NovelToon NovelToon
Dinikahi Pak Dokter Tampan

Dinikahi Pak Dokter Tampan

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:563.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Hanela cantik

Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.

Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Arka melangkah menuruni tangga tepat saat pintu depan terbuka, menampakkan sosok Yuda yang tampak letih bersama Kenan yang mengekor di belakangnya.

Yuda, yang raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran, segera menghampiri putra sulungnya begitu mereka berpapasan di ruang tengah.

"Gimana keadaan ibu kamu?" tanya Yuda langsung tanpa basa-basi, suaranya terdengar berat dan penuh kecemasan.

Arka tersenyum tipis, mencoba menenangkan ayahnya agar tidak terlalu panik di depan anggota keluarga yang lain.

"Nanti bisa kita bicara, Yah. Ada yang ingin aku bicarakan," jawab Arka pelan, memberikan kode bahwa ada hal serius terkait kondisi psikis ibunya yang tidak bisa dibahas di ruang terbuka.

Yuda hanya mengangguk mengerti, meskipun rasa ingin tahunya terpancar jelas dari matanya yang lelah. Ia menghela napas panjang dan memilih pamit ke atas untuk melihat istrinya secara langsung.

"Ayah! Aira ikut!" Aira, si bungsu, merengek ikut sambil berlari kecil mengejar langkah Yuda. Ia menarik ujung kemeja ayahnya, tidak mau ditinggal di bawah bersama kakak-kakaknya. Yuda pun akhirnya luluh dan menggandeng tangan kecil Aira untuk bersama-sama menuju kamar Kirana.

Sementara itu, Kenan mendekat ke arah Arka. "Ada masalah serius, Bang?" tanya Kenan pelan, menyadari gelagat Arka yang tidak biasa.

"Nanti saja, Ken. Bantu Zayn dulu di sana, aku mau ke dapur lihat Lilis," sahut Arka singkat sambil menepuk bahu adiknya.

Arka melangkah menuju dapur, aroma sup ayam yang sedap langsung menyambutnya. Ia melihat Lilis sedang menata mangkuk di atas meja bersama Tiara. Dengan langkah tenang, ia mendekati istrinya.

"Sayang, sudah selesai masaknya?" tanya Arka lembut.

Lilis menoleh dan tersenyum, meski gurat kelelahan sedikit terlihat di wajahnya. "Sudah, Mas. Gimana keadaannya Ibu?"

"Sudah baikan. Tadi sudah Mas cek sebentar, tapi memang butuh istirahat total," jawab Arka menenangkan. Ia lalu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan waktu mandi.

"Mandi dulu yuk, sudah sore juga."

Tiara yang sedang mencuci tangan di wastafel langsung menoleh sambil tertawa kecil mendengar ajakan abangnya itu.

"Yah, mau mandi aja ngajak Lilis,"

Arka mendengus pelan, menatap adiknya dengan tatapan mengejek balik.

"Apaan sih kamu. Ya nggak masalah dong, Abang punya istri cantik," balas Arka bangga, membuat pipi Lilis merona seketika.

"Kamu tuh jangan dilama-lamain sama yang datang kemarin."

Wajah Tiara langsung berubah menjadi cemberut.

"Sudah, ayok Mas. Aku juga sudah nggak nyaman pakai baju ini," ucap Lilis pelan, ingin segera berganti pakaian karena sejak tadi ia memang merasa gerah setelah berkutat di depan kompor.

Arka terkekeh, lalu merangkul pundak Lilis menuju kamar mereka di lantai atas, meninggalkan Tiara yang masih mengomel sendirian di dapur.

Setelah makan malam keluarga selesai, suasana rumah menjadi lebih tenang. Tiara mulai menyiapkan nampan berisi sup ayam hangat dan air putih untuk dibawa ke kamar ibunya.

" biar aku saja yang antar makan buat Ibu ke atas," ucap Tiara sambil memegang pinggiran nampan.

Lilis segera menghampiri dan mengambil alih nampan tersebut dengan lembut. "Biar aku saja, Tiara. Pasti kamu sudah capek dari tadi siang sudah jaga Ibu terus lanjut masak, aku juga sekalian mau lihat kondisi ibu. Tadi belum sempat" kata Lilis.

Tiara tersenyum lega dan mengangguk. "Ya sudah kalau begitu. Makasih ya,Lilis."

Sementara itu, Arka dan juga ayahnya, Yuda, pergi ke teras belakang rumah. Udara malam yang sejuk menyambut mereka saat mereka duduk di kursi rotan yang menghadap ke arah taman kecil.

