NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9.Perlindungan yang tak berwujud.

Perjalanan menuju pasar di perbatasan desa ternyata memang memakan waktu cukup lama. Mobil putih antik itu melaju perlahan membelah jalanan tanah berkelok yang dikelilingi hutan lebat yang masih sunyi senyap. Pepohonan tinggi menjulang rapat di kedua sisi jalan, ranting-rantingnya saling bertaut seolah membentuk atap alami yang meneduhkan sekaligus menyembunyikan langit biru. Angin sejuk berhembus pelan membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering, sesekali terdengar kicauan burung yang bersembunyi di sela-sela dahan, namun tak ada tanda-tanda kehadiran manusia lain di sepanjang jalan setapak itu. Bagi siapa saja yang melintas sendirian, suasana ini pasti akan terasa mencekam dan menakutkan. Namun Raisa sama sekali tidak merasa cemas atau takut; hatinya justru terasa tenang seolah ada kekuatan tak kasat mata yang selalu mengawasi setiap pergerakan mereka dari jauh, menjaga agar tak ada gangguan yang berani mendekat.

Tak lama kemudian, pemandangan mulai berubah perlahan. Pohon-pohon rapat perlahan berganti menjadi ladang-ladang hijau milik warga, lalu di kejauhan mulai terlihat deretan atap jerami dan seng yang berjejer rapi. Suara riuh rendah tawar-menawar, tawa renyah para pedagang, dan hiruk-pikuk warga desa yang berdatangan mulai terdengar jelas menandakan mereka telah tiba di pasar perbatasan. Sekar memarkirkan mobil dengan hati-hati di tempat yang cukup luas di pinggir pasar—tempat yang memang sudah disediakan khusus sejak lama untuk kendaraan milik Tuan Raden Margono.

Begitu mereka berdua turun dari mobil, seketika itu juga pandangan orang-orang yang sedang beraktivitas tertuju lekat-lekat ke arah mereka. Tak sedikit yang menatap takjub, berbisik-bisik satu sama lain sambil menunjuk mobil putih antik itu dengan penuh rasa hormat yang mendalam. Mobil itu memang sangat dikenal oleh seluruh warga Suka Makmur; mobil yang selama puluhan tahun selalu membawa kebaikan, bantuan, dan perlindungan bagi desa mereka.

“Itu... itu mobil kesayangan Tuan Raden Margono!” bisik seorang pedagang sayur tua kepada tetangganya sambil menyeka keringat di dahi. “Siapa yang datang bersamanya hari ini? Apakah kerabat jauh yang selama ini tak pernah kami temui?”

Raisa menyadari betul perhatian yang tertumpu padanya, namun ia mencoba bersikap tenang dan tetap ramah. Mereka pun berjalan menyusuri deretan lapak yang berjejer rapi, membeli beras pilihan, sayuran segar yang baru saja dipetik dari kebun, daging segar, bumbu dapur lengkap, hingga perlengkapan rumah tangga yang masih kurang di rumah besar itu. Raisa tidak lupa pula memilihkan pakaian baru yang bagus namun sederhana untuk Sekar dan Pak Budi, serta sepatu yang nyaman dan kuat untuk keduanya sebagai tanda terima kasih tulus karena sudah begitu baik, setia, dan menyambutnya dengan hangat.

Setiap kali mereka berhenti di sebuah lapak, para pedagang selalu menyapa Sekar dengan sangat akrab dan penuh kekeluargaan. “Sekar! Kamu datang bersama siapa hari ini? Apakah ini kerabat dekat Tuan Raden yang sering diceritakan?”

Sekar tersenyum ramah lalu menoleh ke arah Raisa, memberi isyarat halus agar gadis itu memperkenalkan dirinya sendiri. Raisa pun tersenyum sopan, menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat kepada para orang tua yang ada di hadapannya. “Halo semuanya. Perkenalkan, nama saya Raisa. Saya adalah cucu dari mendiang Tuan Raden Margono. Saya baru saja pindah ke rumah besar itu untuk menetap.”

Mendengar pengakuan itu, riuh rendah suara kekaguman seketika meledak di sekitar mereka. “Cucu Tuan Raden? Wah, sungguh cantik dan sangat sopan sekali! Wajahnya persis seperti mendiang istri Tuan Raden yang penuh kelembutan itu!” puji mereka bertubi-tubi dengan mata berbinar senang.

Saat Raisa membayar belanjaannya, hampir semua pedagang dengan senang hati menambahkan barang lebih banyak dari yang dibeli, bahkan ada yang menolak menerima uang sama sekali sambil menggeleng tegas. “Anggap saja ini tanda terima kasih kami yang tulus, Nona Raisa! Tuan Raden telah banyak membantu kami, desa ini, dan seluruh warga di sini selama puluhan tahun! Beliau yang selalu melindungi tanah kami dari orang-orang yang ingin menguasai secara paksa, beliau yang selalu menolong saat panen gagal, dan beliau pula yang menjaga kami dari gangguan hal-hal yang tak terlihat mata di malam hari!”

