Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?
Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.
Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.
Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!
Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manas-manasin
BAB 21
Manas-manasin
“Sorry, kelamaan, ya?” tanya Dinda begitu menghampiri Daffa.
Nada suaranya terdengar sedikit canggung. Bukan karena takut kepada Daffa, melainkan karena ia sadar beberapa siswa di sekitar parkiran sedang memperhatikan mereka. Terlebih, sejak tadi beberapa siswi terus menatap Daffa dengan tatapan kagum.
Dinda takut ada yang menyadari sesuatu yang aneh. Bagaimanapun juga, jiwa yang berada di dalam tubuh Daffa saat ini adalah dirinya.
“Nggak. Baru aja. Yuk, otw.”
Daffa menerima helm yang diberikan Dinda. Ia kemudian mengenakannya sebelum naik ke atas motor dan duduk di jok belakang.
Tanpa banyak bicara, Daffa langsung melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Dinda.
Meskipun terasa geli karena sebenarnya ia sedang memeluk pinggang tubuhnya sendiri, Daffa berusaha tetap santai. Mau bagaimana lagi? Ia harus menjalankan perannya dengan sempurna.
Setidaknya, di depan orang-orang yang selama ini suka meremehkan Dinda, mereka harus terlihat seperti pasangan yang memang sudah dekat.
“Eh...”
Dinda sontak menegang ketika merasakan kedua tangan Daffa melingkar di pinggangnya.
“Bang, ngapain peluk-peluk segala?” bisiknya pelan.
“Biar kelihatan meyakinkan.”
Daffa menjawab santai seolah tidak ada yang aneh dengan situasi mereka.
Dinda bingung maksud ucapan Daffa. Tetapi untuk menghindari situasi saat ini, ia terpaksa mengabaikan rasa penasarannya.
Dalam hati, ia berharap tidak ada satu pun orang yang menyadari bahwa dua orang yang sedang mereka lihat sebenarnya sedang bertukar tubuh.
Apa yang dilakukan Daffa tentu saja membuat Dinda terkejut. Ia sama sekali tidak tahu permainan apa yang sedang direncanakan oleh Daffa. Namun, melihat beberapa pasang mata masih tertuju kepada mereka, Dinda memilih tidak bertanya lebih jauh.
Dalam kebingungannya, Dinda segera menyalakan mesin motor lalu melajukannya meninggalkan area parkiran.
Sementara itu, Kania yang tadinya sempat pergi ternyata kembali karena rasa penasarannya. Ia tertegun di tempatnya. Matanya mengikuti kepergian Dinda dan Daffa dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Sejak kapan Dinda jadi bucin begini?” gumamnya heran.
Ia sama sekali tidak menyangka sahabatnya yang terkenal cuek itu bisa menunjukkan sisi seperti tadi, bahkan sampai berani memeluk pinggang Daffa di depan banyak orang.
Alhasil, kedatangan Dinda yang berada di dalam tubuh Daffa untuk menjemput dirinya sendiri justru membuat heboh orang-orang yang melihatnya.
Bagaimana tidak? Seorang pria tampan datang menjemput Daffa, lengkap dengan sikap yang terlihat begitu dekat. Beberapa siswi yang menyaksikan pemandangan itu hanya bisa menatap dengan wajah iri.
Daffa yang duduk di belakang motor merasa puas. Dari balik helmnya, ia bahkan bisa membayangkan wajah-wajah iri yang tadi melihat mereka. Rencananya berhasil.
Namun, perasaan Dinda justru jauh berbeda. Sejak tadi jantungnya berdetak tidak karuan karena Daffa masih melingkarkan kedua tangannya di pinggangnya. Meskipun tangan yang memeluk itu sebenarnya adalah tangannya sendiri, tetap saja ada Daffa di balik tubuh tersebut.
Hal itulah yang membuat Dinda merasa panas dingin. Pasalnya, baru kali ini ia merasakan dirinya dipeluk oleh seorang laki-laki yang bukan keluarganya sendiri. Dan lebih parahnya lagi, laki-laki itu adalah Daffa.
