Bagi Aera, rumahnya telah berubah menjadi labirin yang dingin dan mematikan. Setelah kematian misterius ibu kandungnya, kehidupan Aera dijungkirbalikkan oleh kehadiran Belva, ibu tiri yang penuh pesona namun manipulatif. Hanya dalam waktu singkat, Reno-ayah Aera yang dulunya penyayang-berubah total. Pria itu menjadi kasar, dipenuhi kebencian tak mendasar, hingga puncaknya tega mengusir Aera dari rumah. Aera dibuang, diasingkan, dan sengaja dilupakan. Namun, di balik pengusiran itu, Aera menolak untuk tunduk. Bergerak dari kegelapan, ia mulai mengumpulkan kepingan teka-teki yang sengaja disembunyikan di dalam rumahnya. Penyelidikan rahasia itu menuntun Aera pada fakta yang mengerikan-kecelakaan maut ibunya bertahun-tahun lalu adalah sebuah pembunuhan berencana. Dan dalang di balik konspirasi berdarah itu adalah Belva. Ibu tirinya tidak hanya menginginkan posisi sebagai nyonya rumah, dia menginginkan seluruh harta warisan berlimpah milik Reno. Menyingkirkan ibu kandung Aera adalah langkah pertama, memanipulasi Reno dan mengusir Aera adalah langkah kedua. Kini, permainan psikologis yang berbahaya dimulai. Aera tidak lagi menangis karena dilupakan. Dia akan kembali menyusup ke rumah itu, bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai ancaman terbesar yang siap membongkar kedok berdarah sang ibu tiri-sebelum nyawa ayahnya menjadi korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alfino & Aera
Setelah menyelesaikan seluruh proses administrasi pendaftaran dan mengantar Alfino—anak kandungnya ke ruang orientasi mahasiswa baru di Universitas Nusantara Bangsa (UNB), Belva tidak langsung pulang ke rumah. Langkah kakinya terasa berat, terpaku oleh bayang-bayang pemandangan yang baru saja ia saksikan di pelataran kampus elite tersebut.
Wajah Aera yang berjalan anggun dengan pakaian bermerek dan aura penuh percaya diri terus berputar di dalam kepala Belva, menciptakan rasa penasaran yang berubah menjadi paranoia akut. Di dalam mobil mewahnya yang terparkir di basement kampus, Belva duduk di kursi belakang dengan jemari yang gelisah mengetuk-ngetuk tas tangan mahalnya.
"Bagaimana mungkin anak itu bisa kuliah di UNB?" gumam Belva pada dirinya sendiri, suaranya terdengar gemetar di antara keheningan kabin mobil.
Pikiran Belva langsung melayang kembali ke masa-masa saat ia berhasil mendepak Aera dari rumah utama setelah kematian ibu kandung gadis itu. Dalam perhitungan Belva, Aera seharusnya hidup dalam kesusahan, terlunta-lunta, atau setidaknya bersekolah di tempat biasa yang jauh dari standar kemewahan.
Namun, kenyataan hari ini memukul telak harga diri Belva. Aera tidak hanya bertahan, gadis itu tampak hidup dalam kemakmuran yang bahkan setara, atau mungkin melebihi, fasilitas yang ia berikan kepada Alfino saat ini.
Rasa cemas itu berubah menjadi desakan yang tidak bisa ditolak. Belva harus tahu. Ia harus mencari tahu di mana Aera tinggal sekarang, siapa yang menampung gadis itu, dan yang paling penting siapa dalang di balik perubahan drastis kehidupan Aera? Apakah masih ada sisa-sisa orang kepercayaan almarhumah ibu kandungnya yang diam-diam membantu? Atau jangan-jangan, ada pihak lain yang jauh lebih kuat yang sedang melindungi Aera?
