Sebagai anak dari selir rendahan, Xiu Ying Nona Ke-9 dari Kediaman Utama selalu hidup tertindas, pasrah, dan dianggap sebagai "sampah" oleh ayah serta saudara-saudaranya. Namun, sebuah insiden di kolam teratai mengubah segalanya. Xiu Ying yang terperosok ke dalam air dingin bangkit sebagai sosok yang sama sekali baru: dingin, cerdik, dan tak lagi sudi diinjak-injak.
Guna menyingkirkan Xiu Ying yang mulai sulit dikendalikan dan demi menyelamatkan putri-putri kesayangannya dari pernikahan politik yang merugikan, sang ayah dengan tega menikahkan Xiu Ying dengan Zhen Yu—Pangeran Ke-7 yang dituduh "idiot" dan kerap dijadikan bahan tertawaan di seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31
Salju tipis kembali turun menyelimuti pelataran Istana Utama. Dahan-dahan pohon plum yang membeku menampung gumpalan es, menciptakan pemandangan indah namun menyimpan dingin yang menembus tulang.
Di lorong batu Taman Salju, Xiu Ying melangkah anggun dibalut jubah bulu serigala putih berlapis kain sutra marun—pakaian keagungan resmi seorang Putri Dermawan Agung. Di sampingnya, Pangeran Zhen Yu mengenakan jubah biru mewahnya, menggenggam erat jemari halus Xiu Ying. Pria gagah itu melangkah tegap sambil sesekali memiringkan kepalanya, berpura-pura menatap kepingan salju yang jatuh di telapak tangannya dengan raut polos yang menggemaskan.
"Kakak Cantik, saljunya dingin tapi tangan Kakak Cantik hangat sekali!" celoteh Zhen Yu riang, memiringkan tubuhnya dan menyandarkan pipinya sebentar di bahu Xiu Ying dengan kemesraan yang amat alami.
Xiu Ying terkekeh lembut, membelai pipi suaminya dengan penuh kehangatan. "Kalau begitu, pegang yang erat, jangan sampai dilepas."
Namun, suasana hangat itu seketika terhenti ketika dari arah belokan lorong batu, tampak sesosok wanita berjalan amat lesu didampingi seorang dayang tua.
Wanita itu adalah Xiu Mei.
Kondisinya kini sungguh mengenaskan. Perutnya sudah membuncit besar menandakan kehamilannya yang makin tua. Pakaian yang dikenakannya hanyalah gaun selir pudar berukuran longgar tanpa ada hiasan emas atau perhiasan mewah. Wajahnya yang dulu sangat cantik kini pucat pasi, matanya cekung dengan lingkaran hitam pekat, memancarkan keputusasaan dan penderitaan batin yang teramat sangat.
Saat mata Xiu Mei bertabrakan dengan pandangan Xiu Ying, langkah kakinya terhenti seketika.
Pandangan Xiu Mei bergetar tajam saat melihat betapa anggun, terhormat, dan bersinar tiri adiknya itu. Ditambah lagi, pemandangan Zhen Yu yang merangkul pinggang Xiu Ying dengan pendar pemujaan dan perlindungan mutlak, membuat dada Xiu Mei seketika bergemuruh dihantam gelombang cemburu dan amarah yang luar biasa.
"Xiu... Ying..." desis Xiu Mei parau, tangannya gemetaran meremas gaun kusam di perut besarnya.
Xiu Ying menghentikan langkahnya, berdiri tegap memandangnya dengan aura dingin dan ketenangan yang tak tergoyahkan.
Xiu Mei melangkah maju dengan terengah-engah, mendorong dayangnya yang mencoba menahannya. Air mata kemarahan menetes deras membasahi pipinya yang tirus.
"Mengapa?!" jerit Xiu Mei histeris, suaranya gemetar menahan tangis yang meluap. "Mengapa kau bisa berdiri sangat tinggi di tempat ini?! Mengapa kau menikmati semua penghormatan, kemewahan, dan kasih sayang dari suamimu... sementara aku?! Lihatlah aku, Xiu Ying!"
Xiu Mei menunjuk perut besarnya dengan tangan gemetaran, meraung penuh ratapan:
"Aku sedang mengandung anak dari Putra Mahkota! Anak ini adalah darah daging Kekaisaran! Tapi Pangeran Ke-4 bahkan tidak sudi menatap wajahku! Dia mengurungku di Halaman Belakang yang dingin bagaikan tempat sampah! Ini semua gara-gara kau, Xiu Ying! Kau yang telah merebut semua kebahagiaanku! Kau yang menghancurkan hidupku!"
Xiu Ying menatap Xiu Mei tanpa ada sedikit pun rasa kasihan di matanya. Wajah cantiknya amat tenang saat ia melangkah satu garis mendekat, suaranya jernih nan dingin menusuk tulang:
"Menghancurkan hidupmu, Kakak Ketiga?" pangkas Xiu Ying datar. "Apakah kau lupa siapa yang pertama kali menyusun jebakan racun di Halaman Barat untuk menyingkirkanku? Apakah kau lupa siapa yang memamerkan cincin pertunangan dan menginjak-injak kehormatanku saat aku dibuang ke Istana Zhen?"
