Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Akad Tanpa Cinta
Jayadi masuk lebih dahulu, kemudian Cepi dan Caca. Dan terakhir...
Aynara.
Asti yang sejak tadi menunggu akhirnya mengernyitkan dahi. Dengan nada pelan ia bertanya pada Wicaksono. "Yah, itu pengantinnya Aksa?"
Wicaksono tidak langsung menjawab, tatapannya tertuju pada Aynara. Ia mengenali gadis itu dari foto yang pernah diperlihatkan kepadanya. Beberapa kali ia juga pernah melihat Aynara dari jauh.
Namun, perempuan yang berdiri di hadapannya sekarang terlihat jauh berbeda. Wajahnya memerah dan sedikit sembap. Wicaksono menyipitkan mata, ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.
"Iya," jawabnya singkat.
Asti kembali memerhatikan Aynara. "Apa dia sakit?"
Namun Asti tidak mengatakan apa-apa. Bagaimanapun, gadis itu tetap calon menantunya. Dan ia sangat yakin, ayah mertuanya tidak mungkin menikahkan putranya dengan sembarang gadis.
Di sisi lain, Aksa yang baru saja menoleh langsung menghela napas panjang. "Serius?"
Tatapannya tertuju pada Aynara. "Kakek benar-benar mau nikahin aku sama dia?"
Sejak awal Aksa memang tidak menginginkan pernikahan ini. Namun, setidaknya ia berharap calon istrinya bisa membuatnya sedikit lebih mudah menerima keadaan. Nyatanya, yang ia lihat sekarang justru membuatnya semakin tidak bersemangat.
Sementara itu, Aynara yang tanpa sengaja bertatapan dengan Aksa segera menundukkan wajah. Ia tahu seperti apa penampilannya saat ini. Ia pasti terlihat buruk. Dan entah kenapa, hal itu membuat hatinya semakin sakit.
Bukan hanya karena ia akan menikah dengan pria yang tidak dicintainya, tetapi bahkan di hadapan calon suaminya sendiri, ia merasa tidak cukup pantas untuk berdiri di sana.
Caca yang berdiri tidak jauh dari Aynara justru diam-diam memerhatikan Aksa. "Ganteng banget..." Caca tanpa sadar tersenyum kecil.
Tatapan Caca berubah. Jas yang dikenakan Aksa terlihat begitu pas di tubuh, ditambah wajah tegas dan pembawaan yang membuatnya tampak berbeda dari pria-pria yang biasa ia temui.
"Ya ampunn... ini bener-bener jauh melebihi ekspektasiku." Ia melirik kakaknya yang masih tertunduk. "Sayang sekali malah nikah sama Kak Nara."
Berbeda dengan Cepi. Sejak melihat reaksi Aksa, sudut bibirnya justru hampir terangkat. "Kalau pria itu merasa jijik melihat kondisi Aynara, mungkin saja pernikahan ini dibatalkan. Dan jika keluarga Wicaksono yang membatalkannya..." Cepi menahan senyum.
Lima miliar.
Namun, ia segera memasang wajah biasa ketika Wicaksono menoleh ke arahnya.
Jayadi segera mendekati Wicaksono. "Pak, putri saya mengalami alergi. Itu sebabnya wajahnya seperti ini. Kami sudah berusaha mencari obat di beberapa apotek selama perjalanan kemari, tetapi Nara hanya cocok dengan obat tertentu dan kebetulan stoknya tidak tersedia."
"Alergi?" ulang Wicaksono. Pandangannya beralih kepada Aynara. "Kalian sengaja membuatnya seperti ini agar saya membatalkan pernikahan dan membayar denda?"
Mata Jayadi langsung melebar. "Bukan, Pak. Kami tidak berani melakukan hal seperti itu. Nara memang benar-benar mengalami alergi."
Cepi yang berdiri di belakangnya memegang tali tasnya lebih erat, jantungnya berdegup lebih cepat. Rencananya hampir berhasil.
