Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAMARAN
Tiga bulan berlalu sejak acara syukuran itu, dan hubungan antara Laras dan Bagas semakin menunjukkan keseriusan yang jelas. Mereka mulai sering terlihat bersama di luar urusan kerja, memperkenalkan satu sama lain kepada keluarga masing-masing, hingga akhirnya Bagas memutuskan untuk mengambil langkah besar berikutnya.
Suatu sore, setelah pulang kerja, Bagas mengajak Laras makan malam di restoran yang sama tempat mereka pertama kali menghabiskan waktu berdua beberapa bulan lalu. Suasana restoran itu dihias sedikit berbeda dari biasanya, lilin-lilin kecil tersebar di beberapa sudut ruangan, menambah nuansa romantis yang kental.
"Kamu kelihatan gugup," kata Laras sambil tersenyum, memperhatikan Bagas yang beberapa kali menyentuh kerah kemejanya dengan gelisah.
"Sedikit," jawab Bagas, tertawa kecil menutupi kegugupannya. "Ada sesuatu yang pengen saya sampaikan malam ini."
Laras mengangkat alis, penasaran dengan apa yang akan diucapkan Bagas. "Apa itu?"
Bagas menarik napas panjang, kemudian berdiri dari kursinya, berlutut di samping meja mereka sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dari saku jasnya. Seluruh restoran seketika hening, beberapa tamu lain mulai memperhatikan momen yang jelas sangat spesial itu.
"Larasati," katanya, suaranya bergetar menahan haru, "sejak pertama kali bertemu kamu, saya tau ada sesuatu yang berbeda. Kamu bikin saya percaya lagi sama cinta yang tulus, tanpa syarat, tanpa drama. Saya pengen menghabiskan sisa hidup saya bareng kamu, menjaga dan membahagiakan kamu selamanya."
Ia membuka kotak itu, menampilkan cincin berlian sederhana namun elegan. "Larasati, maukah kamu menikah dengan saya?"
Air mata mengalir deras di pipi Laras, sebuah kebahagiaan yang begitu tulus dan murni membanjiri hatinya. Ia mengangguk cepat, hampir tidak bisa berkata-kata karena terlalu terharu.
"Ya, Bagas. Saya mau," jawabnya akhirnya, suaranya bergetar penuh kebahagiaan.
Seluruh restoran bertepuk tangan menyaksikan momen bahagia itu, Bagas tersenyum lebar sambil memasangkan cincin itu ke jari manis Laras, kemudian memeluknya erat, melepaskan segala kegugupan yang sempat ia rasakan sebelumnya.
"Aku janji akan selalu ada buat kamu," bisik Bagas di telinga Laras. "Nggak akan pernah bikin kamu ragu sama perasaanku."
"Aku percaya kamu," jawab Laras, tersenyum di tengah air mata bahagianya. "Terima kasih udah sabar nunggu aku sampai aku bener-bener siap buka hati."
Kabar pertunangan itu menyebar cepat, terutama di lingkungan kantor. Rina, sahabat kerja Laras, adalah orang pertama yang mendengar kabar itu langsung dari Laras keesokan harinya.
"Astaga, Laras! Kamu beneran dilamar?" Rina hampir menjerit kegirangan melihat cincin di jari Laras.
"Iya, Rin. Aku masih nggak percaya ini beneran terjadi," jawab Laras, tersenyum lebar tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Selamat ya! Kamu pantas banget dapetin kebahagiaan ini setelah semua yang kamu lalui."
Kabar itu juga sampai ke telinga Raka melalui obrolan santai di ruang staf yang secara tidak sengaja ia dengar saat melintas. Ia berhenti sejenak, dadanya terasa sesak mendengar kabar itu, meski jauh di dalam hatinya, ia sudah menduga momen ini akan datang cepat atau lambat.
Ia melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya, mencoba menata perasaan yang bergejolak. Sesampainya di ruangan, ia duduk terdiam sejenak, menatap kosong ke arah meja kerjanya sebelum akhirnya mengambil ponsel dan mengetik pesan singkat untuk Laras.
"Laras, saya dengar kabar bahagia. Selamat atas pertunangannya."
Ia menekan tombol kirim dengan perasaan berat, namun juga tekad untuk menunjukkan dukungan tulus, meski hatinya sendiri terasa hancur berkeping-keping.
Balasan dari Laras datang beberapa saat kemudian.
"Terima kasih banyak, Pak Raka. Ini berarti banyak buat saya."
