Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".
"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"
bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.
Mariska tersenyum licik.
"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."
"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.
"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."
Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.
Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.
"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.
"Jangan sampai gadis itu lolos!"
Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.
Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Belum menyadari bahwa sejak menginjakkan kaki di perusahaan Laurent hari itu, dirinya telah menjadi pusat perhatian seluruh karyawan—termasuk seseorang yang diam-diam telah lama berharap bisa mengisi tempat di sisi Lucas.
Ariana berjalan beberapa langkah di depan Alyssa.
Sepatu hak tingginya berdetak pelan di sepanjang koridor lantai tiga puluh dua.
Di kanan dan kiri, para karyawan yang berpapasan langsung menundukkan kepala.
"Selamat siang, Bu Ariana."
Ariana hanya mengangguk singkat.
Namun pikirannya sama sekali tidak berada di tempat itu.
Sejak pagi...
Satu pertanyaan terus berputar di kepalanya.
"Siapa sebenarnya wanita itu?"
Beberapa menit sebelumnya.
Saat Lucas dan Alyssa memasuki gedung perusahaan...
Ariana sempat memperhatikan sesuatu yang membuat dadanya semakin panas.
Di setiap sudut.
Di setiap persimpangan.
Di setiap akses menuju lift.
Selalu ada pengawal berpakaian sipil.
Mereka tidak mengenakan seragam.
Namun Ariana mengenali mereka.
Mereka adalah tim pengamanan elite milik Lucas.
Orang-orang yang biasanya hanya mengawal Lucas saat menghadiri pertemuan internasional atau ketika ada ancaman besar.
Kini...
Mereka semua mengawal satu orang.
Alyssa.
Ariana mengepalkan tangannya di balik map yang ia bawa.
"Lucas..."
"Apa istimewanya wanita itu?"
"Aku sudah bekerja bersamamu bertahun-tahun..."
"Bahkan saat perusahaan ini belum sebesar sekarang."
"Tapi aku tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu."
Sementara itu...
Alyssa justru sedang menikmati pemandangan.
"Perusahaan ini besar sekali."
Ariana memaksakan senyum.
"Iya."
"Semua divisi saling terhubung."
Alyssa berhenti di depan kaca besar.
Dari sana seluruh kota terlihat jelas.
"Indah sekali."
Ariana hanya menjawab pendek.
"Hm."
Tatapan matanya justru tertuju pada pantulan para pengawal yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Empat orang.
Selalu menjaga jarak.
Namun tidak pernah benar-benar pergi.
Ariana mulai memperhatikan pola mereka.
"Dua di depan."
"Dua di belakang."
"Mereka bergantian setiap beberapa menit."
"Disiplin sekali."
Ia semakin penasaran.
"Siapa sebenarnya Alyssa?"
Saat mereka melewati ruang riset...
Beberapa karyawan kembali berbisik.
"Itu wanita yang datang bersama Direktur."
"Iya."
"Aku dengar bahkan tim elite ikut turun."
"Serius?"
"Iya."
"Aku belum pernah melihat sebanyak itu."
Bisikan-bisikan itu kembali menusuk hati Ariana.
Ia tetap tersenyum.
Namun dalam hati...
Rasa iri mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Sekitar setengah jam kemudian...
Ariana berhenti.
"Nona Alyssa."
"Iya?"
"Masih kuat berjalan?"
Alyssa tertawa kecil.
"Tentu."
"Kalau begitu..."
"Ada satu tempat lagi."
"Tempat apa?"
"Gudang arsip utama."
Alyssa tampak heran.
"Gudang?"
"Iya."
"Di sana ada prototipe AI pertama yang dibuat Lucas."
Mata Alyssa langsung berbinar.
"Benarkah?"
Ariana mengangguk.
"Hanya sedikit orang yang pernah melihatnya."
"Kalau begitu aku ingin melihat."
"Tentu."
Ariana tersenyum.
Namun senyum itu kini terasa berbeda.
Mereka masuk ke lift servis.
Lift itu jauh lebih sepi dibanding lift utama.
Tidak ada musik.
Tidak ada dekorasi mewah.
Hanya dinding logam berwarna abu-abu.
Alyssa memperhatikan tombol yang ditekan Ariana.
"Lantai paling atas?"
"Iya."
"Gudang berada di sana."
Lift perlahan naik.
Semakin tinggi.
Semakin sunyi.
Saat pintu lift terbuka...
Suasananya benar-benar berbeda.
Koridor panjang.
Lampu sebagian redup.
Hampir tidak ada orang.
Alyssa sedikit heran.
"Kenapa sepi sekali?"
Ariana menjawab santai.
"Gudang ini jarang dipakai."
"Mereka lebih sering menggunakan sistem penyimpanan digital."
"Oh..."
Mereka mulai berjalan.
Alyssa tidak menyadari...
Dua pengawal yang sejak tadi mengikuti mereka berhenti di depan pintu lift.
Salah satu berkata melalui alat komunikasi,
"Area gudang terbatas."
"Kami menunggu di sini."
Mereka mengira Ariana memang mendapat izin dari Lucas.
Karena Ariana adalah Manajer Umum.
Koridor semakin panjang.
Ariana sengaja memilih jalan memutar.
Ia hafal setiap sudut gedung itu.
Termasuk...
Beberapa titik yang belum tercakup kamera pengawas karena sedang dalam proses renovasi.
Ia berhenti sejenak.
Melirik ke atas.
Benar.
Tidak ada kamera.
