Demi membalas budi kepada orang tua angkat yang membesarkannya, Eros Forger, CEO muda sukses, rela menerima perjodohan meski sudah memiliki kekasih yang dicintainya, Lura.
Ternyata, calon istrinya adalah Zenaya Harper, supermodel internasional yang cantik, mempesona, dan berhati tulus.
Awalnya Eros berusaha setia pada Lura, tetapi kebersamaannya dengan Zenaya perlahan menggoyahkan hatinya. Akankah ia tetap bertahan pada cinta pertamanya, atau justru jatuh cinta pada wanita yang semula tak pernah ia inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalicious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANTARA CANGGUNG DAN KEHANGATAN
Di meja makan, suasana mansion malam itu terasa berbeda.
Para pelayan terlihat sibuk menyiapkan hidangan makan malam, sementara Zenaya ikut berada di antara mereka. Wanita itu dengan penuh perhatian membantu menata beberapa hidangan di atas meja.
Beberapa kali para pelayan mencoba menghentikannya.
"Nyonya, biarkan kami saja yang menyiapkannya. Anda tidak perlu repot-repot membantu," ujar salah satu pelayan dengan sopan.
Namun Zenaya hanya tersenyum kecil dan tetap melanjutkan pekerjaannya.
"Tidak apa-apa. Aku ingin melakukannya sendiri," jawabnya lembut.
Ada kebahagiaan kecil yang ia rasakan saat menyiapkan makan malam untuk suaminya. Meskipun mansion itu memiliki banyak pelayan yang siap melakukan semuanya, Zenaya ingin memberikan sesuatu yang berasal dari tangannya sendiri.
Singkat waktu, makan malam pun telah tersaji dengan sempurna.
Eros dan Zenaya akhirnya duduk bersama menikmati hidangan di meja makan besar mansion tersebut.
Tidak ada percakapan yang terlalu banyak di antara mereka, tetapi suasana malam itu terasa hangat. Sesekali mereka saling melempar pandangan kecil, lalu buru-buru mengalihkan perhatian karena masih merasa canggung dengan status baru mereka sebagai pasangan suami istri.
Malam semakin larut.
Setelah menghabiskan waktu bersama, tibalah saatnya mereka kembali ke kamar untuk beristirahat.
Eros membuka pintu kamar pribadinya perlahan. Langkahnya terhenti sesaat ketika matanya menangkap sosok Zenaya yang sudah berada di dalam kamar.
Wanita itu duduk di tepi ranjang dengan mengenakan gaun tidur berbahan sutra yang lembut. Kain tipis itu mengikuti lekuk tubuh rampingnya dengan anggun, membuat kecantikan Zenaya semakin terpancar di bawah cahaya lampu kamar yang redup.
Jantung Eros tiba-tiba berdetak lebih cepat.
Perasaan asing itu kembali muncul.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia harus berbagi kamar dengan seorang wanita selain dirinya sendiri. Bahkan selama ini, meskipun ia pernah memiliki hubungan dengan Lura, ia tidak pernah sampai berada dalam situasi seperti ini.
Tidur bersama seorang wanita dalam satu ranjang adalah sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
Eros menarik napas pelan, berusaha mengendalikan pikirannya sendiri. Ia tidak ingin Zenaya melihat kegugupannya.
Pria itu berjalan mendekat dan mencoba bersikap biasa.
"Kenapa belum tidur?" tanyanya, sekadar mencari percakapan untuk menghilangkan kecanggungan.
Zenaya menoleh dan memberikan senyum kecil.
"Sebentar lagi aku akan tidur," jawabnya pelan.
Eros hanya mengangguk.
"Tidurlah. Istirahat, jangan bergadang," ucapnya lembut sebelum membaringkan tubuhnya di atas ranjang king size itu.
Zenaya memperhatikan suaminya yang kini sudah berbaring di sampingnya. Tanpa ia sadari, jantungnya kembali berdegup lebih kencang.
Ini adalah pertama kalinya bagi Zenaya tidur bersama seorang pria.
Ada rasa bahagia yang sulit ia sembunyikan, tetapi di sisi lain ada rasa gugup yang membuat pikirannya tidak tenang.
Perlahan, ia ikut membaringkan tubuhnya di samping Eros.
Mereka berdua berbaring terlentang, menjaga jarak satu sama lain.
Tidak ada yang berani memulai percakapan. Tidak ada yang berani menoleh lebih dulu.
Mereka sama-sama merasa malu.
Kamar luas itu yang biasanya terasa nyaman, malam ini justru terasa begitu sunyi. Keheningan memenuhi ruangan hingga membuat detak jantung mereka terdengar lebih jelas daripada suara apa pun.
Keduanya bahkan merasa sulit menelan ludah sendiri.
Namun mereka tetap berpura-pura telah tertidur.
Eros memejamkan mata, mencoba mengabaikan keberadaan Zenaya di sampingnya.
