Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERKENALAN
Pagi itu, sinar matahari baru saja menyelinap masuk melalui celah jendela, menyentuh permukaan lantai dengan cahaya yang lembut namun cukup terang untuk membangunkan semangat hari baru. Kristin telah selesai merapikan penampilannya, berdiri sejenak di depan cermin untuk memastikan tak ada yang kurang dari pakaiannya. Hari ini adalah hari pengumuman pembagian kelas bagi mahasiswa baru, dan ia sama sekali tidak berniat datang terlambat. Ketepatan waktu adalah hal pertama yang ingin ia tanamkan sejak hari pertama perkuliahan. Segala sesuatu harus berjalan teratur dan tertata rapi, begitu pula rencana hidup yang telah ia susun dalam kepalanya.
Dengan langkah ringan, ia melangkah keluar dari kamarnya dan menuruni tangga dari lantai atas. Belum kakinya menyentuh lantai dasar, terdengar suara lembut namun tegas memanggil namanya dari arah ruang makan.
"Kristin... turunlah dulu, sarapan dulu sebelum berangkat ke kampus."
Itu suara Mamanya. Kristin tersenyum tipis, lalu mempercepat langkahnya menuju ruang makan yang terletak berdekatan dengan dapur. Di sana, meja makan kayu sederhana namun bersih telah tertata rapi dengan hidangan hangat yang masih mengepulkan uap. Aroma masakan rumah yang lezat tercium lembut, seketika membangkitkan selera makannya. Kristin duduk di kursi sebelah Mamanya, lalu menyambut senyum wanita yang melahirkannya itu dengan senyum tulus yang tak pernah lelah ia berikan.
Di rumah inilah Kristin tinggal berdua saja bersama Mamanya. Ayahnya telah lama berpulang ke rahmat Tuhan karena penyakit yang dideritanya cukup lama. Sejak saat itu, Mamanya menjadi segalanya bagi Kristin — wanita tangguh yang tak pernah lelah berjuang membesarkannya seorang diri dengan penuh kasih sayang. Kakaknya, Jerry, bekerja di kota yang cukup jauh, sehingga jarang sekali sempat pulang ke rumah. Maka, kebersamaan pagi seperti ini menjadi hal yang selalu berharga bagi mereka berdua, waktu yang tak ingin dilewatkan begitu saja.
Mamanya meletakkan sendok perlahan di pinggiran piring, lalu menatap putrinya dengan pandangan yang penuh kasih sekaligus harapan yang mendalam.
"Bagaimana dengan kampusmu, Nak? Apakah lingkungannya cukup nyaman?"
Kristin mengangguk pelan sambil menyesap teh hangat di hadapannya, merasakan kehangatan itu menjalar lembut di dalam dadanya.
"Kampusnya menarik, Ma. Aku senang sekali bisa kuliah di sana. Aku berjanji akan belajar sungguh-sungguh, agar kelak bisa membanggakan Mama."
Wajah Mamanya seketika berseri-seri mendengar ucapan tulus itu. Ia tersenyum hangat, lalu mengusap lembut punggung tangan putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Mama percaya padamu. Yang penting, rajinlah belajar dan jangan pernah salah bergaul. Pilihlah teman yang bisa membawamu ke arah yang baik."
"Iya, Ma. Kristin ingat pesan Mama," jawab Kristin tulus sambil mengangguk mantap, menyimpan nasihat itu jauh di dalam hatinya.
Setelah selesai menyantap sarapan dengan tenang, Kristin segera berpamitan. Ia mengenakan helmnya dengan rapi, melambaikan tangan kepada Mamanya yang berdiri di depan pintu rumah hingga bayangannya perlahan menjauh, lalu menyalakan mesin sepeda motornya. Angin pagi yang sejuk menyapa wajahnya sepanjang perjalanan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang menyegarkan hati, membuat hatinya merasa tenang sekaligus penuh harapan menyambut hari yang baru. Tak lama kemudian, ia pun tiba di lingkungan kampus yang mulai ramai oleh kendaraan dan wajah-wajah muda yang berjalan terburu-buru menuju gedung masing-masing, menciptakan suasana hidup dan penuh semangat.