Ia kembali berjalan.
Alyssa mulai merasa bingung.
"Masih jauh?"
"Sedikit lagi."
"Lho..."
"Kenapa di sini tidak ada CCTV?"
Ariana langsung menjawab cepat.
"Sedang diperbaiki."
"Oh."
Alyssa mengangguk polos.
Beberapa menit kemudian...
Mereka tiba di depan sebuah pintu besi besar.
Ariana memasukkan kartu akses.
Bip.
Klik.
Pintu terbuka perlahan.
Gudang itu sangat luas.
Rak-rak besi menjulang tinggi.
Kotak-kotak kayu tersusun rapi.
Lampu hanya menyala sebagian.
Membuat suasana terasa agak gelap.
Alyssa melangkah masuk.
"Wah..."
"Besar sekali."
Ariana mengangguk.
"Ikut aku."
Mereka berjalan semakin masuk ke dalam.
Semakin jauh dari pintu.
Semakin sunyi.
Langkah kaki mereka bergema.
Tok.
Tok.
Tok.
Alyssa mulai merasa aneh.
"Bu Ariana."
"Iya?"
"Tadi katanya ada prototipe AI pertama."
"Iya."
"Di mana?"
"Di ujung."
Mereka terus berjalan.
Sampai akhirnya tiba di bagian paling belakang gudang.
Di sana hanya ada beberapa peti besar dan rak tinggi.
Tidak ada siapa-siapa.
Alyssa melihat ke kanan dan kiri.
"Sepertinya tidak ada apa pun."
Tiba-tiba...
Ponsel Ariana berdering.
Ia melihat layar sebentar.
Lalu memasang ekspresi sedikit panik.
"Maaf."
"Ada panggilan penting."
"Oh."
Ariana menempelkan ponsel ke telinganya.
"Halo?"
"Iya."
"Apa?"
"Sekarang?"
Ia menoleh kepada Alyssa.
"Maaf sekali."
"Aku harus turun sebentar."
"Sebentar saja."
Alyssa mengangguk.
"Tidak apa-apa."
"Tunggu di sini ya."
"Iya."
Ariana tersenyum tipis.
"Aku tidak akan lama."
Lalu ia berjalan cepat menuju pintu.
Langkahnya terdengar semakin menjauh.
Alyssa masih berdiri.
Ia mencoba melihat-lihat rak di sekitarnya.
Namun...
Sepuluh menit berlalu.
Ariana belum kembali.
"Dua puluh menit..."
Alyssa mulai melihat jam di ponselnya.
"Mungkin rapat mendadak."
Ia mencoba bersabar.
Tiga puluh menit.
Empat puluh menit.
Satu jam.
Gudang itu tetap sunyi.
Alyssa mulai merasa tidak nyaman.
"Bu Ariana?"
Tidak ada jawaban.
Ia berjalan menuju arah pintu.
Namun begitu sampai...
Tangannya mencoba memutar gagang.
Klik.
Tidak terbuka.
Alyssa mengernyit.
"Hm?"
Ia mencoba lagi.
Klik.
Tetap terkunci.
"Bu Ariana?"
Suaranya sedikit lebih keras.
Masih tidak ada jawaban.
Alyssa mulai mengetuk pintu.
Tok.
Tok.
Tok.
"Halo?"
"Ada orang?"
Sunyi.
Ia mencoba menghubungi Ariana melalui ponselnya.
Nomor sedang tidak dapat dihubungi.
Alyssa mulai menggigit bibir.
"Mungkin sinyalnya buruk."
Ia mencoba menghubungi Lucas.
Namun di bagian belakang gudang itu...
Sinyal hampir tidak ada.
Panggilan tidak tersambung.
Perlahan...
Perasaan tidak enak mulai muncul.
Di sisi lain pintu...
Ariana berdiri beberapa meter dari gudang.
Ia menatap pintu besi yang kini telah terkunci rapat.
Tangannya masih menggenggam kartu akses.
Ia menarik napas panjang.
"Bukan salahku."
"Aku hanya ingin memberinya pelajaran."
"Biar dia tahu rasanya diabaikan."
"Nanti beberapa jam lagi pasti ada petugas gudang yang menemukannya."
Namun meski berusaha meyakinkan dirinya sendiri...
Dadanya tetap berdebar.
Ia melirik ke kanan dan kiri.
Tidak ada orang.
Dengan cepat ia pergi meninggalkan lantai itu.
Sementara di dalam gudang...
Satu jam berubah menjadi dua jam.
Lampu otomatis mulai meredup karena sensor tidak mendeteksi banyak aktivitas.
Suasana menjadi semakin gelap.
Alyssa duduk di dekat pintu.
Perutnya mulai lapar.
Ia kembali mencoba ponselnya.
Masih tidak ada sinyal.
Ia mengetuk pintu lebih keras.
"Tolong!"
"Ada orang di luar?"
"Tolong buka pintunya!"
Namun gudang itu terlalu jauh dari area kerja.
Tak ada satu pun suara yang menjawab.
Alyssa mulai memeluk kedua lututnya.
Ia mencoba menenangkan diri.
"Tenang..."
"Pasti ada yang mencariku."
"Lucas pasti sadar."
Meski begitu...
Jam terus berjalan.
Dua jam menjadi tiga jam.
Dan di dalam gudang yang semakin gelap itu...
Alyssa mulai merasakan kembali ketakutan yang dulu pernah ia rasakan saat dikurung semasa kecil.
Tanpa ia sadari...