Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.
Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.
Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Ibu Mertua yang Baik
Asap tipis dari knalpot jip militer Radit perlahan menipis di udara halaman mansion. Vina masih berdiri di dekat undakan tangga, menyunggingkan senyum manis dan melambaikan tangannya sampai mobil suaminya itu benar-benar hilang di balik gerbang besi.
Dari arah belakang, Nyonya Besar Laksmana melangkah keluar dengan tergesa-gesa. "Vina, apa Radit sudah berangkat?"
Vina menoleh dan mengangguk hormat. "Sudah, Ibu. Barusan saja Mas Radit berangkat."
"Duh, ketelatan," keluh Nyonya Besar sambil menepuk dahinya pelan. "Ibu lupa menyiapkan bekal dan buah untuk ia makan di kantor siang nanti." Ia langsung memutar badannya, bersiap hendak berjalan cepat kembali ke arah dapur.
Vina segera memegang lengan ibu mertuanya dengan lembut untuk menghentikan langkahnya. "Ibu, tidak usah khawatir. Semua keperluan Mas Radit, mulai dari seragam cadangan, air minum, sampai bekal makan siangnya, sudah aku siapkan dan masukkan ke dalam jip sejak subuh tadi. Apa pun itu, sudah aku kerjakan, Bu."
Nyonya Besar menghentikan gerakannya. Ia menatap Vina dan terdiam sejenak. Perlahan, gumpalan gengsi di hatinya meleleh. Wanita paruh baya itu meraih tangan kanan Vina, menggenggamnya dengan kedua tangan, lalu menepuk punggung tangan menantunya itu dengan sangat lembut.
"Kau adalah istri yang sangat baik, Vina," ucap Nyonya Besar dengan nada suara yang tulus dan mata yang berkaca-kaca. "Ibu... Ibu minta maaf karena selama ini sudah salah menilai tentang dirimu."
Vina tersenyum haru. "Tidak apa-apa, Ibu—"
Kruuukkk...~
Sebuah suara nyaring dan panjang mendadak memotong kalimat Vina, berasal tepat dari arah perut Nyonya Besar Laksmana. Seketika itu juga, atmosfer yang tadinya haru dan penuh emosional langsung pecah. Nyonya Besar dengan cepat membekap perutnya sendiri dengan wajah yang mendadak memerah padam karena malu, lalu tertawa kecil dan canggung ke arah Vina.
Vina menahan senyumnya agar tidak meledak menjadi tawa. "Eh? Apa Ibu masih lapar?"
"Ah? T-Tidak... tentu saja tidak. Ini cuma... cuma angin lewat saja kok," kilah Nyonya Besar sambil mengibas-ngibaskan tangannya, mencoba menjaga wibawa sebagai penguasa mansion.
KRUUUKKK!
Seolah tidak mau diajak bekerja sama, suara perut itu kembali berbunyi bahkan jauh lebih keras dan menuntut dari yang pertama. Kali ini, Ica dan Bi Asih yang kebetulan sedang menyapu di dekat pintu depan sampai ikut menoleh dan menahan tawa mereka di balik sapu.
"Aduh, perut ini benar-benar tidak tahu sopan santun," gerutu Nyonya Besar akhirnya, menyerah dan ikut menertawakan dirinya sendiri bersama Vina.
Vina tersenyum jenaka. "Apa ada makanan tertentu yang sedang Ibu inginkan saat ini?"
"Sebenarnya Ibu sudah sangat kenyang dengan nasi goreng rempahmu tadi, Vina," bisik Nyonya Besar, seolah sedang membagikan rahasia negara yang sangat besar dan penting. "Cuma... entah kenapa, sepertinya mulut dan lambung Ibu mendadak membutuhkan cemilan manis. Sedikit saja, untuk menemani teh hangat."
"Iya, Ibu, mari kita masuk," ajak Vina sambil menuntun mertuanya dengan penuh kasih sayang. "Aku akan kembali ke dapur dan membuatkan sesuatu yang spesial untuk Ibu."
Nyonya Besar langsung berbinar senang. "Oh ya? Apa itu?"
"Sebuah kejutan dan rahasia dapur," kedip Vina misterius.
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah.
Nyonya Besar menghentikan langkahnya di dekat undakan tangga emas menuju lantai dua, lalu menoleh ke arah Vina dan menepuk pelan lengan menantunya itu.
"Ibu naik ke atas dulu ya, Vina. Mau meluruskan punggung sebentar di kamar," ujar Nyonya Besar dengan nada suara yang jauh lebih lembut dari biasanya. "Kamu jangan terlalu lelah di dapur. Ingat, bikin yang sederhana dan sedikit saja."
