Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.
Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.
Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.
Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasil Autopsi
Gilang refleks menoleh ke arah Prisa yang berdiri di sudut ruangan. Wajah arwah gadis itu sendu, seperti wanita yang baru patah hati.
Jangankan merasa iba, yang ada Gilang kesal setengah mati. Pasalnya sudah dua kali arwah Prisa merasukinya. Pertama dia hampir mencelakai temannya sendiri, dan sekarang harga dirinya hancur berserakan tanpa sisa.
“Maaf ya, Pak kalau saya sudah membuat kerusuhan. Saya boleh pergi, kan?” tanya Gilang sambil bangkit dari duduknya.
“Ya, silakan. Ingat, jangan buat onar lagi.”
Gilang mengangguk pelan lalu segera meninggalkan ruangan itu. Tanpa menghiraukan Prisa mengikutinya atau tidak, Gilang terus berjalan. Dia ingin segera meninggalkan pusat perbelanjaan itu.
Pemuda itu segera menaiki sepeda motornya, kembali ke kosnya untuk beristirahat. Tubuhnya pegal seperti habis menjadi kuli panggul.
Sesampainya di kos, Gilang langsung membersihkan dirinya. Guyuran air dingin setidaknya membuat tubuhnya sedikit segar. Begitu keluar dari kamar mandi, tampak Nilan dan Prisa sudah berada di kamarnya. Prisa masih terlihat murung seperti sebelumnya.
“Lang, kasihan Prisa,” ujar Nilan.
“Bodo,” sahut Gilang tak peduli. Pemuda itu langsung merebahkan tubuhnya dan berbaring dengan posisi membelakangi dua arwah itu.
Karena tidak ada reaksi apa pun dari Gilang, Nilan memilih menghibur Prisa yang masih terpukul.
“Jangan sedih lagi, Pris. Wajar aja kalau pacar kamu nggak mengenalimu. Soalnya kamu masuk ke tubuhnya Gilang. Siapa juga yang nggak kaget. Tiba-tiba ada laki-laki yang meluk dan bilang cinta sama dia. Itu artinya pacar kamu normal.”
Gilang yang mendengar percakapan itu bergidik sendiri membayangkan dirinya memeluk kekasih Prisa sambil membisikkan kata cinta.
Kampret … kampret … gini amat nasib gue. Apa dosa hamba, ya Allah.
***
Di tempat berbeda, Nino dan Asep sedang mendatangi orang yang akan dijadikan Miko sebagai anggota tambahan untuk membantu tugas mereka berdua.
Tak lama kemudian, keduanya tiba di Apartemen Grand Amaris, sebuah apartemen kalangan menengah ke atas yang ada di tengah kota Bandung.
Mereka segera menuju lantai 12, tempat di mana unit yang ditinggali Pradipta berada.
Sesampainya di lantai 12, Miko segera menekan bel yang ada di samping pintu. Tak butuh waktu lama pintu unit langsung terbuka. Dari baliknya muncul seorang pria bertubuh jangkung, badannya kurus, rambut sedikit ikal dan berkacamata.
“Dengan saudara Pradipta Kusuma?” tanya Nino.
“Iya,” jawab Pradipta sambil memandang Nino dan Asep. Instingnya mengatakan kedua pria itu berasal dari kepolisian.
Nino dan Asep segera mengeluarkan kartu identitasnya. Pradipta hanya bisa mengembuskan napas panjang. Akhirnya hukuman itu datang juga. Miko memang memberikan opsi padanya. Hukuman penjara bisa diganti dengan pekerjaan sosial.
Pradipta memilih pekerjaan sosial daripada harus mendekam di penjara. Namun ternyata pekerjaan sosial yang dimaksud Miko adalah membantu unitnya dalam menangkap pelaku kejahatan secara sukarela.
“Silakan masuk,” Pradipta membuka pintu lebih lebar, mempersilakan Nino dan Asep untuk masuk.
Mata Nino dan Asep langsung menyapu seisi unit. Rupanya unit yang ditinggali Pradipta tipe studio. Hanya ada satu kamar saja. Tidak ada pembatas di bagian tengah ruangan.
Namun begitu, semua barang yang ada di unit ini merupakan barang mewah.
“AKP Miko sudah mengatakan padamu soal tugas sosial yang harus kamu lakukan, kan?” Nino membuka pembicaraan.
“Ya.”
“Kami punya tugas pertama untukmu.”
Asep mengeluarkan ponsel Prisa yang masih terbungkus plastik bening.
“Aku mau kamu membuka ponsel ini dan mencari tahu isi di dalamnya. Tapi gunakan sarung tangan. Jangan sampai ada sidik jarimu di sana.”
“Berapa lama kamu bisa membukanya?” tanya Nino.
“Entah.”
Pradipta tersentak saat Asep menggebrak meja dengan tangannya. Wajahnya pun sudah tidak seramah tadi. Pria itu menelan ludahnya kelat. Dengan suara pelan dia menjawab, “Baiklah. Besok kalian bisa ke sini. Aku jamin sudah selesai.”
