NovelToon NovelToon
Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

​Tap. Tap. Tap.

​Langkah kaki Bima terdengar pelan menyusuri jalan setapak di area proyek yang berdebu.

​Dia terus mengikuti pria berjas rapi di depannya tanpa banyak bertanya.

​Pikirannya masih sibuk menebak-nebak apa tujuan sebenarnya dari panggilan mendadak ini.

​"Kenapa orang kaya seperti dia repot-repot memanggil kuli bangunan sepertiku?"

​Bima membatin pelan sambil melihat tangannya yang masih kotor oleh sisa semen basah.

​Bangunan kantor pengawas proyek itu terlihat kecil dan terbuat dari triplek tebal.

​Cklek.

​Pria berjas itu membuka pintu perlahan lalu mempersilakan Bima untuk masuk ke dalam.

​Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyapu kulit Bima yang berkeringat.

​Di dalam ruangan tersebut duduk seorang pria paruh baya dengan wibawa yang sangat besar.

​Rambutnya sudah mulai memutih namun tatapan matanya yang sangat tajam.

​"Silakan duduk, anak muda."

​Pria paruh baya itu berbicara dengan nada suara bariton yang dalam dan tegas.

​"Tidak usah repot-repot, Pak."

​"Saya lebih baik berdiri saja karena pakaian saya kotor penuh debu dan keringat."

​Bima menolak dengan sangat sopan sambil merapikan ujung bajunya yang sedikit robek.

​Pria yang diketahui bernama Pak Herman itu tersenyum tipis melihat kesopanan Bima.

​"Nama saya Herman, pemilik utama dari seluruh mega proyek konstruksi di kawasan ini."

​"Saya memperhatikan caramu bekerja dari kejauhan sejak siang tadi."

​Bima hanya terdiam mendengarkan penuturan orang nomor satu di proyek tersebut.

​Dia tidak menunjukkan rasa gugup sedikit pun meski berhadapan dengan seorang miliarder.

​"Kamu mengangkat beban yang sangat berat dengan cara yang sama sekali tidak masuk akal."

​"Nafasmu bahkan tidak terengah-engah seperti pekerja lainnya yang berbadan lebih besar darimu."

​"Itu hanya karena saya sudah terbiasa bekerja keras sejak kecil di desa, Pak Herman."

​Bima menjawab dengan tenang mencoba menutupi kemampuan tenaga dalamnya.

​Pak Herman bangkit dari kursi kayunya lalu berjalan pelan mendekati Bima.

​Srek.

​Sepatu kulit mahalnya bergesekan dengan lantai triplek yang sedikit berpasir.

​"Asisten saya ini memiliki mata yang sangat jeli untuk mengamati sesuatu yang janggal."

​"Dia melihatmu memijat pergelangan tanganmu sendiri saat kau tidak sengaja tersandung besi."

​Bima sedikit terkejut dalam hati menyadari bahwa kecerobohannya tadi ternyata diamati.

​"Hanya pijatan biasa untuk meluruskan otot yang tegang, Pak."

​"Jangan mencoba membohongi orang tua ini, anak muda."

​Pak Herman menatap lurus ke dalam mata Bima dengan intensitas yang sangat kuat.

​"Pijatanmu itu mengeluarkan uap tipis yang langsung menyembuhkan memar di tanganmu dalam hitungan detik."

​"Saya tahu kamu bukan sekadar kuli bangunan biasa yang datang dari desa."

​Bima menghela nafas pendek menyadari bahwa dia tidak bisa terus mengelak.

​"Lalu apa hubungannya pengamatan Bapak itu dengan memanggil saya ke ruangan ini?"

​"Saya butuh keahlianmu itu untuk sebuah urusan yang sangat mendesak menyangkut nyawa."

​Pak Herman tiba-tiba merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan sebuah buku cek.

​Sret.

​Dia merobek selembar cek kosong dan menyodorkannya tepat di depan dada Bima.

​"Anak perempuan saya satu-satunya sedang terbaring sekarat di rumah."

​"Banyak dokter spesialis dari dalam dan luar negeri sudah angkat tangan mengobatinya."

​Suara Pak Herman terdengar sedikit bergetar menahan keputusasaan yang mendalam.

​"Saya ingin kamu ikut ke rumah saya dan memeriksa kondisinya menggunakan ilmu pengobatanmu itu."

​"Jika kamu berhasil menyelamatkan nyawanya, kamu bisa menulis angka berapa pun di cek kosong ini."

​Bima menatap lembaran kertas berharga itu dengan pandangan yang sangat datar.

​Tidak ada sedikit pun kilatan keserakahan yang terpancar dari mata pemuda udik tersebut.

​"Bapak mungkin bisa membeli apa saja di dunia ini dengan selembar kertas itu."

​"Tapi ilmu pengobatan warisan guru saya tidak bisa dibeli dengan lembaran uang sebanyak apa pun."

​Asisten Pak Herman yang berdiri di sudut ruangan langsung melotot marah mendengar jawaban itu.

​"Jaga bicaramu anak kampung, kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa."

​Bima menoleh perlahan ke arah asisten tersebut dengan tatapan yang sangat dingin.

​"Saya tahu dia seorang ayah yang sedang putus asa, bukan sekadar miliarder yang sombong."

​Kata-kata Bima sukses membuat ruangan itu menjadi hening seketika.

​Pak Herman mengangkat tangannya memberi isyarat agar asistennya itu diam.

​"Maafkan kelancangan asisten saya, dia hanya terlalu khawatir dengan keadaan keluarga saya."

​"Lalu apa yang kamu inginkan sebagai imbalan jika uang tidak bisa menggerakkan hatimu?"

​"Saya tidak meminta imbalan apa-apa di awal karena saya belum tentu bisa menyembuhkan putri Bapak."

​Bima memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kusamnya.

​"Saya harus melihat langsung kondisi pasien, denyut nadinya, dan gejala yang dialaminya."

​"Jika memang penyakitnya bisa saya tangani, saya akan melakukannya karena ini sudah menjadi tugas seorang tabib."

​Wajah Pak Herman langsung berubah menjadi sangat cerah dipenuhi harapan baru.

​"Terima kasih banyak, anak muda."

​"Mari kita berangkat ke kediaman saya sekarang juga tanpa menunda waktu lagi."

​Bima mengangguk pelan mengiyakan ajakan miliarder paruh baya tersebut.

​"Beri saya waktu lima menit untuk mencuci muka dan mengambil barang bawaan saya di loker ruang ganti."

​Beberapa saat kemudian, Bima sudah kembali dengan wajah yang lebih bersih dan membawa buntalan kain lusuhnya.

​Mereka bertiga berjalan menuju mobil sedan hitam mewah yang terparkir di luar area proyek.

​Blam.

​Pintu mobil ditutup rapat dan kendaraan mahal itu langsung melaju meninggalkan lokasi konstruksi.

​Nguuuung.

​Suara mesin mobil menderu halus membelah padatnya jalan raya ibukota menjelang sore hari.

​Bima duduk di kursi belakang berdampingan dengan Pak Herman dalam diam.

​Dia mengamati interior mobil yang terbuat dari kulit asli dengan aroma wangi yang menenangkan.

​"Ini pertama kalinya aku menaiki kendaraan sebagus ini sejak aku lahir."

​Bima membatin sambil terus menatap pemandangan kota dari balik kaca jendela yang gelap.

​Perjalanan itu memakan waktu hampir satu jam karena terjebak kemacetan jam pulang kerja.

​Pak Herman terlihat terus gelisah sambil berulang kali melihat layar ponsel genggamnya.

​"Apakah kondisi putri Bapak tiba-tiba memburuk?" tanya Bima memecah keheningan.

​"Dokter pribadi yang berjaga di rumah baru saja mengabarkan bahwa suhu tubuh Clara terus menurun."

​"Dia sudah tidak sadarkan diri sejak dua hari yang lalu dan nafasnya semakin melemah."

​Bima mengerutkan keningnya mulai menganalisis informasi awal yang diberikan oleh Pak Herman.

​"Suhu tubuh menurun drastis hingga hilang kesadaran, ini bukan penyakit medis biasa."

​"Sepertinya ada aliran energi negatif yang menyumbat jalur meridian utama di tubuhnya."

​Bima kembali berbicara di dalam hatinya sambil terus meraba kotak jarum perak di dalam buntalannya.

​Ciiit.

​Mobil sedan itu akhirnya berbelok memasuki sebuah kawasan perumahan elit dengan gerbang penjagaan yang sangat ketat.

​Mereka berhenti tepat di depan sebuah rumah yang lebih pantas disebut sebagai istana modern.

​Halaman depannya sangat luas dengan air mancur besar di bagian tengahnya.

​Bima turun dari mobil dan menatap takjub bangunan megah bergaya Eropa klasik di depannya.

​"Ayo cepat masuk, kita tidak punya banyak waktu lagi."

​Pak Herman berjalan setengah berlari memimpin langkah menuju pintu utama rumahnya.

​Seorang kepala pelayan paruh baya langsung membukakan pintu dengan wajah panik.

​"Tuan besar, Nona Clara kejang-kejang dan Profesor Wijaya sedang berusaha menenangkannya di dalam."

​Tanpa menjawab, Pak Herman langsung bergegas menaiki tangga melingkar menuju lantai dua.

​Bima mengikuti dari belakang dengan langkah yang tenang namun sangat cepat dan ringan.

​Setibanya di depan sebuah kamar tidur ganda yang sangat besar, pintu langsung dibuka paksa.

​Brak!

​Di dalam kamar itu terdapat ranjang berukuran besar dengan banyak peralatan medis menempel padanya.

​Seorang gadis cantik berwajah sangat pucat terbaring tak berdaya dengan tubuh yang terus bergetar hebat.

​Beberapa orang berpakaian jas putih terlihat panik menyuntikkan berbagai macam cairan ke dalam infus.

​"Berhenti menyuntikkan obat penenang itu, kalian hanya akan mempercepat kematiannya."

​Suara Bima tiba-tiba menggema keras memenuhi seisi kamar mewah tersebut.

​Semua orang di ruangan itu langsung menoleh menatap kuli bangunan kotor yang berani membentak mereka.

​Seorang pria tua berkacamata dengan name tag Profesor Wijaya menatap Bima dengan penuh amarah.

​"Siapa gembel kotor ini, Pak Herman?"

​"Berani-beraninya dia masuk ke ruang sterilisasi dan mengganggu pekerjaan medis kami."

​Pak Herman melangkah maju dan berdiri menengahi Bima dan para dokter tersebut.

​"Dia adalah tabib yang saya bawa untuk mengobati Clara sekarang juga."

​Mendengar hal itu, Profesor Wijaya tertawa meremehkan dengan suara yang sangat sumbang.

​"Bapak pasti sudah gila karena terlalu stres memikirkan penyakit Clara."

​"Bagaimana mungkin pemuda udik ini bisa menyembuhkan penyakit langka yang bahkan pengetahuan modern gagal memahaminya?"

​Bima sama sekali tidak memperdulikan hinaan dari profesor sombong tersebut.

​Fokus matanya kini sepenuhnya tertuju pada tubuh Clara yang memancarkan aura dingin berwarna kebiruan.

​"Racun Es Seribu Tahun."

​"Ternyata di zaman modern seperti ini masih ada yang menggunakan metode kotor seperti itu."

​Bima bergumam pelan memikirkan diagnosis awalnya yang membuat darahnya mendidih.

​Tiba-tiba alat monitor detak jantung di samping ranjang berbunyi sangat nyaring dan panjang.

​Tiiiiiit.

​Garis di layar monitor itu menunjukkan pergerakan yang mulai mendatar pertanda jantung Clara akan segera berhenti.

​"Minggir, biarkan aku yang mengambil alih sekarang sebelum gadis ini benar-benar mati."

​Bima melangkah maju menerobos para dokter dan langsung membuka buntalan kain lusuhnya dengan cepat.

1
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
aku pertama ni dapat apa 😁
kiyoe: selamat anda mendapatkan ucapan dari author kak hehe
total 1 replies
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
lanjut gak nih
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂: 😁👍👍aman
total 2 replies
Asmara Kacau
di tunggu bab selanjut nya thor
kiyoe: baik kak mohon di tunggu yaa buat bab selanjutnya yang lebih menarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!