Kristin memarkirkan sepeda motornya dengan rapi di tempat yang telah ditentukan, lalu berjalan cepat menuju papan pengumuman di mading kampus. Matanya menyapu deretan nama yang tertulis rapi di atas kertas yang ditempel di sana, mencari namanya di antara ratusan nama mahasiswa baru lainnya dengan teliti, tak ingin melewatkan satu huruf pun.
"Kristin!"
Sebuah suara akrab terdengar memanggil dari belakang. Saat ia berbalik dengan cepat, terlihat Cintya sedang berjalan mendekat dengan napas yang sedikit terengah namun wajahnya tampak cerah berseri, seakan tak ada beban sedikit pun di pundaknya.
"Senang sekali bisa bertemu denganmu di sini! Aku tadi baru saja melihat pembagian kelas," ucap Cintya sambil tersenyum lebar hingga matanya menyipit indah. "Aku mengambil Fakultas Ekonomi, dan ternyata aku berada di Kelas A. Bagaimana denganmu, Kristin?"
Mendengar itu, mata Kristin ikut berbinar tak disangka-sangka.
"Benarkah? Aku juga mengambil Fakultas Ekonomi."
"Wah, semoga saja kita sekelas ya!" seru Cintya penuh harap dengan antusiasme yang meluap-luap. "Soalnya, mahasiswa baru di fakultas kita sangat banyak, sampai dibagi menjadi enam kelas. Kalau kita sekelas, pasti akan seru sekali bisa berangkat dan pulang bersama."
Keduanya pun kembali menatap papan pengumuman dengan lebih teliti, menyisir baris demi baris nama yang tertulis rapi. Tak lama kemudian, jari Kristin menunjuk satu baris nama yang membuat bibirnya tersenyum lebar tak mampu ia sembunyikan.
"Cintya... lihat ini. Namaku juga ada di Kelas A."
Cintya bersorak pelan penuh kegembiraan, seakan baru saja memenangkan sesuatu yang luar biasa berharga. "Benarkah? Luar biasa! Berarti kita satu kelas, Kristin! Ayo bareng melihat ruang kelas kita sekarang."
Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju gedung tempat kelas mereka berada, berbincang santai sepanjang jalan seakan telah saling mengenal sejak lama. Sesampainya di ruangan yang telah ditentukan, suasana di dalamnya masih sepi dan sejuk. Keduanya memilih tempat duduk di bagian depan, tepat di dekat jendela yang membiarkan cahaya pagi masuk dengan terang namun tetap lembut menyentuh lantai. Tak lama berselang, seorang dosen wanita berpenampilan tegas namun ramah melangkah masuk ke dalam kelas dengan langkah yang berwibawa. Ia memperkenalkan diri sekilas, lalu menjelaskan dengan jelas bahwa hari ini belum ada kegiatan belajar mengajar karena para dosen dan pimpinan kampus masih mengadakan rapat penting. Setelah menyampaikan pesan singkat agar mereka tetap rajin dan tidak terlambat mulai hari pertama perkuliahan yang sebenarnya, dosen itu pun berpamitan dan meninggalkan ruangan dengan tenang.
Cintya menoleh kepada Kristin dengan wajah yang seketika berseri-seri penuh ide yang tiba-tiba muncul di benaknya.
"Karena belum ada pelajaran, bagaimana kalau kita berjalan-jalan sebentar? Aku ingin mengajakmu melihat sekretariat MAPALA — organisasi yang kemarin aku ceritakan padamu."
Kristin yang memang merasa bosan karena kegiatan belum dimulai dan tak ingin segera pulang begitu saja, pun mengangguk setuju dengan senyum tipis. "Baiklah, aku ikut."