Wicaksono baru akan membuka suara, tetapi Aynara lebih dahulu berkata, "Saya benar-benar terkena alergi, Pak." Suaranya terdengar tegas meskipun sesekali ia harus menahan rasa gatal yang semakin mengganggu. "Mana mungkin saya mempertaruhkan kesehatan sendiri hanya demi melakukan hal licik seperti itu?"
Aynara menarik napas pelan. "Kalau memang niat kami membatalkan pernikahan dengan cara seperti ini, tentu saya sudah menyiapkan obatnya. Begitu wajah saya mulai bereaksi, saya pasti langsung meminumnya. Bukan malah membiarkan diri saya tersiksa seperti ini."
Ia mengepalkan tangan di sisi tubuh, berusaha keras menahan keinginan untuk menggaruk kulitnya. "Saya memang tidak menginginkan pernikahan ini, Pak. Tapi saya tidak akan melakukan hal seperti itu."
Wicaksono terdiam, matanya mengamati Aynara beberapa saat. Tidak ada kepanikan berlebihan dalam sikap gadis itu. Tidak pula terlihat seperti seseorang yang sedang berpura-pura. Yang ada justru rasa tidak nyaman yang berusaha ia tahan.
Akhirnya Wicaksono mengangguk. "Baik."
Cepi diam-diam mengembuskan napas lega, tetapi kelegaan itu tidak bertahan lama.
Wicaksono melanjutkan, "Kalau begitu, kita mulai acaranya."
Cepi menatap Wicaksono tidak percaya. Rencananya benar-benar gagal.
Wicaksono kemudian menambahkan, "Setelah akad selesai, Aynara langsung dibawa ke rumah sakit."
"Baik, Pak," sahut Jayadi lega.
Wicaksono lalu menoleh kepada Aksa.
"Kek—".Wajah Aksa jelas-jelas penuh protes.
Namun, Wicaksono langsung memotong. "Pernikahan ini tetap berjalan."
Aksa mendengus.
"Meski hujan, guntur, atau badai sekalipun," lanjut Wicaksono datar, "hari ini kalian tetap menikah."
Tidak ada yang berani membantah.
Asti hanya bisa menghela napas. Ia sempat melirik Aynara. Gadis itu terlihat beberapa kali mengusap hidung dan wajahnya, berusaha meredakan rasa gatal tanpa menggaruk. Asti merasa sedikit iba. Namun, sebelum sempat mengatakan sesuatu, prosesi akad sudah dimulai.
Aksa duduk dengan wajah malas. Ia mengikuti seluruh prosesi hanya karena terpaksa. Ketika mengucapkan janji suci, setiap kata memang keluar dengan lancar dari bibirnya, tetapi tidak satu pun benar-benar ia tanamkan dalam hati. Baginya, akad itu hanyalah kewajiban yang harus diselesaikan agar ia tetap mempertahankan haknya sebagai pewaris.
Ketika buku nikah diletakkan di hadapannya, ia hanya mengikuti instruksi yang diberikan.
Tangannya bergerak menandatangani dokumen tersebut tanpa benar-benar memerhatikan halaman identitas yang menampilkan foto Aynara.
Ia bahkan tidak tertarik melihatnya. Baginya, pernikahan ini sudah cukup membuat kesal. Ia tidak punya keinginan untuk mengenal lebih jauh perempuan yang kini telah menjadi istrinya.
Setelah prosesi akad selesai, Wicaksono mengambil sebuah map dari atas meja. "Ada satu hal lagi."
Aksa yang hendak berdiri terpaksa kembali duduk.
Wicaksono membuka map tersebut dan mengeluarkan sebuah dokumen. "Ini perjanjian yang sudah disepakati oleh kedua keluarga."
Aksa mengerutkan dahi. "Kakek masih mau bahas itu?"
"Justru karena kamu sudah menikah, kamu harus mengetahuinya." Wicaksono meletakkan dokumen tersebut di atas meja. "Selama satu tahun pertama, kalian tidak boleh bercerai."
Aksa langsung menyahut. "Kenapa?"
"Karena itu kesepakatannya." Wicaksono menunjuk bagian tertentu pada dokumen. "Jika sebelum genap satu tahun salah satu dari kalian bersikeras mengakhiri pernikahan, Aynara wajib membayar denda sepuluh miliar rupiah."
