Oliver Robert dosen tampan bersatatus duda dan dia mempunyai anak kembar, suatu hari anak kembarnya Oliver bertemu dengan salah satu mahasisa Piskolognya yang bernama Zafana
Oliver dan kedua anaknya yang sellu menutup diri dari orang lain.
Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Oliver sadar jika Zafana berbeda dari wanita yang lain yang pernah ia temui dari wanita lain termasuk mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BJP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Semakin hari keadaan Zafana semakin membaik, hingga akhirnya Zafana diperbolehkan untuk kembali pulang ke rumah usai 1 minggu berada dirumah sakit. Oliver mengantarkan Zafana ke rumahnya dan langsung mendapatkan banyak pertanyaan dari Clara dan Damian.
“Na, kamu kok keterlaluan banget sih nginap dirumah nak Oliver gak kabarin mama dulu?”tanya Clara saat Zafana dan Oliver baru saja duduk diruang tamu.
“Kan Cuma sebentar, ma”jawab Zafana.
“Na kok lo kayak lemes gitu sih? Ngaku kalian abis ngapain?”tanya Alaska.
“Apa sih kak, gak usah ngaco deh”jawab Zafana.
“Tante, om..maaf ya kemarin Oliver kelamaan nginapin Zafa dirumah, soalnya anak-anak lagi gak bisa ditinggal banget”ucap Oliver.
“Aduh nak Oliver, gak papa kok..satu minggu itu sebentar kok, satu tahun juga gak papa”jawab Clara.
“Na, mama sama papa gak marah ya kamu nginap dirumah nak Oliver lama kayak gini, tapi lain kali kabarin, jangan malah nak Oliver yang ngabarin mama sama papa”ucap Damian.
“Iya pa, kemarin Zafa kelupaan”jawab Zafana.
“Kalian habis bulan madu gak sih?”tanya Alaska penasaran.
Zafana memutar bola matanya malas saat mendengar pertanyaan tidak jelas dari Alaska.
“Mas, mending kita ke kamar yuk”ucap Zafana dan Oliver mengangguk.
“Kasihan ada yang jomblo”Zafana mendelik kearah Alaska yang langsung merengut.
Zafana bangkit dituntun oleh Oliver menaiki anak tangga menuju kamarnya hingga mendudukan Zafana dipinggiran ranjang. Oliver berjongkok dihadapan Zafana sambil menggenggam kedua tangan Oliver.
“Kamu yakin udah baik-baik aja?”tanya Oliver
Zafana mengangguk, “udah mas, kamu gak perlu khawatir..aku udah baik-baik aja kok”
“Kalau ada apa-apa kabarin mas ya”ucap Oliver.
“Iya mas, astaga...kenapa jadi bawel gini sih kamu?”jawab Zafana sambil mencubit ujung hidung Oliver membuat siempunya terkekeh.
“Lusa kita dinner ya”ucap Alvano.
Zafana terdiam sejenak, tangannya bergerak menyisiri rambut Oliver. Hari ini dia sedang tidak memakai minyak rambut, jadi Zafana bisa dengan leluasa memainkan rambutnya.
“Jangan lusa...kalau lusa aku mau main dulu sama si kembar, dinner nya nanti aja weekend”jawab Zafana.
“Yaudah mas ikut apa kata kamu aja, tapi jangan kecapean ya, harus banyak istirahat”ucap Oliver.
“Iya ih, kamu udah ngomong itu berapa kali tadi pas lagi dijalan”jawab Zafana.
Oliver bangkit lalu berpindah duduk disamping Zafana. Tangannya mengusap punggung tangan Zafana.
“Maafin mama ya”ucap Oliver.
Zafana mengangguk, “iya mas..aku udah maafin kok”
Oliver tersenyum lalu merentangkan tangannya membuat Zafana terkekeh dan langsung berhambur memeluk tubuh kekar Oliver.
Zafana menghabiskan waktu bersama Oliver didalam kamar dengan bersenda gurau, sesekali Oliver dengan jahil mencium Zafaana sampai siempunya tergelak karena merasa geli.
Waktu berlalu begitu cepat, hari yang ditunggu-tunggu oleh Zafana untuk bermain dengan Enzi dan Aileen akhirnya tiba. Oliver bersama kedua anaknya sedang menunggu Zafana yang masih bersiap di ruang tamu.
Clara dan Damian pun sedang ada kerjaan di kantor yang mengharuskan mereka segera berangkat setelah sarapan, begitupun dengan Alaska.
“Mami..”Aileen sontak berlari memeluk Zafana yang baru saja sampai dilantai utama.
“Ai..”Zafana berjongkok dan membalas pelukan Aileen.
'
“Udah siap?”Oliver menghampiri mereka bersama Enzi.
