NovelToon NovelToon
Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dokter / Janda
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.

Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.

Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.

Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5 : Di usir mertua

Sore menjelang, langit Desa Sekar Sari mulai berwarna jingga. Setelah menyelesaikan pekerjaannya di pabrik roti, Winarsih mengayuh sepedanya pulang dengan tubuh yang terasa lelah. Meski begitu, senyum tipis masih menghiasi wajahnya. Ia berharap setidaknya malam ini ibu mertuanya tidak lagi memarahinya.

Namun, harapan itu kembali pupus. Begitu tiba di depan rumah, langkah Winarsih langsung terhenti. Di teras rumah, dua buah tas berisi pakaian miliknya sudah diletakkan begitu saja. Beberapa baju bahkan terlihat keluar dari dalam tas seolah dilempar dengan kasar.

"Bu... ini kenapa?" tanya Winarsih bingung.

Sulastri yang sejak tadi duduk di kursi bambu langsung berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Kamu akhirnya pulang juga."

Winarsih menatap tas-tas itu bergantian. "Pakaian saya kenapa dikeluarkan semua, Bu?"

"Karena mulai hari ini kamu bukan penghuni rumah ini lagi."

Jantung Winarsih seolah berhenti berdetak. "Maksud Ibu?"

Sulastri mengeluarkan ponselnya, lalu membuka sebuah foto yang baru dikirim Benni. "Nih, lihat sendiri!"

Dengan tangan gemetar, Winarsih menerima ponsel itu. Matanya membelalak saat melihat foto surat gugatan cerai yang dikirim Benni kepada ibunya.

Wajahnya langsung memucat. "Tidak... ini tidak mungkin...." Air mata mulai mengalir membasahi pipinya. "Mas Benni... menceraikan saya?"

Sulastri merebut kembali ponselnya. "Surat aslinya juga sudah dikirim lewat pos. Paling besok atau lusa sudah sampai."

Winarsih menggeleng kuat-kuat. "Saya tidak melakukan apa-apa, Bu. Saya tidak pernah mengkhianati Mas Benni."

"Cukup!" bentak Sulastri. "Benni sudah tahu semuanya."

Winarsih terus menggeleng sambil menangis. "Tidak... pasti ada salah paham." Ia mendekati Sulastri dengan wajah penuh harap. "Bu... tolong. Berikan saya nomor telepon Mas Benni. Saya ingin bicara langsung dengannya."

"Tidak perlu."

"Bu, saya mohon...."

"Saya bilang tidak!"

Winarsih sampai berlutut di hadapan ibu mertuanya. "Saya mohon, Bu. Saya hanya ingin menjelaskan semuanya. Mas Benni pasti mau mendengarkan saya."

Sulastri justru mencibir. "Menjelaskan apa? Menjelaskan perselingkuhanmu?"

"Saya tidak berselingkuh, Bu!"

"Kamu pikir Benni akan percaya?"

Air mata Winarsih semakin deras. "Bu... demi Allah, saya tidak pernah mengkhianati suami saya."

Namun, hati Sulastri sudah tertutup oleh keserakahan. Tanpa rasa iba sedikit pun, ia menunjuk ke arah jalan.

"Pergi!"

Winarsih masih terdiam.

"Saya bilang pergi dari rumah saya!" ucap Sulastri sambil menunjuk kearah pintu luar, wajahnya penuh emosi.

"Tapi... saya mau tinggal di mana, Bu?" tanya Winarsih sambil terisak.

"Itu bukan urusan saya," ketusnya.

"Tolonglah, Bu...."

Sulastri langsung meraih kedua tas Winarsih lalu melemparkannya hingga jatuh ke halaman. "Mulai hari ini, kamu tidak punya hubungan apa pun lagi dengan keluarga saya!"

Dengan langkah gontai, Winarsih memungut kedua tasnya yang tergeletak di halaman. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Ia bahkan tidak sempat menoleh ke belakang saat kaki-kakinya mulai melangkah meninggalkan rumah yang dulu ia anggap sebagai tempat pulang.

Setiap langkah terasa begitu berat. Dadanya sesak, pikirannya kosong. Ia sama sekali tidak tahu harus pergi ke mana. Sejak menikah dengan Benni, ia tinggal di Desa Sekar Sari mengikuti suaminya.

