Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.
Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.
Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 — DESA KEMPAT: KESERAKAHAN
Udara di perbatasan barat Kerajaan Harapan terasa begitu berat dan menyesakkan. Berbeda dari desa-desa sebelumnya yang diselimuti abu kepedihan atau kebekuan air mata, Desa Emas—pusat perdagangan dan pertambangan bijih kristal langka—tampak bersinar terlalu terang. Terlalu menyilaukan hingga terasa janggal.
Lu Chen memacu kuda anginnya hingga berhenti tepat di gerbang masuk desa. Di belakangnya, Xue Ling, Wolf, dan Lin Yue ikut mendarat dengan kuda siaga. Tato segel di dada Lu Chen yang merepresentasikan identitas sejatinya sebagai perpaduan sepertiga manusia, sepertiga dewa, dan sepertiga siluman, berdenyut pelan, merasakan anomali energi yang luar biasa pekat di balik tembok batu desa.
"Ada yang tidak beres," bisik Wolf, merapatkan genggaman pada senjatanya. "Kenapa tempat ini sangat sunyi padahal lampu-lampu kristalnya menyala terang?"
Lu Chen melangkah maju melewati gerbang utama. Sepasang manik matanya memancarkan pendar tiga warna—emas dewa, ungu siluman, dan merah darah manusia. Begitu ia melangkahkan kaki ke dalam jalan utama desa, pemandangan di hadapan mereka membuat napas tertahan.
Ribuan penduduk desa bergelimpangan di sepanjang jalan. Mereka tidak terluka, tidak pula kehilangan nyawa secara fisik. Namun, mata mereka terbuka lebar dengan pupil melebar, menatap kosong ke arah tumpukan emas dan permata murni yang berserakan di tanah. Jari-jari kaku mereka masih mencengkeram erat batangan-batangan mineral berharga, bahkan hingga kulit tangan mereka terkoyak dan berdarah.
"Mereka mati karena keserakahan," ucap Lin Yue lirih, berjongkok untuk memeriksa denyut nadi seorang pedagang tua. "Jantung mereka meledak karena ambisi yang terlalu besar untuk menimbun kekayaan, dipicu oleh kutukan sihir hitam."
Lu Chen mengepalkan tinjunya. Rasa marah kembali bergejolak di dalam dadanya. Identitas campurannya membuatnya mampu melihat jejak emosi tertinggal di udara. "Bukan sekadar ambisi biasa," suaranya terdengar dingin. "Ada kekuatan luar biasa yang memaksa hasrat mereka dilipatgandakan seribu kali lipat hingga raga mereka hancur dari dalam."
Pesan di Tumpukan Emas
Xue Ling berjalan mendekati air mancur di tengah alun-alun desa yang kini telah berubah warna menjadi keemasan. Di atas tumpukan permata yang berkilau, sebuah prasasti darah terpampang nyata:
4/9. UNTUK KEBANGKITAN. HATI KEMPAT: KESERAKAHAN
"Empat emosi telah direnggut," kata Xue Ling, menoleh menatap Lu Chen. "Ketakutan, Kemarahan, Kesedihan, dan kini Keserakahan. Para jenderal itu dengan sengaja mengumpulkan sisi tergelap dari umat manusia, dewa, dan siluman. Jika kelima emosi lainnya terkumpul, kebangkitan Varkos tidak akan bisa dihindarkan."
Wolf mendengus keras, meludah ke tanah. "Sialan! Mereka memperalat kelemahan fana dari setiap makhluk!"
Tiba-tiba, tumpukan emas di seluruh penjuru desa bergetar hebat. Batangan-batangan logam mulia itu meleleh dan menyatu ke udara, membentuk pusaran cahaya kuning pekat yang berputar-putar membentuk tiga sosok bayangan tanpa wajah.
"Selamat datang di pasar gelap kematian, sang Raja Campuran," sapa Jenderal Pertama dengan nada mengejek yang menggema di seluruh lembah. "Bagaimana rasanya melihat makhluk-makhluk yang kau lindungi saling membunuh demi segenggam harta?"
Lu Chen perlahan maju ke depan. Pendar tiga warna di dadanya berkobar terang, menstabilkan gejolak batin di dalam jiwanya. Ia mendongak menatap bayangan tersebut tanpa secercah pun rasa takut.
"Kalian salah," jawab Lu Chen tegas. "Keserakahan bukanlah sifat asli mereka. Itu adalah racun yang kalian tiupkan ke dalam jiwa mereka yang sedang lelah."
