Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 31 bawa aku pergi dari sini
Suara sirene keamanan berbunyi. Tidak lama kemudian seorang wanita dokter yaitu dokter Melia berlari masuk kedalam ruangan untuk menyelamatkan Professor Fredrik.
"professor Fredrik!"
Dokter Melia segera membahu professor Fredrik. kemudian membawanya pergi, saat dokter Melia akan melangkah menuju pintu keluar.
Tiba-tiba...
putra memegang pundak kanan dokter Melia. saat putra memegang pundak dokter Melia, seketika dirinya merasa merinding hebat, ia pun menoleh perlahan ke arah putra.
"apa yang kamu ingin kan?" tanya dokter Melia
"beritahu aku dokter. Sebenarnya laboratorium Athena ini apa?"
dokter Melia tidak menjawab hanya menatap putra dengan rasa takut.
TAP...TAP...
Suara langkah lima petugas keamanan laboratorium berlari masuk ke dalam ruangan pengetesan. Mengepung putra dengan pakaian anti peluru, serta seluruh pistol yang di arahkan ke putra.
tiba-tiba seorang Professor duduk di kursi keluar dari sela-sela petugas keamanan laboratorium. Dengan didorong oleh seorang perawat wanita mendekati putra, dia adalah Professor Gareth.
"aku dapat merasakan sifat pemberontakan dari dalam tubuhmu" (ujar profesor Gareth)
"siapa kamu?!" (tanya putra)
Profesor itu tidak menjawab melainkan ia langsung mengangkat tangan kanannya setinggi mungkin. Seolah-olah professor Gareth memberikan kode.
Putra benar-benar kebingungan terhadap respon Professor Gareth.
Tiba-tiba...
DOR!!
Sebuah senapan bius di tembakkan tepat mengenai leher putra. Putra langsung terjatuh.
BRUKK!!!!
Putra terjatuh. Kepalanya langsung menghantam lantai begitu keras, perlahan-lahan pandangan putra mulai kabur, matanya mulai berat karena efek obat bius yang di tembakkan mulai bekerja.
"ke-kenapa?"
perlahan-lahan kedua kedua matanya mulai terpejam dan akhirnya ia tertidur
................
Putra kembali terbangun dari tidurnya setelah efek biusnya benar-benar habis,tubuhnya merasakan tekstur gatal dan menusuk layaknya rumput.
"rumput?"
Putra segera tersadar. kini dirinya tidak berada di sebuah ruang pengetesan, melainkan sebuah Padang rerumputan hijau mengelilinginya, putra menoleh ke kanan dan ke kiri melihat sekeliling banyak sekali pepohonan yang begitu rindang.
Dirinya benar-benar kebingungan sebenarnya dirinya ini berada dimana.
"tempat apa ini? Hutan?"
Putra berdiri. sekarang dirinya berada di tempat yang mirip terlihat hutan, hingga putra berpikir dirinya berada di hutan sungguhan.
"apa aku di buang di hutan?"
rasa bahagia langsung terbendung dalam wajahnya. Segera berjalan menyusuri hutan, rasa kebahagiaan mulai terlihat dari wajahnya karena dirinya bisa merasakan kebebasan. perlahan-lahan langkah demi langkahnya mulai cepat menuju ujung hutan.
"akhirnya aku bisa me....."
BRAK!!!
Putra menabrak sebuah tembok ruangan yang di tempel oleh gambar seperti ujung dari jalan hutan, gambar itu benar-benar mirip seperti asli hingga berhasil menipu putra.
Putra segera tersadar bahwa dirinya belum benar-benar di buang dihutan. namun masih berada di laboratorium.
"tidak mungkin aku masih ada di laboratorium?"
Kresek...kresek....
Suara semak-semak bergoyang.
putra langsung menoleh arah semak-semak yang bergoyang. Putra menatap semak-semak dengan perasaan cukup was-was, ia semakin berjalan mendekat sedikit demi sedikit mendekati semak-semak dan....
Tiba-tiba muncul seorang anomali dengan kedua bola matanya berupa menjadi anomali, dan langsung mendorong putra hingga terjatuh, anomali segera mengigit putra. namun sebelum anomali itu akan menggigit putra terlebih dahulu putra langsung reflek memukul wajah anomali dari kanan.
namun anomali tersebut masih tetap mematung menindih putra. kemudian putra langsung menarik kaki kanannya sedadar perutnya lalu menendang anomali tersebut hingga terpental.
BRAK!!!
Anomali itu terjatuh menghantam tanah begitu keras. Putra langsung berdiri dan berlari kencang menuju anomali yang terjatuh. Kemudian kedua tangannya saling menggenggam satu sama lain, kemudian putra melompat ke arah anomali tersebut, sebelum mendarat putra segera mengarahkan satu sikunya tepat ke arah wajah anomali tersebut.
BRUK!!!
