NovelToon NovelToon
Kehangatan Di Ujung Senja

Kehangatan Di Ujung Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:143.2k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.

​Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.

Akankah Alfa bisa menemukan Senja?

Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Alfa

Hari Minggu yang seharusnya menjadi ajang melepas penat justru senantiasa diabaikan oleh Senja. Bagi wanita itu, waktu libur di rumah tanpa tumpukan berkas pekerjaan hanya akan membuka ruang bagi pikiran-pikiran liar yang mengganggu.

Oleh sebab itu, Senja selalu sibuk menenggelamkan diri dalam hobinya, jika tidak mengurung diri bersama buku-buku tebal, ia akan memilih untuk berkutat dengan kanvas dan cat minyak.

Seperti yang ia lakukan sejak sore tadi. Senja berdiam diri di balkon lantai dua yang menghadap langsung ke arah taman belakang rumah mereka yang luas.

Angin malam yang dingin berembus perlahan, memainkan helai-helai rambut hitamnya yang terurai. Di hadapannya, berdiri sebuah easel kayu yang menopang kanvas berukuran besar.

Tangan Senja yang memegang kuas bergerak gemetar namun pasti. Di atas kanvas putih itu, terhampar sebuah lukisan bernuansa surealis yang sangat rumit dan sulit dipahami oleh mata awam.

Didominasi oleh guratan warna-warna gelap, hitam legam, biru tua yang pekat, dan abu-abu kelabu, lukisan itu memvisualisasikan sebuah lorong labirin tanpa batas yang terbuat dari sangkar-sangkar besi tajam.

Di tengah labirin yang gulita itu, tampak samar sosok bayangan wanita bergaun sutra tanpa wajah, berdiri kaku di bawah guyuran hujan abu.

Tidak ada matahari, tidak ada titik terang, dan tidak ada pintu keluar. Lukisan itu seolah menjadi cermin telanjang dari jiwa Senja, sebuah gambaran hidup yang sepi, gelap, terkekang oleh ekspektasi, dan terisolasi di dalam kemewahan yang dingin.

Begitu larutnya Senja dalam setiap sapuan cat minyak dan pergolakan batinnya, ia sama sekali tidak menyadari suara deru mobil yang memasuki garasi, maupun langkah kaki lembut yang mendekat ke arah balkon.

Alfa berdiri mematung beberapa meter di belakang Senja. Pria itu menyandarkan bahunya pada kusen pintu balkon, menatap punggung Senja dan kanvas di hadapannya dengan raut wajah yang sulit diartikan.

Alfa benar-benar terkejut. Ia tahu Senja wanita yang serba bisa, namun menyaksikan langsung bagaimana jemari lentik itu menggoreskan warna dengan emosi yang begitu dalam dan teknik yang amat matang membuat Alfa terpana. Sorot mata Alfa meneliti setiap jengkal lukisan tersebut. Di balik visualnya yang kelam dan rumit, Alfa bisa merasakan keindahan yang magis sekaligus kegetiran yang menyayat hati dari lukisan itu.

"Teknik sapuan kuasmu luar biasa, Senja... tapi atmosfernya terasa sangat sepi dan menyayat" Ujar Alfa tiba-tiba, menembus keheningan malam.

Senja tersentak kecil. Tangannya yang memegang kuas terhenti di udara. Ia memutar tubuhnya dan menemukan Alfa sudah berdiri menatap lukisannya dengan binar mata penuh kekaguman.

"Mas Alfa?" Senja buru-buru meletakkan palet catnya di atas meja kecil.

"Kapan kamu pulang? Aku... aku tidak mendengar suaramu."

"Baru saja" Jawab Alfa seraya melangkah lebih dekat ke kanvas Senja. Matanya masih enggan beralih dari guratan warna gelap tersebut.

"Aku tidak tahu kalau ternyata kamu juga mahir melukis. Coretanmu... bukan cuma sekadar indah, tapi punya nyawa. Walau rasanya sangat gelap dan penuh misteri."

Senja mengulas senyum tipis, sedikit canggung karena karya pribadinya yang mengekspos isi hatinya dilihat oleh Alfa.

"Hanya sekadar menyalurkan pikiran di hari libur, Mas. Kadang kata-kata tidak cukup untuk menjelaskan apa yang ada di dalam kepala."

Alfa menatap Senja dengan dalam, seolah mulai memahami satu per satu lapisan misteri dalam diri istrinya. Tiba-tiba, sebuah ide terlintas di benak Alfa.

"Ikut aku sebentar" Ajak Alfa lembut.

Senja mengernyit bingung.

"Ke mana?"

"Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu."

Alfa berjalan terlebih dahulu, memandu Senja melintasi koridor lantai dua, lalu turun menuju area belakang rumah utama yang jarang tersentuh.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu tebal yang terletak di ujung lorong sepi. Senja selalu mengira ruangan belakang ini hanyalah gudang kosong tempat penyimpanan barang-barang sisa renovasi, mengingat rumah ini masih sangat baru mereka tempati.

