NovelToon NovelToon
Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Bound By Starlit (Terikat Anggota Starlit)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Teen
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!

Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!

IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan di Tengah Bisingnya Kota

Malam itu, di kamar utama mansion keluarga Wijaya yang lengang, Varro duduk bersandar di sofa kulit hitamnya. Perhatiannya terpusat pada asisten pribadinya yang baru saja melangkah masuk membawa sebuah buku agenda tebal.

"Ini data dan informasi yang Tuan Muda minta," kata sang asisten dengan nada sopan sembari mengulurkan buku tersebut.

Varro menerimanya dan membaca deretan laporan di dalamnya. Dahinya perlahan berkerut. "Kamu yakin dia suka pergi ke tempat seperti ini?" tanyanya sangsi. Sebagai pria yang terbiasa hidup eksklusif, tempat yang tertera di buku itu terdengar sangat asing.

"Tuan Muda, saya yakin seribu persen Nona Gisella akan menyukainya," jawab sang asisten mantap.

Seulas senyum tipis terukir di bibir Varro. "Oke, lakukan saja."

Keesokan sorenya di area kampus, udara terasa cukup terik. Aku baru saja melangkahkan kaki keluar dari ruang kelas saat sebuah tangan kekar mendadak mencengkeram pergelangan tanganku.

"Gisel, ikut gue sekarang."

Aku tersentak kaget. Varro sudah berdiri di sana dan tanpa aba-aba langsung menarikku menyusuri lorong kampus.

"Apa-apaan sih lo main tarik-tarik tangan orang aja?!" gerutuku sambil berusaha sekuat tenaga melepaskan tanganku dari cengkeramannya yang mengikat erat.

Varro akhirnya menghentikan langkah dan melonggarkan pegangannya. "Udah, lo ikut aja. Jangan banyak protes."

Aku menatapnya tajam. "Ke mana?!"

"Nanti lo bakal tahu." Tanpa basa-basi, Varro membuka kunci BMW M8 Coupe miliknya dan menyuruhku masuk ke dalam. Begitu aku terpaksa duduk di kursi penumpang, ia langsung menancap gas dan membelah jalanan ibu kota menuju destinasi yang sama sekali tidak kuketahui.

Empat puluh menit berlalu. Mobil mewah itu berhenti di sebuah area parkir yang sangat padat. Aku menatap keluar jendela dengan mata membelalak. Pekan Raya Jakarta (PRJ). Suara dentuman musik, gemerlap lampu, dan lautan manusia langsung menyambut indraku.

"Gue bosen, jadi gue mau belanja ke sini. Lo suka tempat ini, kan?" tanya Varro santai sambil menoleh ke arahku.

Aku melipat tangan di dada, sengaja memasang wajah sedatar mungkin. "Enggak. Gue gak suka."

Varro menyeringai, memajukan wajahnya sedikit, lalu menjulurkan lidahnya untuk mengejek. "Masa sih? Padahal tempat ini cocok banget buat rakyat jelata kayak lo."

Darahku mendidih seketika. Aku mengepalkan kedua tanganku kuat-kuat. "Lo bilang apa barusan?! Kurang ajar banget lo berani ngeledek gue!" Aku sudah bersiap seratus persen melayangkan pukulan ke wajah sok tampannya itu.

Menyadari bahaya, Varro dengan cepat menangkap kedua tanganku di udara seraya tertawa. "Santai dong, Gisel cantik. Gue ngajak lo ke sini buat jalan-jalan dan belanja, bukan buat berantem."

"Lo duluan yang mulai ya!" sahutku kesal. Karena tanganku terkunci, aku menggunakan kaki kananku untuk menendang tulang keringnya.

Buk!

Varro tidak melawan. Ia hanya meringis pelan, lalu melepaskan genggamannya dan membimbingku turun dari mobil. Kami mulai berjalan membelah keramaian pameran.

"Orang kaya kayak lo... ternyata masih sudi belanja ke sini juga?" kataku menatap profil wajahnya dengan rasa tidak percaya.

Varro melangkah sambil mengamati stan-stan di sekitarnya. "Bisalah. Kenapa enggak?"

"Ya... tempat ini kan agak kotor, bau asap, terus ramai dan sesak banget," jawabku jujur.

"Emang," sahut Varro pendek. Aku menyadari pria ini sebenarnya tidak fokus. Matanya bergerak canggung, seolah berusaha keras beradaptasi dengan keramaian yang terus menyenggol lengannya.

Aku melangkah cepat dan memotong jalannya. "Terus kenapa lo masih ngotot mau ajak gue ke sini?!" tanyaku menantang.

Varro tampak terkejut. "Suka-suka gue dong! Bawel banget sih lo, mau lihat-lihat stan gak nih?!" balasnya dengan nada yang sengaja ditinggikan untuk menutupi rasa canggungnya.

"Ya iyalah! Masa gue masuk ke sini cuma buat berdiri kaku di depan pintu gerbang!" balasku dengan nada tak kalah nyaring.

"Ya siapa tahu," ucap Varro yang langsung memutar tubuh dan berjalan meninggalkanku.

"Lo ngeselin banget ya jadi orang!" rutukku kesal. Namun, mau tidak mau, kaki ini tetap mengekorinya.

"Gue bukan orang, gue manusia," sahut Varro datar.

"Suka-suka lo deh! Males gue ngomong sama lo." Aku membelokkan arah, berniat meninggalkannya sendirian.

"Eh, lo mau ke mana?!" panggil Varro panik. Aku mengabaikannya dan terus berjalan.

Tiba-tiba, sebuah tangan besar meraih lenganku. "Gisel sayang, tungguin aku dong."