Di teras belakang, keheningan menyelimuti Arka dan Yuda untuk waktu yang cukup lama. Hanya terdengar suara jangkrik dan embusan angin malam yang menerpa pepohonan. Arka menunduk, menatap kosong ke arah lantai, sementara Yuda menyesap kopinya perlahan, menunggu putranya membuka suara.

"Yah... Ibu tadi cerita kalau dia mimpi bertemu Ayah Arya," ucap Arka memecah kesunyian, suaranya terdengar berat.

Yuda tertegun, cangkir kopi di tangannya tertahan di udara sejenak sebelum ia letakkan kembali ke meja. Sorot matanya berubah menjadi sulit diartikan, ada sedikit gurat luka yang coba ia sembunyikan.

"Ibu bilang, sosok Ayah Arya melambai ke arahnya. Ibu merasa itu sebuah pertanda," lanjut Arka. Ia menoleh ke arah ayahnya dengan tatapan serius.

Yuda menghela napas panjang, ia menyandarkan punggungnya ke kursi rotan. "Mimpi itu... Ayah tahu Ibu masih sangat menghargai kenangannya bersama Arya. Dan Ayah tidak pernah mempermasalahkan itu."

Yuda menatap Arka dengan sungguh-sungguh. "Sampai kapan pun dia tetap Ayah kalian. Tidak ada yang bisa menggantikan posisinya di hati kalian ataupun Kirana. Tapi Ayah juga di sini berperan menggantikannya, menjaga kalian, dan memastikan rumah ini tetap utuh," ucap Yuda.

Arka terdiam, rasa bersalah sempat melintas karena ia merasa pembicaraan ini mungkin menyinggung perasaan pria yang telah membesarkannya itu. Ia segera membalas dengan tulus.

"ayah sudah seperti ayah kandungku sendiri, Yah. Arka tidak pernah membeda-bedakan. Justru karena Arka sayang sama Ayah dan Ibu, Arka jadi sangat takut kehilangan salah satu dari kalian."

"Ketakutanmu itu wajar, Arka," sahut Yuda lembut.

"Ketakutan hanya akan membuat pikiranmu keruh, padahal saat ini Ibu butuh kamu yang paling tenang di antara kami semua."

Yuda menatap tajam ke depan, ke arah kegelapan taman belakang seolah sedang menembus masa depan.

"Nasehat Ayah, jangan biarkan dirimu larut dalam kemungkinan-kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi. Tugas kita sebagai laki-laki di rumah ini adalah menjadi tiang. Kalau tiangnya goyah karena ketakutan, bagaimana dengan yang lain?"

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih lembut. "Urusan umur dan mimpi itu rahasia Tuhan. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah memberikan yang terbaik selagi Ibu masih ada di depan mata kita. Buat dia merasa tenang, buat dia merasa dicintai, dan jangan tunjukkan wajah cemasmu itu di depannya."

Arka mendengarkan setiap kata itu dengan saksama. Nasehat dari pria yang selama ini menjadi sosok pengganti ayahnya itu perlahan-lahan meruntuhkan bongkahan kecemasan yang sempat membeku di hatinya. Arka sadar, ia harus kuat bukan hanya sebagai dokter, tapi sebagai seorang anak.

Setelah Arka berpamitan untuk masuk ke dalam, Yuda masih bergeming di kursinya. Ia kembali menatap langit malam yang kelam, mencoba mencari ketenangan di antara bintang-bintang yang bersembunyi.

Sebenarnya, hati Yuda tidak sekuat kata-kata yang baru saja ia sampaikan kepada Arka. Di balik ketenangannya sebagai kepala keluarga, ada ketakutan besar yang menghimpit sesak di dadanya. Yuda merasa tidak akan sanggup jika harus kehilangan Kirana, istri tercintanya, sosok yang telah mengisi hari-harinya dengan warna yang indah selama bertahun-tahun.

"Tidak, Kirana hanya demam biasa. Hanya kecapekan," gumamnya pelan, mencoba membuang jauh-jauh pikiran buruk yang menghantuinya.

Namun, pertahanan itu runtuh perlahan. Tanpa bisa ditahan, setetes air mata mengalir di sudut matanya, membasahi pipi yang mulai berkerut dimakan usia.

"Ayah nangis?"

Suara mungil itu mengejutkan Yuda. Ia segera menghapus air matanya dengan kasar dan menoleh ke arah pintu teras. Di sana berdiri Aira, putri bungsunya, yang menatapnya dengan wajah polos penuh rasa ingin tahu.

"Eh, putri Ayah," jawab Yuda dengan suara yang sedikit serak, mencoba tersenyum sealami mungkin.

"Ayah nggak nangis, Sayang. Tadi cuma kelilipan kena angin malam. Kok kamu turun? Siapa yang jagain Ibu di atas?"

