Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.
Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.
Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.
Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.
Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.
Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Matahari sore Los Angeles perlahan meredup, menyisakan pendar jingga keemasan yang menerobos masuk melalui dinding kaca Penthouse.
Di atas sofa bed ruang tengah yang empuk, keheningan yang tenang bertolak belakang dengan badai rahasia yang mengepung pasangan pengantin baru tersebut.
Braxton terbangun lebih dulu. Pria itu mengusap matanya yang terasa agak berat, lalu menunduk menatap wanita di dalam pelukannya. Lux tampak tertidur amat nyenyak dengan selimut bulu yang menutupi hingga sebatas dada. Senyuman tipis terukir di bibir merona istrinya, memberikan impresi kepolosan yang begitu murni dan tak berdosa.
Braxton menghembuskan napas pelan, mengusap lembut rambut panjang Lux tanpa menyadari bahwa wanita yang dipeluknya itu sejak tadi sudah mengawasi setiap pergerakannya di balik kelopak mata yang terpejam santai.
Braxton mengecup dahi Lux secara perlahan, lalu memindahkan lengan istrinya dengan sangat berhati-hati agar tidak mengganggu tidurnya.
Pria itu bangkit berdiri, menyambar kemeja santainya, dan melangkah perlahan menuju ruang kerja pribadinya di sudut Penthouse.
Saat pintu ruang kerja tertutup rapat, Lux perlahan membuka sepasang mata abu-abunya.
Pendar tenang di mata Lux melenyap seketika, berganti menjadi binar dingin yang tajam dan pekat. Tanpa membuang waktu, Lux bangkit duduk dari kasur. Ia merapikan gaun sutranya, melangkah tanpa suara menuju kamar tidur utama, dan meraih ponsel pintarnya yang tergeletak di atas nakas.
Lux menatap layar ponselnya. Ada tiga panggilan tak terjawab dan satu pesan singkat dari nomor yang sama—nomor yang ia gunakan untuk berkomunikasi dengan jaringan peretas independen dan informan pribadi yang ia bayar diam-diam.
Lux menekan tombol panggilan balik. Panggilan terhubung pada dering pertama.
"Posisinya sudah terlacak, Nyonya," suara bernada datar dari seorang pria di seberang telepon terdengar tanpa basa-basi. "Wanita bernama Amelia Giger itu tidak kembali ke Rumah Sakit Saint Jude ataupun Kemansion nya. Dia baru saja menyewa sebuah unit apartemen di kawasan West Hollywood."
Bibir merona Lux terangkat, membentuk garis senyuman miring yang teramat dingin.
"Kirimkan alamat lengkapnya padaku sekarang," perintah Lux tenang, namun suaranya memancarkan kejamnya dominasi yang tak terbantahkan. "Dan pastikan orang-orangmu terus mengawasi gedung itu."
"Dimengerti, Nyonya."
Sambungan telepon terputus.
Hanya dalam hitungan detik, sebuah pesan masuk menampilkan titik koordinat dan alamat lengkap dari tempat persembunyian Rachel.
Lux menatap layar ponselnya seraya mengusap lembut lehernya sendiri.
Kau pikir kau bisa berpura-pura menjadi korban di hadapanku, Rachel? batin Lux membara oleh kejilatan dendam yang dingin. Mari kita lihat seberapa jauh kegilaanmu bisa bertahan saat kau berhadapan langsung dengan penciptanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam ruang kerja pribadi yang bernuansa kayu mahoni gelap, Braxton berdiri di depan jendela kaca besar seraya menempelkan ponselnya di telinga. Wajah tampannya dipenuhi ketegangan yang membakar.
"Bagaimana bisa kalian kehilangan Jejaknya?!" bentak Braxton dengan suara rendah yang sarat akan amarah mematikan.
Di seberang telepon, suaranya terdengar amat cemas. "Maafkan kami, Tuan Desmon. Kami sedang menyisir seluruh rekaman CCTV kota untuk melacak mobil yang digunakannya."
"Temukan dia sebelum malam ini!" pungkas Braxton dingin. "Gunakan seluruh sumber daya yang ada. Amelia gila dan berbahaya. Dia mendatangi restoran tempatku dan istriku makan siang tadi. Kalau sampai dia menyentuh atau mendekati Lux lagi, kalian semua tidak hanya kehilangan pekerjaan, tapi aku sendiri yang akan memastikan karier kalian hancur!"