Sepanjang jalan menuju lokasi yang dituju, Cintya tak berhenti bercerita dengan penuh semangat yang menular. Ia berbicara tentang pemandangan indah di puncak gunung yang pernah dilihatnya dalam foto-foto kegiatan organisasi, tentang udara pagi yang segar menembus paru-paru dan hamparan awan yang terasa seakan berada di bawah kaki saat mereka berdiri di ketinggian. Cerita-cerita itu terdengar begitu menarik dan penuh keajaiban, hingga tanpa disadari Kristin pun mulai tertarik mendengarkan penuturan temannya yang begitu antusias dan tulus memujinya.
"Lihatlah ke sana!" tiba-tiba Cintya menunjuk ke arah sebuah bangunan kecil yang terletak di sudut kampus, agak terpisah dari gedung-gedung utama namun terlihat rapi, terawat, dan dikelilingi tanaman hijau yang menyejukkan mata. "Itulah gedung MAPALA."
Tak jauh dari gedung itu, berdiri sebuah dinding tegak berwarna-warni yang tampak kokoh terbuat dari papan khusus dengan banyak pegangan tangan dan kaki yang tertata rapi di sepanjang permukaannya yang curam.
"Itu dinding panjat buatan, tempat mereka biasa berlatih memanjat," jelas Cintya sambil menunjuk bangunan tersebut dengan jari telunjuknya. "Dengan sering berlatih di sini, mereka terbiasa menyesuaikan gerakan tubuh dan melatih ketangkasan. Jadi saat nanti benar-benar berada di tebing atau jurang yang sebenarnya, mereka tidak akan kaku dan tetap bisa bergerak dengan lincah serta penuh keyakinan."
Kristin menatap dinding panjat itu dengan takjub yang tak bisa ia sembunyikan. Tingginya terasa cukup mengintimidasi baginya yang terbiasa hidup dengan segala keteraturan dan keamanan. Papan tempat mereka berlatih memanjat itu lumayan tinggi juga, kira-kira mencapai seratus meter, pikirnya dalam hati sambil menatap ke arah puncak dinding yang menjulang tinggi ke langit.
Sesampainya di depan gedung MAPALA, tampak dua orang pemuda sedang duduk bersantai sambil berbincang santai di teras depan gedung itu yang tertata rapi dengan beberapa kursi kayu. Melihat kedatangan mereka berdua, kedua pemuda itu menoleh serentak dan berdiri perlahan dengan sopan. Cintya segera menyapa mereka dengan ramah dan sopan, dan Kristin pun ikut menyapa dengan senyum yang tetap tenang dan ramah.
Salah satu pemuda itu berwajah manis, berkulit sawo matang, dan berambut ikal yang terlihat rapi serta memberikan kesan hangat. Pemuda lainnya bertubuh tegap, berwajah tampan, dan berkulit putih bersih — sosok yang tak asing lagi bagi Kristin dari hari perkenalan mahasiswa baru kemarin, sosok yang berdiri tegap di atas podium dan berbicara dengan penuh keyakinan.
"Perkenalkan, aku Rangga," ucap pemuda berambut ikal itu dengan nada yang ramah dan menyenangkan, seakan sudah lama mengenal mereka.
"Dan aku Kevin," tambah pemuda yang tampan itu sambil tersenyum hangat yang memikat hati. "Kami berdua mahasiswa tingkat dua di kampus ini."
Kevin melangkah maju sedikit dengan langkah yang tenang dan berwibawa, menatap kedua gadis itu dengan pandangan yang sopan namun tetap memancarkan karisma yang kuat, lalu bertanya dengan nada yang sangat ramah dan terbuka tanpa sedikit pun terkesan memaksa.
"Kalau boleh kami ketahui, ada yang bisa kami bantu? Dan... apakah kalian berdua berminat untuk bergabung bersama kami?"