NovelToon NovelToon
Mnemosynes Blood Mate

Mnemosynes Blood Mate

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 3]

"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)

"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)

"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)

"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)

Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.

Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.

Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Pemukiman Ras Elf Hutan

"Tuhan... kumohon, kali ini saja dalam hidupku, aku ingin pulang. Tolong berikan aku seberkas bantuan, siapa pun itu..."

Elisa menatap ke sekeliling arah dengan pandangan mata yang liar penuh kewaspadaan.

Namun, sejauh mata cokelat gelapnya memandang, sama sekali tidak ada tanda-tanda peradaban kehidupan manusia fana.

Hutan ini terasa terlalu indah dan magis untuk bisa disebut sebagai sebuah realitas, namun di sisi lain, atmosfernya terlalu sunyi dan mencekam untuk bisa memberikan rasa aman bagi jiwanya.

Rasa keputusasaan yang dingin perlahan mulai mencekik lehernya, terasa jauh lebih dingin daripada tetesan embun malam Alfheim yang mulai turun membasahi dedaunan.

Tanpa disadari oleh Elisa sedikit pun, puluhan pasang mata supranatural sedari tadi terus mengawasi setiap pergerakan tubuh manusianya dari balik kegelapan bayangan batang pohon purba dan rimbunnya semak-semak.

Manik mata mereka berwarna hijau zamrud yang sangat berkilau, tajam, dan sarat akan insting waspada yang mematikan—karakteristik mutlak yang hanya dimiliki oleh para prajurit Elf Hutan.

Mereka adalah faksi pasukan elite penjaga garis perbatasan Alfheim yang telah mengucapkan sumpah darah untuk menghabisi siapa pun makhluk asing yang berani melanggar batas wilayah tanpa adanya izin tertulis dari pihak istana.

Namun, alih-alih melompat keluar dari persembunyian untuk menyerang atau langsung menghadang dada Elisa menggunakan bidikan anak panah, puluhan prajurit tangguh itu justru mendadak terpaku diam di tempat mereka berdiri.

Ada sebaris energi aura magis kuno yang teramat masif menguar halus dari tubuh lusuh Elisa, sebuah pesona purba misterius yang seolah-olah langsung menghipnotis dan melumpuhkan total kesadaran supranatural mereka.

Para prajurit Elf bertubuh tegap itu hanya bisa diam membatu, sepasang mata hijau zamrud mereka menatap tanpa berkedip ke arah visual Elisa, hingga akhirnya sosok gadis manusia itu berjalan perlahan melewati mereka, menjauh, dan menghilang di balik vegetasi hutan yang kian menipis—bergerak lurus menuju ke arah pemukiman pusat para Elf.

Butuh waktu selama beberapa menit pasca kepergian Elisa hingga efek sihir tak kasat mata yang menjerat kesadaran para Elf itu perlahan luntur.

Seorang prajurit Elf tersentak hebat, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah kebingungan yang nyata.

"Hei! Demi Dewa Alam, apa yang baru saja terjadi pada kesadaran kita?" bisiknya pelan penuh selidik pada rekan prajurit di sampingnya.

"Kenapa kita semua malah diam membatu seperti orang bodoh dan membiarkan manusia fana itu melenggang masuk begitu saja ke jantung wilayah suci kita?"

Elf yang satunya tampak masih dirundung efek linglung, ia menurunkan busur panahnya dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Aku... aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi. Tadi, saat sepasang mataku menatap wajahnya, gadis itu terlihat sangat... memikat dan agung. Seolah-olah tanah hutan Alfheim ini sendiri yang berbisik menyuruh insting kita untuk tunduk dan berlutut padanya."

"Bodoh! Sadarlah dari sihir konyolmu itu!"

Prajurit pertama menepuk pundak temannya dengan sangat keras, mencoba mengembalikan fokus tempur mereka.

"Jika gadis manusia misterius itu sampai berhasil menembus kompleks pemukiman utama dan Yang Mulia Raja mengetahui ada manusia fana yang lolos dari pos penjagaan kita, kepala kita semua yang akan menjadi taruhannya!"

"Benar. Dan jika gadis itu ternyata merupakan sesosok mata-mata kiriman dari klan kegelapan supranatural lain, habislah sudah eksistensi klan kita," sahut prajurit Elf yang lain dengan wajah yang mendadak memucat ngeri.

