Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.
Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.
Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ainun: Aku Wanita Murahan?
Ainun masih berdiri mematung. Napasnya tersengal, sementara dadanya naik turun menahan ketakutan yang belum juga mereda.
Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari empat pria yang masih berada di tengah jalan.
Ia hanya bisa menyaksikan perkelahian itu dengan tubuh yang terus gemetar.
Beberapa saat kemudian, satu per satu tubuh ketiga preman itu jatuh membentur aspal.
Mereka meringis kesakitan, tak lagi mampu bangkit.
Suasana kembali hening. Hanya suara embusan napas yang terdengar di tengah jalan yang lengang.
Ainun menelan ludah. Perlahan, pandangannya beralih kepada pria yang berdiri membelakanginya.
Pria itu masih berdiri tegak dengan napas yang sedikit memburu.
Ketika sosok itu berbalik, mata Ainun langsung membulat.
“Pak Faizan...?” ucapnya lirih, seolah tidak percaya.
Pak Faizan segera menghampirinya.
“Bu Ainun,” panggilnya dengan nada cemas. Tatapannya menyusuri wajah Ainun yang dipenuhi air mata. “Ibu tidak apa-apa?”
Ainun membuka bibirnya, tetapi tak satu pun kata berhasil keluar.
Kelopak matanya kembali memanas. Seluruh ketakutan yang sejak tadi berusaha ditahannya seakan runtuh dalam sekejap.
Tanpa sempat berpikir panjang, ia melangkah mendekat.
Lalu...
Bruk.
Ainun memeluk tubuh Pak Faizan erat. Tubuhnya bergetar hebat. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya tumpah membasahi pipi.
“Saya...” Suaranya tercekat oleh isak. “Saya takut sekali.”
Tangannya semakin erat mencengkeram bagian belakang kemeja pria itu.
Bahu Ainun naik turun menahan tangis yang pecah begitu saja.
Di sisi lain.
Di balik gelapnya malam, sebuah mobil hitam masih terparkir di sisi jalan.
Di balik kemudi, Sagara duduk tanpa bergerak. Sejak tadi, tatapannya tidak pernah lepas dari sosok Ainun.
Awalnya, ia sudah membuka pintu mobil. Jemarinya bahkan sempat menggenggam gagang pintu, bersiap turun saat melihat tiga pria itu menyeret Ainun.
Namun...
Belum sempat ia melangkah keluar, seorang pria datang lebih dulu.
Pria itu menghajar ketiga preman tersebut tanpa ragu, lalu menghampiri Ainun.
Sagara kembali menutup pintu mobil, mengurungkan niatnya untuk membantu.
Tatapannya tetap tertuju ke depan. Di tambah melihat Ainun berlari menghampiri pria itu, lalu memeluknya sambil menangis.
Rahangnya mengeras. Jemarinya perlahan mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih.
Brak!
Tinju kanannya menghantam setir dengan keras.
Napasnya memburu. Sorot matanya masih terpaku pada dua sosok yang berdiri tidak jauh dari sana.
“Murahan,” desisnya pelan.
Brak!
Sekali lagi tinjunya menghantam setir.
“Sial.”
Tanpa ingin melihat pemandangan itu lebih lama, Sagara segera menyalakan mesin mobil.
Deru mesin memecah keheningan malam.
Beberapa detik kemudian, mobil itu melaju meninggalkan lokasi, sementara tatapannya tetap lurus ke depan tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Sedangkan, isak Ainun mulai mereda.
Ia mengembuskan napas panjang, berusaha menenangkan debar jantungnya yang masih belum beraturan.
Baru saat itulah ia menyadari apa yang sedang dilakukannya.
Matanya membelalak.
Dengan tergesa, Ainun melepaskan pelukannya, lalu mundur beberapa langkah. Wajahnya memerah karena malu.
“M-maaf, Pak,” ucapnya lirih sambil menundukkan kepala. “Saya lancang.”
Pak Faizan menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa, Bu Ainun,” ujarnya lembut. “Yang penting Ibu selamat.”
Beberapa saat mereka sama-sama terdiam.
Tatapan Pak Faizan kembali mengarah kepada Ainun yang masih tampak pucat.
“Bu Ainun,” panggilnya pelan. “Kenapa Ibu ada di sini malam-malam? Bahaya kalau sendirian.”
Ainun menggigit bibir bawahnya. “Malam ini saya habis dari...”
Kalimatnya menggantung.
‘Aku harus menjawab apa?’
Ia tidak mungkin menceritakan semua yang terjadi di rumah orang tuanya ataupun hubungannya dengan Sagara.
