Anindya (22 tahun) terpaksa menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Vane (28 tahun), CEO kejam dari Vane Group, demi membayar biaya pengobatan adiknya. Adrian hanya memanfaatkan pernikahan ini untuk membalas dendam pada keluarga Anindya yang ia tuduh memfitnah keluarganya di masa lalu.
Adrian bersikap dingin, arogan, dan menetapkan batasan ketat: tidak boleh ada rasa cinta. Namun, saat rahasia masa lalu yang sebenarnya perlahan terkuak dan musuh bisnis Adrian mulai menargetkan Anindya, Adrian sadar bahwa wanita yang ia benci telah menjadi pelindung jiwa dan takdir hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gastor Gaming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah dari Masa Lalu
"Selamat datang di bahtera sesungguhnya... Adikku, Adrian..." bisik wanita itu dengan suara yang amat familiar namun dingin.
Adrian membeku di lantai baja kabin kapal perang siluman. Pandangannya tak lepas dari sosok wanita yang berdiri anggun di hadapannya.
"Kak... Kakak?!" suara Adrian tercekat di tenggorokan, terbatuk-batuk menahan rasa perih di dadanya. "Valerie?! Kau... kau masih hidup?!"
Anindya mendongak dari posisinya yang berlutut seraya memeluk erat Leo dan Reza. "Valerie Vane? Putri sulung keluarga Vane yang dikabarkan tewas dalam pembantaian laboratorium lima belas tahun lalu?!"
Valerie melangkah mendekat, sepatu bot militernya meletupkan bunyi nyaring di atas lantai logam.
Senyuman tipis yang dingin terukir di bibirnya saat ia menatap Adrian dan Anindya secara bergantian.
"Berita kematianku dipalsukan oleh Baskara dan Eleanor untuk melindungiku dari perburuan Ordo Naga Perak, Anindya," ujar Valerie datar. Ia berlutut di depan Anindya, jemarinya yang bersarung tangan hitam membelai lembut selimut yang membungkus kepala Reza. "Dan sekarang... anak-anak ini kembali ke tangan pemilik yang berhak."
Sret!
Adrian mendadak berdiri menepis tangan Valerie, berdiri di depan Anindya seraya mengacungkan pisau taktis yang ia ambil dari rompi Rendra.
"Jangan sentuh keponakanmu dengan tangan kotor itu, Valerie!"
Valery tertawa pelan, berdiri tegap tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun pada pisau di tangan adiknya. "Tangan kotor? Adrian, tanpa pasukan Red Eclipse milikku, kau dan keluarga kecilmu sudah menjadi bangkai beracun di dasar laut atau menjadi bahan olahan eksperimen Ordo Naga Perak!"
"Tapi kau menyembunyikan identitasmu selama belasan tahun!" bentak Adrian dengan napas terengah-engah. Urat-urat di matanya masih memancarkan kilatan merah sisa mutasi. "Kau membiarkan aku dan Julian menderita di bawah cengkeraman Sophia!"
"Aku membangun armada perlawanan ini di balik bayangan!" tegas Valerie, matanya memancarkan keperkasaan mutlak.
"Sophia dan Konsorsium hanyalah pion kecil yang dimanfaatkan oleh Ordo Naga Perak untuk menguji batas ketahanan genetik keluarga kita. Aku harus mengorbankan masa mudaku agar hari ini aku punya kekuatan untuk menghancurkan mereka!"
"Lalu apa bedanya kau dengan Sophia jika kau juga mengincar anak-anak kami?!" sela Anindya dengan suara gemetar penuh keberanian.
Valerie memalingkan pandangannya ke arah Anindya, menatap adik iparnya itu dengan tatapan tajam yang menusuk.
"Bedanya, Anindya... aku tidak ingin membunuh mereka. Aku ingin melatih mereka."
"Melatih mereka?!" seru Adrian terperanjat. "Mereka baru saja lahir beberapa jam lalu, Valerie! Mereka bayi!"
"Bayi yang membawa pasokan kode genetik Darah Abadi!" potong Valerie seraya menunjuk ke arah Leo dan Reza.
