Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 - Kedok Zay & Olivia
Napas Olivia terengah halus saat kacamata hitam berbingkai emasnya dibetulkan dengan jemari berkuteks merah menyala. Angin siang yang berembus di pelataran hotel berbintang itu menyapu gaun haute couture miliknya, namun pikirannya sama sekali tak tertuju pada cuaca. Otaknya masih berputar mengingat kejadian kemarin di ruang tunggu eksekutif Bandara Soekarno-Hatta.
Kala itu, champagne yang dipegang Zay hampir saja tumpah ketika ponsel pria itu bergetar hebat. Panggilan dari salah satu orang kepercayaannya di jaringan rantai pasok fesyen mengubah seluruh rencana penerbangan romantis mereka ke Paris.
"Zay, vendor sekunder di Jawa Barat mengonfirmasi kelangkaan kulit impor yang kita alihkan sudah siap dialokasikan penuh ke fasilitas pabrik baru kita," ujar suara di seberang telepon saat itu.
Bahan kulit berkualitas tinggi yang seharusnya menjadi pasokan utama Nebula Fashion Group sebenarnya sengaja disabotase oleh Zay. Tanpa sepengetahuan Tristan, Zay dan Olivia tengah membangun imperium fesyen baru secara diam-diam. Keretakan pasokan di Nebula adalah skenario ciptaan Zay untuk menguras kas perusahaan Tristan sekaligus mengalihkan material terbaik ke brand rahasia milik mereka. Demi memastikan pengalihan material itu berjalan mulus tanpa celah, Zay dan Olivia membatalkan penerbangan ke Paris jam itu juga dan terbang ke kota yang sama dengan tujuan Tristan, tanpa menyadari sang CEO sendiri sedang berada di kota yang identik.
Saat melangkah keluar dari lobi hotel mewah itu, Zay sebenarnya baru saja berbelok menuju area parkir belakang untuk mengurus dokumen pengiriman bahan, meninggalkan Olivia sendirian di depan pintu kaca utama.
Sementara itu, di seberang jalan, darah Tristan mendidih hebat.
Matanya menatap sosok Olivia yang berdiri anggun di pelataran hotel. Bayangan pengkhianatan yang remang-remang di kepalanya mendadak terasa makin nyata, meski detik itu Zay sudah menghilang di belokan gedung menuju parkiran belakang sehingga Tristan hanya melihat Olivia berdiri seorang diri.
Tangan Tristan mengepal erat di samping tubuhnya. Rahangnya mengatup kaku sampai urat-urat di lehernya bertonjolan. Emosi membakar dadanya, impuls untuk menyeberang jalan, mencengkeram lengan Olivia, dan mencecer istrinya itu dengan sejuta pertanyaan membumbung tinggi ke puncaknya.
Namun, saat kakinya melangkah setengah tapak, ia merasakan sentuhan lembut di jemarinya.
Tristan menoleh sedikit. Nayla berdiri di sampingnya, sama sekali tidak menyadari kehadiran Olivia di seberang jalan karena fokus mata wanita itu sedang teralih pada deretan spanduk warung makan pinggir jalan yang berjarak beberapa meter di depan mereka. Nayla sedang tersenyum tipis, menatap penjual kuliner lokal dengan mata berbinar.
Tristan menghentikan langkahnya. Logikanya bertarung hebat dengan amarah.
Jika dia memergoki Olivia sekarang, keributan besar akan pecah di muka umum. Lebih dari itu, rahasia hubungannya dengan Nayla yang baru saja mekar pagi ini akan terseret ke dalam lumpur pertikaian yang kotor. Tristan tidak mau merusak momen langka ini. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun merasa dingin dan kesepian, ada wanita yang benar-benar memeluk dan menginginkannya secara utuh. Ia tidak sudi menyerahkan kebahagiaan singkatnya bersama Nayla demi melayani drama istrinya yang menyebalkan.
Dengan gerakan secepat kilat namun sangat halus, Tristan merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel, dan memotret keberadaan Olivia di depan hotel mewah itu sebagai bukti tak terbantahkan. Gambar tersimpan sempurna.