Belva segera merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel pintar berwara emas miliknya. Dengan cepat, ia menghubungi seseorang—seorang detektif partikeliran bayaran yang selama ini kerap ia gunakan jasanya untuk memata-matai aset dan pergerakan keluarga besar almarhumah istri pertama suaminya secara sembunyi-sembunyi.
"Halo," suara di seberang sana langsung terhubung setelah dering ketiga.
"Aku butuh bantuanmu sekarang juga," ucap Belva dengan nada mendesak, tanpa basa-basi. Suaranya terdengar tajam dan penuh tekanan.
"Ada apa lagi, Nyonya Belva? Bukankah semua urusan harta dan perusahaan sudah berada di tangan Anda?" jawab suara di seberang dengan nada santai, terbiasa melayani permintaan gelap sang nyonya besar.
"Jangan banyak tanya!" sergah Belva tajam. "Cari tahu sekarang juga tentang Aera—anak tiri sialan itu! Aku mau laporan lengkap sore ini juga. Cari tahu di mana dia tinggal sekarang, siapa yang membiayai hidupnya, dan bagaimana bisa dia terdaftar sebagai mahasiswi di Universitas Nusantara Bangsa!"
Di seberang sana, sang detektif sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya menyanggupi perintah tersebut. "Baik, Nyonya. Saya akan telusuri aktivitasnya, mulai dari registrasi kampus hingga alamat tempat tinggal terbarunya."
"Bagus. Jangan sampai ada yang terlewat!" ancam Belva sebelum langsung memutus sambungan telepon secara sepihak.
Belva melemparkan ponselnya ke atas jok kursi di sebelah. Napasnya memburu tidak teratur. Jantungnya berdegup kencang karena diliputi rasa takut yang mulai merayap naik.
Selama ini ia merasa duduk di singgasana kekuasaan yang aman, menikmati istana megah hasil dari kelicikannya menyingkirkan nyawa orang lain. Namun, melihat kehadiran Aera yang berdiri tegak di kampus elite hari ini, Belva menyadari sebuah ancaman nyata sedang mengintai posisinya.
Jika Aera memiliki pelindung yang kuat, dan jika rahasia masa lalu perlahan mulai terkuak ke permukaan, maka istana mewah yang selama ini ia tempati bisa runtuh seketika dalam sekejap mata.
Belva mengepalkan tangan kuat-kuat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri. Ia tidak akan tinggal diam membiarkan seorang anak kecil merusak segalanya yang sudah ia bangun dengan susah payah melalui cara-cara kotor.
"Lihat saja nanti, Aera," desis Belva tajam di tengah kesunyian mobilnya, menatap kosong ke arah kaca spion. "Siapa pun yang menopang hidupmu sekarang, aku akan pastikan mereka semua ikut hancur bersamamu."
...----------------...
Suasana di area fakultas utama Universitas Nusantara Bangsa mendadak riuh rendah oleh bisikan-bisikan tertahan dan decak kagum para mahasiswi. Di tengah kerumunan koridor yang menghubungkan ruang pendaftaran dengan aula utama, pusat perhatian seolah tersedot pada sesosok pemuda berpenampilan super modis yang baru saja melangkah masuk.
Pemuda itu memiliki wajah yang begitu memikat—tipikal baby face dengan kulit bersih, rahang tegas namun lembut, mata jernih yang memancarkan pesona polos, serta senyuman manis nan ramah yang seketika membuat siapa saja yang melihatnya merasa adem. Tidak heran jika para mahasiswi baru langsung terpesona, memuji ketampanannya yang bak bintang drama televisi Korea.
Namun, di antara kerumunan yang terpesona itu, langkah Aera yang tadinya berjalan santai mendadak terhenti total. Tubuhnya menegang kaku seolah disambar petir di siang bolong. Kedua matanya membelalak lebar, menatap lurus ke arah pemuda berwajah malaikat tersebut dengan rasa tidak percaya yang teramat sangat.
Alfino?! batin Aera menjerit histeris di dalam kepalanya.
