"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.
Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.
Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Gaun pengantin
Musim kemarau panjang tengah melanda saat aku dan Danu pergi ke butik untuk mencoba gaun pengantin. Senyum terus tercetak di bibirku yang berusia dua puluh sembilan tahun ini, meskipun hatiku tertoreh luka yang sulit kujelaskan. Sebab aku sama sekali tidak bisa memberitahu bagaimana perasaanku saat ini terhadap lelaki di sampingku.
“Dinda, gaun pengantin ini sangat indah. Aku yakin Belinda akan menyukainya.”
Ya, benar. Gaun pengantin yang kupakai ini bukan untukku, melainkan untuk wanita yang akan segera dinikahi Danu. Terkadang aku merasa menjadi wanita paling bodoh di dunia. Bertahun-tahun memendam cinta pada sahabat sendiri hingga dia menemukan pelabuhan hati, aku masih saja menaruh hati padanya.
“Benarkah? Aku tidak percaya akan menggunakan gaun pengantin ini. Aku berharap semoga aku juga segera bisa menyusul ke pelaminan. Em... ya, aku juga yakin Belinda akan sangat menyukainya,” sahutku dengan bibir bergetar.
Danu menghampiriku yang berjarak beberapa meter darinya. Lelaki dengan pahatan wajah sempurna itu mengenakan tuksedo hitam dengan dasi kupu-kupu, menambah kesan berkelas seorang pewaris tunggal PT Danu Group.
“Aku yakin wanita secantik kamu akan mendapatkan lelaki yang sempurna selama kamu bisa segera membuka hatimu. Jangan lupa kenalkan lelaki itu padaku sebelum menuju pelaminan,” ujar Danu seraya menepuk pundakku.
“Ayolah, jangan posesif. Dia pendampingku. Aku tidak ingin lelaki itu merasa terintimidasi.” Aku menatap bola mata bak elang milik Danu, tajam tetapi penuh kasih sayang. Alasan inilah yang membuatku tak berani menyatakan perasaan. Aku takut kehilangan dirinya. Bukankah menjadi sahabat dekat jauh lebih baik daripada harus kehilangannya?
“Tapi aku harus memastikan dia yang terbaik untukmu.”
Aku menggelengkan kepala. “Baiklah, aku tidak bisa melawan sifat otoritermu ini. Tapi saat ini yang lebih penting adalah pernikahanmu.”
“Tenang, semua sudah diatur. Lagian ada kamu yang selalu siap membantuku,” jawab Danu sembari nyengir kuda. Tak lama kemudian, dia merangkul pundakku dan menarik pucuk hidungku.
“Dan, lepas. Kalau Belinda tahu, dia bisa salah paham.”
“Tenang. Dia tahu kok kalau aku sama kamu itu cuma sahabat. Lagian dia masih di luar negeri,” ucap Danu dengan suara sendu.
Aku paham kesulitan yang dialami sahabatku ini. Lelaki mana yang tidak patah hati saat hari pernikahan sudah semakin dekat, justru calon pengantinnya masih sibuk mengejar karier? Namun, benih cinta yang ditanam Belinda di hati Danu sudah tumbuh terlalu subur. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mendukung wanita itu.
“Lagian Kakak juga. Wanita kayak dia kenapa justru dibawa ke pelaminan!” seru seorang gadis muda yang tiba-tiba muncul, Ghina Saliyo, adik Danu.
“Anak kecil tahu apa, hum?” Danu mencibir sang adik.
“Meskipun aku anak kecil, tapi aku tidak rabun, Kak. Dan tidak tertutup hatinya,” balas Ghina yang tahu kakaknya sudah cinta buta.
“Apa kamu ingin aku jadikan adonan kue bolu?” ancam Danu yang mulai kesal.
Aku gemas melihat kasih sayang yang ditunjukkan kakak-beradik itu. Apalagi aku hanyalah seorang anak tunggal. Alasan kedua aku tidak bisa membeberkan perasaanku adalah latar belakang keluarga. Ayahku sudah meninggal dan kini hanya tersisa Ibu di tengah kehidupan sederhana kami. Sangat berbeda dengan Danu yang bergelimang harta dengan keluarga utuh.
Awal mula kami menjadi sahabat sejak kecil itu karena Danu yang tiga tahun lebih tua dariku dulu dirawat oleh Ibuku. Boleh dikatakan kami adalah teman masa kecil hingga saat ini. Bahkan biaya kuliahku pun berasal dari keluarga Danu.
“Ghina, sudah. Ayo, Kakak antar melihat gaunmu, sangat cantik,” ujarku melerai perdebatan mereka.
“Sepertinya kakakku itu Kak Dinda, bukan kamu,” tunjuk Ghina pada Danu.
“Bocil benar-benar mau dibikin boku kukus, ya!”
Sebelum kemarahan kakaknya membuncah, Ghina menarik tanganku menuju ruang ganti. Danu hanya bisa menahan tawa melihat ketakutan adiknya.
Di dalam ruangan, Ghina menatapku yang mulai melepas gaun pengantin. Gadis yang mulai beranjak remaja itu sepertinya tahu kalau aku menyukai kakaknya.
“Sampai kapan Kakak memendam cinta itu pada Kak Danu? Kakak tahu, kan, setelah janur kuning melengkung, semua sudah tidak bisa diubah?” cetus Ghina yang membuat gerakan tanganku terhenti.