"Baik, Tuan! Kami akan bertindak sekarang juga!"
Braxton mematikan sambungan telepon dengan napas terengah memburu.
Pria itu mengusap wajahnya kasar, bergelut dengan rasa cemas yang kian memuncak. Braxton tahu persis seberapa nekadnya Amelia dengan obsesinya. Ia tidak boleh membiarkan wanita gila itu merusak kehidupan rumah tangganya yang baru saja mekar penuh cinta.
Braxton melangkah keluar dari ruang kerja dengan niat untuk memperketat sistem keamanan Penthouse dan memastikan Lux tetap berada dalam jangkauannya. Namun, saat ia melangkah ke ruang tengah, tempat tidur di depan televisi sudah kosong.
Kening Braxton berkerut rapat. "Lux?" panggilnya pelan.
Tidak ada sahutan.
Braxton melangkah cepat menuju kamar tidur utama, namun ruangan itu pun sepi. Pria itu memeriksa dapur, ruang santai, hingga balkon privat, namun sosok istrinya sama sekali tidak terlihat.
Rasa panik seketika menghantam dada Braxton bagaikan godam berat saat ia melihat tas tangan dan mantel milik Lux sudah tidak ada di gantungan pintu utama.
Jantung Braxton berdegup kencang secara liar. Pria itu menyambar ponselnya dan langsung menekan nomor kontak Lux.
Di seberang sana, panggilan tersambung pada dering ketiga.
"Lux! Kau di mana, Sayang?!" seru Braxton panik, suaranya dipenuhi kecemasan yang luar biasa.
Suara Lux terdengar begitu tenang, lembut, dan manis dari seberang telepon—begitu sempurna hingga Braxton tak menyadari bahaya besar yang sedang berputar di balik nada suara istrinya.
"Aku sedang keluar sebentar, Braxton," jawab Lux santai, terdengar suara derum halus mesin mobil yang melaju di latar belakangnya. "Ada beberapa perlengkapan melukis dan kanvas khusus yang harus kuambil di galeri langgananku di pusat kota."
Braxton menghembuskan napas panjang, mencoba meredakan kepanikan yang membakar dadanya. "Kenapa kau tidak memberitahuku, Sayang? Aku bisa mengantarmu langsung. Kau sedang tidak fit."
"Kau sedang sibuk di ruang kerja tadi, Tuan Desmon," goda Lux halus dengan nada manja yang memikat. "Jangan khawatir. Aku hanya sebentar. Aku akan langsung pulang setelah urusanku selesai."
"Janji padaku kau tidak akan pergi ke mana-mana selain ke galeri, Lux," pungkasi Braxton tegas dan penuh penekanan protektif. "Aku menghawatirkan mu, istriku."
Lux tersenyum di dalam mobil sedan hitam yang dikendarainya. "Tentu saja, Braxton... Aku hanya pergi ke tempat yang perlu kudatangi. Sampai jumpa di rumah, Suamiku."
Sambungan telepon terputus.
Braxton memegang ponselnya dengan perasaan yang masih belum tenang. Sesuatu di dalam instingnya menjerit bahwa ada hal yang tidak beres. Tanpa membuang waktu, Braxton menelepon tim lacak GPS kendaraan pribadi untuk mengaktifkan pemantau lokasi pada mobil sedan yang dibawa oleh istrinya.
...ΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di sebuah kompleks apartemen di kawasan West Hollywood, malam mulai merayap turun membungkus lorong-lorong apartemen.
Amelia Giger berdiri di depan cermin di kamar mandi unit apartemen sewaannya. Wajah cantiknya yang pucat tampak berantakan dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Jemari tangannya yang gemetar mengusap botol obat penenang yang sudah kosong di atas wastafel.
Suara gertakan tajam Braxton di koridor restoran tadi siang terus berputar-putar di dalam kepalanya bagaikan kaset rusak yang menyiksa jiwanya.
"Kau hanya ilusi gila yang diciptakan oleh otakmu yang rusak... Kalau sampai kau menyentuh atau mengganggu ketenangan istriku, aku tidak akan tinggal diam!"
