Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30 - Kian Mahendra
Kian Mahendra datang ke rumah sakit tanpa membuat keributan.
Itu yang membuatnya lebih berbahaya.
Naya sedang menunggu hasil kontrol kandungan di lorong VIP ketika laki-laki itu duduk dua kursi darinya. Kemejanya putih, lengan digulung, jam tangannya mahal tetapi tidak mencolok. Wajahnya terlalu tenang untuk orang asing yang tiba-tiba tersenyum padanya.
"Naya Prameswari?"
Naya langsung berdiri.
Pengawal perempuan di belakangnya bergerak maju.
Kian mengangkat kedua tangan. "Santai. Kalau saya mau menculik, saya tidak akan datang ke rumah sakit milik Arkan Wiratama."
Naya tidak duduk lagi.
"Siapa Anda?"
"Kian Mahendra."
Nama itu tidak berarti apa-apa baginya.
Tapi pengawal perempuan itu berubah wajah.
"Mbak, kita masuk saja."
Kian tersenyum. "Wah, masih ada yang ingat reputasi saya."
Naya menatapnya. "Saya tidak punya urusan dengan Anda."
"Belum."
Ia meletakkan amplop kecil di kursi.
"Saya punya sesuatu tentang malam kamu melahirkan."
Dunia Naya berhenti.
Pengawal perempuan berkata cepat, "Mbak, jangan ambil."
Naya tetap melihat amplop itu.
"Dari mana Anda dapat?"
"Saya punya kebiasaan buruk mengumpulkan barang yang orang kaya kira sudah hilang."
"Anda orang Rania?"
Kian tertawa. "Rania tidak pernah punya orang. Dia hanya menyewa ketakutan orang lain."
Kalimat itu terlalu tepat.
Naya tidak mau percaya, tetapi tangannya bergerak.
Sebelum ia menyentuh amplop, tangan lain mengambilnya.
Arkan.
Ia berdiri di depan Naya, wajah dingin.
"Jauh dari dia."
Kian menatap Arkan dari atas ke bawah, lalu tersenyum lebih lebar.
"Akhirnya bertemu juga, Pak Arkan. Saya kira konglomerat seperti Anda lebih suka muncul setelah semua orang selesai berdarah."
Pengawal di belakang Arkan bergerak, tetapi Arkan mengangkat tangan.
"Apa maumu?"
"Pertanyaan yang membosankan."
"Jawab."
"Saya ingin bicara dengan Naya."
"Tidak."
Naya mengambil amplop dari tangan Arkan.
Arkan menoleh. "Naya."
"Kalau isinya tentang anak saya, saya yang berhak membuka."
Kian memiringkan kepala, menikmati ketegangan itu.
Naya membuka amplop.
Di dalamnya ada fotokopi catatan rumah sakit lama. Buram, tetapi masih terbaca sebagian. Nama pasien: Naya Prameswari. Waktu lahir: 02.17 dan 02.24. Bayi laki-laki dan bayi perempuan. Di bagian bawah ada tanda tangan bidan yang pernah disebut dalam berkas, lalu stempel rumah sakit yang dulu dikatakan hilang.
Ada satu catatan tangan:
`Bayi perempuan dipindahkan bukan atas permintaan ibu.`
Naya hampir kehilangan tenaga.
Arkan memegang sikunya. Kali ini ia tidak menepis.
"Ini asli?" tanya Arkan pada Kian.
"Fotokopi dari asli."
"Di mana aslinya?"
"Aman."
"Berapa?"
Kian tertawa. "Lihat? Selalu uang. Makanya orang seperti kalian mudah dibaca."
Arkan menatapnya dingin.
Naya bertanya, "Kenapa memberikan ini pada saya?"
Kian menatapnya.
Untuk sesaat, senyumnya hilang.
"Karena kamu satu-satunya orang di cerita ini yang kehilangan sesuatu tanpa pernah tahu siapa semua pencurinya."
"Semua?"
Kian tidak menjawab.
Pintu ruang dokter terbuka. Perawat memanggil nama Naya, tetapi tidak ada yang bergerak.
Arkan berkata, "Kalau kamu punya bukti, serahkan ke pengacara."
"Pengacara bisa dibeli."
"Ke polisi."
"Polisi bisa ditidurkan."
"Ke saya."
Kian tersenyum lagi. "Anda paling mahal untuk dibeli, Pak Arkan. Tapi orang mahal juga punya harga. Biasanya bernama keluarga."
Arkan maju setengah langkah.
Naya menahan lengannya.
Gerakan kecil itu membuat mata Kian turun ke tangan Naya di lengan Arkan.
"Menarik," katanya pelan. "Kamu masih takut padanya, tapi tubuhmu sudah tahu dia bisa dijadikan pagar."
Naya melepas tangan cepat.
Arkan menatap Kian seperti ingin menghancurkannya.
"Jangan bicara tentang tubuhnya."
"Kenapa? Karena Anda pernah terlambat bertanya apa yang dia mau?"
Udara lorong menegang.
Naya merasa mual naik ke tenggorokan.
"Cukup."
Dua laki-laki itu menoleh padanya.
Naya memegang amplop erat-erat. "Kalau Anda datang hanya untuk membuat Pak Arkan marah, pergi. Kalau Anda punya jawaban, bicara."
Kian menatapnya lama.
Lalu ia berdiri.
"Jawaban lengkap terlalu mahal untuk diberikan di lorong."
"Apa maunya Anda?"
"Nanti saya kabari."
"Saya tidak akan datang sendirian."
"Saya tahu. Pak Arkan pasti ikut. Dia sedang belajar menjadi bayanganmu."