“Ghina, kamu bicara apa? Aku dan kakakmu itu sahabat sejak kecil. Kamu terlalu banyak berpikir. Di antara kami tidak mungkin ada yang namanya cinta seperti yang kamu pikirkan.” Aku mencoba menepis pemikiran Ghina. Lagipula, untuk apa cinta sepihak diumumkan? Memendam lalu melupakan, bukankah jauh lebih baik?
“Kak, aku bukan gadis bodoh. Aku sangat tahu bagaimana Kakak memandang Kak Danu, bagaimana perhatian Kakak padanya. Bahkan di masa sulit pun Kakak yang selalu ada untuknya,” beber Ghina.
Apa yang dikatakan Ghina tidak sepenuhnya salah, justru semuanya benar. Aku selalu ada untuk Danu. Namun, kembali lagi, semua itu tidak cukup untuk membuat Danu memiliki rasa yang sama.
Aku memegang kedua pundak Ghina. “Itulah persahabatan kami. Selalu ada saat suka maupun duka.”
“Jika ada penghargaan untuk pembohong profesional, mungkin Kakak yang akan jadi juaranya,” sindir Ghina.
Aku melepaskan tanganku dari pundaknya, lalu menarik kedua pipi tembem gadis itu. “Jika ada kontes gadis paling imut, kamu yang akan jadi juaranya.”
“Kak Dinda!” geram Ghina, mulai kesal padaku.
“Ghina... suatu saat kamu akan paham, di mana memiliki dengan rasa sakit itu lebih berarti dibandingkan dengan kehilangan dan tak bisa lagi menjangkaunya,” ucapku penuh arti.
Kami berdua terdiam beberapa saat, hingga akhirnya aku kembali bersuara, “Sudahlah, segera coba gaunmu. Sebentar lagi aku harus kembali ke rumah sakit.”
Mendengar kata rumah sakit, raut wajah Ghina berubah. Dia teringat kejadian dua hari lalu saat cek kesehatan di rumah sakit tempatku bekerja. Dia juga mendengar bahwa aku mendaftar sebagai relawan penanganan wabah.
“Kak, apa Kakak akan pergi?” tanya Ghina.
“Apa maksudmu?”
“Aku dengar Kakak mendaftar sebagai relawan di Ujung Kulon yang kini kena wabah penyakit.” Ghina menatapku penuh harap, berdoa agar apa yang didengarnya tidak benar.
“Ghina, Kakak itu seorang dokter. Sudah sepantasnya Kakak ikut andil dalam penanganan wabah ini. Ilmu yang akan Kakak dapatkan bisa berkali-kali lipat, kenapa kamu seolah tidak mengizinkanku?” ungkapku membuat Ghina bungkam.
Tanpa kami sadari, Danu yang tidak sabar menunggu masuk ke ruang ganti dan mendengar percakapan kami.
“Apa? Kamu mau jadi relawan? Dinda, kenapa kamu mengambil keputusan seperti ini?” Danu tampak sama tidak setujunya. Penanganan wabah sangat berisiko, aku bisa tertular dan menjadi korban.
“Hai, kalian berdua kenapa jadi seperti ini, sih? Tenang, aku akan baik-baik saja. Dan aku pergi setelah pernikahanmu, jadi jangan khawatir,” ujarku menenangkan.
“Ghina, coba kasih tahu kakakmu ini. Aku bukan khawatir karena dia tidak bisa datang ke acara pernikahanku, tapi aku khawatir kalau terjadi apa-apa padanya,” perintah Danu pada adiknya.
“Kak Dinda dengar sendiri, kan? Kak Danu juga tidak setuju,” sahut Ghina.
“Em... kita bahas ini lagi nanti. Dan, kita keluar biar Ghina ganti baju.” Aku menarik tangan Danu. Akan lebih baik memberikan pengertian padanya terlebih dahulu agar aku tidak susah payah menjelaskan pada Ghina.
Saat aku dan Danu berjalan keluar ruangan, samar-samar kudengar Ghina bergumam pelan di belakang kami, “Aku tidak akan membiarkan Kakak pergi dan aku akan pastikan Kakak akan menjadi menantu keluarga Saliyo.”
"Apa maksudnya?"
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...
Dinda ingin tetap waras.... & tak prlu km sibuk mncarinya.... krna itu tak perlu...
smoga sja... dimasa mndatang dinda mndpt jodoh lelaki yg terbaik...
sesuai yg km ktakn.... klo Dinda prgi berrti km sdh mnceraiknnya....
tak prlu kepengadilan agama.... toh km cm nikah siri sm Dinda....
up bnyak bnyak😘😘
km.g tau kejamnya danu mmprlakikn dinda.... bhkn mulut danu tak segan mngatakn hal yg keji trhdp dinda...🙄🙄
seenteng... dan segmpang itu kta keramat km ucpkn kedinda....
jgn prnh lgi km mngusik hidup dinda.... krna dinda bukan lgi bagian dri hidupmu..... krna dinda sdh km jandakn🙄🙄
untuk dinjadikn senjata.... saat si belinda mnindasnya...
mulutmu sll mnghina dinda tidak berharga..... tpi nyatanya km yg prtama mnikmatinya.....
justru belinda yg tak ada harganya.... krna sdh dinikmati laki" lain.... ntah sdh berapa ratus kali di pake...