Otak Aera mendadak berdengung keras. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa pemuda itu berada di sini, berdiri tegak di hadapannya sebagai mahasiswa baru di UNB? Bukankah beberapa tahun lalu, tepat setelah hubungan rumah tangga yang rumit itu semakin runyam, Belva—ibu kandungnya—dengan yakin mengatakan bahwa Alfino telah pindah ke luar negeri untuk tinggal menetap bersama ayah kandungnya? Belva bahkan menegaskan bahwa kepindahan itu murni atas kemauan Alfino sendiri yang ingin menjauh dari kisruh keluarga mereka.
Aera mengenal Alfino dengan sangat baik. Pemuda itu adalah saudara tirinya—anak kandung Belva dari pernikahan sebelum ibunya menikah dengan ayah Aera. Mengingat masa-masa ketika Belva pertama kali datang dan tinggal di rumah utama bersama Reno (ayah kandung Aera), Alfino sempat diboyong serta untuk tinggal bersama mereka di bawah satu atap.
Berbeda jauh dengan Belva yang licik, manipulatif, dan penuh ambisi busuk, Alfino justru memiliki kepribadian yang bertolak belakang 100 persen dari ibunya. Alfino adalah sosok yang sangat baik, tulus, lembut, dan memiliki kasih sayang yang tulus kepada Aera. Selama mereka tinggal bersama dulu, Alfino tidak pernah sekalipun menunjukkan gelagat buruk. Ia justru sering menjadi pelindung kecil bagi Aera ketika Belva mulai menunjukkan tabiat aslinya di belakang sang ayah. Alfino memperlakukan Aera bukan sebagai saingan, melainkan sebagai seorang adik kandung yang harus disayangi.
Itulah sebabnya, ketika Alfino dikabarkan pergi ke luar negeri, ada rasa kehilangan yang sempat dirasakan Aera di tengah kekacauan keluarganya.
Langkah kaki Alfino terhenti tepat satu meter di hadapan Aera. Senyuman hangat yang sejak tadi menghiasi wajah baby face-nya semakin mengembang, menampakkan deretan gigi rapi yang membuatnya terlihat sama sekali tidak berbahaya. Suasana di koridor fakultas yang sibuk mendadak terasa senyap bagi Aera, seolah hanya menyisakan mereka berdua di tempat itu.
"Aera... astaga, ini benar-benar kamu?" suara lembut itu mengalun, persis seperti ingatan masa lalu yang disimpan Aera. Tidak ada perubahan, intonasi itu tetap menenangkan, jauh dari kesan garang seorang pemimpin geng motor berbahaya.
Aera mengerjap beberapa kali, mencoba menarik kembali kesadarannya yang sempat melayang. "Al... Alfino?" cicitnya lirih, masih tidak percaya dengan sosok nyata yang berdiri di hadapannya saat ini.
Alfino terkekeh pelan—sebuah tawa renyah yang terdengar tulus. Tanpa ragu, pemuda itu melangkah lebih dekat dan langsung merengkuh tubuh Aera ke dalam sebuah pelukan singkat yang hangat, persis seperti kebiasaannya dulu ketika mereka masih tinggal di bawah atap yang sama.
"Kangen banget. Aku kira kita bakal susah ketemu lagi setelah sekian lama, Ra."
Aera yang masih syok hanya bisa mematung dalam pelukan itu. Ada rasa rindu sebagai seorang saudara tiri yang tersisa di lubuk hatinya, namun di saat yang bersamaan, akal sehatnya berteriak memperingatkan tentang siapa sebenarnya Alfino di balik kedok manis ini.
Begitu pelukan terurai, Alfino menatap Aera dengan sorot mata penuh perhatian, mengamati penampilan gadis itu dari atas sampai bawah.
"Kamu makin dewasa, dan... kelihatan jauh lebih baik dari terakhir kali kita ketemu dulu. Aku senang lihatnya."
