NovelToon NovelToon
HALAMAN TERAKHIR

HALAMAN TERAKHIR

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: T.K. OKVIANDI

Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.

Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.

Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.

Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HALAMAN DUA PULUH DELAPAN

Waktu telah menunjukkan siang hari, di mana matahari sedang memancarkan sinarnya yang paling bersinar. Terik panas terasa diluar GOR C-Tra, disana terlihat para peserta dan penonton dari babak final SMAN 2 Bandung Basketball Cup mulai keluar dari dalam secara berkelompok. Terlihat Langit yang masih dalam keadaan diperban kakinya di angkat oleh teman-teman tim basket sambil membawa piala kemenangannya. Sementara Rindu, terlihat berjalan bersama teman-teman cheerleadernya sambil sesekali melakukan foto selfie ataupun wefie dengan piala dan papan bertuliskan 5 juta rupiah yang dibawanya.

Seluruh tim dari SMA Merah Putih tiba ditempat parkir bis, dan tanpa menunggu lama mereka segera naik kedalam bis satu per satu. Langit dan Rindu meletakkan kedua piala kemenangan mereka di dashboard depan bis dan dengan dibantu oleh Rindu, Langit berjalan kearah tempat duduk yang masih kosong. Tanpa sungkan Rindupun duduk disebelah Langit. Selang beberapa menit bis mulai berjalan meninggalkan GOR C-Tra.

Rindu yang duduk dekat jendela terlihat menatap kearah keluar, menatap guyuran hujan yang turun menemani perjalanan pulangnya. Rindu masih merasa bersalah kepada Langit karena atas ulahnya , Langit harus rela tertembak di kaki kanannya. Rindu mulai merasakan perasaan yang aneh timbul dalam dirinya, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya dengan hadirnya Langit dalam hari-harinya, rasa itu hadir bagaikan hujan yang turun dimalam hari disaat semua mata terpejam , dia turun diam-diam agar tak seorang pun bertanya alasan mengapa ia berjatuhan.

Tanpa terasa bis yang ditumpangi SMA Merah Putih telah sampai dipenginapan, seluruh siswa terlihat mulai turun untuk mengambil semua barang-barang mereka dikamar masing-masing untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta. Kecuali , Langit dia menunggu didalam bis karena Ferry yang akan mengambilkan semua barang milik Langit dikamar.

Di depan pintu kamar terlihat Rindu tengah berdiri akan masuk kedalam kamarnya, namun langkahnya terhenti saat dimana untuk sekian kalinya dia melihat secarik kertas bertuliskan namanya tergeletak dibawah pintu kamarnya. Rindu membungkukkan tubuhnya untuk mengambil kertas tersebut, disaat bersamaan pintu kamar terbuka dari arah dalam yang ternyata Allisya sudah sampai lebih dahulu dibandingkan Rindu, dan disaat itu juga terlihat Nila sedang berjalan mendekati Rindu. Tidak ingin mereka berdua mengetahui tentang kertas tersebut, Rindu bergegas menyembunyikannya dan langsung masuk ke dalam kamarnya.

Sambil merapihkan barang-barangnya didalam kamar, Rindu mencoba menyempatkan diri membaca isi tulisan dalam kertas tersebut tanpa diketahui Nila dan Allisya yang sedang merapihkan barang-barang mereka juga. Dibuka lah kertas tersebut, benar saja lagi dan lagi tertulis namanya disana.

"Ketika melupakanmu sama rumitnya dengan melupakan hujan.

Ketika merasa bahagia dan sakit di waktu bersamaan,

merasa yakin dan ragu dalam satu hela nafas,

merasa senang sekaligus cemas secara serempak.

Apakah ini yang disebut jatuh cinta?

Inilah yang kurasakan saat ini

-Rindu SW-"

Rindu membaca tulisan dalam kertas tersebut.

Lagi-lagi muncul pertanyaan tentang siapakah orang yang selalu menyampaikan pesan untuknya melalui kata-kata dalam secarik kertas tanpa pengirim itu dalam benak Rindu. Orang yang benar-benar cinta kepadanya kah? Namun mengapa malu menunjukkan dirinya? Atau hanya orang iseng yang ingin membuatnya merasa terbang dibawa rayuan-rayuannya lagu dipatahkan sayapnya dengan seketika hingga dirinya terjatuhdan hancur tanpa sisa? Entahlah hanya Dia dan Tuhan yang tahu.

Usai sudah akhirnya Rindu merapihkan seluruh barang bawaannya , termasuk seluruh coretan penuh kesan dari seseorang yang belum terpikirkan siapa dirinya itu. Rinud, Allisya, dan Nila terlihat mulai keluar dari kamarnya dan tak lupa untuk mengunci pintu kamar mereka.

