"Mulai dari sekarang kamu adalah putraku, kamu yang akan menduduki tahta naga. Gantikan posisi kaisar, injaklah keparat itu."
Sang permaisuri berbisik sembari tersenyum, menatap ke arah seorang pangeran kecil berpakaian lusuh di istana terbuang.
Lin Krisan, merupakan putri tunggal dari jendral yang berkuasa. Diangkat menjadi permaisuri, setelah mendukung suaminya dari status pangeran hingga menjadi kaisar.
Namun, kasih sayang tidak didapatkannya. Kaisar lebih menyayangi para selirnya. Hingga pada akhirnya permaisuri Lin meninggal di istana dingin, setelah diracuni oleh kaisar.
Wanita yang terlahir kembali, kembali mengulangi waktu.
"Aku tidak akan berusaha merebut cintamu lagi. Tapi aku akan merebut tahtamu."
Menjadikan istana bagaikan papan catur, melucuti kekuasaan kaisar pengkhianat. Menjadikan putranya yang manis sebagai kaisar baru.
Tapi lebih dari itu, mata perdana menteri mengawasinya...atau menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Suri
Dayang dan Kasim yang mengikutinya tidak mengatakan apapun. Hanya tetap menunduk dan memberi hormat kepadanya, kembali mengikuti langkah permaisuri.
Mereka adalah orang-orang yang setia padanya. Mereka bahkan rela mati demi mengabdi kepada dirinya. Hanya saja pada kehidupan pertama dirinya yang terlalu bodoh. Tidak tahu mana yang tulus dan mana yang tidak.
Hanya mengikuti keinginan Kaisar. Hanya mematuhi semua larangannya, orang yang jahat bagi Kaisar maka akan jahat baginya.
Termasuk teman masa kecilnya perdana menteri yang selalu menjadi lawan politik Kaisar.
Permaisuri masih melangkah, matanya melirik ke arah istana naga. Tempat Kaisar berada, sudah pasti pria itu sedang memadu kasih dengan selir Shen.
Perlahan wajahnya tersenyum, dirinya juga tidak ingin melayani pria itu lagi. Jika dipikirkannya sekarang, benar-benar seorang pria yang begitu menjijikan.
***
Sementara itu di istana naga_
Selir Shen tengah dibersihkan oleh dayang, berada di kolam yang tidak begitu besar, tapi juga tidak begitu kecil. Sebuah kolam pemandian tertutup.
Sinar cahaya dari lilin, terlihat di sekitar area kolam. Siluet kain-kain tipis bagaikan menambah keindahan dan keromantisan tempat tersebut.
Kelopak bunga mawar bertaburan di atas kolam. Airnya terasa hangat, dirinya membersihkan tubuhnya. Benar-benar dibantu oleh dayang.
Hingga semua dayang menyingkir, dirinya mengetahui satu hal. Kaisar berada di tempat ini, walaupun pelipisnya sedikit terluka.
Tapi hal itu sepadan bagi selir Shen. Perhatian Kaisar akan sepenuhnya tertuju padanya. Tidak pada permaisuri yang bahkan belum memberikan keturunan. Sudah pasti itu karena sang permaisuri mandul.
Benar saja, dirinya berusaha tidak menoleh sama sekali. Riak air dari seseorang memasuki kolam.
Tiba-tiba saja tangan ke karakter ulur memeluknya dari belakang. Wajah Kaisar yang begitu rupawan. Walaupun lebih rupawan wajah perdana menteri. Tapi tetap saja wanita mana yang dapat menolak pesona pria ini.
“Yang mulia…” suara pelan dari selir Shen merasakan pipinya dicumbui oleh pria yang memeluknya dari belakang. Merasakan perlahan ciuman itu turun ke area leher, merasakan perlahan bahunya juga dirasai oleh bibir itu.
Dirinya hanya dapat memejamkan matanya, sensasi kenikmatan yang benar-benar indah. Kaisar selalu seperti ini, selalu luar biasa melakukannya di manapun. Itulah yang membuat dirinya tergila-gila.
Selir Shen membalik tubuhnya, menatap ke arah Kaisar dengan senyuman nakal.”Yang mulia, hamba merindukan yang mulia…” wanita yang memeluk Kaisar dalam dinginnya air kolam.
Matanya berkedip-kedip menatap ke arah pria ini. Tapi Kaisar bagaikan tidak fokus.
Kaisar sendiri ingin melampiaskan nafsunya. Matanya menatap ke arah selir Shen yang berada dalam pelukannya.
Bentuk tubuhnya, bahkan wajahnya. Bukankah permaisuri lebih indah?
“Yang mulia…” Entah kenapa siluet bayangan dari wajah selir Shen berubah menjadi sosok permaisuri sepersekian detik.
“Yang mulia…” suara yang juga bagaikan benar-benar berubah, menjadi suara permaisuri.
Dirinya sudah benar-benar gila? Semakin ditolak malah wanita itu terlihat semakin indah. Semakin sulit didapatkan maka wanita itu terlihat semakin menantang. Dirinya benar-benar sudah gila memikirkan tentang musuhnya. Bukan musuh lebih tepatnya, wanita yang dapat dimanfaatkan olehnya.
