NovelToon NovelToon
Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Romansa
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)

Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.

Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)

Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Lampu gantung kristal di ruang kerja pribadi lantai dua kediaman utama Ar-Rasyid menyala terang, memancarkan bias cahaya keemasan di atas hamparan dokumen fisik, cetak biru proyek real estat Bali, serta log data keuangan yang berserakan. Jarum jam digital di sudut meja menunjukkan pukul 02.15 pagi, namun tidak ada tanda-tanda kelelahan di wajah Alexander maupun Keisha. Di tengah keheningan malam pegunungan Puncak yang dingin, ruangan tersebut telah berubah menjadi pusat komando perang darurat.

Keisha berdiri di depan papan tulis magnetik portabel yang ia seret dari sudut ruangan, menempelkan beberapa lembar sketsa analisis pasar dan lembar kerja anggaran Wijaya Corp yang baru saja diunduh melalui sambungan data aman perusahaan. Rambut cokelat panjangnya dicepol longgar ke belakang, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajahnya yang tampak serius dan fokus penuh.

Alex duduk di kursi putar kulit, kedua sikunya bertumpu di atas lutut dengan jemari tangan yang saling bertaut di depan mulut. Matanya yang tajam mengamati setiap coretan spidol merah yang dibuat oleh istrinya. Di dunia korporat, Alex terkenal sebagai seorang ahli strategi yang dingin dan tanpa ampun, namun melihat bagaimana Keisha membedah pola pergerakan finansial kompetitor dengan ketelitian tingkat tinggi malam ini, rasa kagum yang mendalam kembali bergemuruh di dalam dadanya.

"Pola pengambilalihan aset tanah di Bali ini sangat mirip dengan modus operandi yang biasa digunakan oleh kelompok investasi bayangan," jelas Keisha sambil mengetuk ujung spidolnya pada salah satu grafik kenaikan harga saham Wijaya Corp. "Mereka tidak mungkin memiliki likuiditas sebesar itu tanpa adanya suntikan dana segar dari pihak internal yang membocorkan nilai penawaran rahasia kita. Artinya, dugaan Kakek benar: ada pengkhianat di dalam dewan direksi Ar-Rasyid Group."

Alex menegakkan tubuhnya, lalu berdiri dan melangkah mendekati papan tulis tersebut. Ia berdiri tepat di belakang Keisha, jarak di antara mereka begitu dekat hingga aroma khas cedarwood miliknya berpadu dengan aroma teh melati yang diminum Keisha beberapa jam lalu. Alex mengulurkan tangan, mengambil alih spidol merah dari jemari Keisha, lalu melingkari satu nama yang tertera di sudut diagram struktur perusahaan.

"Damian," desis Alex dingin. Nama sepupunya sendiri keluar dari bibirnya bagaikan bilah es yang mematikan.

Keisha menoleh sedikit ke samping, menatap rahang tegas Alex yang mengeras. "Damian? Kau yakin?"

"Hanya Damian yang memiliki akses langsung ke brankas data investasi divisi real estat sekaligus kedekatan dengan beberapa pemegang saham minoritas yang berniat menjual suara mereka," jawab Alex penuh keyakinan. "Dia sengaja menggunakan Wijaya Corp sebagai boneka untuk menjatuhkan kredibilitas kepemimpinanku, sekaligus memaksa Kakek melengserkan posisiku sebelum rapat umum pemegang saham bulan depan."

Keisha menarik napas dalam-dalam. Teka-teki rumit yang sejak semalam membuat kepalanya pening kini mulai tersusun membentuk satu gambar yang utuh. "Jika kita tahu siapa pelakunya, itu artinya kita punya kesempatan untuk membalikkan keadaan. Kita tidak boleh hanya bertahan, Alexander. Kita harus menyerang balik dengan cara yang membuat mereka tidak bisa berkutik."

Alex menoleh, menatap manik mata cokelat istrinya lekat-lekat. Sorot mata wanita itu memancarkan keberanian luar biasa yang tidak pernah ia duga sebelumnya—bukan lagi sosok perancang busana yang hanya memikirkan pola gaun, melainkan seorang ratu sejati yang berdiri tegak di samping rajanya di tengah medan perang.

"Dan bagaimana cara kita melakukannya, Nyonya Ar-Rasyid?" tanya Alex dengan nada suara yang melembut, sebuah kontras dari sifat dinginnya yang biasa.

