NovelToon NovelToon
Penghuni Loteng Rumah Lawas

Penghuni Loteng Rumah Lawas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kumpulan Cerita Horror / Rumahhantu
Popularitas:290k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”

Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.

Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga nama : 31

Selamat datang Hamima ....

“Kenapa, Hamima? Kok terkejut gitu?” tanya Rosna penuh perhatian.

Guntur langsung memperhatikan raut ibunya yang tampak sedikit pucat. “Ibu baik-baik saja, ‘kan?”

Mima tertegun, lalu matanya mengerjap cepat, barusan dia mendengar suara wanita yang sama persis seperti di kamar bayi, dan juga pernah menyanyi lagu Lingsir wengi.

“Ibu gapapa, Nak, ayo minum teh buatan Bude,” ucapnya meyakinkan sembari mengendurkan otot-otot wajah yang menegang.

Ia pun mulai mencicipi teh bunga Rosella, terasa segar di tenggorokan, perutnya jadi hangat.

“Ini pakai gula batu ya, Rosna?” tanyanya mencairkan suasana sempat hening dan canggung.

“Iya, lebih nikmat menggunakan gula batu,” jawab Rosna, juga menyeruput teh.

“Singkong rebusnya juga dicicipi, selagi masih hangat” simbah menawarkan.

Guntur menatap ibunya, meminta izin terlebih dahulu.

“Kamu belum cuci tangan, lihat ada dakinya.”

Garis telapak tangan Guntur, terdapat kotoran hitam, tadi dia memegang ranting kayu selama perjalanan.

“Sebentar, aku cidukkan air di gentong dulu.” Rosna beranjak, mengambil air di dapur.

Guntur yang memiliki kepekaan tinggi, mengikuti dan membantu membawa tempurung kelapa yang sudah dibentuk menjadi seperti mangkuk.

Sesudah cuci tangan, Guntur pun menyantap singkong rebus dan menyuapi adiknya.

Hamima sendiri tidak mencicipi, dia masih kenyang, namun sekarang kebelet buang air kecil.

“Kamar mandi ada di belakang, mau ku temani tidak?” beritahu Rosna.

“Gak perlu,” rasa mendesak itu tidak bisa ditahan, entah kenapa setelah minum teh tiba-tiba dia ingin kencing.

“Guntur, jaga adikmu, ya. Ibu ke kamar mandi sebentar.” Mima berdiri, berjalan mengikuti arahan Rosna — lewat pintu dapur yang terletak di samping kiri. Ia tidak memakai alas kaki.

Kamar mandinya terpisah dari bangunan rumah. Hamima menuruni tangga, dan dari sini sudah melihat tepas persegi bambu tidak beratap, hanya berjarak sekitar dua meter saja.

Awalnya biasa saja, tidak ada yang aneh. Hamima masuk ke kamar mandi, buang air kecil, dan membilas area pribadinya, lalu mencuci tangan sekaligus membasuh muka. Ternyata air sumur mbah Nar lebih dingin, jernih, segar.

Sesudahnya Mima keluar, terjadi hal yang membuat kakinya mundur pelan-pelan sampai menabrak dinding tepas.

Gendis dimana ya? Ibu cariin kok gak ketemu- temu — ciluk, bbaaa … hahahaha.

Hamima terkesiap, di depannya seperti ada layar putih membentang lebar, besar, menayangkan wanita memiliki suara yang sama persis seperti pernah didengarnya di hunian baru.

Wanita mengenakan rok dari jarik, atasan kebaya kembangan warna hijau semi transparan. Rambut hitamnya disanggul, posisinya membelakangi Mima, sehingga dia tidak bisa melihat rupa mereka.

Kaki yang tadi mundur, seperti didorong sesuatu, bergerak maju. Pelan, selangkah demi selangkah berjalan bukan menuju pintu samping dapur hunian mbah Nar, tetapi berbelok arah menuju belakang.

Jalanan yang dilewati bersih dari sampah dedaunan kering, tak pula ada rumput liar, tanahnya keras sedikit berpasir.