Sebelum sempat mencari alasan, Pak Faizan kembali membuka suara.
“Ayo, Bu. Saya antar pulang.”
Ainun menatap pria itu.
‘Kalau aku menolak... bagaimana kalau orang-orang tadi kembali lagi?’
Tubuhnya masih mengingat jelas rasa takut beberapa menit yang lalu.
Perlahan ia mengangguk.
“Maaf, Pak,” ucapnya pelan. “Saya merepotkan Bapak lagi.”
Pak Faizan tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Ayo.”
Ainun mengikuti langkah pria itu menuju sepeda motor yang terparkir di pinggir jalan.
Tanpa sadar, pandangannya tertuju pada punggung Pak Faizan.
‘Beliau baik... dan tadi berani melawanku demi menyelamatkanku.’
Ia segera menggeleng pelan.
‘Astaghfirullah... jangan berpikir macam-macam, Ainun.’
“Ayo, Bu,” panggil Pak Faizan sambil mengenakan helm.
Ainun tersadar dari lamunannya.
“Iya, Pak.”
Ia menerima helm yang disodorkan, lalu memakainya sebelum naik ke atas motor.
Pak Faizan menoleh sekilas.
“Sudah siap, Bu Ainun?”
Ainun mengangguk. “S-sudah.”
Tak lama kemudian, motor melaju meninggalkan lokasi itu.
Sepanjang perjalanan, Ainun beberapa kali memberi petunjuk arah agar tidak sampai ke rumah yang sebenarnya.
Ia tidak ingin Pak Faizan mengetahui tempat tinggalnya bersama Sagara.
Beberapa menit kemudian, Pak Faizan memperlambat laju motornya.
“Loh,” ucapnya heran. “Bukankah ini bukan jalan menuju rumah Ibu?”
Ainun terdiam sesaat.
“Eh... saya sedang menginap di rumah ipar saya, Pak,” jawabnya sambil memaksakan senyum.
Pak Faizan mengangguk pelan.
“Oalah, begitu.”
Ainun segera menunjuk ke arah depan.
“Berhenti di perempatan saja, Pak.”
“Baik.”
Motor itu pun berhenti di tepi jalan.
Ainun segera turun, lalu melepaskan helm dan mengembalikannya kepada Pak Faizan.
“Aduh,” ucapnya sambil tersenyum canggung. “Maaf sudah merepotkan Bapak lagi.”
Pak Faizan menerima helm itu sambil menggeleng.
“Tidak apa-apa, Bu Ainun.”
Ainun tersenyum tipis.
“Besok saya traktir Bapak makan mi ayam bakso sebagai ucapan terima kasih.”
Pak Faizan terkekeh pelan.
“Baiklah. Saya tunggu besok, Bu Ainun.”
Ainun mengangguk.
“Iya, Pak. Hati-hati di jalan.”
Tak lama kemudian, motor yang dikendarai Pak Faizan melaju meninggalkan perempatan.
Ainun berdiri hingga lampu belakang motor itu menghilang di kejauhan.
Barulah ia berbalik.
Dengan langkah pelan, Ainun memasuki kompleks perumahan sambil memeluk kedua lengannya sendiri.
‘Syukurlah... malam ini aku masih diberi kesempatan untuk pulang dengan selamat.’
.
Langkah Ainun akhirnya terhenti tepat di depan pintu rumah.
Ia mengembuskan napas panjang, berusaha menenangkan dirinya sebelum meraih gagang pintu.
Perlahan, pintu itu terbuka.
Suasana di dalam rumah begitu gelap. Tak ada satu pun lampu yang menyala.
Ainun melangkah masuk dengan hati-hati.
Brak.
Pintu tertutup di belakangnya.
Klik.
Lampu ruang tamu mendadak menyala.
Ainun tersentak. Matanya refleks menoleh ke arah sumber cahaya.
‘Mas Sagara…?”
Di sana, Sagara duduk di salah satu sofa dengan kedua kaki terbuka sedikit. Tatapannya lurus menembus wajah Ainun, begitu dingin hingga membuat tengkuk wanita itu meremang.
“Wanita murahan.”
Suara itu memecah keheningan.
“Mas...” lirih Ainun.
Sagara bangkit dari duduknya.
Suara langkah sepatu pantofelnya menggema di ruang tamu yang sunyi. Setiap langkah pria itu membuat jantung Ainun berdetak semakin cepat.
“Pria mana lagi yang kamu goda?” tanyanya datar.
Ainun membeku.
Ia hanya menatap wajah Sagara yang kini berhenti tepat di hadapannya.
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