Namun Raisa dengan halus namun tegas selalu menolaknya. “Terima kasih banyak atas kebaikan hati dan rasa hormat kalian kepada kakek saya. Saya sangat menghargai itu sepenuh hati. Tapi saya di sini untuk membeli barang dengan harga yang pantas, bukan untuk meminta bantuan atau menerima pemberian cuma-cuma. Tolong ambil kembali barang kelebihannya dan terimalah uang ini sebagaimana mestinya. Saya tidak ingin mengambil hak rezeki kalian yang sudah bekerja keras sejak subuh untuk menafkahi keluarga.”

Para pedagang saling berpandangan tak percaya, terkesima dengan ketegasan sekaligus kelembutan hati gadis muda itu. “Nona Raisa benar-benar memiliki hati yang mulia persis seperti kakeknya,” gumam mereka kagum. “Memang benar apa yang sering dikatakan orang, tanpa bantuan Tuan Raden dan perlindungan yang ada di rumah besar itu, desa ini sudah lama tidak tenang. Sering kali ada gangguan orang jahat yang ingin menguasai tanah kami, hingga makhluk-makhluk gaib yang haus darah yang mengincar warga desa yang pulang larut malam. Tapi selama Tuan Raden ada di sana, kami semua merasa aman dan terlindungi sepenuhnya.”

Raisa sedikit mengernyitkan dahi mendengar penjelasan itu, meski belum sepenuhnya mengerti maksud tersembunyi dari perkataan mereka. Sekar hanya tersenyum tipis seolah sudah biasa mendengar hal seperti itu, namun Raisa kembali menegaskan pendiriannya dengan lembut namun mantap. “Saya belum tahu persis apa yang telah dilakukan kakekku selama ini, dan siapa Tuan lain yang kalian sebut-sebut itu. Tapi saya sangat berterima kasih atas rasa sayang dan penghormatan kalian kepada keluarga kami. Namun hak tetaplah hak, jadi tolong terimalah pembayaran ini dengan jujur dan berikan barang yang hanya saya beli saja. Saya tidak ingin mengambil keuntungan sepihak dari kerja keras kalian.”

Melihat ketulusan dan prinsip yang kuat dalam diri Raisa, akhirnya para pedagang pun menurut dengan senang hati. Mereka menerima uang itu sambil tersenyum bahagia, melayani Raisa dengan penuh rasa hormat dan kagum yang berlipat ganda, bahkan memberikan barang yang paling segar dan berkualitas terbaik sebagai bentuk rasa hormat yang tulus.

Setelah semua kebutuhan terpenuhi, tumpukan barang belanjaan begitu banyak hingga memenuhi seluruh ruang bagasi mobil, bahkan separuh kursi belakang pun harus dipenuhi tas dan keranjang belanja yang tertata rapi. Sekar sibuk mengatur letak barang agar aman dan tidak berantakan selama perjalanan pulang, sementara Raisa berdiri di samping mobil sambil menunggu sambil memandangi keramaian pasar dengan senyum tulus.

Namun tiba-tiba jantungnya berdegup kencang tak menentu seolah memberi peringatan. Matanya menangkap pemandangan yang membuat darahnya seolah membeku seketika. Di tengah jalan raya yang dilewati kendaraan dengan cukup ramai, terlihat seorang anak kecil yang masih berusia sekitar empat tahun sedang duduk bersimpuh. Anak itu sibuk memungut kelereng mainannya yang berserakan di aspal, sama sekali tidak menyadari bahaya yang mendekat dengan kecepatan tinggi dari arah kejauhan.

Dari kejauhan terdengar suara deru mesin truk pengangkut kayu yang melaju kencang, disusul teriakan panik supirnya yang memecah suasana riuh pasar. “AWAS SEMUA! REM BLONG! MINGGIR SEKARANG!”

Warga yang melihat kejadian itu hanya bisa berteriak histeris menyuruh anak itu lari, namun tak ada satu pun yang berani melangkah masuk ke tengah jalan yang berbahaya itu karena ketakutan. Anak itu justru semakin panik, menangis kencang sambil diam terpaku di tempat tak tahu harus berbuat apa.

Raisa tidak berpikir dua kali. Ia tahu betul tubuhnya memiliki kekuatan aneh yang membuatnya tak bisa mati atau terluka parah, dan luka sekecil apa pun akan sembuh seketika dalam sekejap mata. Tanpa ragu sedikitpun, ia berlari secepat kilat menerobos kerumunan orang menuju anak itu, menjatuhkan dirinya untuk melindungi tubuh kecil itu dengan sepenuh jiwanya.

“Kamu aman sekarang, jangan takut,” bisik Raisa pelan sambil merangkul anak itu erat-erat, memejamkan matanya pasrah menanti benturan keras yang ia yakini akan mampu ia tanggung.