"Lihat mata mereka! Anak pertama membawa potensi pengunci mutasi mutlak, dan anak kedua menyerap energi Serum Phoenix milik Julian! Begitu Ordo Naga Perak mengetahui keberadaan mereka di atas kapal ini, seluruh armada Sektor Delapan akan memburu kita sampai ke ujung bumi!
Rendra melangkah mendekat, melepas topeng bermata satu yang menutup separuh wajahnya. "Valerie benar, Adrian. Ordo Naga Perak bukan sekadar organisasi rahasia.
Mereka mengendalikan sistem pertahanan udara dan satelit militer di lima benua. Tanpa perlindungan fasilitas pelindung Red Eclipse, bayi-bayi ini tidak akan bertahan hidup sampai usia satu bulan."
"Rendra..." bisik Adrian seraya memandangi mantan agen senior tersebut. "Kau sudah tahu semua ini sejak awal?"
"Tugas pertamaku dari almarhum ayahmu, Baskara, adalah memastikan Valerie selamat dan membangun benteng pertahanan terakhir," sahut Rendra pelan. "Pengorbanan Baskara dan Julian di fasilitas bawah tanah tadi adalah untuk membawa kalian sampai ke titik ini."
"Pengorbanan Ayah..." air mata Anindya kembali menetes membasahi pipi pucatnya. "Ayah memberikan nyawanya agar kami bisa bebas, Valerie! Bukan agar anak-anak kami dijadikan prajurit perangmu!"
BZZZZZT!
Tiba-tiba, seluruh kapal perang siluman Red Eclipse bergetar hebat. Lampu penerangan kabin yang semula berwarna biru berubah mendadak menjadi merah menyala, disertai nada dering sirine darurat yang melengking kencang.
"Peringatan! Pelanggaran benteng gelombang radar!" suara sistem komputer kapal berkumandang nyaring dari balik dinding.
"Satu misil balistik berkecepatan hipersonik terdeteksi meluncur dari orbit luar bumi menuju koordinat kita!"
"Misil orbital?!" teriak Rendra kaget seraya menatap layar pergelangan tangannya. "Bagaimana bisa mereka mengunci posisi kapal siluman ini dalam waktu singkat?!"
Valerie menyipitkan matanya, berbalik cepat menuju meja konsol kemudi utama. "Lyra mengorbankan kapal induk utamanya untuk menanamkan pemancar pelacak nano pada helikopter Rendra!"
"Pelacak nano?!" Rendra tersentak, membanting topeng besinya ke lantai seraya memeriksa bagian bawah rompi taktisnya.
"Sialan!" jerit Valerie seraya memukul panel kontrol. "Misil itu membawa muatan peledak EMP Bio-Kimia! Dalam tiga puluh detik, seluruh sistem listrik dan penopang hidup di kapal ini akan lumpuh total!"
"Bagaimana dengan ruang medis?!" tanya Adrian panik seraya mendekati Valerie. "Anindya dan anak-anak butuh tempat perlindungan kedap radiasi!"
"Tidak ada ruang perlindungan yang bisa menahan ledakan Bio-Kimia orbital di kapal ini, Adrian!" tegas Valerie keras. Ia mencabut sebuah kunci enkripsi keperakan dari lehernya dan melemparkannya ke tangan Rendra. "Rendra! Siapkan Pod Evakuasi VVIP di bagian buntut kapal!"
"Pod Evakuasi VVIP hanya cukup untuk dua orang dewasa dan bayi, Valerie!" seru Rendra seraya menatap kunci keperakan itu dengan ragu.
"Memang!" bentak Valerie seraya menatap Adrian dan Anindya. "Pod itu dirancang khusus menembus gesekan atmosfer dan menyelam hingga ke pangkalan rahasia bawah tanah di perbatasan benua! Itu satu-satunya tempat yang tidak bisa dijangkau oleh misil orbital!"
"Valerie... kau ingin kami pergi?" tanya Adrian tak percaya.
"Pergilah sebelum misil itu menghantam kapal ini!" teriak Valerie seraya mendorong Adrian dan Anindya menuju lorong belakang.
"Aku dan pasukan Red Eclipse akan menahan dampaknya di sini dan memancing fokus armada Ordo Naga Perak ke arah yang salah!"