Seulas senyuman penuh percaya diri terukir di bibir Keisha. "Kita gunakan perangkap balik. Besok pagi, saat sarapan keluarga besar dimulai, kita sebarkan informasi palsu bahwa Ar-Rasyid Group telah merelakan proyek Bali tersebut dan mengalihkan seluruh dananya ke proyek ekspansi yang jauh lebih besar di Asia Tenggara. Kita lihat siapa yang akan langsung melompat kegirangan dan menghubungi pihak Wijaya Corp secara sembunyi-sembunyi."

Alex tertegun sejenak, lalu tawa rendah yang sangat maskulin meluncur dari bibirnya. Ia meraih pinggang Keisha, menarik tubuh wanita itu merapat ke dadanya dengan gerakan yang begitu natural dan penuh kepemilikan.

"Kau benar-benar seorang ahli strategi yang berbahaya, Keisha," bisik Alex tepat di dekat telinga wanita itu, suaranya berubah menjadi serak dan menggoda. "Jika kau tidak memilih jalur fesyen, kau mungkin sudah mengambil alih separuh perusahaan multinasional di negeri ini."

Keisha merasakan debar jantungnya berpacu hebat, bukan lagi karena ketegangan intrik bisnis, melainkan karena kehangatan dekapan dan tatapan memuja yang terpancar dari manik mata hitam pria di hadapannya. Dinding pertahanan terakhir yang ia bangun perlahan runtuh tak bersisa. Kontrak pernikahan di atas kertas yang dulu mengikat mereka kini telah bertransformasi menjadi sebuah ikatan emosional yang jauh lebih kuat dari baja.

"Aku hanya menggunakan logika sederhana untuk melindungi apa yang... atau siapa yang ada di sekitarku," balas Keisha dengan suara berbisik, pipinya merona merah di bawah temaram lampu ruangan.

Alex tidak lagi menahan diri. Ia menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang penuh gairah, kelembutan, dan pengakuan tak terucap. Di tengah badai intrik keluarga besar dan ancaman kudeta korporat, malam itu menjadi saksi bahwa mereka berdua telah benar-benar melebur menjadi satu kekuatan yang tidak terkalahkan.

Pukul 07.30 pagi keesokan harinya, ruang makan utama kediaman keluarga besar Ar-Rasyid kembali dipenuhi oleh para anggota keluarga. Sinar matahari pagi menembus jendela kaca patri yang besar, menyinari meja makan panjang tempat para bibi, paman, dan sepupu berkumpul menikmati sarapan pagi.

Alexander dan Keisha melangkah masuk ke dalam ruangan dengan pakaian formal yang elegan. Alex mengenakan setelan jas tailored berwarna abu-abu gelap dengan dasi senada, sementara Keisha mengenakan gaun midi formal berwarna emerald green yang memancarkan aura bangsawan yang sangat kuat. Tidak ada raut wajah lelah atau tertekan di wajah mereka; sebaliknya, keduanya berjalan berdampingan dengan aura kemenangan yang begitu kentara.

Damian, yang duduk di dekat ujung meja, menyipitkan matanya menatap pasangan tersebut. Ada rasa cemas yang samar-samar melintas di wajahnya, meskipun ia berusaha menutupinya dengan senyuman sinis.

Begitu mereka duduk di kursi masing-masing, Kakek Raden yang duduk di kepala meja mengangkat cangkir kopi porselennya, lalu menatap cucunya tajam. "Alex, kudengar semalam lampu ruang kerjamu menyala sampai subuh. Apa kalian berhasil menemukan solusi atas masalah Wijaya Corp?"

Seluruh anggota keluarga yang duduk di meja makan seketika menghentikan aktivitas makan mereka. Suasana berubah hening, menunggu jawaban sang CEO.

Alex menatap kakeknya dengan tenang, lalu melirik sekilas ke arah Damian sebelum menjawab dengan suara bariton yang tegas dan menggema ke seluruh penjuru ruangan.

"Kami sudah menemukan solusinya, Kakek," ucap Alex jelas. "Dewan direksi memutuskan untuk menghentikan seluruh upaya penawaran atas proyek tanah di Bali. Kami menganggap aset tersebut tidak lagi sebanding dengan risiko hukumnya, dan seluruh dana cadangan senilai triliunan rupiah akan dialihkan sepenuhnya untuk mengakuisisi perusahaan teknologi logistik terbesar di Singapura."

Ucapan itu bagaikan sambaran petir di siang bolong bagi sebagian orang di meja makan tersebut. Wajah Damian seketika berubah pucat pasi. Tangannya yang memegang cangkir teh bergetar hebat hingga cairan teh di dalamnya hampir tumpah. Di sisi lain, Bibi Nirmala menatap anaknya dengan cemas.

