NovelToon NovelToon
Sepatu Lusuh

Sepatu Lusuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:376
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LANGKAH PERTAMA SETELAH DEMAM

“Tidak.”

Ibu mengambil sepatu dari kaki Nira dan menaruhnya di atas lemari. Nira yang duduk di tikar langsung bangkit, lalu oleng dan kembali duduk.

“Aku sudah enggak panas,” katanya.

“Badanmu belum kuat.”

“Aku bisa jalan.”

“Tadi berdiri saja hampir jatuh.”

Nira menatapku, meminta bantuan. Aku pura-pura sibuk menyusun buku dalam tas. Aku ingin ia kembali sekolah. Aku juga masih ingat napasnya yang cepat ketika demam dan tubuhnya yang tidak bergerak saat kupanggil.

Ayah masuk membawa sebatang bambu sebesar ibu jari. Ia duduk di dekat pintu dan mulai mengikis ruasnya dengan pisau kecil.

“Itu buat apa?” tanya Nira.

Ayah tidak langsung menjawab. Serpihan bambu jatuh di antara kakinya. Setelah ujungnya halus, ia mengukur panjang bambu dari lantai sampai pinggang Nira.

“Tongkat,” katanya.

Ibu menoleh cepat. “Kang.”

“Kita coba sampai kebun kopi saja.”

“Bu Kemuning bilang jangan dibawa jalan jauh.”

“Bukan hari ini.” Ayah meniup serbuk bambu dari tangannya. “Besok kalau dia bangun tanpa demam. Pelan. Kalau tidak kuat, pulang.”

Nira tersenyum sebelum keputusan itu selesai. Ibu meremas kain lap di tangannya, lalu masuk ke dapur. Bunyi panci yang diletakkan terdengar lebih keras dari biasanya.

Malam itu Nira menyiapkan buku sendiri. Ia memasukkan terlalu banyak: buku membaca, berhitung, menulis, menggambar, dan sebuah buku kosong yang katanya mungkin dibutuhkan. Aku mengeluarkan dua buku.

“Kenapa?”

“Berat.”

“Aku bawa sendiri.”

“Aku yang bawa tasmu.”

“Kalau begitu semua boleh masuk.”

Aku mengeluarkan buku menggambar juga. Nira memelototiku, tetapi tidak berani bersuara keras karena Ibu masih belum setuju.

Kami bangun lebih awal daripada biasanya. Langit masih hitam ketika Ayah memeriksa dahi Nira. Ibu menyelipkan sebotol air rebus ke dalam tasku dan membungkus nasi jagung lebih banyak.

“Kalau pusing, pulang,” katanya.

Nira mengangguk.

“Kalau mual, pulang.”

“Iya.”

“Kalau kakinya gemetar—”

“Ibu,” potong Nira. “Nanti keburu siang.”

Ibu menatapnya lama. Lalu ia merapikan kerah seragam Nira yang terlalu longgar dan tidak melanjutkan kalimatnya.

Ayah mengantar kami sampai pematang belakang rumah. Ia menyerahkan tongkat bambu kepada Nira. Pada bagian pegangan, ia melilitkan kain bekas agar tidak licin.

“Jangan malu pakai ini,” katanya.

Nira menancapkan tongkat ke tanah. “Kayak Mbah Wreda.”

“Kalau Mbah dengar, kamu disuruh bayar sewa.”

Nira tertawa pendek. Ayah juga tersenyum, tetapi tangannya tetap memegang bahu Nira sampai kami melewati ujung pematang.

Aku berjalan lebih lambat dari biasanya. Setiap beberapa langkah, aku menoleh. Nira tidak lagi dua langkah di belakang. Kadang ia tertinggal sepuluh langkah, lalu memanggil agar aku berhenti. Aku membawa kedua tas. Tali tasnya menekan bahu kananku, sedangkan tasku sendiri menggantung di kiri.

Di dekat pohon kopi pertama, Nira duduk di batu.

“Baru segini,” kataku.

“Aku cuma mau minum.”

Ia membuka botol, tetapi tangannya gemetar. Aku memegang dasar botol agar air tidak tumpah. Setelah dua teguk, ia berdiri lagi tanpa kusuruh.

Untuk mengalihkan perhatiannya, aku bercerita tentang Gala yang salah menjawab pertanyaan Bu Satya. Bu Satya bertanya hasil perkalian tujuh dan delapan. Gala menjawab lima puluh empat karena katanya lidahnya terpeleset.

“Lidah enggak punya kaki,” kata Nira.

“Makanya dia jatuh.”

“Itu enggak lucu.”

“Tapi kamu senyum.”

Nira menutup mulut dan melanjutkan berjalan.

Di tikungan ketiga, kami berhenti lagi. Kabut masih menempel di kebun karet. Aku bisa mendengar tetes air jatuh dari daun ke daun. Nira membungkuk sambil menekan perut.