"Ibu udah selesai makan sama Kak Lilis tadi. Terus Ibu suruh Aira manggil Ayah. Katanya Ibu mau bicara sama Ayah."

Yuda menarik napas dalam, mencoba menormalkan kembali perasaannya. Ia menggendong Aira dan mencium keningnya. "Ya sudah, ayo kita ke atas temui Ibu."

1
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Tamat juga baca marathon.👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Dasar Kakek sama Opanya Gibran ada saja bahan bikin ribut./Facepalm/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Selamat datang di dunia baru mu baby Gibaran Hafizan.. panggilannya GIBRAN atau HAFIZAN nih.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Hihihi pak Yuda lucu sekali kayak bocil lagi merajuk./Facepalm/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Akhirnya calon Arka - Elisa junior hadir juga.👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Inibsebenarnya dokter Gunawan yang salah prediksi apa gimana sih, kok Elisa kebiasaannya menunjukan dan perubahan badan serta moodnya kayak orang lagi hamil.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Kamu gantle Elham.👍
Hana buka hati mu untuk Elham suami mu karna dia sudah benar² berjuang keras untuk tanggung jawab dan maaf mu jadi berjuang bareng² saling melengkapi karna kamu sudah melihat sendiri gimana perjuangan dia di depan mu sampe rela melepas semua barang dan jabatan daribAyahnya demi kamu juga
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Kok bisa gitu ya, di kirain beneran hamil.🤔
Mungkin belum waktunya... di suruh mantenan dulu.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Aduh Arka kamu dokter sampe ga kedeteksi kalau Elisa lagi hamil, biasanya kan dari gejalanya saja sudah ada ngarah ke situ beda sama Magh... coba kalau tadinya diperiksa denyut nadinya pasti ada yang beda.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Nah Loh bu Tantri dengan bu Marni saling mengenal, kejadian antara Elham dan Hana menjadi penghubung antara bu Tantri dan bu Marni yang mungkin sudah lama ga bertemu.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Calon baby sudah hadir nih dari gejalanya.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
pak Yasir ini kayaknya arogan banget, sombong dan lebih mentingin kehormatan dari pada tanya baik² anaknya gimana.
Sudah sepuh harusnya ga pake otot pak takutnya larinya ke stroke.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Terus berjuang Elham, jangan menyerah sampe kamu benar² sudah sampe batas di mana kamu harus terus maju atau mundur untuk berhenti berjuang dan mendapatkan jawaban keputusan dari Hana.💪
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Sebenarnya ga ada yang namanya untung di sini tapi di balik kejadian Hana, hikmahnya adalah dia meskipun kehilangan kehormatan tapi Elham hadir bertanggung jawab dan datang di waktu yang tepat juga di saat bu Marni memerlukan pertolongan plus sosok Elham mungkin yang Allah kirim untuk jadi tempat Hana bersandar plus berbagi beban hidup yang selama ini dia keluhkan.

Jadi Hana dengan bantuan dan hadirnya Elham juga kamu ga kehilangan ibu mu, orang tua yang paling kamu sayangi... tapi masalahnya bukan hanya pada maaf Hana tapi juga ortu'nya Elham gimana nanti.🫣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Betul Arka, meskipun kesalahan Elham berat tapi dia mau tanggung jawab dan ga lari dari kesalahannya begitu juga dia mau berjuang untuk maafnya Hana dan membantu bu Marni biayain operasinya dan menuhin kebutuhan Hana.

Biar waktu yang menjawab gimana nanti keputusan Hana pada Elham entah mau menerima dia atau ngga yang penting Elham sudah berusaha.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Saatnya Elham berjuang maaf pada Hana, untung juga a Elham datang tepat waktu jadi berarti Elham masih punya sisi baik meskipun itu ga bisa mengubah / mengembalikan keadaan Hana seperti dulu tapi kalau Elham haris menebus kesalahannya itu tergantung Hana gimana karna takutnya Hana hamil.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Terus kalau kamu pergi, Ibu mu di rumah barrng siapa dan siapa yang rawat beliau Hana.

Apalagi sakit jantung, kalau sewaktu² kambuh terus kamu ga ada yang ada kamu bakal lebih nyesel seumur hidup... lari dari masalah malah akan dapat cobaan baru
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Waduh apa Hana di perk0sa sama Elham ya karna Elham patah hati dan frustasi saat tau kalau Elisa sudah menikah dan berkahir mabuk terus lampiasin ke si Hana.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ada hubungan apa Hana dengan Elham kok kayak terjadi sesuatu di antara mereka.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Bilang saja kamu keberatan karna kamu sudah menikah dan ga mau bikin salah paham Elisa.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!