"Al..." potong Aera dengan suara bergetar, tatapannya menyusup menyelami manik mata sang saudara tiri. Ada segudang pertanyaan yang mendesak untuk segera dilepaskan dari dadanya.
"Sebenarnya... apa-apaan ini? Kamu... kamu bukannya udah pindah ke luar negeri? Kata Belva—maksudku, kata Ibumu, kamu ikut papa kandungmu menetap di luar negeri sejak lama. Kenapa tiba-tiba sekarang ada di sini? Dan jadi mahasiswa UNB?"
Mendengar pertanyaan bertubi-tubi itu, senyuman di wajah Alfino perlahan memudar, digantikan oleh sebuah decakan pelan dan senyuman miris yang menyeringai tipis di sudut bibirnya—sebuah ekspresi sekilas yang jarang sekali dilihat orang lain dari sosok berwajah malaikat sepertinya.
Alfino menghela napas panjang, memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana kain bermerek yang dikenakannya. "Keluar negeri?" ulang Alfino dengan nada meremehkan, meski suaranya tetap terdengar lembut.
"Itu kan cuma dongeng yang sengaja dibikin sama Mama buat nutupin kenyataan sebenarnya dari rumah, Ra. Biar semua orang, termasuk ayahmu, percaya kalau aku udah nggak ada di lingkaran mereka lagi."
Aera membelalakkan mata. "Maksud kamu? Jadi... selama ini kamu nggak pernah ke luar negeri?"
"Nggak pernah," jawab Alfino tenang.
"Aku nggak pernah pergi ke mana-mana. Selama ini, aku tetap tinggal di kota ini. Aku punya tempat sendiri, basecamp pribadi namanya Black tigger yang udah aku anggap seperti rumah aku yang sesungguhnya—tempat di mana aku nggak perlu akting jadi anak baik di depan wanita ambisius kayak Belva."
Aera tertegun hebat. Sekali lagi, kebohongan besar yang ditanamkan Belva selama bertahun-tahun terbongkar begitu saja di hadapannya.
Belva sengaja menyingkirkan atau menyembunyikan keberadaan Alfino dari rumah utama demi memuluskan rencana dan ambisinya, sementara Alfino memilih hidup di dunianya sendiri di luar sana.
Namun, di tengah rasa kejutannya tentang kebohongan Belva, pikiran Aera mendadak teringat pada satu fakta krusial lainnya. Fakta yang membuat tenggorokannya mendadak kering. Basecamp Black Tigger... kata-kata itu berdengung di kepala Aera. Mengingat status rahasia Alfino sebagai pimpinan tertinggi geng motor Black Tiger, basecamp yang dimaksud Alfino pastilah sarang markas utama dari musuh bubuyutan Alaxtar!
Jantung Aera berdegup kencang bukan main. Ia menatap Alfino dengan ngeri yang tertahan. Aera benar-benar tidak mengetahui bahwa Alfino adalah ketua dari Black Tiger. Dan di sisi lain, Alfino juga sama sekali tidak mengetahui bahwa Aera kini telah menjadi bagian dari lingkaran dekat anak-anak Alaxtar, bahkan baru saja dipaksa menjadi Bunda oleh Leo dan kawan-kawan setelah liburan bersama dari Puncak.
Jika Alfino tahu bahwa Aera dekat dengan Leo—panglima tertinggi Alaxtar yang merupakan musuh abadi Black Tiger—atau jika Leo dan anak-anak Alaxtar tahu bahwa gadis yang mereka lindungi dan sayangi adalah saudari tiri dari ketua Black Tiger, perang besar yang melibatkan darah dan kehancuran pasti akan meledak seketika.
"Al..." cicit Aera dengan suara nyaris tak terdengar, tenggorokannya terasa mencekat karena ketakutan luar biasa yang mendadak melanda. Ia merasa sedang berdiri di atas seutas tali rapuh di tengah jurang yang sangat dalam.
