NovelToon NovelToon
Warisan DENDAM

Warisan DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:375
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.

Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.

Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.

Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20 : Malam Ulan tahunnya

Ucapan itu jatuh seperti palu.

Bukan hanya Theodore yang terkejut, Blair ikut terdiam. Untuk sesaat, udara di atas jembatan terasa membeku.

Ekspresi tenang Theodore retak. Alisnya mengerut dalam, rahangnya mengeras. Selama ini, wanita itu selalu mengatakan hal yang sama: putrinya pergi ke luar negeri. Sebuah cerita yang terdengar masuk akal sebelumnya, kini runtuh begitu saja.

Wanita itu terus menunduk. Tangisnya kembali pecah. Kepalanya bersandar pada tangan Theodore yang masih menggenggam jemarinya dengan erat. Tubuhnya gemetar, napasnya tersengal seolah dadanya tak lagi sanggup menahan beban.

“Aku tidak bisa…” suaranya nyaris hancur. “Aku tidak bisa hidup di atas kematian putriku.”

Blair menyipitkan mata. Ada kilatan singkat di tatapannya, sesuatu yang hampir menyerupai penghakiman. Namun sebelum pikiran itu sempat terbentuk sepenuhnya, Theodore berbicara.

Nada suaranya berubah. Tidak lagi dingin. Tidak lagi datar.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya. “Kenapa semua ini berbeda dari yang pernah bibi katakan sebelumnya?”

Wanita itu tidak langsung menjawab. Isaknya justru semakin keras, memecah keheningan jalanan yang sepi. Suara mobil di kejauhan terdengar samar, seolah berasal dari dunia lain.

“Aku...dipaksa,” katanya akhirnya, terputus-putus. “untuk menutupi semuanya.”

Ia menggeleng berulang kali. “Putriku tidak pernah pergi ke luar negeri. Tidak pernah. Semua itu bohong. Aku terpaksa harus mengatakan itu… untuk menutupinya.”

Tangannya mengepal di dada.

“Putriku… sudah tidak ada, nak Theo.”

Sunyi.

Blair menahan napasnya.

“Empat hari,” lanjut wanita itu lirih. “Sudah empat hari yang lalu.”

Theodore tidak menyela. Ia membiarkan wanita itu mengambil waktunya, meski setiap detik terasa berat. Tangannya tetap menggenggam dengan stabil, menahan, seolah menjadi jangkar agar wanita itu tidak kembali tenggelam.

Setelah isaknya sedikit mereda, Theodore menurunkan suaranya.

“Apa yang terjadi pada putri bibi?” tanyanya pelan.

Wanita itu menggeleng, air mata jatuh tanpa henti.

“Aku tidak tahu… aku tidak mengerti semuanya.”

Ia menarik napas dalam-dalam, meski suaranya tetap bergetar.

“Malam itu… malam ulang tahunnya. Dia tidak pulang.”

Matanya kosong, seolah kembali ke malam itu.

“Aku menunggu. Sampai larut. Aku meneleponnya berkali-kali, namun tidak pernah...dia mengangkatnya.”

Bibirnya bergetar. “Lalu aku mencarinya.”

Hening menyelimuti mereka.

“Ke mana-mana,” lanjutnya. “Sampai akhirnya… aku menemukannya.”

Tangisnya tertahan di tenggorokan.

Perlahan, wanita itu mengangkat kepalanya. Matanya yang merah dan basah menatap Theodore penuh luka, penuh permohonan yang tak terucap. Air matanya kembali mengalir di pipinya.

“Theodore…” suaranya nyaris pecah.

“Putriku satu-satunya...”

Ia berhenti sejenak, seolah kata-kata berikutnya terlalu kejam untuk diucapkan.

“…diperkosa.”

Tangisnya pecah sepenuhnya.

“Di gudang terbengkalai.”

Kepala wanita itu kembali tertunduk. Tangisnya pecah, lebih kasar, seolah dadanya diremas dari dalam. Bibirnya tergigit kuat sampai warnanya memucat, menahan suara yang nyaris berubah menjadi jeritan.

Napasnya berat, tersendat-sendat.

Theodore tak menunggu lebih lama. Ia menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya, menahan bahunya yang bergetar hebat. Telapak tangannya mengusap punggung itu perlahan, seakan berusaha menenangkan badai yang tak terlihat.

“Kenapa…?” suara wanita itu pecah. Jemarinya mencengkeram mantel Theodore. “Kenapa semua ini harus terjadi padaku?”

Isaknya semakin tak terkendali.

“Aku cuma punya dia…nak theo” lanjutnya dengan suara nyaris tak terdengar. “dia putriku satu-satunya. Aku jagain dia… aku lindungi dia… setiap hari, setiap saat.”

Ia menggeleng berulang kali, seolah menolak kenyataan itu.

“Kalau semua ini memang harus terjadi…” suaranya meninggi, putus asa. “Biarkan aku saja. Ambil aku. Jangan dia… jangan putriku…”

1
Ibu'e Arfan Call
seru deh bacanya,👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!