Keira Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam sebelum pernikahannya, dia akan memergoki tunangannya sendiri — Brandon Liem, pewaris Liem Group — sedang tidur dengan adik tirinya, Celine.
Tapi Keira bukan wanita yang bisa diinjak dua kali.
Alih-alih menangis dan memohon, dia mengambil ponselnya, merekam segalanya, dan memberikan ultimatum pada kedua keluarga:
*"Ganti pengantin prianya, atau ganti pengantin wanitanya."*
Pilihan jatuh pada Reynard Liem — kakak Brandon yang dikenal seluruh Jakarta sebagai pewaris yang "sudah gila" setelah kecelakaan mobil yang menewaskan kakeknya. Dia duduk di kursi roda, tidak bisa berbicara dengan benar, dan menghabiskan hari-harinya bermain Rubik sendirian di pavilion belakang rumah.
Semua orang menertawakan Keira. *"Menikahi orang gila demi balas dendam? Kasihan sekali."*
Tapi Keira tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Dia tahu bahwa tiga tahun dari sekarang, Reynard Liem akan bangkit kembali — lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa dari sebelumnya. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjaganya sampai saat itu tiba. Setelah itu, cerai, dan mereka berdua bebas.
Rencananya sempurna.
Sampai dia mulai jatuh cinta pada suaminya.
Sampai dia menyadari bahwa di balik tatapan polos dan kata-kata cadel itu, ada sepasang mata gelap yang mengawasinya — dengan obsesi yang tidak pernah dia sangka.
*"Kei mau pergi dariku? Tidak boleh."*
*"Selain di sisiku, kamu tidak boleh ke mana pun."*
Ternyata, Reynard Liem tidak pernah gila.
Dan dia tidak pernah berencana untuk melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Pernikahan yang Tak Terlupakan
Jika ia membuat keributan sekarang, pasti akan lebih menarik.
Pikiran itu melintas di kepala Reynard tepat saat Keira berhenti di sisinya.
Ia bisa saja menjatuhkan Rubik. Bisa saja tertawa keras, menolak menjawab, atau memanggil nama Brandon di depan semua tamu. Satu gerakan kecil cukup untuk membuat halaman rumput Highland Resort berubah menjadi panggung skandal yang lebih besar dari semalam.
Namun Keira berdiri di samping kursi rodanya tanpa menunduk memohon.
Ia hanya mengulurkan tangan, telapak terbuka di dekat pangkuannya, bukan untuk merampas Rubik, melainkan untuk memberi tanda diam-diam. Tadi di ruang istirahat, ia berjanji tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh barangnya tanpa izin.
Reynard menatap tangan itu.
Lalu ia meletakkan Rubik di telapak Keira.
Bisik-bisik di antara tamu langsung bergerak. Sebagian mengira itu bagian dari ritual kecil yang aneh. Sebagian lagi melihatnya sebagai bukti bahwa putra sulung Liem memang tidak seperti orang biasa. Keira tidak menjelaskan. Ia hanya memegang Rubik itu dengan satu tangan dan menghadap pendeta yang wajahnya tampak jauh lebih tegang daripada seharusnya.
Pemberkatan berlangsung terlalu cepat.
Tidak ada pidato panjang tentang cinta. Tidak ada cerita manis tentang dua keluarga yang saling mengenal. Beberapa bagian dipersingkat dengan alasan kondisi pengantin pria kurang baik. Saat pendeta bertanya kesediaan, Reynard menatap Keira beberapa detik lebih lama dari yang diminta.
Keira menoleh sedikit. Matanya mengingatkan.
Rubik.
"Ya," jawab Reynard akhirnya, pelan.
Satu kata itu membuat Christina menghela napas lega, Hendrick menutup mata sebentar, dan Gunawan langsung memperbaiki posisi duduknya seperti transaksi besar baru saja lolos dari kegagalan.
Keira menjawab dengan suara jelas. "Ya."
Tidak ada pertukaran cincin. Cincin Brandon tentu tidak mungkin dipakai. Cincin baru untuk Reynard belum ada, dan tidak seorang pun ingin memperpanjang rasa malu dengan mencari kotak perhiasan pengganti di tengah acara. Pendeta menutup pemberkatan dengan doa singkat. Tepuk tangan terdengar, tetapi terlalu hati-hati, seperti orang-orang takut memilih sisi yang salah.
Saat Keira mendorong kursi roda Reynard turun dari altar kecil, ia bisa merasakan puluhan tatapan menempel di punggungnya.
"Mereka lihat," gumam Reynard.
"Biarkan."
"Kei tidak malu?"
Keira menatap lurus ke depan. "Yang harus malu bukan aku."
Reynard menunduk lagi, tetapi jari-jarinya bergerak pelan di atas sandaran kursi roda. Kalau ia tidak sedang berakting, mungkin ia sudah tersenyum.
Di bawah tenda tamu, ponsel-ponsel mulai menyala.
Grup WhatsApp ibu-ibu arisan Jakarta Utara ramai lebih cepat daripada hidangan buffet dibuka.
Liem kok ganti pengantin pria?
Katanya Brandon sakit mendadak.
Sakit apa sampai kakaknya yang di kursi roda jadi pengganti?
Hartono tetap mau? Wah, demi koneksi Liem apa pun ditelan.
Ada juga yang lebih berani menulis: Putri Hartono yang batal dengan Brandon sekarang menikah dengan Si Bodoh Liem.
Pesan itu berpindah dari satu grup ke grup lain, dari tante sosialita ke asisten pribadi, dari vendor dekorasi ke teman kantor. Dalam satu jam, pernikahan yang seharusnya menjadi simbol aliansi dua keluarga berubah menjadi bahan bisik-bisik kelas atas Jakarta.
Resepsi dipersingkat. Foto keluarga diambil seadanya.
Brandon tidak muncul di barisan foto utama. Celine juga tidak. Alasan resmi yang diberikan adalah keduanya kurang sehat setelah begadang mengurus persiapan. Semua orang mendengar alasan itu, tersenyum sopan, lalu menyimpan versi masing-masing di kepala.
Keira berdiri di samping Reynard sepanjang acara. Ketika seorang tamu perempuan paruh baya menatap kursi roda terlalu lama, Keira sedikit menggeser posisinya, menutup pandangan itu dengan tubuhnya. Gerakan kecil. Tidak dramatis. Namun Reynard melihat.
"Rubik," bisiknya saat fotografer sibuk mengatur lampu.
Keira menunduk. "Setelah kita pulang."
"Janji."
"Janji."
Baru menjelang sore, mobil keluarga Liem meninggalkan Puncak menuju Jakarta. Perjalanan turun terasa panjang. Keira duduk di kursi belakang bersama Reynard. Di depan, sopir tidak banyak bicara. Ponsel Keira terus bergetar, tetapi ia tidak membuka satu pun pesan.
Reynard memegang Rubik yang sudah dikembalikan. Ia memutarnya pelan, pura-pura sibuk. Sesekali matanya menangkap pantulan Keira di kaca jendela. Wajah perempuan itu lelah, tetapi tidak rapuh.
Saat mobil memasuki Menteng dan gerbang besar Kediaman Liem terbuka, hari sudah gelap.
Keira pernah membayangkan rumah keluarga konglomerat itu akan dingin dan megah. Ia benar. Bangunan utama berdiri luas, lampu taman menyala rapi, dan beberapa mobil mahal terparkir seperti koleksi yang dipamerkan tanpa suara.
Namun mobil mereka tidak berhenti di depan pintu utama.
Sopir membawa mereka memutar ke sisi belakang halaman, melewati jalur yang lebih sempit, lalu berhenti di depan bangunan terpisah yang jauh lebih kecil. Cat dindingnya kusam. Lampu teras berkedip sekali sebelum menyala stabil. Di samping pintu, pot tanaman mengering setengah mati.
"Pavilion," kata sopir singkat.
Keira turun lebih dulu. Seorang pelayan pria membantu menurunkan kursi roda Reynard. Ia menunduk formal. "Silakan, Tuan Muda. Nyonya Muda."
Nyonya Muda.
Panggilan itu membuat status barunya terasa nyata, tetapi ruangan di balik pintu justru membuat dada Keira menegang.
Pavilion itu bukan tempat tinggal yang layak untuk putra sulung keluarga Liem. Sofa tua di ruang tengah sudah turun busanya. Meja kayu penuh goresan. Tirai berbau lembap. Lemari di sudut hanya berisi beberapa selimut tipis. Di dapur kecil, rak piring hampir kosong. Tidak ada dekorasi pengantin, tidak ada bunga, tidak ada tanda bahwa hari ini pemiliknya baru menikah.
Ini bukan rumah.
Ini tempat menyimpan seseorang agar tidak mengganggu.
Keira menatap Reynard. Ia masih memeluk Rubik, wajahnya datar seperti biasa. Seolah ruangan suram ini sudah menjadi bagian dari tubuhnya.
"Rey tidur di kamar mana?" tanya Keira.
Pelayan menunjuk pintu sebelah kanan. "Di sana, Nyonya Muda. Kamar Anda juga sudah disiapkan di sana."
Satu kamar.
Keira tidak menunjukkan keterkejutan. Ia hanya mengangguk. "Kamu boleh pergi."
Setelah pelayan keluar, Keira mendorong kursi roda Reynard masuk ke kamar. Tempat tidurnya besar, tetapi seprai tidak baru. Ada lemari kecil, meja samping, dan jendela yang menghadap tembok samping bangunan utama. Udara di dalamnya terasa pengap.
Keira membuka jendela sedikit.
"Aku tidur di sofa luar," katanya. "Kamu istirahat di kamar."
Reynard menoleh. "Sofa keras."
"Aku pernah tidur di tempat lebih buruk."
Itu bukan kalimat untuk membuatnya kasihan. Hanya fakta yang keluar terlalu ringan. Reynard menatapnya lebih lama, tetapi Keira sudah mengambil satu selimut tipis dari lemari.
Ia baru membentangkannya di sofa ruang tengah ketika terdengar langkah di teras.
Bukan langkah pelayan. Terlalu ragu, terlalu berat.
Keira berhenti.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
Saat ia membukanya, Brandon berdiri di luar dengan koper putih miliknya di tangan. Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang belum selesai.
Keira memandang koper itu, lalu wajah Brandon.
Di belakangnya, kamar Reynard sudah gelap. Laki-laki itu seolah tidur, tetapi Keira tahu pintunya tidak tertutup rapat.
Ia menatap Brandon tanpa senyum.
"Koh Rey sudah tidur. Ada apa, Bran?"