“Kita pulang,” kataku.

“Enggak.”

“Kamu sakit.”

“Cuma capek.”

“Capek itu sakit juga.”

“Beda.”

Aku menggeser dua tas ke tanah. “Kalau kamu jatuh, aku enggak bisa bawa tas sama kamu.”

Nira melihat kakiku. Jahitan sepatu kiriku belum sempat diperbaiki. Aku mengikat bagian depan dengan sisa tali rafia agar tidak terbuka.

“Aku jalan pelan,” katanya.

“Kita memang sudah pelan.”

“Lebih pelan lagi.”

Aku hampir berkata tidak. Lalu ia mengeluarkan kertas gambar Windu dari saku bajunya. Kertas itu sudah kusut karena dilipat berkali-kali.

“Aku mau kasih tahu dia bunganya salah,” katanya.

“Apa yang salah?”

“Kelopaknya harus enam.”

Aku mengangkat tas lagi. “Nanti bilang sendiri.”

Kami berjalan sampai jalur sungai. Air tidak terlalu tinggi, tetapi batu-batunya masih licin. Aku menyuruh Nira menunggu sementara aku memindahkan tas ke seberang. Setelah itu aku kembali dan berdiri di depannya.

“Pegang bajuku.”

“Aku bisa pakai tali.”

“Pegang.”

Nira memegang bagian belakang bajuku dengan satu tangan dan tali sungai dengan tangan lain. Tongkat bambunya kuselipkan di punggung. Kami menyeberang satu batu demi satu batu. Di tengah sungai, kakinya tergelincir. Aku menarik lengannya sebelum lututnya menyentuh air.

“Aku enggak apa-apa,” katanya cepat.

Aku tidak menjawab sampai kami berada di seberang.

Matahari mulai muncul ketika kami sampai di rumah kosong milik Pak Darma, kira-kira separuh perjalanan. Dinding rumah itu sudah miring, tetapi ada bangku bambu di teras. Nira berbaring di bangku tanpa melepas tas, seolah hanya ingin duduk sebentar.

Aku membuka bekal. “Makan.”

“Belum lapar.”

“Kata Ibu harus makan sebelum obat.”

“Aku enggak bawa obat.”

“Makanya makan saja.”

Ia mengambil sepotong nasi jagung dan menggigit sedikit. Setelah itu ia menaruhnya kembali.

Aku melihat wajahnya. Ada keringat di atas bibir meski udara masih dingin.

“Kita pulang.”

Nira menutup mata. “Kalau pulang, besok Ibu enggak izinkan lagi.”

“Memang enggak boleh kalau belum kuat.”

“Aku ketinggalan.”

“Aku bisa ajari.”

“Kakak beda kelas.”

“Aku bisa baca buku kelas dua.”

“Bukan itu.”

“Apa?”

Nira membuka mata. “Kalau aku lama enggak datang, kursiku bisa dikasih orang lain.”

Aku hampir tertawa, tetapi wajahnya tidak sedang bercanda.

“Tidak ada yang mengambil kursimu.”

“Waktu Tami pindah, kursinya dipakai taruh sapu.”

“Kamu enggak pindah.”

“Tapi aku enggak ada.”

Aku mengambil batu kecil dari tanah dan menaruhnya di saku. Kebiasaan itu biasanya kulakukan saat bingung. Batu itu menekan paha ketika aku berjongkok di depan Nira.

“Kursimu masih di sana,” kataku. “Windu juga masih bikin gambar jelek buatmu.”

Nira mengusap hidung. “Kelopaknya memang salah.”

Setelah beristirahat, ia memaksa berjalan lagi. Aku mengurangi cerita dan lebih sering bertanya apakah kepalanya pusing. Setiap kali kutanya, jawabannya selalu tidak.

Di tanjakan menuju jalan kabupaten, langkahnya semakin pendek. Tongkat bambu tidak lagi diangkat, hanya diseret. Ujungnya membuat garis panjang di tanah.

“Nira.”

“Aku dengar.”

“Duduk dulu.”

“Sekolahnya sudah dekat.”

Masih lebih dari dua kilometer, tetapi aku tidak membantah. Aku berdiri di sampingnya dan memegang siku kirinya. Kami melangkah bersama. Satu. Dua. Tiga. Pada langkah keempat, tubuhnya berhenti.

“Kak,” katanya.

“Apa?”

“Pohonnya dua.”

Aku melihat ke depan. Hanya ada satu pohon randu di sisi jalan.

“Nira, duduk.”

Ia menggeleng. “Aku enggak—”

Tongkat bambu terlepas dari tangannya. Matanya bergerak ke arahku, tetapi seperti tidak melihat. Tubuhnya miring.

Aku menjatuhkan kedua tas dan menangkapnya sebelum kepalanya mengenai batu.

1
Riska Noor
bagus ceritanya, realita di pelosok daerah tertentu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!