Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Profesor Linus Kembali
Akhir pekan pada minggu kedua Liana bekerja di Loh Group, sebuah pesan masuk ke ponsel lamanya saat ia sedang menjemur kemeja kerja pinjaman dari Jessy.
Nomor itu tidak tersimpan, tetapi nama di akhir pesan membuat tangannya berhenti.
Om Linus.
Selama beberapa detik, Liana hanya menatap layar. Nama itu seperti datang dari lorong masa kecil yang sudah lama ia tutup. Ia ingat bau buku tua di ruang kerja ayahnya, suara ibunya berdiskusi sampai malam, dan seorang pria tinggi berkacamata yang sering datang membawa jurnal tebal sambil menepuk kepalanya.
Liana kecil dulu memanggilnya Om Linus.
Sekarang, Profesor Linus Yang menulis dengan singkat: Aku sudah kembali ke Jakarta. Kalau kamu ada waktu, temui Om siang ini di Menteng.
Jessy yang melihat wajah Liana berubah langsung mendekat. "Siapa, Lia?"
"Teman Papa dan Mama dulu."
"Yang profesor itu?"
Liana mengangguk pelan. "Aku sudah lama tidak ketemu."
Jessy mengambil kemeja dari tangan Liana dan menggantungnya sendiri. "Pergi. Orang tua yang sayang sama kamu itu langka. Kalau dia panggil, berarti ada sesuatu."
Restoran di Menteng itu tidak terlalu ramai. Bukan tempat yang mencolok, tetapi setiap meja punya jarak cukup jauh, pelayan bicara pelan, dan kaca besar menghadap pohon-pohon tua di pinggir jalan. Liana datang dengan blouse sederhana dan tas lama. Di depan pintu, ia sempat menarik napas panjang seperti hendak masuk ujian.
Profesor Linus Yang sudah duduk di meja dekat jendela.
Usianya jauh bertambah, rambutnya memutih hampir seluruhnya, tetapi posturnya masih tegak. Kacamata tipis menggantung di hidungnya. Saat melihat Liana, ekspresi keras di wajahnya tiba-tiba retak.
"Liana."
Suara itu membuat dada Liana panas.
"Om Linus."
Ia ingin tersenyum, tetapi bibirnya justru bergetar. Profesor Linus berdiri, memegang kedua bahunya, lalu menatapnya lama. Tatapan seorang tua yang sedang menghitung luka di wajah anak temannya.
"Kamu kurus," katanya.
Hanya dua kata. Liana hampir menangis.
Mereka duduk. Pelayan menuang teh hangat. Profesor Linus tidak langsung menyentuh cangkirnya.
"Om dengar semuanya."
Jari Liana yang memegang sendok kecil menegang. "Dari siapa?"
"Dari beberapa orang. Jakarta ini luas, tapi kabar buruk selalu tahu jalan pulang." Rahangnya mengeras. "Sebelas tahun, Liana?"
Liana menunduk. "Aku juga baru tahu."
"Dan laki-laki itu masih berani menyalahkan kamu?"
Tidak ada sapaan lembut lagi. Di mata Profesor Linus, Albert bukan mantan suami Liana. Ia adalah kesalahan yang dulu pernah ia peringatkan.
"Om pernah bilang," ucapnya pelan, setiap kata seperti diketuk di meja, "pria bermarga Phua itu tidak baik untukmu. Kamu tidak mau dengar."
Liana menerima teguran itu tanpa membela diri. Dulu ia terlalu muda. Terlalu percaya pada cinta yang terasa seperti penyelamatan. Albert datang saat ia lelah menjadi anak yatim yang semua orang pandangi dengan kasihan. Albert membuatnya merasa dipilih.
Tiga puluh tahun kemudian, pilihan itu meninggalkan bekas di seluruh tubuhnya.
"Aku salah, Om."
Profesor Linus menghela napas panjang. Kemarahannya tidak hilang, hanya berubah arah menjadi kesedihan.
"Kamu tidak hanya salah memilih suami. Kamu mengubur hidupmu sendiri."
Kalimat itu tidak keras, tetapi tepat mengenai tempat yang paling sakit.
"Ayahmu pernah bilang, kalau kamu terus belajar, kamu bisa masuk laboratorium mana pun di dunia. Ibumu bahkan sudah menyiapkan daftar kampus untukmu." Profesor Linus menatapnya tajam. "Kamu lulus seleksi universitas terbaik. Kamu punya otak yang jarang Om lihat, bahkan di antara mahasiswa doktoral Om."
Liana tertawa kecil tanpa suara. "Itu sudah lama sekali."
"Bakat tidak basi hanya karena orang lain menyuruhmu diam."
Kata-kata itu membuat Liana mengangkat wajah.
Profesor Linus mengambil amplop cokelat tipis dari tasnya. Di dalamnya ada fotokopi sertifikat lama, potongan berita seminar ayahnya, dan foto ibunya berdiri di depan papan tulis penuh rumus. Liana menyentuh foto itu dengan ujung jari. Wajah ibunya muda, tenang, dan bercahaya.
"Om menyimpan ini?"
"Tentu. Mereka bukan hanya kolega Om. Mereka sahabat Om." Suara Profesor Linus menurun. "Mereka menitipkan kamu pada dunia yang ternyata tidak cukup baik menjagamu."
Liana menarik napas, tetapi udara seperti terlalu sempit.
"Om, aku sudah mulai kerja. Pelan-pelan aku akan bangun hidupku lagi."
"Di Loh Group."
Liana terkejut sedikit. Ia belum sempat bertanya dari mana Profesor Linus tahu, tetapi pria tua itu melanjutkan lebih dulu.
"Bagus. Kerja yang benar. Jangan biarkan siapa pun membuatmu merasa hanya pantas berdiri di dapur."
"Aku masih belajar."
"Belajar itu pekerjaanmu sejak kecil."
Ada kehangatan dalam kalimat itu. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari rumah Phua, Liana merasa masa lalunya bukan hanya tumpukan kesalahan. Ada bagian dari dirinya yang pernah bersinar, dan seseorang masih mengingatnya.
Namun percakapan berubah ketika Profesor Linus menyebut nama Albert.
"Om akan bicara dengan beberapa orang di UI."
Liana langsung menegakkan punggung. "Om Linus, jangan."
"Kenapa?"
"Aku tidak mau masalah pribadiku jadi senjata untuk menghancurkan karier orang."
Mata Profesor Linus menyipit. "Albert menghancurkan hidupmu selama tiga puluh tahun. Dia menggunakan nama baik, jabatan, dan keluarganya untuk menekanmu. Sekarang kamu masih mengkhawatirkan kariernya?"
"Aku hanya tidak mau terlihat seperti membalas dendam."
"Keadilan sering terlihat seperti balas dendam di mata orang yang terlalu lama bebas."
Liana terdiam.
Profesor Linus meletakkan cangkir tehnya. "Dia sedang mengincar posisi Wakil Rektor. Orang dengan moral seperti itu akan memegang kebijakan kampus, menilai mahasiswa, berbicara soal integritas akademik. Om tidak akan diam."
"Tapi jangan terlalu jauh, Om."
"Om tahu batas." Lalu suaranya menjadi lebih dingin. "Tapi batas itu tidak ditentukan oleh Albert Phua."
Nama lengkap itu keluar seperti vonis.
Liana tahu ia tidak bisa menghentikan Profesor Linus sepenuhnya. Om Linus bukan orang yang bergerak dengan amarah kosong. Sekali ia turun tangan, pintu-pintu yang selama ini tertutup bagi Liana bisa terbuka, dan pintu yang dibanggakan Albert bisa menutup dari dalam.
Makan siang mereka berjalan pelan setelah itu. Profesor Linus bertanya tentang pekerjaan Liana, tempat tinggalnya, kesehatan, dan apakah Albert masih mengganggu. Liana menjawab secukupnya. Ia tidak menceritakan semua, tetapi cukup banyak untuk membuat alis Profesor Linus makin berat.
Sebelum berpisah, Profesor Linus mengantar Liana sampai lobi restoran.
"Om punya murid yang dulu sangat keras kepala," katanya tiba-tiba.
Liana menoleh. "Murid Om?"
"Sekarang dia salah satu pengusaha paling sukses di Indonesia. Orangnya dingin, tapi tidak bodoh dalam menilai manusia."
"Kenapa Om cerita itu padaku?"
Profesor Linus hanya tersenyum tipis. "Karena kadang hidup mengembalikan sesuatu lewat jalan yang tidak kita rencanakan."
Liana tidak mengerti, tetapi ada rasa aneh yang singgah sebentar di dadanya.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Jessy masuk: Sudah selesai? Jangan lupa kabarin. Aku siap jemput kalau kamu nangis di restoran.
Liana hampir tertawa. Profesor Linus melihat layar sekilas, lalu wajahnya melembut.
"Temanmu baik."
"Jessy selalu begitu."
Profesor Linus mengangguk. "Pertahankan orang seperti itu."
Saat Liana hendak pamit, Profesor Linus tiba-tiba berkata, "Liana, kamu sekarang bekerja di Loh Group, kan?"
Langkah Liana berhenti.
"Om tahu dari mana?"
Profesor Linus tersenyum, kali ini dengan rahasia yang tidak ia buka.
"Dunia lebih kecil dari yang kamu kira. Kerja yang baik di sana."
Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
/Pray/