NovelToon NovelToon
Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Status: tamat
Genre:Office Romance / CEO / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:674
Nilai: 5
Nama Author: Gek_Nia

Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KENAPA HARUS KAMU?

Pukul 07.50 pagi.

Alya berjalan menuju meja kerjanya sambil membawa kopi.

Hari itu seharusnya biasa saja.

Setidaknya, dia berharap begitu.

Namun begitu sampai di mejanya, dia langsung melihat sebuah map biru terletak tepat di tengah meja.

Map yang kemarin tertinggal.

Di atasnya ada secarik kertas.

Tulisan tangan Raka.

> Jangan lupa.

Alya menghela napas.

“Bisa juga sebenarnya dikembalikan kemarin.”

Dia membuka map tersebut.

Isinya dokumen yang memang dia perlukan untuk pekerjaan pagi itu.

Alya mengambil map dan langsung berdiri.

Dia mengetuk pintu ruang Raka.

“Masuk.”

Alya membuka pintu.

“Pagi, Pak.”

Raka mengangkat wajah.

Tatapan mereka bertemu.

Entah kenapa, Alya tiba-tiba teringat pesan semalam.

> Karena itu alasan saya punya untuk melihat kamu besok pagi.

Kemudian pesan berikutnya:

> Maksud saya, alasan untuk mengembalikan map itu.

Alya hampir tersenyum.

Raka memperhatikannya.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Kenapa tersenyum?”

“Tidak.”

“Alya.”

“Iya?”

“Kalau ada yang lucu, bilang.”

Alya akhirnya tertawa kecil.

“Saya cuma ingat pesan Bapak semalam.”

Wajah Raka sedikit berubah.

“Pesan yang mana?”

Alya menirukan,

> “Karena itu alasan saya punya untuk melihat kamu besok pagi.”

Raka langsung diam.

Alya menahan tawa.

“Lalu Bapak buru-buru mengoreksi.”

Raka berdeham.

“Saya salah ketik.”

“Benarkah?”

“Iya.”

“Bapak biasanya tidak salah ketik.”

“Sekarang saya salah.”

Alya mengangguk.

“Baiklah.”

Dia berbalik.

Namun sebelum keluar, Raka berkata,

“Jangan terlalu banyak mengingat pesan saya.”

Alya menoleh.

“Kenapa?”

“Tidak penting.”

Alya tersenyum.

“Justru karena tidak penting, saya ingat.”

Raka menghela napas.

“Keluar.”

Alya tertawa.

“Baik, Pak.”

Pintu tertutup.

Raka menyandarkan tubuh ke kursi.

Dia mengusap wajah.

“Kenapa saya mengirim pesan seperti itu?”

Dia benar-benar mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

---

PUKUL 09.30

Pagi itu pekerjaan cukup padat.

Ada dua meeting.

Satu presentasi.

Dan sebuah proposal baru yang harus diperiksa Raka sebelum tengah hari.

Alya sibuk berpindah dari satu tugas ke tugas lain.

Raka juga sibuk.

Namun meskipun demikian, beberapa kali dia keluar dari ruangannya hanya untuk bertanya hal-hal kecil.

“Alya.”

“Iya, Pak?”

“Dokumen tadi?”

“Sudah saya kirim.”

Lima menit kemudian—

“Alya.”

“Iya?”

“Meeting jam sebelas?”

“Sudah dikonfirmasi.”

Sepuluh menit kemudian—

“Alya.”

Alya akhirnya mengangkat wajah.

“Pak.”

“Hm?”

“Bapak sebenarnya butuh apa?”

Raka terdiam.

“Kenapa?”

“Dari tadi Bapak memanggil saya terus.”

“Saya bertanya tentang pekerjaan.”

“Bisa lewat email.”

Raka menatapnya.

Alya tersenyum.

“Bapak bosan?”

“Tidak.”

“Kesepian?”

“Tidak.”

“Rindu?”

Raka langsung terdiam.

Alya sendiri membeku.

Kata itu keluar spontan.

Dia buru-buru tertawa.

“Saya bercanda.”

Raka menatapnya cukup lama.

Kemudian berkata,

“Jangan bercanda seperti itu.”

Alya mengangguk.

“Baik.”

Dia kembali bekerja.

Namun jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Sementara Raka masuk ke ruangannya dengan wajah yang jauh lebih serius.

Satu kata tadi terus terngiang.

Rindu.

Apakah mungkin?

Tidak.