"Bongkahan sampah!" jerit Amelia histeris seraya memukul cermin kaca hingga retakannya semakin meluas. Air mata kemarahan dan cemburu menetes membasahi pipinya. "Dia membenciku... Dia menatapku seolah aku ini monster! Dan semua ini gara-gara Samantha!"
Cemburu gila yang membakar jiwanya telah melahap habis sisa akal sehat Amelia.
Di dalam otaknya yang rusak, Samantha—atau Lux—adalah satu-satunya dinding pemisah yang menghalanginya untuk memiliki Braxton.
Kalimat racun Lux di telepon pagi tadi tentang "menabrak mati" Mr.B yang menolaknya kini berasosiasi menjadi rencana pembalasan dendam yang teramat gelap.
"Kau yang mengajariku cara membunuh pria jahat, Sam..." bisik Amelia dengan suara gemetar yang amat mengerikan, menyunggingkan senyuman iblis di wajahnya.
"Jika aku harus hancur... maka aku akan menyeretmu turun ke neraka bersamaku!"
Amelia meraih tas tangannya, mengambil sebuah pisau lipat tajam dan kunci mobil dari atas meja. Wanita gila itu bermaksud keluar dari apartemen dan menuju kembali ke gedung Penthouse milik Samantha–Braxton untuk mengeksekusi niat jahatnya.
Namun, tepat saat jemari tangan Amelia memegang gagang pintu utama unit apartemennya—
Klek.
Pintu utama yang terkunci rapat itu mendadak terbuka dari luar secara perlahan.
Amelia mendadak membeku di tempat. Bulu kuduknya berdiri tegak saat hembusan angin dingin dari lorong luar menerobos masuk ke dalam unit apartemennya yang remang.
Di ambang pintu yang terbuka lebar, berdiri seorang wanita cantik bergaun sutra hijau zamrud. Sosoknya berdiri anggun, dibalut oleh pendar lampu lorong yang temaram, memancarkan aura dingin yang teramat kuat dan mematikan.
Itu adalah Lux Victoria Desmon.
Lux berdiri sendirian di sana, tanpa pengawal di sisinya, menatap Amelia lurus-lurus dengan sepasang mata abu-abunya yang berkilat bagaikan mata pisau yang baru diasah.
Amelia membelalakkan matanya kaku, mundur dua langkah secara refleks dengan napas terengah panik. "S-Samantha?! Bagaimana... bagaimana bisa kau ada di sini?!"
Lux melangkah masuk ke dalam unit apartemen yang kusam itu secara santai. Dengan gerakan yang amat tenang, Lux memutarkan tubuhnya dan menutup pintu kayu tersebut rapat-rapat, menguncinya dari dalam dengan bunyi klik yang bergema nyaring di dalam ruangan sempit itu.
Lux menyunggingkan senyuman manisnya—sebuah senyuman anggun namun sarat akan racun pembunuh yang membuat udara di dalam ruangan seketika menyusut drastis.
"Kenapa kau tampak begitu terkejut, Rachel?" bisik Lux dengan suara yang teramat lembut, menatap wajah pucat sahabatnya dari atas ke bawah. "Bukankah kau yang bilang di telepon tadi... bahwa kau tidak sabar ingin bertemu kembali denganku dan mendoakan kebahagiaan pernikahan kami?"
Amelia menyembunyikan pisau lipat di balik punggungnya, mencoba mengendalikan nada suaranya yang gemetar hebat. "Sam... ini bukan tempat yang biasa kau datangi. Bagaimana bisa kau menemukan tempat ini? Dan... kenapa kau sendirian?"
Lux terkekeh sangat pelan. Pendar keanggunan di wajahnya melenyap perlahan, tergantikan oleh pendar dominasi gelap yang membuat Amelia merinding ketakutan.
"Kau terlalu meremehkanku, Amelia Giger," ujar Lux, menyebut nama asli sahabatnya dengan penekanan yang teramat dingin dan tajam.
Deg!
Tubuh Amelia berguncang hebat mendengar nama aslinya meluncur dari bibir Lux. "Kau... kau tahu namaku?"
"Tentu saja aku tahu," pungkas Lux, melangkah mendekati Amelia tanpa rasa takut sedikit pun terhadap gestur tubuh wanita gila di hadapannya. "Aku tahu namamu... dan aku tahu betul seberapa parah obsesi gilamu."
