Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.
setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu kembali dengan Om adit
Siang itu, matahari Kota C bersinar terik. Di area taman bermain sekolah Al ghajali.Dua anak kecil sedang asyik bermain di atas perosotan.
"Ayo, Kenzo! Cepat!" seru Zahra dari bawah perosotan, tangannya bertepuk-tepuk riang.
Kenzo, seorang bocah laki-laki berusia 4 tahun dengan rambut agak keriting, meluncur turun dengan cepat. "Hahaha! Zahra, kamu lambat!" ejeknya bercanda.
Mereka berdua tertawa lepas. Persahabatan mereka baru terjalin beberapa hari, namun rasanya seperti sudah kenal lama.
Tiba-tiba, suara langkah kaki dewasa terdengar mendekat. Langkah kaki yang berat, tegas, dan berirama.
Para guru yang berada di dekat taman bermain segera membungkuk hormat.
"Pak Aditya," sapa Kepala Sekolah yang berjalan mengiringi seorang pria tinggi besar.
Pria itu mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku. Wajahnya tampan, dingin, dan memancarkan aura otoritas yang kuat. Itu adalah Aditya Praja Kusuma, pemilik sekolah Al-Ghajali sekaligus pengusaha terbesar di Kota C.
Adit mengangguk singkat pada Kepala Sekolah, matanya menyapu area taman bermain. Ia datang hari ini untuk menjemput keponakannya, Kenzo. Adik iparnya menelpon pagi tadi, meminta tolong menjemput Kenzo karena ada urusan darurat di luar kota.
Namun, ada alasan lain yang tidak ia ucapkan. Sejak pertemuan di mall tiga hari yang lalu,saat ia menemukan seorang gadis kecil menangis karena kehilangan ibunya,pikiran Adit tidak tenang. Gadis kecil itu... Zahra... terus menghantuinya. Bukan karena ia merasa bertanggung jawab, tapi karena ada sesuatu yang sangat familiar dari mata anak itu.
"Di mana Kenzo?" tanya Adit datar.
"Sepertinya beliau sedang bermain di area perosotan, Pak," jawab Kepala Sekolah sambil menunjuk.
Adit mengikuti arah jari tersebut. Matanya yang tajam langsung terkunci pada dua sosok kecil itu. Kenzo sedang berpelukan dengan seorang gadis kecil berseragam biru.
Zahra.
Jantung Adit berdegup lebih cepat dari yang ia inginkan. Gadis kecil yang ia temukan di mall tiga hari lalu. Gadis kecil yang ibunya tidak sempat ia temui karena ia harus segera pergi ke rapat.
Adit melangkah mendekati mereka. Namun, saat ia semakin dekat, pandangannya tidak lagi tertuju pada Kenzo.
Matanya terpaku pada Zahra.
Zahra sedang tertawa, kepalanya mendongak menatap Kenzo. Sinar matahari sore menembus dedaunan, menciptakan efek halo di sekitar rambut ikal kecilnya. Saat Zahra menoleh sedikit ke samping, profil wajahnya terlihat jelas.
Sebuah sensasi aneh menjalar dari dada Adit hingga ke ujung jarinya.
Mata itu lagi....
Bentuk mata Zahra yang bulat, sedikit sipit saat tersenyum, dan warna cokelat hangatnya... itu sangat, sangat familiar. Adit merasa seolah-olah waktu mundur tujuh tahun ke belakang.
Ia mengingat sepasang mata yang selalu menatapnya dengan penuh cinta. Mata yang menjadi satu-satunya sumber kehangatan di hidupnya yang dingin. Mata Davina.
Tujuh tahun lalu, Davina adalah seluruh dunianya. Wanita itu pernah mencintainya dengan begitu tulus, pernah membuatnya percaya bahwa ia bisa menjadi pria yang lebih baik. Tapi kemudian,ada suatu alasan yang membuat hubungan mereka berakhir dan alasan itu adalah hanya Adit yang tahu.
Dan sekarang, melihat mata gadis kecil ini... Adit merasa seperti melihat bayangan Davina di masa lalu. Bukan karena Zahra adalah anaknya.
Adit tahu itu tidak mungkin, karena Davina sudah menikah dengan Rio,tapi karena Zahra mirip dengan Davina. Sangat mirip.
"Om Adit!" seru Kenzo, menyadari kehadiran pamannya. Ia berlari menghampiri Adit.
Adit tersadar dari lamunannya. Ia berjongkok, merangkul Kenzo, namun matanya masih tertuju pada Zahra yang kini berdiri malu-malu di belakang Kenzo.
