak saat senjatanya terkunci.
Detik berikutnya, tangan kanan Qin Mu melesat maju dari bawah. Bilah kembar keduanya menancap tepat di bawah dagu pengintai itu, menembus tengkoraknya.
Tubuh pengintai itu menegang kaku, matanya melotot tak percaya. Qin Mu mendorong tubuh pria itu hingga rebah di atas genteng dengan napas memburu, menahan suara erangan dari luka di rusuk dan bahunya sendiri.
Dengan tangan berlumuran darah, Qin Mu merobek topeng dan kerah baju pengintai yang sedang sekarat itu, mencari tato tengkorak merah di dadanya.
"Katakan... berapa banyak lagi anjing Sekte Bayangan Darah yang mengepung tempat ini?!" desis Qin Mu dingin di dekat telinga pria itu.
Darah menyembur dari mulut pengintai itu. Dengan sisa kesadaran terakhirnya, mata pria itu menatap Qin Mu seolah sedang melihat orang gila.
"Bayangan... Darah...?" bisik pria itu terbata-bata. "Bocah... gila... kami pengawal... Klan Wei..."
Jantung Qin Mu mencelos.
Pandangannya turun ke dada pria itu. Tidak ada tato tengkorak bertaring di sana. Sebagai gantinya, dari balik saku pakaian dalam yang robek, terjatuh sebuah lencana perunggu berlambang timbangan emas dan pedang bersilang lambang resmi Paviliun Dagang Keluarga Wei, salah satu klan pejabat paling berkuasa di Kota Linlang.
Bukan Sekte Bayangan Darah? Pikiran Qin Mu membeku. Lalu siapa orang tua di lantai dua yang mereka maksud?
Kriet!
Suara derit jendela kayu dari lantai dua Penginapan Kuda Pincang memecah keheningan malam.
Bukan jendela kamar Gu Shanyin yang terbuka, melainkan jendela kamar tepat di sebelahnya hanya berjarak dua langkah dari tempat Gu Shanyin tidur.
Seorang kakek kurus kering dengan rambut acak-acakan seperti sarang burung dan jari-jari yang menguning karena noda tanaman obat menjulurkan kepalanya keluar. Di tangannya terdapat sebuah tungku perunggu kecil yang masih mengeluarkan asap obat beraroma aneh.
Di saat yang bersamaan, jendela kamar di sebelahnya ikut terbuka sedikit. Wajah pucat Gu Shanyin muncul dari balik celah, menatap lurus ke arah Qin Mu yang berdiri di atap seberang dengan pakaian bersimbah darah dan sepasang bilah hitam di tangan.
Hening menyelimuti mereka bertiga selama satu tarikan napas. Qin Mu menyadari dengan ngeri bahwa ia baru saja salah membaca situasi secara fatal.
Sebelum Qin Mu sempat bergerak untuk menyembunyikan mayat-mayat itu, jari tangan pengintai Klan Wei yang baru saja mengembuskan napas terakhirnya terkulai lemas di tepi atap. Sebuah bola giok kecil terlepas dari genggamannya yang terbuka, menggelinding jatuh dari genteng, dan menghantam batu jalanan di bawah.
PRANG! NGIIIIING!
Bola giok itu pecah, melepaskan suar cahaya biru terang yang melesat tinggi ke langit malam Distrik Barat, disertai suara lengkingan tajam yang memekakkan telinga dan membangunkan seluruh lorong jalanan!
Kakek kurus berambut sarang burung di jendela seberang itu langsung melotot, raut wajahnya berubah pucat sebelum akhirnya memaki dengan suara cempreng yang melengking, "Sialan! Bocah tengik gila dari mana yang membunuh anjing-anjing pelacak Wei Canglan tepat di depan jendelaku?! Sekarang seluruh pasukan garnisun Distrik Barat akan mengepung tempat ini!"
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️