Aku memutar bola mata sinis. "Dih, lo siapa berani manggil gue Gisel Sayang?!"

Tanpa kuduga, Varro melangkah maju dan melingkarkan kedua lengannya, memelukku erat dari belakang di tengah lautan manusia. "Gue kan calon suami lo," bisiknya santai.

Wajahku memanas hebat. "Pacaran aja belum, bisa-bisanya lo ngarep jadi calon suami! Lepasin gue sekarang atau gue teriak penculik nih!" ancamku galak.

Bukannya takut, Varro malah tertawa lepas. "Gue paling suka lihat lo yang lagi galak begini."

"Dasar orang aneh," gerutuku sambil melepaskan diri dan bergegas masuk ke sebuah stan kosmetik besar di dekat kami. Varro mengikutiku, menyodorkan sebuah lipstik mahal.

Aku melihat harganya dan menggeleng. "Enggak."

"Terus lo mau beli apa di sini?" tanya Varro penasaran.

"Ada deh," sahutku tersenyum tipis. Setelah melihat-lihat tanpa membeli apa pun karena uang sakuku terbatas, aku keluar dan menunggunya di depan toko.

Dua puluh menit berlalu sebelum Varro akhirnya keluar. "Lo ngapain aja sih di dalam lama banget?!" tanyaku kelelahan berdiri.

Varro tak menjawab omelanku. Ia malah menyodorkan sebuah kantung belanjaan sedang kepadaku. "Nih, ambil."

"Maksud lo apa?" balasku menatap sepasang mata hitam pekatnya.

"Itu semua buat lo, Gisel," jawab Varro lembut. "Thank you udah tungguin gue selama dua puluh menit. Tadi antrean di kasir lumayan panjang, jadi gue harus sabar nunggu antreannya sampai selesai."

Aku tertegun. Pria arogan ini rupanya menggunakan timer di ponselnya hanya untuk menghitung berapa lama ia membuatku menunggu, lalu membelikan semua barang yang tadi kulihat.

"Lo pasti capek, kan? Kita makan dulu aja, gimana?" tawar Varro seraya mengulurkan tangannya.

Aku mengangguk pelan. "Boleh." Varro mengambil alih kantung belanjaan itu dan menggenggam tanganku, menuntunku menuju restoran ayam cepat saji favoritku. Varro menyuruhku mencari meja kosong sementara ia mengantre.

Tak lama kemudian, ia kembali membawa dua kotak nasi ayam dan dua botol teh manis. "Nih, ayam lo."

Begitu kubuka, mataku berbinar melihat ayamku yang dilumuri saus cabai merah. "Wah! Kok lo bisa tahu gue suka banget sama ayam yang pedes?"

Varro menyeringai. "Soalnya sama kayak mulut lo yang pedas."

"Sialan lo!" umpatku refleks memukul lengannya. Aku menatap kotaknya. "Lo gak pesen ayam yang pedes?"

"Gue gak terlalu bisa makan makanan pedes," balasnya. Kami pun melahap porsi masing-masing.

Setelah makanan habis, keheningan yang canggung menyelimuti meja kami. Aku berinisiatif memecah kebisuan. "Setelah seharian pergi bareng sama lo... gue sadar ternyata lo gak sejahat itu."

Varro tersenyum tipis. "Lo baru sadar sekarang?"

"Tapi tetep aja lo tuh masih jahat! Geng motor lo bisa ngebahayain orang lain, terus kelakuan lo yang gonta-ganti cewek itu bener-bener bikin gue benci banget sama lo dari awal," jelasku dengan nada tajam.

Raut wajah Varro berubah muram. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghela napas berat. "Ya... gue emang terlahir buat jadi orang yang jahat."

Keheningan menyesakkan kembali turun. Menyadari ucapanku telah melukainya, rasa bersalah menyergapku. Aku mencondongkan tubuh sedikit. "Gak ada orang yang jahat dari lahir, Varro," kataku pelan.

"Kata siapa?" sahutnya tanpa mengangkat kepala.

"Kata gue." Aku bangkit berdiri dan berpindah duduk di kursi kosong yang tepat berada di sebelahnya.

Perlahan, Varro mengangkat kepalanya. Tatapannya terlihat sangat kosong dan rapuh. "Gisel... lo pernah ngerasain gak rasanya hidup kesepian dan hampa... walaupun selalu ada orang di sekitar lo?"

Dahiku berkerut halus, dadaku berdesir perih. "Maksud lo apa?"

"Dari lahir, gue jarang banget ketemu orang tua gue. Mereka selalu sibuk dan gak pernah punya waktu buat gue. Gue kesepian... walaupun ada pembantu, satpam, sopir, asisten, dan koki di rumah yang selalu siap ngurusin fisik gue," jelas Varro pedih.

Aku tertegun kaku. Di balik topeng arogansinya, sosok ini memendam luka pengabaian yang sangat dalam. "Varro... sorry banget. Gue gak seharusnya asal ngomong dan bikin lo inget sama masa lalu lo itu."

Hanya kalimat maaf itu yang sanggup kuucapkan.

Varro memutar tubuhnya menghadapku. "Gisel," panggilnya. Nada suaranya terdengar begitu lembut, lembut sekali.

"Iya, Varro? Kenapa?" sahutku membalas tatapannya.

Varro menarik napas panjang. Sorot matanya yang rapuh kini berubah menjadi penuh ketegasan dan keyakinan mutlak. Pria itu menyunggingkan senyum hangat yang teramat tulus.

"Hari ini... gue cuma mau kasih tahu lo kalau gue suka sama lo, Gisel. Dan mulai sekarang... gue bakal bener-bener ngejar lo."

Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!