Dinda hanya bisa berusaha fokus mengendarai motor sambil menahan rasa gugup yang semakin sulit dikendalikan.
Setelah perjalanan beberapa waktu, mereka akhirnya tiba di sebuah kafe yang cukup asri dan tenang. Tempat itu cocok untuk bersantai sekaligus menjernihkan pikiran setelah seharian menghadapi berbagai kejadian.
"Cil, mau pesan makan nggak? Udah hampir sore banget makan yuk?! Masa dari tadi pesen es doang, dah kembung nih perut."
"Terserah aja deh."
Daffa kemudian memesan beberapa makanan untuk mereka. Setelah pesanan datang, keduanya pun mulai makan sambil berbincang santai. Anehnya, percakapan mereka kini terasa begitu natural, seolah keadaan bertukar tubuh yang awalnya terasa kacau sudah menjadi bagian dari keseharian.
Sesekali Dinda mengeluhkan hal-hal kecil yang ia alami saat berada di tubuh Daffa, begitu pula sebaliknya. Daffa menanggapinya dengan santai, sesekali melontarkan komentar singkat yang membuat Dinda kesal sekaligus tertawa.
Tanpa mereka sadari, kebersamaan seperti itu perlahan membuat keduanya semakin terbiasa satu sama lain.
“Nanti malam Tante Mayang sama Om Rendra mau ke rumah.”
Dinda tiba-tiba membuka pembicaraan ketika obrolan mereka mulai beralih ke hal yang lebih serius.
Daffa yang semula masih santai langsung menghentikan makannya dan menatap Dinda.
"Tante Sarah juga udah pesan ke gue, sebelum magrib harus sudah di rumah."
"Ada apa ya, Bang?"
"Gue juga nggak tahu. Tapi kita akan segera tahu nanti malam." Jawab Daffa.
"Btw Bang, hari Ini nggak ada kejadian apa-apa kan di sekolah? Abang nggak macam-macam kan Bang?"
"Nggak lah, aman."
Tentu Daffa sudah merasa aman sekarang. Dengan Dinda yang berada dalam tubuhnya itu datang menjemputnya pulang sekolah saja, satu masalah teratasi pikirnya.
"Si Tiwi ngambek Bang. Tapi aku cuek aja. Ngebet banget dia sama Abang."
Daffa memperhatikan Dinda. Ada yang berubah dari cara gadis itu berbicara. Bahasanya kini terdengar lebih santun kepadanya, dan tanpa sadar Daffa tersenyum dalam hati.
"Tapi kalau aku jadi Abang juga nggak bakalan mau aku sama Tiwi." Lanjut Dinda.
"Kenapa?" Tanya Daffa.
"Bukan tipe ku."
Sontak ucapan Dinda membuat Daffa terkekeh. Tentu saja Tiwi bukanlah tipe Dinda karena mereka sama-sama perempuan.
“Dah, yuk. Habiskan makannya. Keburu sore, nanti Tante Sarah bisa marah.”
Dinda mengangguk. Ia pun segera menyelesaikan makanannya, sementara Daffa masih santai menikmati sisa minumannya.
“Cepetan, Bang,” desak Dinda setelah selesai.
“Iya, cerewet.”
Daffa akhirnya bangkit dan membayar makanan mereka. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, keduanya pun meninggalkan kafe.
Mereka berjalan berdampingan menuju tempat parkir. Seperti biasa, tak banyak yang mereka bicarakan. Namun, kebersamaan itu kini terasa jauh lebih nyaman dibandingkan saat pertama kali mereka bertukar tubuh.
Tak lama kemudian, mereka pun pulang bersama.
“Udah nggak ada siapa-siapa. Jangan pegang-pegang kayak tadi lagi ya, Bang.”
Dinda melirik Daffa dengan tatapan mengingatkan, masih merasa malu jika mengingat bagaimana Daffa tadi memeluk pinggangnya di depan orang-orang.
“Hmm,” jawab Daffa singkat.
Padahal, sebenarnya ia masih ingin melakukannya. Namun, Dinda sudah lebih dulu mengingatkan, membuat niatnya terpaksa ia urungkan.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
salahin nggak pake kacamata itu