“Bagus. Kabari kami kalau sudah selesai,” Nino meletakkan kartu namanya di atas meja.
“Baiklah.”
Pradipta tidak punya pilihan kecuali mengiyakan perkataan Nino. Tanpa berlama-lama, dua petugas itu segera meninggalkan unit Pradipta.
Saat keduanya berada di dalam lift, ponsel Nino bergetar. Melihat nama sang pemanggil adalah dokter Bagas, Nino langsung menjawabnya. “Halo.”
“Aku sudah selesai mengautopsi jenazah Prisa. Kalian bisa ke rumah sakit sekarang?”
“Baik, dokter.”
Begitu lift tiba di lantai dasar, Nino dan Asep bergegas menuju mobil. Keduanya langsung menuju rumah sakit tempat dokter Bagas bertugas.
Hanya butuh waktu dua puluh menit untuk tiba di sana. Dokter Bagas sudah menunggu kedatangan keduanya di ruang kerjanya.
“Apa hasil autopsinya, dokter?”
“Di dalam darah korban ditemukan zat LSD atau Lysergic Acid Diethylamide. Zat ini sejenis narkotika yang bisa membuat orang yang mengonsumsinya mengalami delirium atau berhalusinasi.”
“Jadi ada kemungkinan Prisa mengonsumsi LSD yang membuatnya mengalami halusinasi?”
“Berdasarkan hasil autopsi, itulah penjelasan yang paling masuk akal. LSD bisa merusak korteks serebral yaitu pusat otak untuk mengambil keputusan dan memecahkan masalah.”
“Bisa jadi dalam halusinasinya, dia tidak berada di rooftop tapi di tempat lain,” terka Asep.
“Bisa jadi. Dan tugas kalian menyelidiki itu.”
“Apa ada yang lain?”
“Oh ya, Prisa sedang hamil enam minggu.”
“Apa?”
Refleks Nino dan Asep saling berpandangan. Berbagai spekulasi langsung bermunculan di benak mereka. Dari pengakuan awal Prisa, gadis itu tidak bunuh diri.
Ditambah lagi ketika Nino masuk ke ingatan terakhir korban, semakin meyakinkan keduanya bahwa ada yang ganjil dengan kematian Prisa. Gadis itu tidak bunuh diri.
“Hasil autopsinya sudah aku kirimkan melalui e-mail. Miko pasti sudah menerimanya sekarang.”
“Baiklah, terima kasih dokter. Jenazah korban sudah bisa dikembalikan ke keluarganya, kan?”
“Ya. Jenazah sudah bisa diambil besok.”
“Kami permisi dulu, dok.”
Nino dan Asep meninggalkan ruang kerja dokter Bagas. Saat menuju pintu keluar, Nino menghubungi Gilang. “Halo,” terdengar suara Gilang dari seberang.
“Ambil pakaianmu, untuk sementara kamu tinggal dengan kami. Aku akan mengirimkan lokasi padamu. Ajak Prisa dan Nilan juga.”
Tanpa menunggu jawaban Gilang, Nino langsung mengakhiri panggilan. Menurutnya akan lebih efisien jika Gilang tinggal bersama mereka. Ahqam dan Eris juga bisa membantu mengawasi arwah Prisa dan Nilan.
***
Dalam waktu setengah jam, Nino dan Asep sudah tiba di kediamannya. Di depan rumah, tampak Gilang sudah menunggu. Pemuda itu duduk di atas motornya sambil memainkan ponselnya. Dia membawa ransel berukuran cukup besar.
Tak jauh dari pemuda itu tampak arwah Nilan dan Prisa.
Asep segera meminta Gilang memasukkan motor ke pekarangan rumah. Setelahnya pemuda itu mengikuti dua petugas polisi itu masuk ke dalam rumah.
“Kamu bisa tidur di kamar itu. Untuk sementara, sampai kasus ini selesai, kamu akan tinggal bersama kami. Selain untuk efisiensi waktu, kamu adalah orang yang pertama kali menunjukkan lokasi mayat Nilan. Takutnya kamu juga diincar oleh pembunuhnya.”
Mendengar itu Gilang langsung menyetujui usulan Asep. Dia sudah cukup pusing menghadapi dua arwah yang mengikutinya. Sepertinya dia tidak cukup mental jika harus menjadi incaran pembunuh Nilan juga.
“Ada kejadian apa hari ini?” tanya Asep. Sekarang ketiganya sudah berkumpul di ruang tengah.
“Hari ini Prisa merasuki Gilang lagi. Saat kami jalan-jalan di mal, Prisa bertemu dengan kekasihnya. Dia langsung masuk ke tubuh Gilang dan kehebohan pun terjadi,” ujar Nilan sambil melihat pada Gilang. Wajah pemuda itu tampak masam. Dia masih dalam mode ngambek pada Prisa.
***
Ini penampakan Asep versiku skrg
aaciieeeee.....
Ahqam cosplay jd Tom Cruise...emmhh biar Eris makin semakin...huweee /Puke//Facepalm/