Mereka baru mengenal satu sama lain beberapa hari.

Tidak mungkin.

---

PUKUL 11.00

Meeting selesai.

Raka kembali ke ruangannya.

Alya menyusul membawa dokumen.

“Pak, ini hasil meeting.”

Raka mengambilnya.

“Duduk.”

Alya duduk.

Raka membaca beberapa halaman.

Kemudian bertanya,

“Kamu sudah makan?”

Alya mengerutkan kening.

“Belum.”

“Kenapa?”

“Belum sempat.”

Raka menutup dokumen.

“Makan.”

“Nanti.”

“Sekarang.”

Alya menatapnya.

“Pak, saya masih ada pekerjaan.”

“Bisa dilanjutkan setelah makan.”

“Bapak juga belum makan.”

“Saya nanti.”

Alya tersenyum.

“Nah.”

“Apa?”

“Bapak menyuruh saya makan, tapi Bapak sendiri tidak makan.”

Raka terdiam.

Alya berdiri.

“Begini saja.”

Dia menunjuk Raka.

“Bapak makan.”

Kemudian menunjuk dirinya sendiri.

“Saya makan.”

“Bersamaan.”

Raka mengangkat alis.

“Sekarang?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Supaya adil.”

Raka menatapnya.

Kemudian mengangguk.

“Baik.”

Alya tersenyum.

“Bagus.”

Mereka keluar bersama.

---

MAKAN SIANG

Mereka kembali ke restoran yang sama seperti beberapa hari lalu.

Kali ini hanya berdua.

Alya membuka menu.

“Bapak mau apa?”

“Seperti biasa.”

“Americano?”

“Itu minuman.”

Alya tertawa.

“Maksud saya makanan.”

“Pilihkan.”

Alya menatapnya.

“Serius?”

“Iya.”

“Kalau tidak suka?”

“Tidak masalah.”

Alya memilih makanan.

Raka memesan sama.

Mereka duduk berhadapan.

Beberapa menit tidak ada yang bicara.

Alya akhirnya bertanya,

“Pak.”

“Ya?”

“Bapak kalau di luar kantor memang sesunyi ini?”

“Tidak.”

“Berarti cuma di kantor?”

“Tidak juga.”

“Lalu?”

Raka menatapnya.

“Kalau bersama orang yang tepat, saya bisa bicara.”

Alya terdiam.

“Orang yang tepat?”

“Ya.”

“Siapa?”

Raka tidak langsung menjawab.

Dia hanya berkata,

“Tidak banyak.”

Alya mengangguk.

“Oh.”

Entah kenapa jawaban itu membuatnya penasaran.

“Bapak pernah pacaran lama?”

Raka menatapnya.

“Kenapa bertanya?”

“Tidak apa-apa.”

“Kamu penasaran?”

“Sedikit.”

Raka menghela napas.

“Pernah.”

“Berapa lama?”

“Cukup lama.”

“Kenapa putus?”

Raka terdiam.

“Karena tidak cocok.”

Alya mengangguk.

“Sesederhana itu?”

“Tidak semua hal harus rumit.”

Alya tersenyum.

“Bapak bicara seperti orang yang tidak percaya cinta.”

Raka menatapnya.

“Saya percaya.”

Alya sedikit terkejut.

“Serius?”

“Ya.”

“Lalu?”

“Cinta saja tidak cukup.”

Alya terdiam.

Raka melanjutkan,

“Kadang dua orang saling mencintai, tetapi tetap tidak bisa bersama.”

Alya menatapnya.

Ada sesuatu dalam suara Raka yang membuat kalimat itu terasa seperti pengalaman pribadi.

Namun sebelum Alya sempat bertanya lebih jauh, makanan datang.

Percakapan pun berhenti.

---

PUKUL 14.00

Alya kembali ke meja.

Pekerjaan menumpuk.

Dia mulai membuka laptop.

Tidak lama kemudian, Dimas datang.

“Alya.”

Alya menoleh.

“Pak Dimas.”

“Proposal kemarin sudah saya revisi.”

“Oh, baik.”

Dimas menyerahkan dokumen.

“Saya mau minta pendapat kamu.”

Alya membaca.

“Sekarang?”

“Kalau bisa.”

Alya melirik jam.

Masih ada waktu.

“Baik.”

Dimas duduk di kursi sebelah.

Mereka mulai membahas proposal.

Tidak ada yang aneh.

Sampai Raka keluar dari ruangannya.