Alfino mengerjap pelan, menatap Aera dengan alis terangkat sebelah, tampak menyadari perubahan drastis pada air muka saudari tirinya itu. "Kenapa, Ra? Kok muka kamu pucat banget pas dengar aku tinggal di basecamp Black tigger? Kamu kayak ketakutan gitu. Ada apa?"
Aera buru-buru menggelengkan kepala, mencoba menarik senyuman paling natural yang ia bisa untuk menutupi kepanikan luar biasa di dalam dadanya. "N-nggak apa-apa, Al. Cuma... kaget aja. Tiba-tiba ketemu kamu di sini setelah sekian lama," elak Aera setengah tergagap.
Alfino menatap Aera beberapa detik seolah sedang membaca kejujuran di balik bola mata gadis itu, sebelum akhirnya kembali tersenyum ramah.
"Jangan khawatir, Ra. Apapun yang terjadi, aku bakal tetap jadi saudara yang lindungin kamu. Kalau ada apa-apa di kampus ini, atau kalau ada orang yang berani macam-macam sama kamu... bilang sama aku. Aku bakal pastikan orang itu nggak bisa tenang."
Kalimat itu, yang diucapkan dengan nada lembut dan senyuman malaikat, justru terdengar begitu mengerikan di telinga Aera, mengingat kekuatan gelap apa yang sesungguhnya berada di belakang punggung pemuda itu. Pertemuan pagi ini bukan sekadar reuni keluarga yang manis, melainkan awal mula dari sebuah petaka besar yang siap menghancurkan segalanya tanpa ampun.
"Ra," panggil Alfino lembut, membuyarkan lamunan Aera yang masih terpaku menatapnya. Pemuda itu melangkah lebih dekat, merendahkan suaranya agar hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
"Aku tahu kamu pasti kaget lihat aku di sini. Tapi percayalah, aku punya alasan sendiri kenapa aku akhirnya mutusin buat kuliah di kampus ini."
Aera mengerjap, menatap manik mata Alfino yang tampak begitu tulus, sama sekali tidak memancarkan aura ancaman layaknya seorang ketua geng motor kejam yang ditakuti di jalanan.
"Alasan... alasan apa maksud kamu, Al?" cicit Aera ragu.
Alfino tersenyum tipis, sorot matanya berubah menjadi teduh namun menyiratkan ketegasan yang mutlak. Tangannya terulur secara perlahan, menepuk pelan pundak Aera untuk memberikan ketenangan.
"Aku tahu semuanya, Ra. Aku tahu kalau kamu sekarang berada di lingkaran anak-anak Alaxtar."
Seketika napas Aera tertahan. Matanya membelalak semakin lebar. Jadi, Alfino tahu? Pemuda itu mengetahui kedekatannya dengan Leo dan anak-anak Alaxtar? Apakah itu berarti Alfino juga tahu bahwa mereka berada di dua kubu yang saling bermusuhan?
"Al, kamu..." Aera tergagap, ketakutan mendadak merayapi rongga dadanya. Jika Alfino tahu, apakah pemuda itu akan melaporkannya kepada kelompok Black Tiger? Atau justru menggunakan hal ini untuk melawan Leo?
Melihat kepanikan yang tergambar jelas di wajah Aera, Alfino buru-buru menggelengkan kepala pelan. Ia mendekatkan wajahnya, memastikan suaranya benar-benar berbisik di telinga Aera.
"Jangan takut, Ra. Tenang... aku bukan musuh kamu. Justru sebaliknya. Aku masuk ke sini karena aku pengen ada di dekat kamu. Aku pengen melindunginya kamu dari siapapun—termasuk dari ibu kandung aku sendiri kalau dia berani berulah ganggu hidup kamu lagi."
Kalimat itu meluncur begitu jujur dari bibir Alfino. Tidak ada kepalsuan di sana. Alfino memang sangat membenci sisi jahat Belva, dan ia bertekad untuk menjadi benteng pelindung bagi Aera di tengah badai perseteruan dua geng besar yang siap meledak kapan saja.