NovelToon NovelToon
DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.

Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.

Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.

Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.

Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.

Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.

Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 : KEMENANGAN YANG TERASA MENYAKITKAN

...BAB 13...

...KEMENANGAN YANG TERASA MENYAKITKAN...

Suara deru motor memenuhi seluruh arena. Ribuan penonton berdiri di balik pagar pembatas, meneriakkan nama pembalap yang mereka dukung.

Di antara kerumunan itu, Amelia berdiri sambil menggenggam erat buku catatannya.

Sejak pagi, ia sudah menunggu. Hari ini adalah kesempatan besar.

Reyga bertanding dalam perlombaan yang hadiahnya mencapai miliaran rupiah. Apalagi pertandingan itu disponsori oleh seorang pengusaha besar, Armand Wijaya.

Amelia tahu berita tentang kemenangan Reyga akan menjadi berita besar.

Dan ia membutuhkannya. Bukan sekadar untuk pekerjaannya. Ia teringat telepon adiknya beberapa hari lalu.

Uang SPP belum dibayar. Buku sekolah belum terbeli.

Amelia masih ingat suara adiknya yang berusaha terdengar tenang ketika meminta bantuan.

Kali ini ia tidak boleh gagal lagi untuk mewawancarai Reyga.

"Semoga kali ini..." gumam Amelia. Tangannya mengepal. "Reyga mau bicara langsung padaku."

Di lintasan, beberapa motor sudah bersiap. Salah satunya adalah motor Reyga.

Amelia bisa melihatnya dari kejauhan. Lelaki itu berdiri di samping motornya dengan perlengkapan balap lengkap.

Wajahnya serius. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan.

Bahkan ketika Amelia sempat melihat ke arahnya, Reyga sama sekali tidak menoleh.

Amelia menghela napas. "Ya sudahlah." Ia kembali fokus pada perlombaannya.

Beberapa saat kemudian...

DUAR!

Suara tanda dimulainya pertandingan terdengar.

Motor-motor melesat.

Penonton langsung bersorak.

Amelia ikut maju beberapa langkah.

"Reygaaa!" teriaknya memberikan dukungan.

Ia melihat motor Reyga berada di posisi kedua.

Putaran pertama.

Kedua.

Ketiga.

Posisinya semakin mendekati pembalap di depannya. Amelia menggenggam bukunya lebih erat.

"Ayooo kamu pasti menang..."

Pada putaran berikutnya, Reyga berhasil menyalip.

Penonton semakin histeris.

"REYGA!"

"AYO!"

"REYGA MENANG!"

Amelia ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya hari itu, rasa tegangnya sedikit menghilang.

Namun perlombaan belum selesai. Satu putaran terakhir. Reyga masih berada di depan. Motor di belakangnya terus mengejar.

Amelia bahkan lupa bahwa ia sedang bekerja. Ia benar-benar ikut tegang.

Hingga akhirnya...

Reyga melewati garis finis. Dan...

MENANG.

Suara sorak penonton meledak.

Amelia spontan tersenyum lebar. "Dia menang..."

Ia langsung menggenggam buku catatan dan berlari menuju area podium.

Inilah kesempatannya. Kali ini ia harus mendapatkan wawancara. Ia harus mendapatkan berita kemenangan ini.

Bukan hanya untuk pekerjaannya. Tetapi untuk keluarganya.

Reyga turun dari motor. Beberapa mekanik langsung menghampirinya.

"Selamat!"

"Kau menang kawan!"

Reyga melepas helm. Napasnya masih berat.

Namun ada senyum kecil di wajahnya. Ia berhasil. Uang hadiah itu akhirnya berada dalam jangkauannya.

Ia bisa membantu Berry. Ia bisa membeli kebutuhan Bintang.

Dan untuk sementara, ia bisa hidup tanpa bergantung kepada keluarganya.

Reyga menoleh ke arah podium. Namun sebelum ia menaiki tangga, seseorang berteriak dari belakang.

"Reygaaa!"

Ia mengenal suara itu.

"Amelia." Lelaki itu langsung menghela napas. "Jangan lagi."

Amelia berusaha mendekat. "Saya cuma ingin wawancara."

Salah seorang mekanik langsung berdiri di depannya. "Maaf, Mbak. Reyga tidak menerima wawancara."

"Saya cuma butuh beberapa menit saja."

"Sudah dibilang tidak ya tidak."

"Tapi ini pertandingan besar. Saya hanya ingin—"

"Mbak, jangan memaksa."