Dia berhenti ketika melihat Dimas duduk di sebelah Alya.

“Dimas.”

Dimas menoleh.

“Pak.”

“Proposal itu sudah masuk ke saya.”

“Iya.”

“Kalau ada revisi, kirim lewat email.”

Dimas mengangguk.

“Saya sedang minta pendapat Alya.”

Raka melihat Alya.

“Kamu ada pekerjaan lain.”

Alya menatapnya.

“Sudah selesai.”

“Belum.”

“Yang mana?”

Raka diam.

Dimas menahan senyum.

Alya mulai menyadari sesuatu.

“Pak?”

“Hm?”

“Bapak sedang mencari alasan?”

Raka menatapnya.

“Tidak.”

Dimas tertawa kecil.

“Saya rasa saya sebaiknya pergi.”

Dia berdiri.

“Besok kita lanjut.”

Alya mengangguk.

“Baik.”

Dimas pergi.

Raka berdiri di tempat.

Alya menatapnya.

“Sekarang puas?”

Raka mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

“Pak Dimas sudah pergi.”

“Saya tidak menyuruh dia pergi.”

“Tidak?”

“Tidak.”

Alya tersenyum.

“Baiklah.”

Raka hendak kembali ke ruangannya.

Alya berkata,

“Bapak cemburu.”

Raka berhenti.

Untuk kedua kalinya kalimat itu terdengar.

Kali ini Alya tidak tertawa.

Raka perlahan menoleh.

“Kamu suka sekali mengatakan itu.”

“Karena saya penasaran.”

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Karena itu tidak benar.”

Alya mengangguk.

“Baik.”

Dia kembali melihat laptop.

Raka menatapnya.

Kemudian pergi.

Namun di dalam ruangannya, dia menutup pintu lebih keras dari biasanya.

---

PUKUL 17.00

Alya masih bekerja.

Raka keluar.

“Alya.”

“Ya?”

“Pulang.”

Alya melihat jam.

“Masih ada pekerjaan.”

“Besok.”

“Tidak.”

Raka mendekat.

“Apa?”

“Saya mau selesai hari ini.”

“Kenapa?”

“Supaya besok tidak menumpuk.”

Raka melihat layar laptop.

“Sudah cukup.”

Alya menggeleng.

“Belum.”

Raka mengambil kursi di depannya.

Dia duduk.

Alya menatapnya.

“Bapak?”

“Saya tunggu.”

“Untuk apa?”

“Kamu selesai.”

Alya terdiam.

“Bapak mau menunggu saya?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Karena saya juga belum pulang.”

Alya tersenyum kecil.

“Bapak bisa pulang dulu.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

Raka menjawab,

“Saya tidak suka menunggu sendirian.”

Alya menatapnya.

Kalimat itu sederhana.

Tetapi entah kenapa terasa sangat berbeda.

Dia kembali bekerja.

Raka duduk diam.

Tidak ada percakapan.

Tidak ada pertengkaran.

Hanya suara keyboard.

Setengah jam kemudian, Alya menutup laptop.

“Sudah.”

Raka berdiri.

“Bagus.”

Mereka berjalan menuju lift.

---

DI DALAM LIFT

Hanya mereka berdua.

Alya berdiri di samping Raka.

“Pak.”

“Hm?”

“Terima kasih sudah menunggu.”

“Tidak apa-apa.”

“Bapak biasanya tidak mau menunggu.”

Raka menatap angka lantai.

“Memang.”

“Lalu kenapa tadi mau?”

Raka diam.

Alya menunggu.

Akhirnya dia menjawab,

“Karena saya tidak mau kamu pulang sendirian.”

Alya langsung menoleh.

Raka juga tampak menyadari kalimat itu.

“Pulang malam tidak aman.”

Alya tersenyum.

“Bapak khawatir?”

“Sebagai atasan.”

Alya tertawa kecil.

“Bapak selalu punya alasan.”

Raka menatapnya.

“Memang.”

Pintu lift terbuka.

Mereka keluar.

---

DEPAN GEDUNG

Hujan turun cukup deras.

Alya berdiri di bawah kanopi.

“Wah.”

Dia melihat jalan.

Tidak membawa payung.

Raka berdiri di sampingnya.

“Kamu dijemput?”

“Tidak.”

“Pesan kendaraan?”

“Iya.”

Alya membuka aplikasi.

Tidak ada kendaraan yang tersedia.

Dia menghela napas.

“Lama.”

Raka melihat jam.

“Pakai mobil saya.”