Putra langsung menghantamkan sikunya dan tubuhnya ke anomali tersebut. kemudian putra berdiri, melihat anomali tampak tak berdaya segera berjalan meninggalkan anomali tersebut.
Saat putra membalikkan dirinya berjalan meninggalkan anomali tersebut tiba-tiba sebuah benda tajam langsung menggores pipi kanannya begitu cepat hingga luka besar.
Putra langsung segera reflek menghindar ke samping lalu dirinya menoleh ke belakang untuk melihat sebenarnya apa yang terjadi. seketika putra langsung merinding dirinya melihat seorang anomali berubah menjadi monster raksasa dengan wujud tubuhnya seperti beruang hitam raksasa, namun di kepalanya memiliki satu cula besar yang benar-benar membuat wujud nya sangat abnormal hingga tidak terlihat seperti beruang pada umumnya.
GRAHHH!!!!
Putra segera berlari menuju ke arah pepohonan yang begitu lebat dan rapat untuk menyelamatkan diri dengan harapan bahwa anomali itu tidak bisa menjangkaunya. Sayangnya itu adalah hal yang sia-sia anomali dengan cepat menghancurkan seluruh pepohonan yang lebat dengan sekali mengayunkan cula besar, seluruh pepohonan itu rata menjadi tanah.
GRAHHH!!!!
anomali itu langsung berlari menuju putra dengan mengarahkan satu cula besar menuju putra. Putra yang terus berlari hingga di ujung ruangan, ia benar-benar terpojok, putra hanya bisa pasrah melihat anomali itu semakin mendekati dan tiba-tiba....
JLEP!!!
cula Besar milik anomali itu menusuk perut putra hingga menembus punggung putra. kemudian anomali itu menundukkan kepalanya, mengarahkan putra yang tertancap di culanya ke tanah kemudian anomali berlari kencang dengan putra yang tubuhnya menggores tanah yang keras hingga mengalami lecet di sekujur tubuhnya akibat dari anomali tersebut yang mendorong tubuh putra.
Putra yang tidak sadarkan diri tiba-tiba dirinya terbangun di sebuah Padang mawar putih di sekeliling. Putra langsung berdiri dirinya benar-benar tidak percaya apa yang terjadi pada dirinya segera putra langsung meraba-raba perutnya untuk mencari luka bekas tusukan di perutnya, namun dirinya tidak menemukan apa-apa, putra melihat ke sekeliling tempat benar-benar di penuhi Padang mawar putih hingga putra mengaggap bahwa dirinya sudah berada di surga.
"apa aku sudah berada di surga?"
Tiba-tiba Liza menjawabnya dadi belakang putra.
"belum nak. Dirimu belum ada di surga"
Putra langsung menoleh ke belakang dirinya melihat sesosok Liza di belakangnya.
Liza tersenyum lembut di hadapan putra.
"Mama? Apa yang mama lakukan disini?"
"putra. Mama tau kamu berada di posisi yang membuatmu menjadi seorang monster"
"apa maksud mama?"
"kamu berada dimana dirimu akan di takdirkan bukan menjadi seorang manusia lagi namun menjadi seorang anomali"
"aku tidak paham sama sekali"
"nak... Coba lihat kaki mu"
Putra langsung melihat kakinya. di sekeliling kakinya di tumbuhi mawar merah yang memutari kakinya, putra kemudian berjalan menyamping sedikit tiba-tiba mawar yang awalnya putih berubah menjadi merah setelah putra menginjaknya.
"bunga mawar merah itu memang sering melambangkan perasaan romantis namun juga dia bisa menjadi sisi ekstrim emosional seseorang dalam menunjukkan amarah emosi yang menggebu-gebu. Bunga mawar putih yang tumbuh disini di gambarkan sebagai kesucian dan ketulusan namun saat putra menginjak bunga mawar putih seketika warna putihnya berubah menjadi merah."
"jadi mama berpikir bahwa aku ini orang yang memilik dendam gitu?"
"tentu saja. mama bisa melihatnya dari bunga mawar merah itu, Duri-duri yang berasal dari bunga mawar putih yang melukai kakimu itu adalah konsekuensi yang logis dari pilihan yang memiliki resiko untuk memaksakan kehendak yang tidak sesuai dengan dirimu."
"sama halnya seperti putra menghadapi seseorang. Setiap orang pasti memiliki duri di tubuhnya tergantung respon orang tersebut dia akan mematahkan durinya atau tidak"
"jadi ini selama ini mama berpikir bahwa putra salah dalam mencari keadilan demi mama?"
"tidak nak"
Liza berjalan mendekati putra Namun bunga mawar putih yang injak oleh Liza tetap menjadi putih tidak berubah merah layaknya milik putra.
"ketika hukum atau tatanan sosial gagal memberikan hak yang semestinya. Maka individual tersebut akan melampaui batas-batasnya yang kontroversial demi mendapatkan hak yang semestinya ia dapat. sama halnya seperti bunga mawar putih yang berubah menjadi bunga mawar merah"
Liza memegang pipi kanan putra.
"nak bangunlah. dirimu sekarang berada di ambang dimana semua takdir di pegang oleh dirimu"
seketika putra langsung kembali tersadar bahwa dirinya masih berada di tengah-tengah pertarungan setelah mengatakan kalimat. Putra langsung membuka kedua matanya, untuk bola mata kirinya langsung berubah menjadi merah layaknya anomali.
tubuhnya masih terdorong dan menggesek ke tanah hingga membuatnya lecet. putra langsung segera memegang cula milik anomali tersebut dan mematahkannya.
TRAKK!!!
anomali tersebut langsung terkejut saat culanya di patahkan oleh putra begitu saja. Putra kemudian kembali berdiri dengan cula milik anomali tersebut masih tertancap di perutnya, kemudian putra menarik cula tersebut secara perlahan dari tubuhnya.
Perlahan-lahan seluruh luka di tubuhnya mulai kembali sembuh seperti tidak mengalami luka itu lagi. Anomali itu tanpa pikir panjang langsung berdiri dan mengangkat kedua kaki depannya dan segera mengcabik putra, namun putra segera menangkis serangan milik anomali tersebut menggunakan ekor raksasanya yang keluar dari punggungnya.
Kini putra kehilangan akal sehatnya.
Setelah menangkis berhasil menangkis serangan anomali. Tiba-tiba seluruh jari di kedua tangan putra berubah menjadi cakar-cakar yang begitu panjang dan tajam, langsung putra melepaskan tangkisannya dan berlari menuju perut anomali tersebut.
Namun sayangnya saat putra akan mencoba menyerang perut anomali tersebut. Anomali itu segera menebas putra dengan satu kaki depannya hingga putra terbanting begitu keras.
BRAKKK!!!
putra yang semakin kehilangan kendali dirinya segera bangkit kini sebuah tanduk putih yang tumbuh dari kepalanya serta tulang yang menonjol keluar menutup mata kanannya. Segera berlari begitu kencang hingga anomali itu kebingungan melihat gerak-gerik putra yang berlari begitu cepat, putra langsung memanfaatkan kelengahan anomali, segera ia melompat tinggi untuk memukul dari samping kiri sebelum ia akan memukuli nya tiba-tiba tangan kanan tambahan tumbuh dari bahu belakang kedua tangan kanannya segera di lapisi tulang yang keras, kemudian putra langsung memukul wajah anomali begitu keras.
BRUK!!!
Hingga anomali itu terjatuh. Sekali lagi putra mencoba memukuli anomali tersebut. Namun sayangnya anomali tersebut dengan cepat langsung berubah menjadi wujud menjadi jauh lebih kuat, langsung dia mengcakar wajah putra sehingga membuat serangan pukulan putra meleset.
anomali itu berevolusi menjadi jauh menjadi kuat kini culanya menumbuhkan dua bulan lagi, serta cakar-cakarnya berubah menjadi jauh lebih besar lagi. putra terjatuh kini dirinya tidak bisa melihat karena serangan cakaran itu membuatnya menjadi buta sementara, tiba-tiba anomali tersebut berlari menuju putra dengan mengarahkan kedua culanya ke putra.
JLEP!!!
Dua culanya langsung menusuknya. Kemudian anomali itu menghantamkan putra ke sisa-sisa pohon hingga hancur. Putra langsung mengibaskan ekornya seketika sisik-sisik di ekornya terlepas dan terbang ke arah wajah anomali tersebut, dan salah satu sisiknya mengenai salah satu anomali tersebut, putra memanfaatkan kelengahan anomali segera melepaskan dirinya dari dua cula yang menancap tubuhnya.
Segera putra berubah menjadi wujud sempurna anomalinya. tubuhnya berbentuk seperti macan namun memilik enam kaki dua kaki di belakang, empat kaki di depan, dengan kepalanya bentuk seperti naga, tidak lupa ekornya.
kini tubuhnya menjadi jauh satu kali lebih besar dari anomali tersebut. segera anomali itu mencoba mengseruduknya lagi namun putra langsung mengcakar wajah anomali tersebut.
putra langsung membuka mulutnya lebar-lebar dan menggigit leher anomali tersebut begitu kuat layaknya seekor singa mengigit mangsanya. anomali itu terus meronta-ronta kesakitan, hingga ia mencabik-cabik wajah putra walaupun anomali tersebut tersu mencabik-cabik itu tidak ada gunanya karena luka cabikan di wajah putra kembali sembuh.
Anomali yang meronta-ronta kesakitan dan mencabik-cabik wajah putra perlahan-lahan mulai tidak berdaya. Gigitan putra yang begitu kuat membuat anomali tersebut kehilangan napasnya dan berakhir tewas.