‘Aku mau kembali ke rumah Simbah! Ada anak-anakku disana!’ batin wanita berkeringat pada pelipis itu menjerit, tetapi anggota gerak tak bisa diajak kerja sama.

Ia terus berjalan sampai memasuki area dikelilingi pohon daun berwarna hijau bintik-bintik kuning yang berdiri menjulang bak pagar area pemakaman.

Wangi bunga Kamboja menguar, tercium kuat. Disamping jalan lebar setengah meter, pohon bunga Kemuning tertata rapi — bunganya tengah mekar sampai daun nyaris tak tampak.

Berulang kali Hamima menelan air ludah, matanya terasa pedih dikarenakan terlalu lama terbelalak, sulit mengedip.

🎶 Lingsir wengi

Sepi durung biso nendro

Kagodho mring wewayang

Kang ngreridhu ati

Langkah mantap itu seketika terhenti, dan badan Hamima mengejang lalu melemas.

Heuuheuu ....

Suara rakus menghirup oksigen terdengar bergema bercampur udara dingin menerpa kulit pipi wanita yang terhuyung dengan napas terengah-engah.

Hamima mengepalkan tangan demi menyalurkan rasa takut. Dibawah pohon Kamboja tengah berbunga putih — sosok wanita duduk di bangku panjang. Punggungnya bersandar pada batang pohon, wajah tertunduk, dan kedua kaki berselonjor.

Ia menembangkan lagu ungkapan kerinduan mendalam, suaranya mengoyak jiwa wanita yang terpaku, berdiri berjarak namun tak jauh.

Tulang selangka Mima menonjol ketika dia menarik napas dalam-dalam.

Wajah tertunduk terangkat, dan mereka bertemu tatap. Saling memandang lekat, tak ada yang memalingkan muka.

Bibir pucat Hamima terkatup rapat, air matanya merebak, untuk pertama kali setelah sekian banyak melihat bayangan melintas, suara merdu namun menusuk kalbu, ia dapat melihat wujud seseorang yang biasanya hanya tampak siluet dari belakang.

“Kamu, kamu … wanita di foto itu?” suara Mima bergelombang, ia masih berdiri ditempat, diantara pohon bunga Kemuning.

Senyum tipis tersungging di bibir pucat pasi, lalu sosok anggun, bermata sendu menoleh ke samping.

Hamima juga melihat ke arah yang sama — Akhh!

Badannya mundur menabrak pohon bunga Kemuning, dan bunganya berguguran karena tertekan bobot berat.

Wanita tadi masih disana, memandangi pada tiga tanah gundukan yang pada bagian ujung saling berhadapan tertancap papan terukir sebuah nama.

Angin berhembus sedikit kencang menggoyangkan dedaunan dan menggugurkan beberapa kelopak bunga Kamboja.

Kulit tubuh tak tertutup baju terasa dingin, pori-porinya membesar, Hamima kedinginan, namun kini sudah berdiri tegak meski badannya gemetaran halus.

“Mbak Ayu, bangun Nak, sahabatmu datang, ajak main sana,” ucap wanita tadi suaranya lembut, penuh kasih.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba anak kecil perempuan sedikit lebih besar dari Pujiara sudah muncul di samping ibunya.

Balita perempuan itu memeluk boneka kain sarung — rambutnya lurus sebahu dengan poni diatas alis, mimik wajah tanpa senyum, mata bulatnya menatap tajam pada Hamima.

Pandangan Hamima turun pada gaun mengembang berwarna putih campur lumpur dan warna merah pekat, lalu kaki kotor.

“Ala, ayo main!” ajak suara kecil, dia tidak beranjak, bersandar di kaki ibunya. Mereka sama-sama melihat wajah pucat wanita yang badannya menggigil.

‘Anak itu juga ada dalam foto keluarga, sebenarnya apa yang terjadi pada mereka? Ini nyata kan, bukan mimpi?’ Hamima mencubit kulit lengannya, dan terasa sakit.

“Yang kamu lihat bukan halusinasi, mereka nyata meski bukan lagi raga bernyawa.”

