NovelToon NovelToon
Istri Butaku Direbut Sahabatku

Istri Butaku Direbut Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.

Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.

Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 - Sebuah Permintaan

Tuan Daniel berdiri tepat di hadapan putranya.

Wajahnya terlihat begitu tegas.

Dalam hitungan detik, dua pria berpakaian hitam langsung bergerak menyergap Daffa dari kedua sisi.

Daffa membeku.

"Apa yang Ayah lakukan?"

Belum sempat mendapatkan jawaban, sebuah pukulan menghantam perutnya.

Bugh!

Tubuh Daffa sedikit membungkuk.

"Dasar anak tidak berguna!" Pekik Daniel menggema di lorong rumah sakit yang sunyi.

Daffa mengerang menahan sakit.

Namun belum sempat ia berdiri tegak, suara Rania terdengar dari ujung lorong.

"Ayah!" Rania berlari mendekat. "Tolong hentikan!"

Daniel langsung menoleh.

"Ren." Salah satu pria berpakaian hitam segera bergerak menahan Rania agar tidak mendekat.

"Jangan ikut campur." Tatapan Daniel kembali tertuju pada Daffa. "Ayah sedang mendisiplinkan kakakmu yang satu ini."

Rania menggelengkan kepalanya.

Ia baru menyadari bahwa sosok ayah yang selama ini dikenalnya ternyata memiliki sisi yang sama sekali berbeda.

Dulu, ketika Rania masih menjalani rumah tangga bersama ibunya, Daniel selalu menjadi sosok ayah tiri yang baik dan sopan kepadanya.

Namun pagi ini...

Rania seolah baru mengenal pria itu. "Ayah jahat!"

Daniel terdiam sesaat ketika mendengar ucapan tersebut.

Tangannya masih mencengkeram kerah Daffa. Ia menoleh kepada Rania.

"Ren, bawa putriku pergi." Daniel menghela napas. "Dia sedang hamil. Ayah tidak ingin membuat putriku kelelahan menghadapi sikap kakaknya yang egois ini."

Air mata Rania langsung mengalir.

Ternyata...

Ayahnya justru sedang berpihak kepadanya.

Menyelamatkannya dari sikap Daffa yang selama ini semakin tidak terkendali.

Ren kemudian membawa Rania menjauh. Namun sebelum meninggalkan lorong, Rania menoleh kembali kepada ayahnya.

"Ayah, jangan sakiti Kak Daffa!" Suara Rania bergetar. "Aku akan membenci Ayah jika Ayah melukai Kak Daffa."

Meski Daffa telah memiliki niat buruk terhadap dirinya, Rania tahu satu hal.

Jauh di dalam hati Daffa, pria itu benar-benar menyayanginya.

Hanya saja...

Daffa telah memilih jalan yang salah.

Rania akhirnya berbalik dan melangkah pergi. Ketika mereka sampai di ujung lorong, Ren berkata dengan tenang, "Tuan Daniel tidak akan pernah benar-benar melukai putranya. Percayalah.”

Rania menghentikan langkahnya.

"Namun Tuan Muda Daffa sedang berada dalam masalah besar saat ini." Ren menatapnya. "Jadi, Nona Rania, tenangkan diri Anda. Biarkan Tuan Daniel mengurus Tuan Daffa dan Nona Mona."

Rania menatap Ren dengan cemas. "Ayah sudah tahu mengenai mereka berdua?"

Ren mengangguk. "Ada seseorang yang mengirimkan pesan kepada Tuan Daniel."

Rania terdiam, pasti itu ulah Brian, pikir Rania.

"Karena itulah Tuan Daniel akan membuat keputusan hari ini untuk Tuan Muda Daffa." Ren menarik napas. "Keputusan yang diharapkan dapat membawa kebaikan bagi Tuan Daffa, Nona Mona... dan juga Anda, Nona Rania."

Rania hanya mengangguk pelan. Kemudian ia kembali melangkah.

Di lorong yang sama...

Daffa kembali mendapatkan pukulan dari ayahnya.

Bugh!

"Kau sedang berada dalam masalah besar, Daffa!"

Daniel benar-benar geram melihat kelakuan putranya.

Daffa mengangkat wajahnya. "Aku salah apa, Ayah?" Pukulan tadi bahkan tidak lagi ia pedulikan.

Daniel menatapnya tajam. "Kau tidur dengan wanita lain tadi malam!"

Daffa terdiam.