Dunia Amelia serasa meledak hancur pada detik itu juga.
Seluruh rahasia dan sandiwara yang disimpannya siang tadi, terkuak habis di hadapan wanita yang selama ini ia anggap sebagai tempat berkeluh kesahnya.
"Kau... kau berpura-pura tidak tahu di restoran tadi?" gertak Amelia dengan suara bergetar amarah, menarik pisau lipat dari balik punggungnya dan mengarahkannya tepat ke wajah Lux. "Kau memelukku... kau tersenyum padaku... tapi kau sudah tahu semuanya?!"
Melihat pisau tajam yang diarahkan ke wajahnya, Lux bahkan tidak mengedipkan matanya sedikit pun. Sama sekali tidak ada ketakutan di wajah cantiknya. Lux justru memajukan langkahnya setengah senti, menatap pisau itu dengan pandangan meremehkan.
"Turunkan pisaumu atau aku yang akan mematahkan tanganmu, Amelia," bisik Lux dingin, matanya mengunci mata gila milik Amelia. "Kau pikir kau siapa? Kau pikir kau bisa bermain-main di dalam rumah tanggaku?"
"Dia mencintaimu hanya karena aku Koma!" jerit Amelia histeris, air matanya pecah bertaburan. "Braxton itu milikku! Mr. B yang kuceritakan padamu selama dua tahun ini adalah Braxton! Kau mencuri tempatku saat aku terbaring koma, Samantha!"
"Dia tidak pernah menjadi milikmu!" potong Lux dengan nada suara yang meninggi dan penuh wibawa membunuh, memotong teriakan Amelia secara brutal.
Lux melangkah maju, memangkas jarak hingga ujung pisau lipat itu hampir menyentuh gaun sutranya. Aura kejam seorang Gadis liar terpancar penuh dari tubuh Lux.
"Dengarkan aku baik-baik, Amelia gila," desis Lux, menyapukan pandangan dinginnya yang membekukan darah. "Selama dua tahun ini, aku mendengarkan seluruh keluh kesahmu bukan karena aku kasihan padamu... tapi karena aku ingin melihat seberapa patetoloisnya dirimu. Aku yang memberimu ide-ide gila di telepon... aku yang memprovokasi pikiran liarmu... dan kau dengan bodohnya menelan seluruh racun yang kuberikan!"
Amelia membelalakkan matanya kaku. "Apa... apa katamu?!"
"Kau pikir kau satu-satunya wanita yang memiliki pikiran gelap di dunia ini?" kekeh Lux dengan tawa dingin yang amat mengerikan. "Kau salah besar. Braxton milikku secara sah—tubuhnya, jiwanya, dan seluruh napasnya adalah milik Lux Victoria. Dan jika kau masih berani menatap suamiku dengan kedua matamu yang penuh dengan obsesi menjijikkan itu..."
Lux menjangkau pergelangan tangan Amelia yang memegang pisau dengan kecepatan luar biasa, mencengkeramnya dengan cengkeraman yang amat kuat hingga pisau lipat itu terjatuh dan berdentang nyaring di atas lantai semen.
Sebelum Amelia sempat berteriak, Lux mencengkeram rahang Amelia secara brutal, menekan wajah wanita gila itu ke dinding apartemen.
"...maka aku sendiri yang akan memastikan kau tidak akan pernah bisa melihat pendar matahari lagi di dunia ini!" ancam Lux dengan bisikan yang amat pekat, memancarkan bahaya murni yang jauh lebih mengerikan dari teror apa pun yang pernah diciptakan Amelia.
Di luar apartemen, derum mesin mobil sport dan jeritan rem yang membakar jalanan mendadak bergema nyaring di pelataran kompleks tua tersebut. Braxton telah tiba bersama tim keamanannya, melacak sinyal GPS mobil Lux yang berhenti di lokasi persembunyian Amelia Giger.
Suara derap langkah kaki yang terburu-buru berderap menaiki tangga kayu apartemen menuju lantai unit Amelia.
Namun, di dalam ruangan yang terkunci rapat itu, dua jiwa yang dipenuhi rahasia dan kegelapan saling mengunci dalam ketegangan paling mematikan seumur hidup mereka—menantikan pintu itu didobrak dan menghancurkan seluruh kebohongan yang tersisa.
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux