Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.
Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
Pecahan kaca dari kubah Gedung Arsip Lama jatuh berhamburan bagaikan hujan kristal tajam, berkiat di tengah kegelapan aula netral.
Asap mesiu menyelimuti ruangan besar itu, bercampur dengan aroma amis darah segar Don Sergio Rossi yang meluber dari atas meja pertemuan.
"Evie, tetap merapat ke bawah!" bentak Dominic seraya menekan tubuh Eva rapat-rapat ke balik tebalnya meja pertemuan.
Dengan tangan kirinya, Dominic mengunci pergerakan Eva agar tidak terkena pecahan kaca, sementara tangan kanannya menarik senapan genggam Glock 19 dari balik jas hitamnya. Pria itu menembak balasan ke arah bingkai kubah di atas yang diselimuti asap hitam.
Bang! Bang! Bang!
Seorang penembak bertopeng yang mencoba merayap turun menggunakan tali temali dari atap hancur terpental, jatuh menghantam lantai dengan dada yang sudah tertembak.
"Tuan Dominic! Jalur keluar sektor utara bersih!" teriakan Viktor bergaung keras di tengah desingan peluru. Kapten pengawal itu bersama empat eksekutor elit Blackwood Syndicate menerobos masuk dengan perisai tebal, membentuk barikade manusia untuk melindungi Dominic dan Eva.
Di sebelah kanan mereka, Vincent Valenti merayap cepat di bawah meja dengan wajah yang ketakutan. Jas sutra marun puluhan ribu dolarnya kini dilumuri debu dan pecahan kaca. Dua pengawal pribadinya menarik tubuh kepala konsorsium keuangan itu menuju pintu samping.
Sebelum menghilang di balik lorong gelap, mata Vincent sempat melirik ke arah Dominic dan Eva dengan tatapan ketakutan, karena baru saja menyaksikan rekannya dieksekusi karena hampir membocorkan nama di balik inisial G.B.
Sementara itu, Madam Vane, wanita tua itu dengan tenang, ia mengibaskan pecahan kaca yang menyangkut di bahu gaunnya, lalu menatap jasad Don Sergio Rossi yang terkulai kaku di atas meja dengan pandangan mata yang dingin.
"Tuan Dominic, Faksi Rossi akan pecah malam ini," suara Madam Vane terdengar parau namun jernih di antara jeritan peluru.
"Don Sergio telah mati. Orang-orangnya di pelabuhan akan saling membantai untuk memperebutkan kekuasaan."
"Aku tidak peduli pada Faksi Rossi!" seru Dominic seraya menyambar tubuh Eva ke dalam dekapan lengannya, melindunginya dari serpihan batu yang beterbangan. "Viktor, amankan sekeliling, kita kembali ke Blackwood Manor sekarang juga!"
Di dalam dekapan kokoh Dominic, jantung Evangeline berdegup kencang, bukan karena takut pada hujan peluru yang menyapu ruangan, melainkan karena gejolak yang berputar hebat di balik otaknya.
"Don Sergio mati tepat sebelum ia sempat menyebutkan nama asli berinisial G.B.," batin Eva seraya menahan nyeri berdenyut dari bahu kanannya yang masih terbalut perban.
Tangan kiri Eva cengkeram erat kemeja hitam Dominic, memoles raut ketakutan yang pasrah dan lemas pada wajahnya. Namun di balik tatapan matanya yang berpura-pura trauma, analisis Ghost Rose dalam dirinya bekerja secara mutlak.
Dominic sama sekali belum menyambungkan benang merah identitasnya. Bagi Dominic, wanita di pelukannya adalah 'Evie Thorne' istri setia yang rela mengorbankan darahnya di Villa Mistral.
Wanita yang begitu ia cintai dan harus ia lindungi dengan seluruh kekuatan kekaisaran Blackwood. Dominic belum pernah menduga bahwa sosok Evie yang lemas ini adalah Evangeline Cross, putri kandung dari Clara Cross yang tewas dalam Tragedi St. Jude 2012.
"Identitasku sebagai agen Cross masih aman. Dominic mengira aku bertanya tentang inisial G.B. hanya karena rasa takut seorang istri. Dia tidak tahu bahwa inisial itu adalah kompas dendamku," pikir Eva.
"Dominic... bahumu..." bisik Eva sangat halus, berpura-pura mengkhawatirkan keselamatan Dominic di tengah evakuasi.
"Aku tidak apa-apa, sayang," balas Dominic dengan nada yang teramat lembut di sela-sela keputusasaan dan emosinya yang membakar.
Pria itu mengangkat tubuh Eva ke dalam dekapan lengannya, mengabaikan risiko keselamatan dirinya sendiri seraya berlari menembus barikade perisai menuju iring-iringan mobil yang menanti di luar.
...****************...