Sementara itu, satu-satunya kerabat yang masih dimilikinya hanyalah seorang bibi yang tinggal di desa lain, sekitar tiga jam perjalanan dari desa itu.

Namun, Winarsih ragu. Rumah bibinya pun sangat sederhana. Lagi pula, hubungan mereka tidak terlalu dekat. Ia merasa tidak enak jika harus datang tiba-tiba sambil membawa semua barang miliknya.

"Apa Bibi mau menerimaku?" gumamnya lirih.

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Semakin dipikirkan, semakin ia kehilangan harapan. Winarsih menghentikan langkahnya di tepi jalan. Ia mengusap air mata yang terus membasahi pipinya.

"Tidak... aku tidak boleh menyerah."

Tiba-tiba ia teringat seseorang. Juragan Warso, pria paruh baya itu selama ini selalu bersikap baik kepadanya. Mungkin beliau bersedia membantunya untuk sementara waktu.

"Aku akan mencoba meminta tolong kepada Juragan."

Tanpa berpikir panjang lagi, Winarsih segera mengubah arah langkahnya menuju pabrik roti. Sayangnya, matahari sudah tenggelam.

Langit berubah gelap. Lampu-lampu rumah penduduk mulai menyala, sementara jalan menuju pabrik roti semakin sepi. Winarsih memeluk tasnya erat-erat sambil mempercepat langkah. Angin malam bertiup cukup dingin. Suara jangkrik terdengar bersahutan dari pematang sawah.

Tiba-tiba...

"Hei, cantik...."

Langkah Winarsih langsung terhenti. Dari bawah pohon besar di pinggir jalan, tiga orang pria bertubuh kekar keluar sambil tertawa.

Pakaian mereka berantakan, napas mereka tercium bau minuman keras. Salah seorang di antaranya melangkah mendekat.

"Sendirian aja nih, mau di temani?"

Winarsih mundur beberapa langkah. "Permisi... saya mau lewat."

Pria itu justru menghalangi jalannya. "Jangan buru-buru. Temenin kami ngobrol dulu."

Teman-temannya ikut tertawa. "Iya, cantik. Malam masih panjang."

Wajah Winarsih memucat. "Maaf... saya harus pergi."

Ia mencoba berjalan ke samping, tetapi pria lain kembali menutup jalannya. "Mau ke mana? Takut sama kami?"

"Tolong... jangan ganggu saya."

Salah satu preman menatap wajah Winarsih dari ujung kepala hingga kaki. "Sayang juga ya... gadis secantik ini jalan sendirian malam-malam."

"Hahaha... mungkin lagi kabur dari suaminya."

Ketiganya tertawa keras.

Jantung Winarsih berdegup semakin kencang. Tangannya gemetar memeluk tas yang dibawanya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Jalan desa itu benar-benar sepi, tak ada satu pun orang yang melintas.

Ketakutan mulai menguasai dirinya. "Pak... saya mohon, biarkan saya lewat."

Bukannya merasa iba, salah satu pria itu justru mengulurkan tangan, berusaha menyentuh pipi Winarsih. Secara refleks, Winarsih menepis tangan itu lalu berlari sekuat tenaga.

"Heh! Berani kabur!"

"Tangkap dia!"

Ketiga preman itu langsung mengejar Winarsih di jalan yang gelap. Air mata Winarsih kembali mengalir. Napasnya mulai memburu, sementara kedua tas di tangannya membuat langkahnya semakin berat.

"Ya Allah... tolong hamba...."

Di belakangnya, suara langkah kaki para preman terdengar semakin dekat. Dan saat salah seorang dari mereka hampir berhasil meraih ujung baju Winarsih...

Winarsih terus berlari sekuat tenaga. Napasnya memburu, sementara air mata mengaburkan pandangannya. Kedua tas yang dibawanya membuat langkahnya semakin berat.

"Hei! Berhenti!" teriak salah seorang preman.

Belum sempat Winarsih mencapai jalan yang lebih ramai, salah satu dari mereka berhasil menangkap tali tas yang disandangnya.

Bruk!

Tubuh Winarsih kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah. Salah satu tasnya terlempar, sementara pria lain segera menghadangnya agar ia tidak bisa melarikan diri.