Jenderal Kedua tertawa terbahak-bahak. "Racun? Hahaha! Kami hanya membukakan pintu bagi sifat dasar yang selama ini kalian sembunyikan di balik topeng kedamaian! Manusia ingin kekuasaan, dewa ingin keabadian, dan siluman ingin wilayah. Kalian semua sama serakahnya!"
Ujian Ketamakan Kosmik
Sebelum ada yang sempat merespons, gelombang energi hitam melesat dari tubuh para jenderal, menghantam langsung ke arah Lu Chen dan timnya.
BOOM!
Serangan itu menciptakan kubah ilusi magis yang mengisolasi Lu Chen seorang diri dari rekan-rekannya. Di dalam kubah tersebut, pemandangan di sekitar Lu Chen berubah drastis. Tumpukan emas, takhta permata tak terbatas, serta kekuasaan mutlak atas Tiga Alam mendadak muncul melayang di sekelilingnya.
Sebuah suara berbisik merayu langsung ke dalam benaknya: "Ambil semuanya, Lu Chen. Dengan kekuatan dan kekayaan ini, tidak ada satu pun ras—baik manusia, dewa, maupun siluman—yang akan berani meremehkan darah campuranmu lagi. Kau bisa menjadi penguasa mutlak."
Sisi manusia di dalam diri Lu Chen merasakan tarikan godaan harta dan kekuasaan; sisi siluman membisikkan ambisi untuk meremukkan dunia yang dulu membuangnya; sementara sisi dewa menawarkan keagungan tak terbatas.
Lu Chen terhuyung ke belakang, mencengkeram kepalanya. Godaan itu terasa begitu nyata, mencengkeram nuraninya dari dalam.
"Jangan dengarkan mereka!" suara Xue Ling terdengar samar dari luar kubah ilusi. "Lu Chen! Ingat tujuanmu!"
Lu Chen menarik napas dalam-dalam. Di tengah badai godaan keserakahan tersebut, ia membuka mata. Manik matanya yang memancarkan tiga warna memandang tajam ke arah hamparan harta karun palsu di sekelilingnya.
"Kalian pikir kekayaan dan kekuasaan bisa membeliku?" ucap Lu Chen dengan suara penuh wibawa.
Ia mengangkat tangannya, melepaskan esensi Cahaya Penyelamat dari dalam segel di dadanya.
JURUS UTAMA: PENYUCI JIWA
CAHAYA TIGA WARNA MELEDAK DAHSYAT.
Hantaman cahaya murni itu menghancurkan kubah ilusi keserakahan berkeping-keping dalam sekejap. Tumpukan emas palsu itu lenyap menjadi debu, dan bayangan para jenderal terdorong mundur ke udara akibat pancaran energi suci tersebut.
"Menarik... kekebalan mentalmu semakin kuat," desis Jenderal Ketiga penuh ancaman. "Tapi nikmatilah kemenangan kecil ini, karena hati kelima sedang menunggu di ujung jalan."
WUS! Ketiga bayangan itu lenyap ditelan angin perbatasan.
Tekad Sang Raja Campuran
Kubah ilusi runtuh sepenuhnya, memperlihatkan kembali Xue Ling, Wolf, and Lin Yue yang segera berlari menghampiri Lu Chen.
"Kau tidak apa-apa, Chen?" tanya Xue Ling cemas, memeriksa kondisi fisik pemuda itu.
Lu Chen menggeleng pelan, mengusap peluh di dahinya. "Aku baik-baik saja. Ilusi itu mencoba membangkitkan ambisi tergelap dari darah manusia dan siluman di dalam diriku... tapi itu tidak cukup untuk menjatuhkanku."
Lin Yue menatap ke arah peta perbatasan magis yang menyala di udara. "Empat hati emosi telah direnggut: Ketakutan, Kemarahan, Kesedihan, dan Keserakahan. Masih ada lima emosi lagi yang harus kita cegah sebelum para jenderal itu melengkapi syarat kebangkitan Varkos."
Lu Chen mengepalkan tinjunya mantap. Tato di dadanya kini memancarkan pendaran cahaya yang jauh lebih stabil dan hangat, menyimbolkan kemenangan kecil atas sisi gelap dirinya sendiri.
"Kita tidak akan membiarkan mereka mengambil satu emosi pun lagi," kata Lu Chen penuh tekad, menatap lurus ke arah cakrawala barat tempat desa kelima berada. "Siapkan pasukan. Kita berangkat sekarang."
Dan di bawah langit perbatasan yang mulai diselimuti fajar, rombongan kecil Kerajaan Harapan kembali bergerak membelah angin, berpacu dengan waktu demi menghentikan teror sembilan hati dendam.