Kembali ke Meja yang Sama
Romance • Office Romance • Second Chance
Tiga tahun setelah putus tanpa penjelasan, Alya pikir dia sudah move on — sampai hari pertama kerja di kantor baru, dia sadar atasannya sendiri adalah mantan yang paling ingin dia lupakan.
Raka. Dingin. Profesional. Seolah tak pernah mengenalnya.
Tapi di balik topeng atasan yang terkontrol itu, ada rahasia yang selama ini disembunyikan — alasan sebenarnya kenapa dia pergi dulu, tanpa kata, tanpa jejak.
Setiap rapat jadi medan perang batin. Setiap proyek yang mempertemukan mereka berdua jadi ujian rasa yang belum sepenuhnya mati. Alya harus memilih: bertahan profesional, atau membiarkan luka lama terbuka lagi demi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya — atau menyatukan mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Tersembunyi
Keesokan paginya, Alya dan Raka mendatangi kantor polisi terdekat untuk melaporkan ancaman telepon yang mereka terima semalam. Seorang petugas bernama Pak Anwar menerima laporan mereka dengan serius, mencatat setiap detail yang bisa mereka berikan—nomor telepon yang sudah tidak aktif, rekaman suara yang sempat mereka simpan, serta kronologi kejadian sejak pesan pertama muncul beberapa minggu lalu.
"Kami akan coba lacak nomor ini," kata Pak Anwar, memeriksa catatan yang telah ia buat. "Tapi kalau memang menggunakan nomor sekali pakai dan sengaja mendistorsi suara, ini kemungkinan besar dilakukan oleh seseorang yang cukup terencana. Sementara ini, saya sarankan Anda berdua tetap waspada dan hindari bepergian sendirian, terutama di malam hari."
"Apa ada kemungkinan ini terkait dengan kasus Dimas Aditya sebelumnya?" tanya Raka, mencoba mencari titik terang.
Pak Anwar mempertimbangkan sejenak. "Bisa jadi, tapi juga bisa jadi pihak lain yang punya kepentingan berbeda. Apa ada orang lain belakangan ini yang menunjukkan permusuhan atau kecemburuan terhadap kesuksesan karier Anda, Bu Alya?"
Alya terdiam, mencoba mengingat-ingat siapa saja yang mungkin menyimpan dendam atau kepentingan tersembunyi terhadapnya. Pikirannya melayang ke berbagai kemungkinan—rekan kerja yang mungkin iri dengan promosinya, atau bahkan seseorang dari masa lalu yang belum pernah ia duga akan kembali muncul.
"Saya akan coba pikirkan lebih lanjut," jawab Alya akhirnya, meski tidak ada nama yang benar-benar meyakinkan muncul di kepalanya.
---
Sepulang dari kantor polisi, Raka mengajak Alya singgah di rumah orang tuanya, berpikir bahwa mungkin ada informasi yang bisa membantu dari sudut pandang keluarga, mengingat kompleksitas hubungan bisnis yang pernah melibatkan berbagai pihak selama bertahun-tahun.
Pak Hendra dan Bu Marlina menyambut mereka dengan wajah khawatir setelah mendengar cerita soal ancaman yang diterima Alya.
"Ini serius," kata Pak Hendra, mengerutkan kening. "Apa kalian sudah mempertimbangkan kemungkinan ini terkait dengan bisnis kita? Kadang persaingan di dunia korporat bisa sangat kejam, terutama kalau ada pihak yang merasa dirugikan oleh keputusan bisnis tertentu."
"Maksud Papa?" tanya Raka, mencoba memahami arah pemikiran ayahnya.
"Beberapa bulan lalu," jelas Pak Hendra, "sebelum semua urusan perjodohan ini terjadi, ada satu perusahaan pesaing yang sempat mencoba mengakuisisi bagian dari bisnis kita, tapi gagal karena investasi dari keluarga Wijaya—ayah Sarah—yang justru memperkuat posisi kita. Mungkin ada pihak dari perusahaan pesaing itu yang menyimpan dendam, dan sekarang mencoba mencari celah untuk menjatuhkan reputasi perusahaan lewat cara yang lebih personal."
Alya mendengarkan dengan seksama, mencoba mencerna kemungkinan baru ini. "Siapa nama perusahaan pesaing itu, Pak?"
"Grup Cahaya Nusantara," jawab Pak Hendra. "Dipimpin oleh seorang pengusaha bernama Bram Wicaksono, yang cukup dikenal agresif dalam strategi bisnisnya."
Nama itu membuat Alya dan Raka saling bertukar pandang cepat—*Bram*, nama yang sama dengan pria misterius yang bertanya-tanya soal Alya di lobi kantor beberapa minggu lalu.
"Itu bisa jadi orangnya," kata Raka, suaranya mulai menegang. "Pria yang bertanya-tanya ke resepsionis kantor kita juga mengaku bernama Bram."
Pak Hendra tampak terkejut mendengar hubungan itu. "Kalau memang benar, ini lebih serius dari yang kita duga. Bram Wicaksono dikenal punya reputasi buruk soal cara-cara bisnisnya yang kadang melewati batas etika, termasuk pernah terlibat dalam beberapa kasus intimidasi terhadap pesaing bisnisnya di masa lalu."
---
Informasi baru ini segera dilaporkan kembali ke Pak Anwar dan tim keamanan perusahaan, yang langsung memulai penyelidikan lebih mendalam terkait keterlibatan Bram Wicaksono dan Grup Cahaya Nusantara dalam ancaman yang diterima Alya.
Sementara penyelidikan berlangsung, Alya mencoba tetap menjalankan tugasnya sebagai Head of Marketing dengan sebaik mungkin, meski kewaspadaan ekstra selalu menyertainya setiap saat. Raka tidak pernah jauh darinya, selalu memastikan untuk mengantar-jemput dan menemani Alya dalam berbagai kesempatan, sebuah bentuk perlindungan yang meski kadang terasa berlebihan, sangat dihargai oleh Alya di tengah situasi yang tidak menentu ini.
Suatu sore, ketika Alya sedang memimpin rapat tim untuk membahas strategi kampanye baru, sekretarisnya masuk dengan wajah gugup, menyampaikan bahwa ada tamu yang ingin bertemu dengannya secara mendadak.
"Siapa tamunya?" tanya Alya, sedikit waspada mengingat situasi belakangan ini.
"Dia mengaku bernama Bram Wicaksono, dari Grup Cahaya Nusantara," jawab sekretaris itu, suaranya sedikit gemetar. "Katanya ingin bicara langsung soal kerja sama bisnis."
Jantung Alya berdegup kencang mendengar nama itu disebutkan secara langsung. Ia segera menghubungi Raka yang sedang berada di ruangan lain, memintanya untuk segera bergabung sebelum menemui tamu misterius itu.
"Kamu yakin mau ketemu dia langsung?" tanya Raka, khawatir begitu mendengar situasinya.
"Aku pikir ini kesempatan buat cari tau kebenarannya langsung," jawab Alya, mencoba terlihat berani meski dalam hati ia merasa gugup. "Tapi aku nggak mau ketemu sendirian. Kamu harus ada di sana."
Mereka berdua memutuskan untuk menemui Bram di ruang rapat resmi, dengan kehadiran Pak Joko dari tim keamanan yang berjaga tidak jauh dari ruangan sebagai langkah antisipasi.
Ketika pintu ruang rapat terbuka, seorang pria berusia sekitar tiga puluhan dengan setelan jas mahal dan senyum yang terlalu ramah untuk terasa tulus melangkah masuk, persis seperti deskripsi yang diberikan resepsionis sebelumnya.
"Alya Ramadhani," kata Bram, tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya. "Akhirnya kita bertemu langsung."
Alya menjabat tangan itu dengan hati-hati, mencoba membaca setiap gestur dan ekspresi yang mungkin mengungkapkan niat sebenarnya dari pria ini. "Pak Bram, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya dengar perusahaan Anda sedang menghadapi beberapa... tantangan belakangan ini," kata Bram, duduk dengan santai di kursi yang disediakan, nada suaranya penuh sindiran halus yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya. "Saya datang untuk menawarkan solusi, sekaligus kerja sama yang mungkin bisa menguntungkan kedua belah pihak."
"Solusi seperti apa yang Anda maksud?" tanya Raka, suaranya tegas, mencoba menahan kecurigaan yang semakin menguat.
Bram tersenyum lebih lebar, matanya berpindah dari Raka ke Alya dengan tatapan yang membuat bulu kuduk Alya berdiri. "Solusi yang akan membuat semua 'gangguan kecil' yang belakangan ini Anda alami berhenti sepenuhnya. Tapi tentu saja, dengan syarat tertentu yang perlu kita diskusikan lebih lanjut."