Amelia tetap maju. "Saya harus mendapatkan pernyataan dari dia."

Mekanik itu mencoba menghalangi.

Amelia mundur selangkah. "Sebentar saja..."

Namun karena terlalu fokus melihat Reyga, ia tidak memperhatikan batas pembatas di belakangnya.

Kakinya tersandung. Tubuh Amelia kehilangan keseimbangan.

"Ah!"

Bruk!

Tubuhnya jatuh ke samping. Lututnya menghantam tiang pembatas. Wajah Amelia langsung meringis.

"Aduh..."

Rasa sakit menjalar dari lutut hingga kaki. Saat ia mencoba berdiri, tumitnya justru terkilir.

"Ah!"

Amelia kembali terduduk. Darah mulai terlihat di lututnya. Buku catatannya terjatuh.

Beberapa lembar kertas berhamburan. Kamera kecil yang dibawanya juga terlepas.

Amelia menahan napas. Matanya mulai berkaca-kaca. Bukan hanya karena sakit.

Tetapi karena semua orang di sekitarnya melihatnya seperti sebuah gangguan.

Ia mencoba berdiri. Namun tumitnya sakit. Akhirnya ia berjalan pincang.

Satu langkah.

Dua langkah.

Kemudian hampir jatuh lagi.

"Pelan-pelan, Mbak," ujar seseorang.

Amelia mengangguk. "Iya terimakasih..." Namun ia tetap memaksakan diri mengambil bukunya.

Dari atas podium, Reyga melihat kejadian itu. Tatapannya sempat tertuju pada Amelia.

Lutut perempuan itu berdarah. Langkahnya pincang. Reyga diam beberapa detik. Tangannya mengepal. Namun kemudian ia mengalihkan pandangan.

Ia tidak mendekati Amelia. Tidak bertanya, ataupun membantu.

Reyga memilih menaiki podium. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Sorakan kembali memenuhi arena. Pembawa acara berdiri di tengah podium.

"Dan sekarang, penghargaan untuk juara pertama!"

Penonton semakin ramai.

Reyga berdiri di posisi pertama. Kemudian seorang gadis muda menyusul naik ke podium.

Cantik.

Anggun.

Ia mengenakan pakaian elegan.

Namanya Alessia. Putri Armand Wijaya.

Hari itu bukan hanya hari kemenangan Reyga. Tetapi juga hari ulang tahun Alessia.

Ayahnya sengaja menjadikan pertandingan itu sebagai salah satu hadiah untuk putrinya.

Alessia membawa piala. Begitu melihat Reyga dari dekat, matanya berbinar. Ia sudah lama mengagumi lelaki itu.

Namun selama ini hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Sekarang mereka berdiri di podium yang sama.

Alessia tersenyum lebar. "Selamat ya, untukmu..." ucapnya dengan senyuman manis.

Reyga menerima piala itu. "Terima kasih."

Alessia tidak langsung melepaskan tangannya. Ia justru tersenyum malu. "Saya senang sekali Anda yang menang."

Reyga mengernyit. "Kenapa?"

Alessia tertawa kecil. "Karena saya memang ingin Anda yang menang."

Penonton langsung bersorak.

"WOOOO!"

"Cocok!"

"REYGA DAN ALESSIA!"

"JADIAN!"

Reyga terlihat kikuk. Sementara Alessia justru semakin tersenyum.

"Sebenarnya saya sudah lama menjadi penggemar Anda."

Reyga terdiam.

Alessia melanjutkan tanpa ragu. "Sebenarnya..." Ia menatap Reyga. "Saya suka sama Anda."

Penonton kembali bersorak. Reyga menghela napas kecil. Ia tidak menyangka gadis itu akan mengatakannya secara terang-terangan.

Namun ia tetap bersikap tenang. "Terima kasih."

Hanya itu. Tidak lebih.

Di bawah podium, Amelia menyaksikan semuanya. Ia berdiri sambil bertumpu pada satu kaki. Lututnya masih berdarah. Tumitnya terasa nyeri.

Namun rasa sakit itu mendadak terasa lebih kecil dibanding sesuatu yang muncul di dadanya.

Alessia.

Gadis cantik.

Putri orang kaya.

Fans beratnya Reyga.

Dan sekarang berdiri begitu dekat dengan lelaki yang selama ini ia kejar untuk wawancara.

Amelia menunduk.

Penonton terus bersorak.

"REYGA-ALESSIA!"

"Cocok banget!"

"Pasangan sultan!"

Amelia mencoba tersenyum. Namun bibirnya terasa berat. "Kenapa gue malah..."

