Setiap bek senior menganggapnya beban tim. Alex cuma winger kurus dari klub kasta tiga yang gajinya sering telat. Tapi malam itu, sebuah Sistem aktif di kepalanya — dan mengubah anak kampung jadi ancaman nyata bagi bek terbaik dunia.
#SportsSystem #SistemWinger #FromZeroToHero #RonaldoVibes #EvolusiFisik #FiksiOlahraga #NovelSepakBola #SkillTreeSepakBola #WingerLegendaris #ProgressionFantasy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tembok Ganda
Babak pertama berakhir dengan skor masih 0-0, tapi ketegangan di ruang ganti Minang United terasa jauh berbeda dari suasana santai sebelum pertandingan dimulai. Napas semua pemain masih tersengal, keringat mengucur deras membasahi jersey merah-hitam mereka yang kini lengket menempel di kulit.
"Mereka mulai baca pola kita," kata Pak Yusuf, berdiri di depan papan taktik dengan wajah tegang. Dia mencoret ulang beberapa panah yang tadi digambarnya sebelum pertandingan. "Umpan silang Alex ke Fajar tadi hampir jadi gol. Mereka pasti udah kasih instruksi baru buat babak kedua."
Fajar meneguk air minum dari botolnya, menyeka keringat dengan handuk kecil. "Bek tinggi itu bakal main lebih rapat sekarang. Nggak akan kasih ruang buat cut-inside lagi."
Prediksi itu terbukti benar begitu babak kedua dimulai.
Sejak menit pertama, dua bek sayap Rimba FC—yang di babak pertama masih bergantian menjaga jarak—kini benar-benar menempel Alex seperti bayangan. Ke mana pun dia bergerak, bahkan saat menjauh dari area permainan sekalipun, kedua bek itu tetap mengikuti dengan disiplin tinggi, menutup setiap sudut ruang yang biasa dia manfaatkan.
Menit ke-52, umpan panjang dari lini tengah mengarah ke sisi kanan seperti biasa. Namun kali ini, begitu bola sampai ke kaki Alex, dua bek itu langsung menjepitnya dari kedua sisi sekaligus—satu di depan menghalangi jalur maju, satu di belakang menempel rapat, hampir menyentuh punggungnya.
Alex mencoba melindungi bola dengan tubuh, memutar sedikit untuk mencari ruang, tapi setiap kali dia bergerak, ruang itu tertutup lagi dengan cepat. Bola akhirnya terebut, memaksa terjadi lemparan ke dalam untuk lawan.
"Sialan," gumam Alex pelan, mengatur napas sambil berjalan kembali ke posisi.
Situasi serupa terulang di menit ke-58, lalu ke-61. Setiap kali Alex menerima bola, dua bek itu langsung membentuk formasi jepitan yang nyaris sempurna, seolah sudah dilatih khusus semalam suntuk hanya untuk menghentikannya seorang diri.
Dari bangku cadangan, Pak Yusuf berdiri gelisah, sesekali berteriak instruksi yang nyaris tak terdengar di tengah gemuruh penonton. Yoga, sebagai kapten, mencoba mengatur ulang formasi tim agar ada lebih banyak opsi umpan buat Alex, tapi pertahanan Rimba FC yang rapat membuat setiap celah tertutup rapat-rapat.
Alex mulai merasakan sesuatu yang asing—bukan lagi rasa percaya diri yang tumbuh sejak dua minggu terakhir, melainkan keraguan kecil yang perlahan menyusup. Semua latihan fisik, semua peningkatan kecepatan dan kekuatan yang dia dapatkan susah payah, terasa tak cukup menghadapi taktik jepitan yang benar-benar terorganisir seperti ini.
Di menit ke-65, saat Alex kembali berhasil menerima bola namun langsung terjepit ketat oleh kedua bek, sesuatu di sudut pandangnya berkedip pelan—kali ini bukan sekadar notifikasi status, melainkan sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
```
[FITUR BARU TERDETEKSI: SKILL SHOP]
Sistem mendeteksi Host mengalami hambatan taktis berulang.
Kemampuan fisik semata tidak cukup mengatasi situasi jepitan dua lawan.
Skill Shop kini tersedia untuk dibuka.
Peringatan: Pembelian kemampuan baru membutuhkan Poin Sistem, yang hanya bisa didapat dari pencapaian signifikan.
Poin Sistem Host saat ini: 120
Buka Skill Shop sekarang? [YA] [TIDAK]
```
Jantung Alex berdegup kencang membaca notifikasi itu, meski tubuhnya masih harus bergerak cepat mengejar posisi. Selama ini dia selalu mengandalkan peningkatan atribut dasar—kecepatan, kekuatan, stamina—tanpa pernah menyadari ada fitur lain tersembunyi di balik antarmuka sistemnya.
Namun momen itu bukan waktu yang tepat untuk berhenti dan membuka menu. Wasit sudah meniup peluit lanjutan, memaksa Alex kembali fokus ke jalannya pertandingan.
Menit ke-70, situasi semakin kritis. Rimba FC mulai mendapat momentum, mengandalkan serangan balik cepat memanfaatkan energi yang terkuras dari Minang United akibat terlalu fokus menjaga sisi kanan tempat Alex biasa beroperasi. Sebuah tembakan jarak jauh dari gelandang Rimba FC nyaris merobek gawang Minang United, hanya meleset tipis di sisi kiri tiang gawang.
Bangku cadangan Minang United mulai gelisah. Beberapa suporter di tribun tamu mulai terdiam, merasakan momentum yang perlahan berbalik arah.
Di tengah lapangan, saat mengambil jeda sesaat sebelum bola dilempar kembali ke dalam, Alex berdiri sejenak, napasnya memburu, keringat mengalir deras di sepanjang wajahnya. Dia menatap ke arah dua bek yang terus mengawalnya dengan disiplin tanpa celah, lalu menatap papan skor yang masih menunjukkan angka 0-0 dengan waktu tersisa kurang dari dua puluh menit.
Fajar berlari mendekat, wajahnya penuh keringat namun matanya tetap menyala penuh semangat. "Gimana? Ada ide?"
Alex terdiam sejenak, memikirkan notifikasi yang tadi muncul di sudut pandangnya. Selama ini dia selalu berpikir kemampuannya harus tumbuh dari kerja keras semata—latihan fisik yang menyiksa, repetisi tanpa henti. Tapi mungkin, untuk pertama kalinya, dia butuh sesuatu yang berbeda: sebuah kemampuan baru yang bisa membuka jalan di tengah kebuntuan taktik yang sedang dia hadapi.
"Ada," jawab Alex akhirnya, suaranya mantap meski napasnya masih tersengal. "Tapi gue butuh waktu buat mikirin caranya."
Wasit meniup peluit tanda permainan dilanjutkan. Alex kembali berlari ke posisinya, pikirannya kini terbagi antara fokus pada pertandingan dan rasa penasaran mendalam terhadap fitur baru yang baru saja terbuka di dalam kepalanya—sebuah toko kemampuan misterius yang mungkin, hanya mungkin, menjadi kunci untuk mematahkan tembok ganda yang selama ini menjebaknya.