"Lepaskan saya!" teriak Winarsih sambil berusaha bangkit.

Namun jumlah mereka terlalu banyak. Salah seorang preman menarik lengan baju Winarsih dengan kasar hingga terdengar suara kain yang robek.

Sret!

Winarsih spontan memeluk tubuhnya, berusaha menutupi bagian bajunya yang robek. Wajahnya dipenuhi air mata.

"Tolong... jangan sakiti saya! Tolong...!" teriaknya sekuat tenaga.

Suara tangisnya menggema di tengah jalan desa yang sunyi. Ketiga pria itu justru tertawa.

"Berteriak saja sepuasmu! Tidak akan ada yang datang ke tempat seperti ini."

Winarsih terus meronta, menendang dan berusaha melepaskan diri. Kukunya bahkan sempat menggores tangan salah seorang dari mereka.

"Aduh! Perempuan ini melawan!" geram pria itu.

"Pegang dia!" bentak yang lain.

Winarsih semakin panik. Air matanya tak berhenti mengalir. "Ya Allah... tolong hamba...."

Di saat yang sama...

Dokter Arga baru saja menyelesaikan tugasnya di Puskesmas Sekar Sari. Ia mengemudikan mobilnya perlahan menyusuri jalan desa yang mulai gelap.

Tiba-tiba...

"Tolong...!"

Arga langsung mengerem. Decitan ban memecah kesunyian malam. "Itu seperti suara perempuan?"

Ia mematikan mesin mobil dan membuka jendela, berusaha memastikan arah datangnya suara.

"Tolong...!"

Kali ini terdengar lebih jelas.

Tanpa berpikir panjang, Arga segera turun dari mobil. Ia mengambil senter dari dalam kendaraan lalu berlari mengikuti arah suara yang berasal dari balik semak-semak di pinggir jalan.

Semakin dekat, suara tangisan itu semakin terdengar jelas. Ketika semak-semak terakhir disibakkan, langkah Arga mendadak terhenti.

Sorot matanya langsung berubah tajam. Di hadapannya, tiga pria sedang mengerumuni seorang perempuan yang berusaha melindungi dirinya sambil menangis.

Arga mengenali wajah itu dalam sekejap. "Winarsih!"

Winarsih yang mendengar suara tersebut langsung menoleh. Wajahnya yang dipenuhi air mata seketika memancarkan secercah harapan.

"Dok... tolong saya...!" serunya dengan suara bergetar.

Melihat masih ada orang yang berani mengganggu, salah seorang preman menoleh dengan kesal. "Siapa lo! Jangan ikut campur kalau masih pingin hidup!"

Arga melangkah maju tanpa sedikit pun rasa gentar. Tatapannya dingin, namun penuh kemarahan.

"Lepaskan dia, sekarang."

Ketiga preman itu saling pandang, lalu tertawa mengejek. "Lo itu cuma dokter, jadi jangan sok pahlawan."

Arga tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan ponselnya, menekan sebuah nomor darurat, lalu berkata dengan suara tegas, "Saya sudah menghubungi polisi. Mereka sedang menuju ke sini."

Ucapan itu membuat senyum para preman mulai memudar. Namun salah satu dari mereka masih melangkah maju, mengepalkan tangan.

"Kalau begitu, kita selesaikan dulu urusan sama dokter ini!"

Arga berdiri di depan Winarsih, menghalangi tubuh gadis itu dengan tubuhnya sendiri.

1
Amoera
kasihan winarsih/Sob/
Amoera
wihh, Dokter keren😍
Amoera
suka banget ka sama ceritanya, novel ter-the best🥰
Arditya
Ayo dokter arga pepet terua winarsih🤣
It's me Sky: iya kaka🤣
total 1 replies
Arditya
kagak beres deh ini ada preman, aduh winarsih.
Arditya
kacau ni nenek lampir, ko kesel ya thoor
Arditya
Ko kesel ya, sama si benni😄
Arditya
Gila mertua jahat tuh si Sulastri, ini sih cerita menyayat hati kaum wanita. Apalagi yang punya mertua seperti Sulastri, pingin di rujak bibirnya🤭
Arditya
Karyamu luar biasa sekali thoor, aku suka banget sama ceritanya. Semangat thoor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!