Aynara yang mendengarnya langsung terdiam. Sepuluh miliar. Jumlah yang bahkan sulit dibayangkan olehnya.
Wicaksono kemudian menatap Aksa. "Sedangkan kamu akan kehilangan hakmu sebagai pewaris keluarga Wicaksono."
"Apa?!" Mata Aksa membesar. Untuk pertama kalinya sejak pagi itu, wajah malasnya berubah serius. "Kalau kami bercerai sebelum satu tahun, aku kehilangan hak waris?"
"Benar," jawab Wicaksono mantap.
Aksa melihat dokumen itu dengan sorot mata tidak percaya. "Kakek serius?"
"Sangat."
Jayadi menundukkan kepala. Ia tahu keluarga mereka tidak mungkin sanggup membayar denda sebesar itu.
Cepi pun terdiam. Sepuluh miliar. Jumlah itu jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan sebelumnya.
Sementara Caca menatap Aksa dengan wajah penasaran. Ia baru menyadari bahwa pria tampan di hadapannya bukan sekadar anak orang kaya. Dia pewaris keluarga Wicaksono.
Asti menatap putranya dengan cemas. Ia tahu betul Aksa sangat takut kehilangan hak warisnya.
Sedangkan Aynara hanya menatap dokumen tersebut dengan perasaan campur aduk. Pernikahan ini ternyata bukan sekadar ikatan yang dipaksakan. Ada harga yang harus mereka bayar jika mencoba melarikan diri darinya.
Wicaksono menutup map itu. "Jadi pikirkan baik-baik sebelum kalian mengambil keputusan."
Tatapannya berpindah dari Aksa kepada Aynara. "Setahun." Suaranya tegas. "Jalani pernikahan ini selama satu tahun."
Aksa mengepalkan tangan. Dalam hati, ia hanya bisa mengumpat. Satu tahun terasa seperti hukuman seumur hidup.
...🔸🔸🔸...
..."Sebuah pernikahan mungkin bisa dipaksakan dengan keadaan, tetapi ketulusan tidak pernah bisa dipaksa untuk hadir dalam hati."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Regan kemungkinsn besar adalah Arsa. Wajah mirip.
Regan si kembar yang lebih baik kepribadiannya daripada si kembar satunya. Aksa si sombong.
Kalau Regan benar adalah Arsa yang telah dinyatakan meninggal, kini malah yang benar-benar meninggal Aksa.
Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.
Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.
Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.
Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.
Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.
Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.
Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.
Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.
Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.
Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.
Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Doni nanti musuhnya Regan. G
Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.
Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.
Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.
Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.
Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.
Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.
Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.
Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.
Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.
Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.
Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.
Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.
Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.
Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.
Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.
Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.
Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.
Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.
Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.
Aynara memaafkan Aksa.
Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.
Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.
Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.
Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.
Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.
Aynara menyelesaikan ceritanya.
Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.
Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.
Juga tentang pekerjaan Aksa.
Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?
Kondisi Aksa dalam pemeriksaan secara medis baik semua. Dokter minta pasien tetap diobservasi.
Regan tahu kalau dokter merasa ada yang janggal.
Regan benar-benar mendalami perannya. Beberapa pertanyaan dokter dijawab dengan menggeleng.
Mendengar nasehat dari dokter, Regan menjawabnya mengangguk pelan.
Asti dan Aynara jadi memperkenalkan diri biar Aksa yang amnesia tahu siapa kedua wanita itu.
Dokter memeriksa Aksa. Ketika ditanya oleh dokter, jawabnya hanya mengangguk dan diam.
Bikin Asti khawatir saja nih.
Pura-pura panik, tidak tahu harus bicara apa.
Aynara terkejut melihat Aksa yang cuma membuka mulut, ngga ada suara yang keluar.
Aynara dan Asti memang orang asing bagi Aksa palsu. Aman saat ini Aksa menjadi tidak ingat sama mama dan istrinya.
Aksa hilang ingatannya serta suaranya. Itu yang Aynara tahu saat ini.
Suara jadi berbeda juga kalau Aksa bicara.
Regan membuat hidupnya rumit sendiri.