Zafana bangkit lalu tersenyum kearah Oliver dan mengangguk. Oliver menuntun Enzi menuju mobil mereka, sedangkan Zafana dan Aileen menyusul karena harus mengunci pintu terlebih dahulu.
Saat sudah selesai Zafana dan Aileen segera masuk kedalam mobil dengan Enzi yang menginginkan untuk duduk disamping Oliver. Sedangkan Aileen duduk dibelakang bersama Zafana.
Layaknya piknik keluarga, Oliver membawa mereka ke sebuah kebun binatang. Karena Aileen dan Enzi sangat ingin pergi ke tempat itu sejak lama.
“Kebun binatang...Ai suka kebun binatang..”ucap Aileen antusias.
“Kebun binatang itu bahasa Inggris nya, Zoo”timpal Enzi.
“Ai tau, Enzi!!”jawab Aileen lalu berjalan menarik Zafana untuk segera membawanya masuk kedalam kawasan yang sangat dipadati oleh pengunjung itu.
Melihat Zafana yang mengikuti saja kemana Enzi dan Aileen mengajaknya membuat Oliver sedikit merasa cemas dengan kondisi Zafana yang belum benar-benar pulih pasca oprasi paru-paru minggu lalu.
“Ai, Enzi kita istirahat dulu yuk”ucap Oliver.
“Papa..Ai masih mau lihat gajah itu”Aileen menunjuk beberapa gajah yang sedang dikerumuni oleh banyak pengunjung.
“Papa cape ah”ucap Oliver.
“Tapi Ai enggak!”jawab Aileen.
“Mas, kamu duduk aja dulu..biar aku yang jagain Ai sama Enzi”ucap Zafana.
Alvano menghela, menatap memohon kearah Zafana.
“Keadaan kamu belum pulih banget Sayang, kita istirahat dulu ya”ucap Oliver.
“Aku gak papa kok mas”jawab Zafana berusaha meyakinkan Oliver.
Oliver menghela, “yaudah”
Zafana tersenyum lalu menggandeng lengan Oliver dengan sebelah tangan menggenggam tangan Aileen. Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali melihat sekeliling kebun binatang dengan Aileen dan Enzi yang aktif bertanya.
Waktu pun sudah menunjukan pukul 4 sore, membuat mereka segera memutuskan untuk pulang.
“Mau makan dulu gak?”tanya Oliver sambil mengusap punggung tangan Zafana dengan sebelah tangan memegang stir mobil.
“Boleh”jawab Zafana.
Oliver tersenyum, 5 menit setelahnya ia memarkirkan mobil disebuah restoran yang cocok untuk Zafana dan kedua anaknya. Setelah duduk disalah satu meja didalam restoran itu Oliver dengan segera memesankan makanan untuk mereka.
Zafana menatap wajah Enzi dan Aileen yang terlihat sangat senang. Sejak tadi mereka terus tersenyum menatap sekitarnya.
“Mereka jarang jalan-jalan sama kamu ya, mas?”tanya Zafana.
Oliver berdehem, “dari kecil mereka diurus sama mamanya Aqila, saya paling datang buat jenguk mereka sama ngasih uang jajan aja”
“Itu yang bikin kamu deket banget sama Aqila ya?”tanya Zafana dan Oliver mengangguk.
“Enzi itu dulu mirip banget sama saya sifatnya, pendiem dan jarang mengekspresikan hal yang dia suka, tapi pas dia ketemu kamu dia jadi lebih aktif dan udah sama bawelnya sama Aileen..makanya saya pilih kamu daripada dua wanita kemarin”jelas Oliver.
“Mami, besok Ai mau jalan-jalan lagi sama mami”ucap Aileen dengan kedua kaki yang diayun diatas kursi.
“Ai sayang, besok mami harus kuliah, nanti kalau mami libur lagi baru kita main ya”jawab Zafana.
“Kuliah itu apa?”tanya Enzi.
“Belajar, sayang”jawab Zafana.
“Kayak kakak Qila?”tanya Enzi dan Zafana mengangguk.
Oliver tersenyum melihat bagaimana Zafana berbicara dengan begitu lembut dengan kedua anaknya. Dia pandai membedakan pola bicaranya dengan orang dewasa dengan anak kecil, begitupun intonasinya yang jauh lebih lembut saat berbicara dengan anak kecil.
“Permisi..ini pesanannya”ucap seorang pelayan,
Pelayan itu menaruh makanan pesanan Oliver keatas meja satu persatu lalu kembali pergi. Setelah itu Zafana mulai menyuapi Enzi dan Aileen dengan telaten sambil sesekali menimpali obrolan mereka. Oliver terus tersenyum saat memperhatikan mereka.