Namun seketika itu juga, sebelum besi truk itu sempat menyentuh sehelai rambut pun di tubuh Raisa, sebuah kilauan cahaya api merah menyala samar muncul dari udara kosong, membentuk dinding pelindung yang kokoh namun tak terlihat oleh mata manusia biasa. Truk itu berdecit panjang menahan gesekan ban dengan aspal yang berbunyi nyaring, meluncur bergeser beberapa meter hingga akhirnya berhenti persis satu jengkal saja di depan Raisa.

Semua orang yang melihat kejadian itu melongo tak percaya, mulut mereka ternganga lebar menyaksikan keajaiban yang nyaris mustahil itu terjadi tepat di depan mata mereka. Hanya Raisa yang masih memejamkan mata, merasa heran mengapa benturan yang ia nantikan tak kunjung datang.

“Nona Raisa! Nona! Apakah Nona baik-baik saja?!” suara Sekar terdengar cemas memanggilnya sambil berlari mendekat secepat mungkin dengan napas terengah-engah.

Raisa perlahan membuka matanya, mengusap napas lega yang terasa berat di dadanya. “Aku baik-baik saja, tidak ada yang terluka,” batinnya penuh syukur.

Ia pun melepaskan pelukannya perlahan, menatap wajah anak itu yang masih menangis ketakutan sambil memeluk dadanya. “Kamu tidak apa-apa ya, sayang? Tidak sakit sedikit pun kan?” tanyanya lembut sambil mengusap air mata di pipi anak itu dengan lembut.

Anak itu menggeleng pelan sambil masih terisak pelan. Raisa tersenyum hangat, merapikan rambutnya yang berantakan terkena angin. “Kamu pasti sangat kaget sekali ya? Mana ibumu? Sudah tidak usah menangis lagi,semuanya baik-baik saja.”

Anak itu menghentikan tangisannya, dan masih sesegukan. Dengan lembut Raisa memeluknya dan membuatnya tenang.

“Tidak apa-apa, kamu baik-baik saja. Ayo kita cari orang tuamu bersama kakak, ”

Belum sempat mereka beranjak berdiri, seorang wanita berlari tergopoh-gopoh menghampiri mereka dengan wajah pucat pasi dan air mata yang mengalir deras. Ia langsung berlutut dan memeluk anaknya erat-erat sambil menangis haru, lalu menatap Raisa dengan pandangan penuh rasa syukur yang tak terhingga. “Terima kasih! Terima kasih banyak Nona! Kau telah menyelamatkan nyawa anakku! Aku tidak tahu harus membalas budi baikmu dengan apa!”

Wanita itu pun segera berlari mengambil keranjang besar berisi separuh hasil panen sayuran terbaiknya yang belum sempat dijual, lalu memaksakan menyerahkannya kepada Raisa dengan tangan gemetar. “Ini... ini semua untukmu, Nona! Anggap saja tanda terima kasihku yang tulus dan tak terhingga!”

Raisa awalnya menolak dengan halus, namun melihat ketegasan dan ketulusan wanita itu yang tak ingin menerima penolakan, akhirnya ia pun menerima pemberian itu dengan senyum hangat. “Baiklah, aku terima ini sebagai tanda persahabatan kita. Terima kasih banyak atas kebaikanmu.”

Seketika itu juga tepuk tangan gemuruh memecah suasana pasar. Warga desa bersorak memuji keberanian dan kebaikan hati Raisa, tatapan mereka kini penuh rasa hormat yang jauh lebih dalam dari sebelumnya. Sekar pun memandang majikannya dengan mata berbinar penuh kekaguman. “Nona sungguh luar biasa beraninya! Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau saja truk itu tidak berhenti tepat waktu. Sungguh mukjizat yang luar biasa.”

Raisa hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan, lalu meminta Sekar agar mereka segera kembali ke mobil karena hari sudah mulai siang dan perjalanan pulang masih cukup jauh. Perjalanan pulang pun dimulai, namun suasana di dalam mobil terasa berbeda dan lebih hangat dari sebelumnya. Sekar terus memuji keberanian Raisa sepanjang jalan, tak henti-hentinya bersyukur atas keselamatan mereka berdua.

Namun Raisa hanya diam menatap ke luar jendela, membiarkan angin yang masuk lewat celah kaca menerpa wajahnya pelan. Di dalam hatinya ia yakin sepenuhnya, bahwa truk itu tidak berhenti hanya karena keberuntungan semata. Saat ia menunduk melindungi anak itu, ia merasakan hawa panas yang samar namun sangat kuat melindungi punggungnya—rasa hangat yang sama persis dengan aura yang pernah ia rasakan setiap kali berada di dekat pintu lantai dua rumah besar itu.

“Ada seseorang yang selalu menjagaku dari balik bayangan, tak pernah membiarkanku terluka sedikitpun,” batin Raisa mantap. ​

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!