Alfa mengangkat pot bunga kaktus kecil yang ada di bufet rapat di samping pintu. Dia mengambil sebuah kunci kecil dibawanya lalu memutarnya di lubang kunci.

Saat sakelar lampu ditekan oleh Alfa, pendar cahaya kuning hangat seketika menerangi ruangan yang luas itu. Mata Senja membelalak tipis. Suasana di dalam sana sama sekali jauh dari kesan gudang kotor.

Ruangan itu sangat bersih, beraroma khas cat minyak dan kayu pine, serta dipenuhi oleh puluhan kanvas dari berbagai ukuran yang tersusun rapi di rak-rak kayu maupun bersandar di dinding.

Senja melangkah masuk dengan perasaan takjub. Ia meneliti lukisan-lukisan yang ada di sana. Berbeda dengan lukisan Senja yang gelap dan kelam, lukisan di ruangan ini justru penuh dengan dinamika warna, pemandangan sudut kota di malam hari, siluet hujan di kaca, hingga instalasi abstrak yang penuh energi artistik tinggi.

"Ini... lukisan milik siapa, Mas?" Tanya Senja heran, memutar tubuhnya menatap Alfa.

"Kenapa ada begitu banyak lukisan indah tertumpuk di sini?"

Alfa tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekati salah satu kanvas besar yang menampilkan pemandangan cakrawala senja di atas lautan. Alfa menunjuk ke sudut kiri bawah kanvas tersebut.

Senja mendekat dan menundukkan badannya untuk melihat lebih jelas. Di sudut kiri bawah kanvas itu, terukir sebuah tanda tangan berupa inisial huruf yang dibuat dengan goresan kuas kecil namun tegas, A.

Senja menatap inisial itu, lalu menatap Alfa dengan mata berbinar tak percaya.

"Ini semua milik kamu, Mas?" Tanya Senja terkejut.

Alfa mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis yang sedikit malu-malu.

"Iya, semuanya karyaku."

"Tapi... bagaimana bisa?" Senja menyusuri barisan kanvas itu dengan raut takjub yang tak bisa disembunyikan.

"Kenapa tidak ada satu orang pun yang tahu kalau kamu bisa melukis sebagus ini? Kenapa semua karya indah ini justru disembunyikan di ruangan belakang?"

Alfa menghela napas pendek, menyandarkan pinggulnya pada meja kerja kayu yang berantakan dengan tabung-tabung cat minyak milik pria itu.

"Orang tuaku tidak pernah suka kalau aku melukis, Senja" Ungkap Alfa jujur, nadanya terdengar datar namun menyimpan kegetiran masa lalu.

"Bagi Papa, seni melukis adalah kegiatan buang-buang waktu yang tidak ada nilainya dalam dunia bisnis. Sejak kecil, aku dituntut untuk selalu fokus pada angka, manajemen, dan kepemimpinan. Jadi... aku melukis secara diam-diam. Ruangan ini adalah satu-satunya tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa dituntut menjadi penerus Arghantara."

Senja terdiam.

Kalimat Alfa merambat masuk ke dalam dadanya, memicu rasa simpati dan keterikatan yang aneh. Mereka berdua rupanya tumbuh di bawah bayang-bayang ekspektasi orang tua yang sama-sama mencekik, hanya saja meluapkannya dengan cara yang berbeda.

Senja berjalan mendekati salah satu lukisan abstrak bernuansa biru dan emas milik Alfa.

"Kamu menggunakan teknik impasto di sini, kan? Goresan pisau paletnya sangat tebal dan berani."

Alfa membelalak kaget, matanya berbinar cerah.

"Kamu tahu teknik impasto?"

"Tentu saja" Sahut Senja seraya mengusap pelan tekstur cat yang mengering di atas kanvas tanpa menyentuhnya langsung.

"Dinamika warnanya luar biasa. Kamu ingin menunjukkan kekacauan yang teratur di sini, benar?"

"Tepat sekali!" Seru Alfa antusias, merasa seperti menemukan seseorang yang akhirnya bisa membaca bahasa jiwanya.

"Kebanyakan orang yang tidak paham seni hanya akan melihat ini sebagai tumpukan cat yang berantakan. Tapi kamu langsung tahu maksudku!"

Obrolan di antara mereka pun mengalir begitu saja di dalam ruangan tersembunyi itu. Dinding kaku yang biasanya membatasi interaksi mereka sebagai suami-istri hasil perjodohan seolah luluh secara ajaib.

Mereka saling bertukar pikiran tentang berbagai aliran seni melukis, perbedaan cat berbahan dasar minyak dan akrilik, hingga makna di balik pencahayaan dan gradasi warna.