Raka menatap balasan singkat itu lama, mencoba mencari ketenangan dalam kesederhanaan kata-kata itu. Ia menutup ponselnya, menghela napas panjang, mencoba menerima kenyataan yang telah lama ia duga namun tetap terasa menyakitkan ketika benar-benar terjadi.
Sore harinya, Raka memutuskan untuk mengunjungi Laras secara langsung di mejanya, ingin menyampaikan ucapan selamat secara personal, bukan hanya melalui pesan singkat yang terasa terlalu formal untuk momen sebesar ini.
"Laras," sapanya pelan, berdiri di depan meja kerja gadis itu.
Laras mendongak, sedikit terkejut melihat kehadiran Raka yang tidak biasa datang langsung ke area kerja staf. "Pak Raka, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya cuma pengen ucapin selamat langsung," kata Raka, tersenyum tipis meski jelas dipaksakan. "Atas pertunangan kamu sama Bagas."
"Terima kasih, Pak," jawab Laras, tersenyum kecil, meski ada kecanggungan yang jelas terlihat di antara mereka berdua.
"Bagas orang yang baik," lanjut Raka, mencoba menata kata-katanya dengan hati-hati. "Saya yakin dia akan menjaga dan membahagiakan kamu."
"Terima kasih, Pak. Itu berarti banyak buat saya, terutama datang dari Bapak."
Ada jeda canggung sebelum Raka akhirnya melanjutkan, suaranya lebih pelan namun penuh ketulusan. "Laras, saya pengen kamu tau, meski banyak hal yang udah terjadi di antara kita, saya beneran berharap yang terbaik buat kamu. Kamu pantas dapetin kebahagiaan ini."
Kata-kata itu menyentuh hati Laras, sebuah pengakuan tulus yang jauh berbeda dari kemarahan dan kekejaman yang pernah ia terima dari Raka beberapa bulan lalu. "Terima kasih, Pak Raka. Saya juga berharap Bapak menemukan kebahagiaan yang pantas Bapak dapatkan."
Raka mengangguk pelan, tersenyum tipis sebelum akhirnya berbalik untuk kembali ke ruangannya. Namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti sejenak, menoleh sekali lagi ke arah Laras.
"Laras," katanya, suaranya lebih pelan dari sebelumnya. "Terima kasih udah kasih saya kesempatan buat minta maaf, dan udah dengerin penjelasan saya waktu itu. Itu artinya banyak buat saya, meskipun saya tau saya nggak pantas dapetin pengertian itu."
"Semua orang berhak dapat kesempatan kedua buat jelasin diri mereka, Pak," jawab Laras lembut. "Saya cuma berharap, Bapak juga bisa temukan kedamaian dengan diri Bapak sendiri, terlepas dari apa yang terjadi di antara kita."
Kata-kata itu, meski sederhana, memberikan sedikit kelegaan bagi hati Raka yang selama ini dipenuhi kekacauan emosi. Ia mengangguk, tersenyum tipis sekali lagi sebelum akhirnya benar-benar berbalik dan kembali ke ruang kerjanya.
Malam itu, Raka duduk sendirian di balkon apartemennya, menatap kota Jakarta yang berkelap-kelip di kejauhan. Ia merenungkan semua yang telah terjadi—dari pertemuan tak terduga dengan Laras beberapa bulan lalu, kekejaman yang ia lakukan berdasarkan kesalahpahaman, hingga akhirnya kebenaran yang terungkap namun datang terlalu terlambat untuk mengubah jalan hidup yang telah lama bergerak ke arah yang berbeda.
Ia menyadari, meski hatinya masih menyimpan sedikit harapan dan penyesalan yang mendalam, inilah saatnya bagi dirinya untuk benar-benar melepaskan Laras, membiarkan gadis itu melangkah menuju kebahagiaan yang telah lama ia perjuangkan sendiri, jauh dari bayang-bayang kelam masa lalu yang pernah menghancurkan hidupnya.
Selamat jalan, Laras, batinnya pelan, sebuah kesadaran baru yang perlahan mulai tumbuh dalam dirinya. Semoga kamu selalu bahagia bersama Bagas, meski itu berarti kebahagiaan itu tidak lagi bersama saya.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak lima tahun terakhir, Raka membiarkan dirinya benar-benar menerima kenyataan pahit itu—bahwa terkadang, cinta sejati berarti merelakan, membiarkan orang yang kita cintai menemukan kebahagiaannya sendiri, meski itu berarti kita harus belajar untuk hidup dengan penyesalan yang mungkin tidak akan pernah sepenuhnya hilang, namun bisa menjadi pelajaran berharga untuk menjalani sisa hidup dengan lebih bijaksana dan penuh penerimaan.