Seluruh siswa sudah terlihat berada didepan pintu kamarnya masing-masing dengan membawa barang bawaannya, setelah seluruh siswa mengunci pintu kamar, mereka terlihat berjalan bersama-sama menuju lokasi berkumpul mereka didepan lobby penginapan untuk menyerahkan kunci kamar sebelum berjalan menuju bis untuk meninggalkan kota Bandung dan kembali ke Jakarta.

Seluruh siswa-siswi SMA Merah Putih sudah nampak berkumpul di depan meja resepsionis lobby penginapan. Bu Riri selaku pembina Osis mengkoordinasikan kepada seluruh siswa untuk menyerahkan kunci kamar masing-masing. Terlihat para siswa mulai berbaris memberikan kunci kamar kepada Bu Riri, setelah semua kunci berada ditangan Bu Riri, Bu Riri segera menyerahkan semua kunci tersebut kepada resepsionis penginapan.

Para siswa mulai menaiki bis satu persatu dari pintu depan dan pintu belakang bis. Terlihat Rindu bersama Allisya memasuki bis melalui pintu depan , sedangkan Langit dengan dibantu Ferry melalui pintu belakang. Didalam bis , Langit memilih duduk bersama Ferry di kursi bagian belakang bis. Bis terlihat mulai bergerak meninggalkan penginapan setelah seluruh siswa dan guru naik kedalam bis.

Suasana dijalan cukup lenggang , baru sekitar 20 menit berjalan, didepan sudah terlihat gerbang tol pasteur. Bis akhirnya masuk ke jalan tol tersebut, didalam bis terlihat Langit mengeluarkan laptop dari dalam tas ransel yang diletakkan dibawah kursinya. Langit meletakkan laptop dipangkuannya, dinyalakannya laptop tersebut dan dengan segera Langit membuka file novelnya dan melanjutkan tulisannya.

" ...Usai sudah kebersamaan gue dan DIA di kota kembang ini, walau tim basket gue hanya bisa menjadi runner up, gue tetep bahagia, setidaknya tim ccheerleader DIA bisa menjadi juara. Bahagia gue bisa tetep liat DIA tersenyum terus bersama teman-temannya menikmati kemenangan itu. Mungkin inilah yang dinamakan sebuah pengorbanan dalam cinta. Semoga aja pengorbanan ini bukan hanyalah kesia-siaan semata, kota Bandung telah kami berdua tinggalkan , gue berharap DIA tidak berubah setelah meninggalkan kota ini. Gue berharap DIA tetep menjadi putri embun pagi, embun yang daun lahirkan dan dan menetes saat mentari menampakkan sinarnya. Namun walaupun DIA kelak akan berubah kembali seperti dulu, gue tetep akan menjadi sepi di antara petir dan gemuruh angin yang muncul bergantian. Menemani DIA dalam senyumnya dalam tangis gue..."

Di sela waktu Langit sedang menulis, Ferry terlihat penasaran dengan tulisan Langit tersebut. Berulang kali Ferry meminta untuk melihat sedikit saja tulisan itu sekedar benang merahnya saja, namun dengan tegas Langit menolaknya, Langit tak ingin ada yang mengetahuinya takut jika menyebar hingga 'DIA' tahu dan malu dibuatnya.

Bis telah meninggalkan jalan tol purbalenyi, dan siap memasuki jalan tol Jakarta-Cikampek. Di jalan tol inilah bis baru mengalami ketersendatan dalam melaju, kecepatan hanya sekitar 5 sampai 10 KM per jam , bahkan beberapa kali bis terhenti jalannya. Disaat beberapa siswa terlihat tertidur termasuk Ferry yang duduk disebelah Langit, Langit masih sibuk melanjutkan tulisannya pada laptop diatas pangkuannya. Kemacetan tak urung terurai, membuat mata Langit yang sedari tadi kuat terus menatap layar laptop akhirnya lelah juga, dalam keadaan laptop yang masih menyala Langitpun mulai tertidur hingga laptop mati dengan sendirinya dikarenakan baterai yang sudah habis.

Di kursi bagian depan bis, terlihat Rinsdu yang baru saja terbangun dari tidurnya. Rindu bangun dari posisi duduknya untuk mengambil tas kecil yang diletakkan di bagasi atas kursinya. Sesaat setelah berdiri, Rindu menoleh ke arah Langit, Rindu melihat Langit sedang tertidur dengan laptop masih berada dipangkuannya. Berjalanlah Rindu kearah Langit, dengan pelan-pelan Rindu menutup laptop Langit dan meletakkannya kedalam tas ransel milik Langit dan segera kembali ke kursinya.

Waktu telah menunjukkan pukul setengan 9 malam, bis terlihat sudah mendekati gerbang SMA Merah Putih. Siswa mulai terbangun dari tidurnya satu per satu, termasuk Langit yang langsung terkejut melihat laptopnya sudah tidak ada dipangkuannya. Langit terlihat kebingungan setengah mati mengetahui laptopnya menghilang. Rindu yang melihat Langit kebingungan langsung berjalan menghampiri Langit.