Sementara Zenaya juga melakukan hal yang sama, meskipun pikirannya masih dipenuhi rasa bahagia karena akhirnya bisa berada sedekat itu dengan pria yang selama ini ia cintai.
Di balik kecanggungan dan rasa malu mereka, ada sebuah kehangatan yang perlahan tumbuh.
Tidak ada kata-kata manis malam itu.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada tindakan besar yang menunjukkan kasih sayang.
Hanya dua orang yang sedang belajar menerima keberadaan satu sama lain.
Dan tanpa mereka sadari, rasa lelah serta kantuk akhirnya membawa mereka terlelap.
Malam pertama mereka sebagai suami istri pun berlalu dalam keheningan yang sederhana, tetapi menyimpan perasaan yang belum mampu mereka ungkapkan.
Keesokan paginya, semburat sinar matahari perlahan menyelinap melalui celah tirai jendela kamar, menyinari ruangan dengan kehangatan yang menenangkan.
Cahaya itu jatuh tepat di wajah cantik Zenaya, membuat kelopak matanya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka.
Wanita itu mengerjapkan mata beberapa kali, masih berusaha mengusir sisa kantuk yang membelenggu. Ia meregangkan tubuh rampingnya perlahan, lalu bangkit duduk di atas ranjang dengan rambut panjang yang sedikit berantakan.
Untuk sesaat, pikirannya masih kosong. Ia bahkan lupa bahwa malam sebelumnya ia tidur di kamar yang sama dengan Eros.
Brak...
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat
Zenaya spontan menoleh.
Seketika napasnya tertahan.
Eros keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah sehabis mandi.
Sehelai handuk putih melingkari pinggangnya, sementara beberapa tetes air masih mengalir dari ujung rambut hingga melewati leher dan dadanya yang bidang. Tubuh atletisnya tampak begitu tegap dan berwibawa, memancarkan pesona yang sulit diabaikan.
Tatapan mereka bertemu.
Selama beberapa detik, tak satu pun dari mereka mengucapkan sepatah kata.
Eros baru menyadari kekeliruannya. Ia lupa bahwa kini dirinya tidak lagi tinggal sendiri. Ada seorang wanita yang kini menjadi istrinya dan berada di kamar yang sama.
Raut wajahnya berubah canggung.
Sementara itu, jantung Zenaya berdetak semakin cepat. Wajahnya terasa menghangat, meski ia berusaha keras menyembunyikan rasa gugup yang memenuhi dadanya.
Situasi itu terasa begitu intim hingga membuatnya kehilangan kata-kata.
Eros akhirnya memecah keheningan.
"Kau sudah bangun, ternyata," ucapnya setenang mungkin, meski nada suaranya masih terdengar sedikit kikuk.
Zenaya menganggukkan kepala sambil mengembangkan senyum tipis.
"Iya."
Eros mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil.
"Aku harus berangkat ke kantor pagi ini."
Zenaya menatapnya sejenak sebelum bertanya pelan,
"Kau ingin langsung pergi ke kantor?"
Eros mengangguk singkat.
"Ya."
Kalimat itu membuat Zenaya segera turun dari ranjang. Ia mengambil sebuah kardigan yang terlipat rapi di kursi dekat tempat tidur, lalu mengenakannya untuk menutupi gaun tidurnya.
"Kalau begitu, aku akan menyiapkan pakaianmu dan membuatkan sarapan," ujarnya dengan senyum lembut.
Tanpa menunggu jawaban, Zenaya melangkah menuju walk-in closet yang berada di dalam kamar mereka. Dengan teliti, ia memilih setelan jas, kemeja, dasi, hingga jam tangan yang akan dikenakan Eros hari itu.
Dari balik pintu lemari pakaian, Eros diam-diam memperhatikan setiap gerakan istrinya.
Wanita itu baru saja bangun tidur, tanpa riasan sedikit pun.
Namun, kecantikannya justru tampak semakin alami. Wajah polosnya memancarkan kelembutan yang membuat Eros tanpa sadar terus menatapnya.
"Baiklah," ucap Eros singkat, berusaha
mengalihkan pandangannya.
Setelah memastikan pakaian suaminya telah siap, Zenaya turun menuju dapur.
Dengan cekatan ia mulai menyiapkan sarapan bersama para pelayan yang sejak tadi sudah bersiap membantu.
Meski memiliki jadwal yang padat sebagai
seorang model ternama, Zenaya tak pernah melupakan perannya sebagai seorang istri. Baginya, perhatian kecil seperti menyiapkan pakaian dan membuatkan sarapan untuk suaminya adalah bentuk kasih sayang yang ingin selalu ia berikan kepada Eros.
Sementara di lantai atas, Eros hanya bisa memandangi kepergian Zenaya dalam diam. Entah mengapa, setiap perhatian sederhana yang diberikan wanita itu perlahan mampu menghangatkan sudut hatinya yang selama ini terasa begitu dingin.