Hamima menoleh cepat sampai leher terasa sakit dikarenakan dia memalingkan muka ke samping hingga bisa melihat belakang.

Mbah Nar berjalan dengan bertelanjang kaki, kedua telapak tangannya berlumuran darah segar, wajahnya juga kecipratan warna merah pekat, begitu juga kemben putih dikenakannya.

“Darah? Guntur, Pujiara?!” ia kesulitan bernapas, diserang rasa panik luar biasa. Kakinya sangat berat saat digerakkan.

“Mbah, aku gak kenal kamu, dan tidak pernah merasa mengganggu hidupmu maupun kalian! Kenapa kami diteror? Anak-anakku yang tidak bersalah dicelakai? Mengapa?!” ia merasa sudah berteriak, tetapi suara yang keluar hanya gumaman.

“Kamu memang tidak bersalah, tetapi suamimu sudah terlanjur bersekutu dengan para manusia biadab itu!” mbah Nar menunjukkan emosi, suaranya meninggi.

Hamima ambruk, terduduk di atas tanah. “Maksudnya? Ada hubungan apa mas Galih dengan semua ini?”

.

.

Bersambung.

1
neni nuraeni
walah kalian mlh ikut2an kena tebas baru tau rasa kalian diksih gertakan segitu juga nyali kalian lngsung mnciut,,,mani hyg nggablog si pea Geneng jg si sarkam,,, ihh greget aing lnjut kak😁
neni nuraeni
yaah pdhl aku nunggu2 loh lanjutannya Candra Kanti,, kak eeh mlh nongol di IG,, aku ga punya IG kak,,,
Shee_👚
mampussss dah gelantungan aja disitu diem😂
Betri Betmawati
para warga ini gampang sekali di hasut mending kalian pulang dari pada mati sia2
Shee_👚
lagian ngapain ikut-ikutan si gendeng, dah pasti gak bener
Shee_👚
kalau aku dah pulang aja dari pada harus liat yang begitu🤣
Shee_👚
dah bubar pulang aja, biarian aja para bedebah mati di situ. kalian jangn ikutan pulang sana🤭
Shee_👚
harus yang ngomong begitu yang di adili, gedek banget sama mulut lemes sarkam😤
Shee_👚
pasti bi, tenang aja mereka bakalan kena kurma nanti
Shee_👚
gendeng pinter hanya mulut doang berkoar sama menghasut sono sini, kita liat sesakit apa kamu kalau udah berhadapan sama mbah nar😏
sryharty
sakti mandraguna konon,,nanti sekalinya Mbah nar keluar langsung modyar kamu gendeng
Eli Rahma
yang diadili itu harusnya kamu sarkam..sudah tak terhitung kejahatan yg kamu lakukan selama ini
Eli Rahma
pinter main drama nih si dukun gendeng..
!m_mah
tayang di sini tak ini nanti, sayang betul lah tak ada ige🤧
Nining Nurjanah
Thor kalau bisa tamatnya jangan di paksakan, mengalir aja aku mau hamima bahagia, desita bahagi, rosna bahagia🙏🙏
Bundanyafatiyah
Aduh serem jangan sampai mbh Nar dan cs
kenapa2 deh semoga saja warga cepat sadar bahwa sudah mengikuti orang yang salah...
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
awal kehancuran Mbah Geneng dan Sarkam 😏😏😡
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
Mbh Geneng mau berubah jadi monster 😁 Dan sebentar lagi Mamas syahril berubah jadi power rangers merah, mima berubah jadi power ragesr pink dan Ihsan jadi power ragesr hitam 🤭 Nanti aku mau berubah jadi sailormoon 😆
Eli Rahma: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 5 replies
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
Anehhh kalian wahai manusia, padahal kalian lah ibliss yang sebenarnya. jadi kenapa harus takut melihat Rupa ibliss. padahal di sini iblis lah yang selalu di manfaatkan oleh keserakahan manusia, mereka di kendalikan untuk meganggu , padahal kalau iblis tidak di bangunkan, mana mereka bakal menganggu kalian. jadi di sini...siapa yang sebenarnya iblis?
Betri Betmawati
apa udh launching Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!