Ternyata, pandangan dan filosofi mereka tentang seni melukis sangat cocok dan selaras. Senja yang terbiasa bersikap formal dan tertutup perlahan-lahan mencair. Nadanya bicaranya saat menanggapi Alfa terdengar sangat santai, lepas, dan begitu dekat.

"Tapi Mas" Ujar Senja terkekeh tipis saat menunjuk lukisan siluet pohon tanpa daun milik Alfa.

"Pencahayaan di bagian kanan lukisan ini agak terlalu terang untuk suasana malam. Rasanya seperti ada lampu stadion yang tiba-tiba menyala di tengah hutan."

Alfa tertegun sejenak mendengar kritik jujur Senja, lalu pria itu tertawa lepas, sebuah tawa renyah dan bebas yang belum pernah Senja dengar sebelumnya.

"Kamu benar!" Alfa tertawa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusap tengkuknya canggung.

"Waktu melukis bagian itu, aku sedang sangat mengantuk karena baru selesai rapat jam satu malam. Ternyata mataku sudah tidak bisa membedakan warna kuning dan putih!"

Senja ikut tertawa kecil mendengar pengakuan Alfa. Suasana ruangan yang dikelilingi kanvas-kanvas itu terasa begitu hangat dan hidup. Untuk pertama kalinya sejak mereka tinggal di bawah satu atap, tidak ada bayangan Dila, tidak ada cengkeraman Prasetya Anjasmara, dan tidak ada tuntutan peran.

Di dalam ruangan tersembunyi berinisial 'A' itu, Alfa dan Senja hanya menjadi dua jiwa yang saling memahami, menemukan titik temu di mana warna-warna hidup mereka yang kelam dan tersembunyi akhirnya bisa saling bersentuhan.

1
Ari Atik
akhirnya....
lurus semua permasalahan
🌹
Biasanya panggil Mas kan 🤔
Cahaya
pnasaran alpamart senja
Cahaya
harus ny up berapa yh hari ini 🙏
santi.santi: bentar ya, soalnya anak otor lagi sakit jadi nggak bisa pasti🙏🏻
total 1 replies
Cahaya
jangan lama dong thor up ny.menunggu itu ngga enakkkkk🙏
Rina Wati.S
lanjut kak
Nadja 🎀
Ares hanya di anggap adik bagi senja... makanya senja menolak ares cuma di anggap adik. jgn khawatir Alfa.. senja gak suka laki-laki melimpah duit kyk ares hanya ingin hidup sederhana gk peduli miskin.
Silvia
ayo berjuang bersama💪💪 semangat
Hanima
👍👍
Agnezz
Alfa dan Senja sudah sama2 berkorban satu sama lain. Senja mengorbankan ginjalnya demi kesembuhan Dila yg menurut pikirannya saat itu sumber kebahagiaan Alfa.
Alfa mengorbankan harta dan jabatannya di perusahaan ayahnya demi membayar kebebasan Senja. Memilih bekerja keras tak kenal sebagai operasional kurir demi mencari keberadaan Senja sehingga kondisi fisiknya menurun.
Sedangkan Ares hanya membantu Senja keluar dari Alfa dan keluarganya. Ares tidak kekurangan apapun, dia membantu dari kelimpahannya dan kemampuannya. Jadi nothing to lose buat Ares. Cuma soal ditolak cintanya oleh Senja.
Hanima
Bodxx..
Agnezz
jadi 3 alasan Senja mendonorkan ginjal dan memilih pergi :
1. karena tidak tahan dan tidak tega melihat Alfa yg sedih dan terpuruk saat Dila drop.
2. karena ingin bebas dari tuntutan orang tuanya
3. karena tidak ingin dari duri dalam hubungan Alfa dan Dila. Sebelum Alfa menceraikannya lebih baik Senja yg pergi lebih dulu.
Agnezz: ya sama2 kak, terima kasih sudah up banyak dan tetap semangat👍
total 2 replies
Nurminah
keterbukaan dengan pasangan komunikasi yg bagus amat sangat penting dalam rumah tangga berhubung dua duanya punya luka masa lalu jadi ya walaupun pintar terlihat bodoh dalam menyikapi keadaan terkadang seseorang yg tidak marah diam lebih mengerikan dibandingkan orang yg melampiaskan amarahnya dengan bercerita
Maharani Rani
lanjuttt😍
Maharani Rani
lanjutt kak😍
Cahaya
lanjutt
Cahaya
lanjuttt
Cahaya
ko spi ini yh pada kmana ini redssss
Cahaya
emm emmm akir ny tuntas sudah salah paham ny tinggal buka lmbaran baru
Nar Sih
kejujuran dan saling terbuka kini tdk ada lgi rahasia antara kalian senja juga alfa ,makasih kak santi udh up lgi sampai q bca nya tgh mlm🙏🥰🥰
Agnezz: iya kubaca sambil ngantuk tengah malam, baru koment pagi🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!