"Nyariin laptop lu ya? Tadi hampir jatuh pas di paha lu, jadi gue masukkin aja ke tas lu, apalagi gue liat laptop lu udah mati, kayaknya sih keabisan baterai" ucap Rindu.

"Oh lu simpen di tas , makasihya, tapi lu shut down kan?" tanya Langit.

"Nggak lah orang laptop lu udah mati" jawab Rindu.

"Untung aja mati, jadi nggak dibaca-baca deh" lega Langit dalam hatinya.

Bis berhenti dengan sempurna didepan SMA Merah Putih. Para siswa mulai merapihkan seluruh barang bawaannya masing-masing dan turun meninggalkan bis tersebut. Terlihat beberapa siswa ada yang dijemput oleh keluarganya, ada yang menunggu kendaraan umum, dan beberapa ada juga yang ke dalam sekolah mengambil sepeda motor yang dititipkan, termasuk Langit.

Walau kakinya masih terluka, Langit berusaha mengendarai sepeda motornya keluar dari sekolah dan menitipkan tas besarnya di pos satpam karena sulit membawanya. Di depan sekolah terlihat Rindu yang kebingungan karena handphonenya mati dan belum ada yang datang menjemputnya. Langit memutuskan mengajak Rindu untuk diantarkan pulang dengan sepeda motornya, Rindu yang dahulu sangat enggan dibonceng Lngit bahkan demi menemani ibunya yang dirawat di rumah sakit, kini langsung menerima ajakkan Langit. Rindu segera naik ke sepeda motor milik Langit tersebut dan tanpa sunggan berpegangan ke pinggang Langit dengan erat. Langit pun memacu sepeda motornya meninggalkan SMA Merah Putih, semakin langit menancap gasnya, semakin erat Rindu berpegangan.

"Mungkinkah bisa dekat dengannya ini adalah buah dari pengorbanan gue? Semoga saja, karena dialah alasan gue ada disini" tanya Langit dalam hatinya.

Sepeda motor Langit terlihat memasuki komplek perumahan Rindu, diatas sepeda motor matik Langit, terlihat Rindu tertidur di pundak Langit dengan tangan yang masih berpegangan di pinggang Langit. Langit menghentikan sepeda motornya tepat didepn sebuah rumah lumayan besar dengan pintu pagar sudah tertutup rapat, maklum waktu sedah hampir menunjukkan pukul 10 malam. Dengan perlahan, Langit berusaha untuk membangunkan Rindu dari tidurnya.

"Rin , bangun udah sampai dirumah lu, Rin bangun" Langit membangunkan Rindu perlahan-lahan.

Rindu terlihat mulai membuka kedua matanya , walau masih nampak jelas diwajahnya rasa kantuk itu masih menyelimutinya. Perlahan Rindu mulai tersadarkan, dia segera turun dari sepeda motornya sambl seekali membersihkan kedua matanya. Rindupun turun dari sepeda motor Langit dan langsung melepaskan helm yang dikenakannya.

"Makasih ya Langit, untung besok dapet libur jadi bisa istirahat deh besok seharian heheheh, kaki luudah nggak kenapa-kenapa? Bisa lu sendirian pulangnya?" ucap Rindu sambil menyerahkan helm kepada Langit.

"Iya sama-sama Rin, tapi besok tetep aja harus ke sekolah gue siang-siangan, kan tas gue sama tongkat tadi gue titipin di pos babeh, insya Allah aman kok Rin, udah nggak kenapa-kenapa kaki gue, paling sakit dikit mah wajar, gue langsung balik ya, salam sama bokap nyokap lu" pamit Langit.

"Ya udah, sekali lagi makasih ya Langit, hati-hati dijalannya, kalau gak kuat atau kaki lu tiba-tiba sakit lu menepi aja, jangan dipaksain ya" ucap Rindu.

Langit membalas semua ucapan Rindu dengan sebuah senyuman penuh ketulusan dan segera menjalankan sepeda motornya meninggalkan Rindu yang masih berdiri didepan pagar rumahnya. Selang beberapa menit Langit meninggalkan Rindu, Rindu segera masuk ke dalam rumanya yang kebetulan pintu pagarnya belum dikunci.

Di sebuah jalan raya , terlihat Langit memacu sepeda motornya semakin cepat semakin menjauhi kediaman Rindu. Dengan wajah penuh kebahagiaan bahkan sesekali Langit terlihat senyum-senyum sendiri diatas sepeda motornya.

"Semoga ini adalah awal dari sebuah perubahan yang baik, Nggak akan ada lagi perselisihan antara gue dengan Rindu disekolah. Sekalipun ada semoga aja hanya sesaat dan nggak berlanjut, karena gue semakin hari semakin merasa inilah alasan gue tetap bertahan dikota ini di sekolah ini, bukan untuk yang lain, cuma Dia" ujar Langit dalam hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!