Zahra mengenali Adit. Matanya berbinar saat melihat pria yang pernah membantunya di mall.
"Om Adit!" seru Zahra ceria, berlari menghampiri Adit. "Om ingat Zahra? Kita ketemu di mall kan?"
Adit tersenyum tipis, senyuman yang jarang ia berikan pada siapa pun. "Om ingat, Zahra. Bagaimana kabarmu?"
"Zahra baik! Zahra sudah ketemu Mamah lagi," jawab Zahra polos.
Adit mengangguk, karena adit juga melihat waktu di mall ada seorang wanita berlari tergesa-gesa menghampiri zahra.
Adit yakin perempuan itu adalah ibunya zahra.Karena kondisinya yang sudah mepet.Adit harus mengorbankan waktu lebih dari setengah jam , sehingga menunda rapat penting.
Hanya karena menemukan seorang anak hilang.Sehingga Adit tidak sempat bertemu dengan ibu zahra.Karena Adit juga terburu - buru meeting dengan klien penting dari luar kota.
Tapi sekarang, melihat Zahra... entah kenapa ia semakin yakin bahwa ada sesuatu yang menghubungkan gadis kecil ini dengan Davina.
"Om, Zahra teman baik Kenzo," kata Kenzo bangga. "Zahra pintar dan lucu!"
Adit menatap Zahra sekali lagi. "Om senang kamu punya teman baik, Kenzo. Dan Zahra..." ia berjongkok agar sejajar dengan gadis kecil itu, "...Om senang bertemu kamu lagi."
Zahra tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi susunya yang ompong.
Senyuman itu.
Adit merasakan dadanya sesak lagi. Senyuman Zahra... itu juga mirip. Mirip dengan senyuman Davina. Senyuman yang pernah membuat Adit rela menyerahkan seluruh hatinya.
Ada sesuatu yang menenangkan dari kehadiran Zahra. Gadis kecil itu tidak tahu siapa Adit sebenarnya, tidak tahu bahwa ia adalah pengusaha terkaya di Kota C. Zahra hanya melihatnya sebagai "Om Adit" yang baik, teman dari Kenzo, dan pria yang pernah membantunya saat ia tersesat.
Dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, Adit merasa... damai.
"Zahra!" panggil seorang guru dari kejauhan. "Mamahmu sudah datang!"
Zahra menoleh. Matanya berbinar. "Mamah!"
Ia berlari kecil menuju arah gerbang, meninggalkan Adit yang masih berjongkok di tempatnya.
Adit menatap punggung kecil Zahra yang menjauh. Hatinya terasa berat, namun juga hangat. Gadis kecil itu... dia adalah pengingat bahwa Davina pernah ada dalam hidupnya. Bahwa cinta itu pernah nyata.
Namun, saat Adit mengalihkan pandangannya ke arah gerbang, ia melihat seorang wanita berjalan tergesa-gesa menuju Zahra. Wanita itu mengenakan dress sederhana, rambutnya diikat rapi, dan wajahnya tertutup sebagian oleh bayangan topi.
Karena jarak dan sudut pandang, Adit tidak bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas. Wanita itu Davina,tiba-tiba di telepon oleh seseorang, sehingga ia membelok ke arah lain untuk mengambil sinyal, tidak melewati jalur utama tempat Adit berdiri.
Adit hanya melihat sekilas punggung wanita itu. Tidak cukup untuk mengenalinya.
"Om, ayo pulang!" ajak Kenzo, menarik tangan Adit.
Adit bangkit berdiri. Ia menatap Kenzo, lalu kembali menatap Zahra yang kini sedang memeluk seorang wanita di kejauhan.
"Iya, Nak. Ayo kita pulang," jawab Adit.
Ia menggenggam tangan Kenzo, berjalan keluar dari area taman bermain. Namun, pikirannya masih tertinggal di sana, bersama gadis kecil bermata cokelat yang mengingatkannya pada cinta yang tak pernah ia lupakan.
Di dalam mobil, Adit menatap kosong ke luar jendela. Kenzo sudah tertidur di sampingnya, kelelahan setelah bermain seharian.
"Davina..." bisik Adit pelan, nama yang telah lama ia hindari untuk diucapkan. "Apakah kamu bahagia sekarang?"
Ia tidak tahu bahwa wanita yang menjemput Zahra tadi adalah Davina—mantan kekasih yang masih ia cintai hingga detik ini. Ia hanya tahu bahwa melihat Zahra... membuatnya merasa seperti melihat Davina kembali.