Alya langsung menggeleng.

“Tidak perlu.”

“Kenapa?”

“Nanti merepotkan.”

“Tidak.”

“Bapak pulang?”

“Ya.”

“Ke arah mana?”

“Berbeda.”

Alya menggeleng lagi.

“Saya tunggu saja.”

Raka diam.

Kemudian berkata,

“Kalau begitu saya tunggu dengan kamu.”

Alya menoleh.

“Bapak?”

“Iya.”

“Bapak tidak perlu.”

“Saya tahu.”

“Lalu?”

Raka menatap hujan.

“Tidak masalah.”

Mereka berdiri berdampingan.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Hujan belum reda.

Alya akhirnya berkata,

“Pak.”

“Ya?”

“Bapak sebenarnya orang baik, ya?”

Raka menoleh.

“Kenapa?”

“Tidak tahu.”

Alya tersenyum.

“Kadang saya lupa kalau Bapak menyebalkan.”

Raka tertawa kecil.

“Berarti saya harus lebih sering menyebalkan.”

Alya ikut tertawa.

Untuk pertama kalinya, mereka berdiri di bawah hujan tanpa membicarakan pekerjaan.

Dan untuk pertama kalinya—

Alya merasa nyaman berada di dekat Raka.

Bukan karena dia atasannya.

Tetapi karena Raka ternyata memiliki sisi yang selama ini tidak pernah dia lihat.

---

DI DALAM MOBIL

Akhirnya mobil datang.

Raka meminta sopir mengantar Alya lebih dulu.

Alya duduk di belakang.

Raka di sebelahnya.

Sepanjang perjalanan, mereka berbicara ringan.

Tentang makanan.

Tentang film.

Tentang kota.

Tentang hal-hal kecil.

Alya tertawa beberapa kali.

Raka lebih banyak mendengarkan.

Ketika mobil berhenti di depan rumah Alya, dia membuka pintu.

“Terima kasih, Pak.”

“Hm.”

Alya turun.

Kemudian menunduk sedikit.

“Selamat malam.”

“Selamat malam.”

Alya menutup pintu.

Mobil mulai bergerak.

Raka menoleh ke belakang.

Alya masih berdiri di depan rumah, melambaikan tangan.

Raka mengangkat tangannya sedikit.

Kemudian mobil pergi.

---

MALAM ITU

Alya masuk ke rumah.

Ibunya melihatnya.

“Kok pulang diantar?”

Alya terdiam.

“Teman kantor.”

Ibunya tersenyum.

“Teman?”

“Bos.”

“Bos?”

“Iya.”

Ibunya mengangguk.

“Baik?”

Alya berpikir.

Kemudian tersenyum.

“Lumayan.”

Sementara itu, di dalam mobil, Raka memandang ke luar jendela.

Sopir bertanya,

“Langsung ke rumah, Pak?”

Raka mengangguk.

“Iya.”

Kemudian dia membuka ponsel.

Chat Alya masih terbuka.

Dia mengetik:

> Sudah sampai?

Alya membalas beberapa menit kemudian.

> Sudah, Pak. Terima kasih.

Raka mengetik:

> Baik. Istirahat.

Alya:

> Bapak juga.

Raka tersenyum kecil.

Kemudian menutup ponselnya.

Hari itu tidak ada pengakuan.

Tidak ada sentuhan.

Tidak ada sesuatu yang dramatis.

Tetapi ada satu hal yang berubah.

Raka mulai sengaja mencari alasan untuk berada di dekat Alya.

Dan Alya mulai menyadari bahwa setiap kali Raka berada di dekatnya…

hatinya terasa sedikit berbeda.

Namun mereka masih memiliki satu masalah besar.

Mereka adalah bos dan asisten.

Dan semakin dekat mereka…

semakin tipis batas yang seharusnya tidak mereka lewati.

1
Anugerah Kreasi Dewata
ceritanya menarik.. mungkin bisa menjadi salah satu novel yang saya rekomendasikan untuk di baca
Dewi Wibawa
terimakasih kakak🙏
Uthie
Ada yg mulai cemburu, tapi masih gengsi 😁😁👍
Uthie
cowok gengsian keburu di tikung 😂
Uthie
Sukkkkaaa banget moment macam itu 👍😁😁😁
Uthie
Saya masih lanjut baca 😍😍👍
Uthie
Menarik 👍👍😁🤗
Uthie
tertarik mampir untuk sebuah cerita baru 😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!