Kaisar mencium bibir Selir Shen, sebuah ciuman pelan. Perlahan menjadi penuh nafsu. Yang ada di bayangannya adalah melakukannya dengan permaisuri. Mencium bibir yang begitu indah itu, merasakan hangat tubuhnya. Walaupun sudah pasti dibandingkan dengan selir Shen bentuk lekuk tubuh permaisuri jauh lebih indah dan menantang.
“Yang…mulia…ha…hamba …” suara selir Shen terdengar.
“Tutup mulutmu…” bisik Kaisar melanjutkan kegiatannya. Tidak ingin bayangan permaisuri yang ada di otaknya berubah kembali menjadi selir Shen.
Air kolam yang bergerak tidak tenang, kelopak bunga bahkan mencapai tepi kolam. Mungkin karena indah gerakan mereka di dalam sana. Ketika Kaisar melampiaskan nafsunya. Ketika selir Shen menjerit merasakan kenikmatan pelan.
Sampai sekarang satu hal yang ada di pikiran Kaisar. Jika…Jika saja permaisuri benar-benar mandul. Dirinya tidak perlu takut untuk menyentuh permaisuri. Dirinya dapat menikmati tubuh permaisuri. Tapi bagaimana caranya membuat wanita itu tidak dapat memiliki keturunan?
***
Pagi mulai menjelang, suasana di istana Phoenix benar-benar berjalan seperti biasanya.
Semua dayang dan Kasim di tempat ini benar-benar tutup mulut. Sama sekali tidak menghianati majikan mereka.
Riri, dayang kepercayaan permaisuri saat ini, tengah membantu majikannya berpakaian.
“Punggung ku rasanya benar-benar pegal. Apakah ini rasanya menjadi seorang ibu? Apakah ini kelelahan menjadi seorang ibu?” Permaisuri menghela nafas melebih-lebihkan kegiatannya.
“Riri, hari ini aku ingin menggunakan pakaian dengan warna yang cerah dan mencolok. Gunakan pakaian berwarna ungu, pakai aksesoris yang paling mewah. Dan…sebelum memasuki istana Ibu suri, minta bantuan Kasim untuk mendata harta bawaanku yang hilang.” Wanita yang menguap beberapa kali.
“Baik yang mulia…” Riri melangkah, memberikan instruksi kepada Kasim.
Barulah kembali mendandani majikannya. Wanita yang biasanya berpenampilan begitu polos, kini berpenampilan mencolok.
“Yang mulia permaisuri, masalah yang mulia melukai selir Shen…” sang dayang terlihat berucap begitu ragu. Dapat ditebak olehnya ini akan memperkeruh hubungan antara ibu Suri dan permaisuri.
“Kenapa?” Krisan mengangkat salah satu alisnya.
“Selir Shen adalah keponakan dari ibu suri. Yang mulia permaisuri menghukum selir Shen. Ibu Suri pasti tidak akan tinggal diam, selama ini hubungan yang mulia permaisuri dan ibu Suri cukup baik. Hamba takut—” kalimat sang dayang disela.
“Dulu aku menganggap hubungan kami baik-baik saja. Aku menganggapnya bagaikan ibuku sendiri. Tapi kamu tahu, kebusukan seseorang dapat tersimpan dan merayap di dalam hatinya. Di depanmu mereka akan berkata hal-hal baik untuk memanfaatkanmu. Tapi di belakangmu? Mereka memandang jijik padamu. Karena yang mulia Ibu Suri ingin bermusuhan denganku…Bukankah itu adalah hal yang bagus.” Permaisuri kembali tertawa, hanya sebuah tawa kecil bukan tawa jahat seperti biasanya.
Satu persatu hiasan rambut dipakaikan oleh sang dayang. Berbagai hiasan rambut yang indah, terdapat beberapa rantai emas yang menjuntai, menambah indah dan anggun penampilannya. Hiasan rambut yang terbuat dari emas murni.
Permaisuri perlahan bangkit, penampilannya sedikit dirapikan lagi. Barulah hendak melangkah untuk memberikan salam pagi kepada Ibu suri.
Ini sudah bagaikan tradisi, di mana permaisuri dan para selir memberikan hormat setiap pagi kepada Ibu suri.
Semua orang menganggap dirinya lah yang paling disayangi. Semua orang menganggap Ibu Suri selalu berpihak kepadanya. Tapi di kehidupan pertama, setelah kekuatan keluarga Lin melemah. Setelah kasim dan dayang yang berada di sisinya disingkirkan satu persatu. Wajah asli ibu Suri terlihat.
Wanita itulah yang merekayasa dengan selir agung dan selir-selir lainnya. Agar dirinya ditempatkan di istana dingin.
Bahkan racun menahun yang membuat hidupnya berakhir. Ibu Suri sendiri yang meraciknya di dalam teh herbal. Hubungan mereka baik? Hanya dirinya yang menyayangi Ibu Suri bagaikan ibunya.
Tapi Ibu Suri sama sekali tidak.
Langkahnya terhenti, menatap ke arah Selir Shen yang menangis sesegukan, ditenangkan oleh ibu suri.
Semua selir di ruangan ini berbisik membicarakan dirinya.
“Hamba memberi hormat kepada yang mulia Ibu suri…” kalimat yang diucapkan oleh permaisuri, masih tetap dapat tersenyum ceria.
kalau Indomie baru selera ku🤭🤣🤣
🤣🤣🤣