Arkan berkata rendah, "Kian."
Kian berjalan mundur satu langkah, masih tersenyum.
"Tenang. Saya tidak menyentuh ibu hamil."
Naya membeku.
Arkan langsung menatapnya.
Kian mengangkat alis. "Oh. Itu belum jadi pengumuman keluarga?"
"Siapa yang memberitahumu?" tanya Naya.
"Rumah sakit punya dinding. Dinding punya telinga. Telinga punya cicilan."
Ia menepuk saku jasnya.
"Tapi jangan khawatir. Saya bukan Rania. Saya tidak tertarik memakai bayi untuk menekanmu."
"Lalu tertarik pada apa?"
Senyum Kian tipis.
"Pada orang yang tetap berdiri setelah semua orang mengira dia sudah selesai."
Ia berbalik pergi.
Arkan memberi isyarat pada pengawal untuk mengikuti, tetapi Kian menoleh sebelum masuk lift.
"Jangan buang tenaga. Orang saya sudah menunggu orang Anda."
Lift terbuka.
Sebelum pintu menutup, Kian berkata pada Naya, suaranya cukup jelas untuk membuat lorong membeku.
"Rania memang mencuri anakmu. Tapi yang membuka pintu ruang bayi malam itu bukan Rania."
Naya menahan napas.
Arkan menegang.
Kian tersenyum tanpa hangat.
"Pencuri sebenarnya masih duduk di meja keluarga Wiratama."
Pintu lift tertutup.
Amplop di tangan Naya terasa sangat berat.
Untuk pertama kalinya, kecurigaan tidak lagi hanya mengarah ke keluarga Pradipta.
Ia berbalik menatap Arkan.
"Apa maksudnya?"
Arkan tidak menjawab cukup cepat.
Dan jeda itu membuat Naya kembali takut.
"Ada kemungkinan orang dalam membantu Rania," kata Arkan akhirnya.
"Orang dalam siapa?"
"Rumah sakit. Rumah Wiratama. Mungkin keduanya."
Naya mundur satu langkah. "Dan Bapak baru bilang sekarang?"
"Aku belum punya nama."
"Saya tidak tanya nama. Saya tanya kenapa saya harus dengar dari orang asing."
Arkan tidak menjawab.
Karena kali ini, Naya benar.
Perawat memanggil lagi dari pintu. "Bu Naya, dokter sudah menunggu."
Naya menatap amplop di tangannya, lalu perutnya sendiri. Bayi di dalam tubuhnya tidak peduli siapa berbohong, siapa menyembunyikan bukti, siapa terlambat bicara. Tubuhnya tetap butuh diperiksa.
"Saya masuk sendiri."
Arkan langsung berkata, "Aku tunggu di luar."
"Tidak perlu."
"Naya..."
"Bapak selalu menunggu di luar, lalu terlambat tahu apa yang terjadi di dalam."
Kalimat itu membuat wajah Arkan berubah.
Naya masuk ke ruang dokter dan menutup pintu.
Di luar, Arkan berdiri dengan amplop fotokopi yang tadi sempat ia lihat. Raka datang terburu-buru dari lift lain.
"Pak, orang kita kehilangan Kian di parkiran. CCTV mati tiga menit."
"Tiga menit?"
"Iya. Sama seperti pola di rumah sakit lama Naya empat tahun lalu. Ada jeda listrik pendek sebelum catatan bayi dipindah."
Arkan menatap pintu ruang periksa.
"Cari teknisi listrik lama. Cari semua orang yang pernah bekerja di ruang bayi malam itu."
"Baik."
"Dan Raka."
"Ya, Pak?"
"Mulai sekarang, jangan ada informasi tentang Naya lewat sistem rumah sakit kita."
Raka mengerti. "Pak curiga orang dalam masih aktif?"
Arkan menatap lift tempat Kian menghilang.
"Aku curiga dia sengaja membuat kita sadar."
Di dalam ruang dokter, Naya berbaring saat alat USG bergerak di perutnya. Dokter menunjukkan titik kecil di layar.
"Detaknya stabil."
Naya menatap layar hitam putih itu.
Suara detak yang halus memenuhi ruangan.
Ia memejamkan mata.
"Dok, kalau saya sering stres, dia bisa..."
"Kita jaga bersama. Tapi Ibu juga perlu lingkungan yang aman."
Naya hampir tertawa.
Lingkungan aman terdengar seperti cerita orang lain.
Setelah pemeriksaan selesai, ia membuka ponsel. Ada pesan dari nomor tidak dikenal.
Foto lama.
Ruang bayi rumah sakit. Buram. Di pojok, seorang perempuan berseragam perawat sedang menyerahkan bungkusan bayi kepada seseorang. Wajah penerima tidak jelas, tetapi tangannya memakai cincin keluarga Wiratama yang sangat khas.
Pesan berikutnya hanya satu kalimat:
`Tanya Arkan siapa di keluarganya yang memakai cincin itu.`
Naya keluar dari ruang dokter dengan wajah pucat.
Arkan langsung mendekat. "Hasilnya?"
Naya mengangkat ponsel.
"Saya juga ingin tahu hasilnya."
Arkan melihat foto itu.
Untuk pertama kalinya sejak Naya mengenalnya, wajah Arkan benar-benar kehilangan warna.
Naya menatapnya.
"Jangan bilang Bapak tidak tahu cincin itu."
Arkan membuka mulut.
Tidak ada suara keluar.
Dan di balik semua kebohongan Pradipta, pintu menuju kebusukan rumah Wiratama akhirnya terbuka sedikit.
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