Tristan memasukkan kembali ponselnya, lalu memutar tubuhnya menghadap Nayla. Pria itu menyusupkan jemarinya ke sela-sela jemari Nayla, menggenggamnya erat.
"Nayla," panggil Tristan, mencoba menetralkan nada suaranya agar tak terdengar bergetar akibat amarah yang ditahannya.
Nayla menoleh, menatap Tristan dengan dahi sedikit berkerut. "Ya, Bos? Kenapa berhenti? Itu warung kulinernya tinggal beberapa langkah lagi."
Tristan menyunggingkan senyum paksa, mengusap punggung tangan Nayla dengan ibu jarinya. "Sepertinya perutku mendadak agak sensitif siang ini. Bagaimana kalau kita kembali dan makan di restoran hotel kita saja? Aku ingin makan dengan tenang di ruangan ber-AC... berdua bersamamu."
Nayla mengerjapkan mata, sedikit bingung dengan perubahan sikap Tristan yang begitu mendadak, dari yang tadinya menyetujui makan di trotoar menjadi ingin kembali ke hotel. Namun, melihat guratan lelah dan ketegangan samar di wajah atasannya, Nayla tidak berpikir panjang. Ia menyimpulkan mungkin Tristan memang belum terbiasa dengan makanan jalanan.
"Baiklah kalau begitu, Bos," sahut Nayla lembut seraya tersenyum manis. "Kita makan di restoran hotel saja. Yang penting Bos tidak kelaparan."
Tristan bernapas lega. Ia menarik jemari Nayla, membimbing wanita itu berbalik arah menjauhi area jalan utama tanpa membiarkan Nayla sempat menengok ke seberang. Urusan Olivia dan segudang kebohongannya akan ia selesaikan nanti di Jakarta, saat mereka kembali ke rumah resmi mereka. Saat ini, Tristan hanya ingin menikmati tiap detik waktu tanpa gangguan bayangan wanita yang selama ini hanya menguras energi dan emosinya.
Di seberang jalan, Olivia tidak menyadari bahwa keberadaannya baru saja diabadikan oleh kamera ponsel suaminya sendiri. Ia memeriksa pantulan dirinya di kaca pintu hotel, merapikan tatanan rambutnya yang sempurna. Ponsel di dalam tas mewahnya bergetar mendentingkan notifikasi transferan bank yang masuk sejak kemarin, ratusan juta rupiah uang "jajan" yang berhasil dia peras dari Tristan sebelum berangkat.
Senyum puas mengembang di bibir bergincu merah milik Olivia.
Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan hitam yang disewa Zay berhenti tepat di lobi. Zay menurunkannya sebentar untuk urusan pribadi sebelum pria itu melanjutkan koordinasi sabotase kulit kaktus dan material impor di pinggiran kota.
"Aku turunkan kamu di mall pusat kota ini, ya," ujar Zay dari balik kemudi sambil menyunggingkan senyum penuh arti. "Beli apa saja yang kamu mau. Uang Tristan harus habis sebelum kita melangkah ke tahap selanjutnya."
"Tentu saja, Sayang," jawab Olivia manja. Ia mendaratkan ciuman singkat di udara ke arah Zay sebelum melangkah keluar dari mobil dengan keangkuhan yang membumbung tinggi.
Tujuan Olivia siang itu sangat jelas, mendatangi boutique flagship dari brand ternama di mal megah pusat kota. Ia ingin berburu tas edisi terbatas terbaru menggunakan uang suaminya, tanpa pernah menduga bahwa di sudut kota yang sama, pondasi kebohongannya dan rahasia besar bersama Zay sudah mulai retak perlahan-lahan.
makasih Thor cerita nya bagus dan menghibur
klo diselingkuhin?????masih enak????
jgn senang dulu,zay mungkin saat ini masih sama kmu krn masih bituh,klo dia sdh mandiri apa ga dibuang kmu oliv????