"Kenapa kau melakukan ini?!" tanya Anindya dengan napas memburu di tengah guncangan kapal yang makin parah.
Valerie menatap Anindya, sebuah senyuman tipis yang sungguh-sungguh muncul di wajah kerasnya.
"Karena Baskara memilih mati untuk menyelamatkan kalian. Dan aku... tidak akan membiarkan pengorbanan ayah kita menjadi sia-sia."
"Valerie..." desis Adrian dengan rasa haru yang membakar dadanya.
"Lari, Adrian! Jaga darah murni keluarga kita!" seru Valerie seraya mencabut dua senapan serbu dari dinding dan berbalik menghadapi pintu sekat depan yang mulai membara merah terkena panas misil yang mendekat.
Rendra menggiring Adrian dan Anindya berlari kencang menelusuri lorong bawah kapal yang bergetar liar, menuju sebuah kapsul baja tebal bersinar keemasan di ujung lorong.
Klik! Krrreeekkk!
Pintu Pod Evakuasi VVIP terbuka. Rendra mendorong Anindya masuk terlebih dahulu seraya membantu memangku Leo dan Reza ke dalam sabuk pengaman bayi.
"Masuk, Adrian!" teriak Rendra seraya menahan engsel pintu pod yang mulai terdistorsi oleh tekanan udara.
Adrian melompat masuk ke sebelah Anindya, menggenggam erat jemari istrinya. "Rendra... ikutlah dengan kami!"
Rendra menggelengkan kepalanya seraya memberikan penghormatan militer terakhir kepada Adrian. "Tugasku adalah bertarung di samping Komandan Valerie hingga akhir, Tuan Muda."
BZZZZZT! KRAK!
Rendra menekan sakelar peluncuran dari luar dan menghantamkan penutup baja pod secara manual.
BOOOOOMMMMM!
Di saat yang bersamaan, misil balistik orbital menghantam lambung depan kapal perang siluman Red Eclipse! Ledakan energi hijau keemasan yang luar biasa dahsyat mengoyak kapal perang itu menjadi dua bagian di udara!
Pod Evakuasi VVIP yang ditumpangi Adrian, Anindya, dan kedua bayi mereka terlempar deras keluar dari lambung kapal yang terbakar, meluncur bagaikan meteor jatuh menembus lautan uap kimia dan badai malam menuju kegelapan bawah bumi.
Di dalam kapsul yang meluncur dengan kecepatan gila tersebut, indikator suhu ruang mendadak melonjak naik secara berbahaya.
"Peringatan! Parasut pengeremat otomatis rusak terkena gelombang kejut ledakan!" suara kecerdasan buatan pod melengking parau.
"Dampak benturan tanah dalam sepuluh detik. Kategori benturan: Mematikan.
Anindya memejamkan matanya seraya memeluk erat kedua bayinya di dadanya.
"Adrian... kita akan jatuh!"
Adrian memeluk tubuh Anindya dan anak-anak mereka seraya menahan pintu pengaman dengan punggungnya sendiri. "Aku tidak akan biarkan apa pun menyakiti kalian!"
DUAAAAARRRRR!
Pod baja itu menghantam lereng jurang terjal di tengah hutan belantara terisolasi, berguling-guling ratusan meter meremukkan pepohonan dan batu-batu raksasa sebelum akhirnya terhenti di dasar jurang yang gelap.
Asap tebal menyembur keluar dari retakan pintu pod yang penyok.
Di tengah keheningan hutan malam yang mencekam dan bau terbakar yang menyengat, pintu pod terdorong terbuka sedikit.
Tangan Adrian yang bersimbah darah merayap keluar menapak tanah basah, napasnya terengah-engah sangat lemah.
"Anindya... anak-anak..." bisik Adrian seraya berusaha mempertahankan kesadarannya.
Namun dari balik kegelapan semak belukar di tepi jurang tempat pod mereka jatuh, sepasang mata merah menyala lainnya—bukan milik Adrian, bukan pula milik Julian—terbuka pelan di balik bayangan pohon raksasa, diiringi suara geraman halus makhluk bernapas yang melangkah mendekati tubuh Adrian yang tak berdaya...