Ia berhenti. Tidak mau menyelesaikan kalimatnya. Padahal seharusnya ia senang. Reyga menang.

Itu berarti ada berita besar yang bisa ia bawa ke kantor.

Namun melihat Reyga berdiri bersama Alessia membuat dadanya terasa tidak nyaman.

Apalagi ketika Alessia tersenyum begitu bahagia. Amelia memalingkan wajah.

"Dia kan bukan siapa-siapa gue." Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Kenapa gue harus peduli?"

Tidak ada jawaban. Ia menunduk melihat lututnya sendiri. Darah masih menetes.

Buku catatannya juga sedikit kotor karena terjatuh.

Amelia menghela napas.

Hari ini ia datang dengan harapan bisa mendapatkan wawancara.

Tetapi ia bahkan tidak berhasil mendekati Reyga. Ia malah terluka.

Dan sekarang harus pulang membawa berita yang belum tentu cukup untuk membuat atasannya puas.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari adiknya.

Kak, uang sekolahnya kapan bisa dibayar?

Amelia menatap layar cukup lama. Matanya mulai berkaca-kaca.

Ia mengetik.

Sebentar lagi. Kakak usahakan.

Kemudian ia menghapus air mata yang hampir jatuh.

"Aku harus kuat." Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas.

Di podium, Reyga masih menerima ucapan selamat.

Amelia menatapnya sekali lagi. Lelaki itu sama sekali tidak melihat ke arahnya. Atau mungkin melihat, tetapi memilih tidak peduli.

Entah kenapa, hal itu terasa lebih menyakitkan daripada luka di lututnya.

Amelia berbalik. Ia berjalan pincang meninggalkan arena.

Sementara di atas podium, Reyga menggenggam piala kemenangannya.

Sementara di apartemen, Berry yang sejak tadi menonton pertandingan melalui televisi langsung mengangkat Bintang tinggi-tinggi.

"Menang, Bos!"

Bintang tertawa. Berry ikut tertawa lega.

"Akhirnya sahabat gue punya duit!" Ia menatap layar televisi dengan bangga.

"Selamat, Rey."

Namun di arena yang sama, Amelia terus berjalan sendirian. Dengan lutut berdarah. Tumit yang terkilir.

Dan hati yang entah kenapa terasa jauh lebih sakit daripada kakinya.

Bersambung...

😭😭😭 Aku nulis ini sampai nangis loh. Seolah Amelia diriku sendiri 🥹🤭

Di bab ini awal Amelia punya perasaan sama Reyga 😍 Dia cemburu lihat Reyga yang dideketin cewek lain.

1
Lisa
Wah Bintang dapat dikenali org³ nih..moga aj g ada yg ngaku sbg ortunya..
Lisa
Alessia akhirnya tau tuh klo Reyga suka sama Amel
Kam1la
apa yang akan terjadi setelahnya...
Kam1la
Alesia kebakaran jenggot
Lisa
Oo jadi Darmawan mengira Bintang adalah anak dr Reyga & Amel..kalian harus lebih berhati²
Lisa
Aneh banget si Darmawan ini..ditanya alasannya menculik Amel dia g mau mengatakannya..
Kam1la
lanjutkan kak...
Kam1la
dobrak aja pintunya...💪
Lisa
Reyga harus menjelaskan pd papanya tentang hubungannya dgn Amel.
Lisa
ya nih ayo Reyga cpt cari Amel
Lisa
Ya tuh pasti papanya Reyga yg nyulik Amel..ayo Reyga cpt temukan Amel.
Kam1la
mulai naik nih tensi ketegangan dalam keluarga. Dermawan semoga sadar ya, dengan pemaksaan justru semakin membuat Reyga menjauhinya
Kam1la
lapor polisi.... ! atau cari tahu lewat CCTV 🤭
Kam1la
mulai deg-degan ini, mau diapain ya Amelia....ini ulah nya papanya Reyga
Kam1la
honey....!! panggilan yang so sweet
Kam1la
seru banget.... sekarang 1 apartemen dihuni banyak orang dan penuh kegembiraan
Mita Paramita
semoga hubungan mereka direstui keluarga masing-masing 😍
Mita Paramita
lanjut Thor 😈😈😈
Kayla Rane: siaaP ❤️😍
total 1 replies
Lisa
Lanjut donk Kak..makin seru aj nih..😊
Lisa
Ceritanya menarik banget 👍👍
Kayla Rane: terimakasih Kak Lisaaa❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!