"Cepat kepung dan kejar dia sekarang juga! Kita harus berhasil menangkapnya hidup-hidup sebelum sepasang kakinya melewati gerbang batas pemukiman utama kota!"

"Jangan gunakan tindakan kekerasan fisik terlebih dahulu," perintah sang pemimpin regu pasukan dengan nada suara yang tegas. "Gadis itu sama sekali tidak terlihat menyerupai manusia biasa yang rapuh. Kita akan membawanya langsung ke hadapan dewan tetua klan, atau setidaknya kita harus meringkusnya sebelum kehadirannya memicu kegemparan besar di tengah pasar kota."

Menggunakan kecepatan supernatural yang luar biasa tinggi khas ras mereka, para prajurit Elf Hutan itu langsung melesat maju di antara dahan-dahan pohon raksasa, bergerak menyerupai bayangan hijau kilat yang sedang memburu mangsanya di tengah keheningan Alfheim.

****

Langkah kaki telanjang Elisa mendadak terhenti seketika. Bukan karena rasa perih yang menyengat akibat luka lecet di sela jari kakinya, melainkan karena panorama megah yang terhampar lurus di hadapannya saat ini benar-benar sanggup menghentikan pasokan napas di paru-parunya.

Tepat di depannya, kini terbentang sebuah wilayah pemukiman masif yang tampak menyerupai kompleks kota metropolis dari negeri dongeng barat kuno.

Bangunan-bangunan kayu berdesain arsitektur magis menjulang tinggi menembus langit, berdiri berjajar dengan sangat rapi dengan lekukan estetika struktur yang luar biasa indah tanpa cela.

Rahang Elisa nyaris jatuh ke tanah saking takjubnya melihat pemandangan ajaib tersebut. Tanpa memikirkan risiko bahaya lagi, didorong oleh harapan untuk menemukan jalan pulang, ia segera berlari cepat menuju ke arah keramaian makhluk-makhluk di dalam kota tersebut.

"Tempat ini... sepertinya menyerupai area pasar," gumam Elisa dengan binar mata takjub.

Namun, tempat ini terasa terlalu indah dan elegan untuk sekadar disebut sebagai sebuah pasar tradisional; sama sekali tidak ada kesan kumuh, bau tak sedap, ataupun sampah kotor yang berserakan.

Sejauh mata cokelat gelapnya memandang, hanya ada kebersihan mutlak dan keanggunan aristokrat yang kental.

Elisa berniat untuk melangkahkan kakinya, menyapa salah satu penduduk di sana untuk bertanya di mana letak jalan keluar menuju dunia manusia fana, namun nyali manusianya seketika menciut drastis saat sepasang matanya mengamati anatomi fisik sosok-sosok makhluk di sekitarnya secara lebih dekat.

Mereka... jelas-jelas bukan bagian dari ras manusia biasa.

Postur tubuh mereka rata-rata menjulang tinggi jauh di atas standar manusia fana, dengan bentuk struktur telinga yang panjang dan runcing di kedua sisi kepala mereka.

Kulit mereka berwarna kecokelatan sehat yang eksotis (tan), dipadukan dengan pahatan struktur wajah yang luar biasa tampan dan rupawan tanpa adanya cacat sedikit pun.

Pakaian jubah yang melekat di tubuh mereka tampak teramat mewah dengan potongan desain yang unik, dan hal yang paling mencolok—seluruh penduduk di pasar ini memiliki sepasang manik mata berwarna hijau zamrud yang menatap dengan kilat tajam yang mengintimidasi.

Kini, seiring dengan kehadiran tubuh asing Elisa yang tampak lusuh di tengah-tengah mereka, seluruh pasang mata hijau zamrud di pasar tersebut mendadak berputar serempak, terkunci lekat menatap ke arah dirinya.

Elisa seketika merasa dirinya telah bertransformasi menjadi seonggok objek asing yang aneh di tengah-tengah peradaban makhluk abadi yang sempurna ini.

Mereka semua... benar-benar bukan manusia fana! Tempat terkutuk dan gila apalagi yang sedang kudatangi kali ini?!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!