Xiu Mei tercekat, napasnya memburu.
"Bukan aku yang menghancurkan hidupmu, Xiu Mei," lanjut Xiu Ying dengan dominasi murni seorang penguasa. "Keserakahan, kesombongan, dan kelicikanmu sendirilah yang telah menuntunmu ke halaman belakang yang dingin itu. Kau menuai setiap benih racun yang kau tanam sendiri di masa lalu."
"Kau—!" Xiu Mei mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya hampir merobek kulit.
Tiba-tiba, Zhen Yu yang berdiri di samping Xiu Ying maju satu langkah. Pria itu memiringkan kepalanya, memutar-mutar sebuah kelereng kayu di tangannya, lalu menatap Xiu Mei dengan raut wajah sangat polos dan bingung.
"Kakak Cantik..." cicit Zhen Yu dengan suara tinggi kekanak-kanakan yang nyaring. "Kenapa Bibi yang perutnya besar ini marah-marah terus? Padahal dulu Bibi ini bilang ke Yu-er, kalau sudah jadi istri Pangeran Ke-4 pasti bakal tinggal di istana emas yang banyak makanan mewahnya! Tapi kok... baju Bibi kusam sekali seperti baju pengasuh kuda di Istana Zhen ya?"
BUM!
Kata-kata keluguan polos yang keluar dari mulut Zhen Yu bagaikan sembilu tajam yang menghujam langsung ke dalam jantung Xiu Mei!
Wajah Xiu Mei seketika berubah merah padam lalu pucat pasi karena malu dan kehancuran mental yang teramat sangat! Sindiran terselubung dari pria yang selama ini dianggapnya 'idiot' justru menjadi pukulan paling menyakitkan yang menelanjangi kepahitannya.
"Pangeran Ke-7... kau—!" jerit Xiu Mei tertahan.
Zhen Yu justru tertawa polos, menggandeng erat tangan Xiu Ying. "Kakak Cantik, ayo kita pergi! Tempat ini baunya tidak enak, Yu-er takut nanti anak di perut Bibi ini ketularan jahat!"
Xiu Ying menyunggingkan senyum miring yang sangat tipis pada Xiu Mei. "Selamat menikmati hidup barumu di Halaman Belakang, Kakak Ketiga. Jagalah kandunganmu baik-baik... jika kau masih punya waktu."
Xiu Ying dan Zhen Yu melangkah pergi menyusuri lorong salju, meninggalkan Xiu Mei yang berdiri mematung di tengah badai es.
Melihat punggung pasangan dari Istana Ke-7 itu menjauh dalam kehangatan dan kemewahan, Xiu Mei mengepalkan tangannya hingga berdarah. Air mata dendam bercucuran di wajah sembapnya. Matanya berkilat dengan kegilaan yang amat pekat.
Tidak... aku tidak akan membiarkanmu menang, Xiu Ying! batin Xiu Mei meraung kejam. Jika aku harus hidup di neraka, maka aku akan memastikan kau dan suamimu idiot itu jatuh dan hancur bersama denganku! Aku harus merencanakan sesuatu... aku harus membuatmu merasakan penderitaan yang sama denganku!
Sementara itu, di dalam Istana Dalam...
Xiu Ying melangkah masuk ke dalam Kediaman Ibu Suri yang hangat dan dipenuhi aroma kayu cendana. Kunjungan ini sebenarnya hanyalah sebuah formalitas dan basa-basi diplomatik untuk memberi salam hormat setibanya mereka dari Wilayah Utara.
Ibu Suri menyambut Xiu Ying dengan senyuman yang teramat hangat. "Xiu Ying, Anakku! Akhirnya kau kembali dengan selamat dari utara! Duduklah di sampingku."
"Hamba memberi salam kepada Ibu Suri. Semoga Ibu Suri dianugerahi kesehatan dan kebahagiaan abadi," tutur Xiu Ying anggun, membungkuk hormat lalu duduk di dekat takhta Ibu Suri.
Sementara Xiu Ying berbincang hangat dan membagikan racikan teh herbal musim dingin kepada Ibu Suri, Zhen Yu yang ikut masuk duduk di sudut ruangan, berpura-pura sibuk membolak-balik buku bergambar dengan raut polos.
Namun, di balik keheningan dan sandiwara keluguannya di Istana Dalam, tatapan mata pekat Zhen Yu diam-diam mengamati setiap detail penjagaan di sekeliling paviliun utama.
Zhen Yu memiliki rencananya sendiri malam ini.
Saat Xiu Ying menjaga perhatian Ibu Suri dan seluruh pengawal istana dalam tetap terfokus pada perbincangan ramah mereka, Jaringan Bayangan Mistik yang berada di bawah komando rahasia Zhen Yu sedang bergerak merayap di balik bayangan atap kekaisaran—menyiapkan panggung terakhir untuk menyerahkan saksi kunci Komandan Meng langsung ke hadapan Kaisar, dan mengeksekusi kejatuhan mutlak Pangeran Ke-4 sebelum fajar tiba.
(Bersambung)