Gerbang besi raksasa berukir lambang mahkota dan mawar Blackwood Manor terbuka lebar di bawah siraman hujan deras.
Tujuh mobil berlapis baja meluncur masuk membelah halaman rumput yang luas, dikawal oleh puluhan penjaga bersenjata lengkap yang bersiaga di sepanjang jalan setapak. Manor megah itu tampak seperti benteng perang yang siap menghadapi pengepungan.
Di dalam kamar utama lantai dua, aroma minyak kayu cendana dan kehangatan perapian menyambut Dominic dan Eva.
Dominic mendudukkan Eva dengan sangat lembut di tepi tempat tidur besar berselimut sutra merah. Pria itu berlutut di hadapan Eva, melepas jas hitamnya yang berdebu dan menjatuhkannya ke lantai.
Tangannya yang hangat menangkup kedua pipi pucat Eva, menatap mata hazel wanita itu dengan binar kepemilikan dan rasa bersalah.
"Kau aman sekarang, Evie," bisik Dominic, suaranya bergetar tipis. "Di dalam manor ini, tidak ada satu pun peluru yang sanggup menyentuhmu."
Eva membalas tatapan mata tajam Dominic. Ia mengulurkan tangan kirinya, menyusuri rahang tegas pria penguasa dunia bawah itu dengan kelembutan yang dirancang sempurna.
"Bagaimana dengan Don Sergio?" tanya Eva dengan nada prihatin yang cemas. "Siapa yang membunuhnya, Dominic?"
Mata Dominic meredup, pria itu menggenggam tangan Eva di pipinya, mengecup telapak tangan wanita itu dengan ciuman yang lama dan hangat.
"Orang yang membunuh Sergio adalah orang yang sama yang mengirim penembak jitu ke villa," jawab Dominic dingin. "Sosok berinisial G.B. yang kau dengar malam itu. Dia mengeksekusi Sergio di hadapan kita agar rahasia identitas aslinya tidak terbongkar."
Dominic berdiri, melangkah mendekati meja rias dan mengambil sebuah kotak kayu hitam kecil bertatahan perak dari dalam laci terkunci. Pria itu membawa kotak tersebut kembali dan mendudukkan tubuhnya di samping Eva.
"Apa itu, Dominic?" tanya Eva pelan.
Dominic membuka kunci engsel kotak kayu tersebut. Di dalamnya terbaring sebuah stempel otorisasi logam tua berbentuk mawar berduri tiga, stempel otorisasi tingkat dua milik keluarga Blackwood yang baru saja diserahkan oleh Lady Eleanor.
"Ini adalah kunci otoritasmu di manor ini, Evie," kata Dominic, menatap Eva lurus-lurus. "Nenek telah mengesahkan posisimu. Dengan stempel ini, tidak ada satu pun penjaga atau eksekutor di manor ini yang berani mempertanyakan perintahmu."
Dada Eva berdesir tajam di balik mantelnya.
Stempel otorisasi tingkat dua, ini adalah alat yang dibutuhkannya untuk mengakses lorong rahasia bawah tanah tanpa memicu sistem alarm internal manor.
"Dominic..." kata Eva, memasang raut ragu dan terharu yang amat tipis. "Apakah aku pantas menerima ini? Aku hanya... aku hanya seorang wanita biasa yang bernoda darah dalam perangmu."
"Kau bukan sekadar wanita biasa," potong Dominic tegas, mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka tersisa hitungan sentimeter.
Napas hangatnya beradu dengan helaan napas Eva. "Kau adalah istriku. Kau melompat menerima peluru yang seharusnya menembus kepalaku. Kau menyelamatkan peninggalan ibuku. Tanpamu, aku mungkin sudah membusuk di Villa Mistral."
Dominic meraih jemari kiri Eva, menyisipkan stempel logam dingin itu ke dalam genggaman wanita tersebut, lalu mengatupkan jemari mereka bersama-sama.
"Besok pagi, setelah tim medis memeriksa ulang jahitan bahumu..." kata Dominic dengan suara rendah, "...aku sendiri yang akan membawamu turun ke ruang rahasia bawah tanah Blackwood Manor."
Eva menatap mata kelam Dominic yang dipenuhi proteksi dan kepercayaan.
"Terima kasih, Dominic," bisik Eva, menyandarkan keningnya di dada kokoh pria itu. "Aku akan selalu berada di sisimu."
Dominic melingkarkan lengannya di pinggang Eva, memeluk tubuh mungil wanita itu dengan sangat erat namun penuh kehati-hatian agar tidak menyenggol bahunya yang terluka.
Di dalam kegelapan kamar utama yang tenang, sang penguasa mafia memejamkan matanya, merasa bahwa ia telah menemukan pelindung jiwanya di tengah kekejaman Verona Heights.
...Bersambung... ...