Bagi Damian, pembatalan proyek Bali berarti seluruh rencana busuk yang ia susun bersama Wijaya Corp hancur seketika, dan uang muka jutaan rupiah yang sudah ia gelontorkan untuk menyuap orang dalam akan lenyap begitu saja tanpa hasil.

Keisha, yang duduk anggun di samping Alex, memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah Damian. Ia menyesap teh hangatnya perlahan, menyunggingkan senyuman tipis penuh kemenangan.

"Bagaimana mungkin kalian mundur begitu saja?!" suara Damian tiba-tiba melengking tinggi, gagal mengendalikan emosinya di hadapan sang kakek. "Proyek Bali itu adalah aset strategis masa depan Ar-Rasyid Group! Keputusan apa ini? Jangan bilang kau mengambil keputusan bodoh hanya karena terpengaruh oleh istrimu yang tidak mengerti apa-apa tentang bisnis properti, Alex!"

Suasana ruang makan mendadak membeku secara total. Keheningan yang sangat mencekam menyelimuti ruangan tersebut.

Kakek Raden meletakkan cangkirnya dengan gerakan pelan namun tegas, menciptakan suara dentingan porselen yang membuat seluruh orang merinding. Sang patriark menatap tajam ke arah Damian dengan sorot mata penuh amarah yang tertahan.

"Damian," suara Kakek Raden terdengar sangat dingin dan berwibawa. "Sejak kapan keputusan CEO Ar-Rasyid Group harus diinterogasi oleh seorang sepupu yang bahkan tidak memegang posisi penting di divisi investasi? Dan dari mana kau tahu begitu detail bahwa proyek Bali itu adalah aset strategis yang sangat berharga... kecuali jika kau memang terlibat dalam pembocoran informasi rahasia perusahaan kepada pihak luar?"

Damian terperanjat, keringat dingin mendadak bercucuran di pelipisnya. Ia menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam perangkap psikologis yang dipasang dengan sangat sempurna oleh Alexander dan Keisha.

"K-Kakek... aku tidak maksud begitu... aku hanya—" Damian tergagap, kehilangan seluruh keberaniannya saat berhadapan langsung dengan kemarahan sang patriark.

Alex mengangkat tangannya, memberikan isyarat kepada dua pengawal pribadi berjas hitam yang berdiri di dekat pintu masuk. Dalam hitungan detik, pintu ganda terbuka, dan dua orang petugas kepolisian divisi kejahatan ekonomi melangkah masuk ke dalam ruang makan utama.

"Damian Ar-Rasyid," ucap Alex dengan suara dingin tanpa ampun, berdiri dari kursinya dan menatap sepupunya bagaikan seorang algojo yang siap menebas kepala mangsanya. "Atas nama dewan direksi dan kuasa hukum Ar-Rasyid Group, Anda resmi ditangkap atas tuduhan pengkhianatan korporat, pencurian data rahasia perusahaan, dan konspirasi bisnis ilegal dengan pihak kompetitor."

Kegaduhan langsung terjadi di meja makan. Beberapa bibi berteriak kaget, sementara Damian berdiri sambil memprotes keras saat dua petugas kepolisian memborgol kedua tangannya dan membawanya keluar dari ruangan mewah tersebut tanpa ampun.

Kakek Raden tidak mengatakan sepatah kata pun untuk membela cucunya yang berkhianat itu. Ia hanya bersandar di kursinya, lalu perlahan-lahan sebuah senyuman bangga terukir di wajah tua sang patriark. Ia menatap Alexander dan Keisha secara bergantian dengan penuh rasa hormat.

"Kalian berdua..." suara Kakek Raden memecah keheningan sisa sarapan pagi itu, "benar-benar telah menyelamatkan kehormatan keluarga Ar-Rasyid."

Keisha menoleh ke arah Alex, dan pria itu menyambut tatapannya dengan senyuman paling tulus yang pernah ia tunjukkan. Di hadapan seluruh keluarga besar yang tadinya meremehkan mereka, Alexander menggenggam tangan Keisha erat-erat di atas meja makan, membuktikan kepada dunia bahwa tidak ada badai, intrik, maupun musuh dalam bayangan yang mampu meruntuhkan istana cinta dan kekuasaan yang kini mereka bangun bersama.

Badai telah benar-benar berlalu, dan lembaran baru kehidupan mereka resmi dimulai sebagai pasangan yang tidak terpisahkan—penguasa sejati dari dinasti Ar-Rasyid.

1
Exo L
kakk tulisannya, fashion gak sih?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!