"Lalu bagaimana dengan Meyra?" Daniel mengepalkan tangannya. "Apa yang harus Ayah katakan kepada keluarga Meyra, hah?"

Daffa justru terkekeh. Dalam benaknya hanya ada satu nama. Brian. Ini pasti ulah Brian.

Daffa kemudian tersenyum miring. "Ayah tenang saja." Ia berdiri dengan susah payah.

“Aku akan menikahi Meyra.” Daffa terkekeh. "Dan Mona juga." Tatapannya menjadi semakin liar. "Dan Rania adalah istri pertamaku."

Daniel menatap putranya dengan tidak percaya. "Kau benar-benar sudah kehilangan akal."

Daffa hanya menyeringai.

Namun kemudian Daniel berkata tegas, "tidak."

Daffa mengernyit.

"Kau hanya akan menikahi Mona, Daffa," ucap sang Ayah.

Tatapan Daffa langsung berubah tajam. "Aku tidak peduli." Ia mengepalkan tangannya. "Aku akan tetap menikahi Rania."

Daniel menghela napas panjang. "Daffa." Suaranya kali ini jauh lebih berat. "Lepaskan adikmu."

Daffa terdiam. Kemudian ia justru menyeringai. Tawa kecil keluar dari bibirnya.

"Adikku?" Daffa mendongakkan wajahnya menatap langit-langit koridor. "Tidak ada yang bisa memisahkan aku dari Rania."

Daniel memejamkan mata sesaat. Ia sudah tahu. Putranya akan memberontak.

"Biarkan Rania memiliki kehidupannya sendiri." Daniel menatap Daffa. "Dan kau... kembalilah menjadi kakaknya."

Daffa tidak menjawab. Ia hanya terus menyeringai.

Daniel akhirnya memberikan perintah. "Ron."

Seorang pria berpakaian hitam yang berdiri di belakang Daffa langsung siaga.

"Kurung dia." Daniel menatap putranya dengan dingin. "Biarkan dia menyadari kesalahannya."

Daffa langsung berbalik. Ia hendak melarikan diri. Namun terlambat.

Ron sudah berada di jalurnya. "Lepaskan!"

Daffa mencoba menghindar. Namun beberapa saat kemudian tubuhnya mulai kehilangan tenaga.

Langkahnya terhenti. Pandangannya tiba-tiba berkunang-kunang, setelah merasakan sebuah tusukan di lehernya mengejutkannya, lalu kakinya tidak lagi mampu menopang tubuhnya.

Brukk! Daffa ambruk ke lantai.

Daniel menghela napas lega. "Untung saja kita sudah bersiap."

Ron tersenyum tipis. "Anda ayah yang sangat perhatian, Tuan." Ron kemudian mengangkat tubuh Daffa.

Daniel hanya diam. Tatapannya mengikuti putranya.

Ada rasa marah. Ada kecewa.

Namun di balik semuanya, ada kekhawatiran seorang ayah.

Maafkan Ayah, Daffa. Daniel menundukkan wajahnya.

Ayah terpaksa akan menikahkanmu dengan Mona.

Jika keluarga Mona mengetahui semuanya, mereka bisa menghancurkan bisnis kita.

Daniel menghela napas.

Namun jika kalian menikah, hubungan kedua keluarga justru akan semakin kuat.

Ia menatap tubuh putranya yang kini tidak sadarkan diri.

Daffa... berjanjilah kepada Ayah. Jadilah kakak yang baik untuk Rania kembali. Dan jagalah Mona.

Daniel mengepalkan tangannya.

Ayah akan memastikan keluarga Mona tidak pernah mengetahui bagaimana sebenarnya semua ini bermula.

Wajah Daniel terlihat semakin muram. "Daffa..." Panggilnya lirih. "Jadilah kebanggaan Ayah sekali ini saja."

Ia menundukkan kepala. "Ayah mohon."

Kemudian Daniel melangkah mengikuti Ron yang telah membawa Daffa menjauh.

Tatapannya jatuh pada punggung putranya "“Kau benar-benar merepotkan, Daffa."

Daniel menghela napas panjang. Namun jauh di dalam hatinya...

Ia hanya berharap keputusan yang akan dibuatnya hari ini mampu menyelamatkan putranya dari kehancuran yang lebih besar.

Dan tanpa Daffa sadari.

Hari ini, hidupnya akan berubah selamanya.

Bersambung...

1
Nisa Nisa
cerita nya seru, baru awal aja udah buat penasaran
Michelle Azahrah
응 anooo ini serius judulnya itu? sarkas bet, tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!