Vina tersenyum manis dan mengangguk patuh. "Iya, Ibu. Tenang saja, Vina buatkan cemilan yang tidak akan menguras banyak tenaga kok. Ibu istirahat saja yang tenang di atas."
"Baiklah. Ibu tunggu rahasia dan kejutan dapurmu itu, ya," sahut Nyonya Besar sembari mengulas senyum tipis, lalu perlahan berjalan menaiki anak tangga satu per satu.
Begitu punggung ibu mertuanya menghilang di balik lorong lantai dua, Vina langsung berbalik dan bergegas menuju area dapur dengan langkah riang.
Vina memutuskan untuk membuat cemilan tradisional khas Tionghoa yang sering ia buat di kampung, namun kali ini ia akan mengemasnya dengan tampilan yang mewah dan elegan.
Tanghulu Sarang Burung atau namanya Bhaat Gwo dan Nian Gao Goreng Wijen. Vina menusuk buah strawberry segar dan anggur pelataran rumah dengan lidi, lalu mencelupkannya ke dalam lelehan sirup gula batu panas hingga membentuk lapisan kaca yang renyah dan berkilau. Di atasnya, ia menghias dengan tarikan benang-benang karamel tipis dan halus menyerupai sarang burung yang estetik. Untuk pelengkap, ia menggoreng kue ketan tradisional (Nian Gao) dengan balutan wijen putih hingga bagian luarnya renyah dan bagian dalamnya meleleh manis dan kenyal.
Setelah semuanya tertata cantik dan mewah di atas piring porselen putih bertingkat, Vina membawanya naik ke lantai atas, melintasi koridor menuju kamar tidur utama Nyonya Besar.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," terdengar sahutan lembut dari dalam.
Vina mendorong pintu dengan sikunya, lalu melangkah masuk. "Ibu, cemilan kejutannya sudah si—"
Kalimat Vina melambat saat ia melihat Nyonya Besar sedang duduk bersila di atas sofa karpet, dikelilingi oleh beberapa buku besar bersampul kulit usang. Di atas pangkuannya, sebuah foto album tua dan besar bermotif naga emas sedang terbuka lebar. Wajah sang ibu tampak begitu sendu dan dipenuhi kerinduan yang mendalam.
"Wah, cantik sekali tampilan kuemu ini, Vina," puji Nyonya Besar, mengalihkan perhatiannya sejenak dan mempersilakan Vina meletakkan nampan di atas meja kopi.
"Terima kasih, Bu. Ini Tanghulu dan Nian Gao wijen," jawab Vina lembut. Ia lalu melirik ke arah album yang dipegang mertuanya. "Ibu sedang melihat apa?"
Nyonya Besar tersenyum tipis, mengusap salah satu permukaan lembar foto hitam-putih yang sudah mulai menguning di album tersebut. "Ibu sedang merindukan masa-masa dulu, Vina. Ini... adalah foto album masa kecil anak-anakku. Kemari, duduklah di samping Ibu."
Vina menggeser posisinya, duduk mendekat dan ikut menatap lembaran foto tua itu.
"Lihat ini," tunjuk Nyonya Besar dengan binar mata seorang ibu yang bangga. "Ini Radit saat masih berumur lima tahun, dan ini kakaknya, Dimas, saat berumur tujuh tahun. Mereka berdua memakai baju Cheongsam merah pemberian mendiang neneknya saat perayaan Imlek di rumah lama kami di pinggiran kota."
Nyonya Besar membalik halaman berikutnya. "Kalau yang ini, foto mereka saat berlibur ke daerah perbukitan utara. Radit kecil itu sangat nakal dan keras kepala, dia suka sekali memanjat pohon pohon ceri dan tidak mau turun sampai Dimas menangis di bawahnya karena takut adiknya jatuh. Sementara Dimas... dia anak yang sangat tenang dan selalu mengalah pada adiknya."
Vina mendengarkan dengan saksama, matanya terfokus pada deretan foto-foto masa kecil Radit dan Dimas yang sedang bermain di sebuah taman luas dengan latar belakang sebuah bangunan kayu bergaya oriental kuno yang khas.
Namun, seiring matanya menatap tajam ke arah sudut salah satu foto—di mana ada siluet seorang anak perempuan kecil berpita merah yang berdiri blur di latar belakang pagar kayu bangunan tersebut—kepala Vina mendadak berdenyut dengan sangat kencang.
Zuttt!
Sebuah sensasi rasa sakit yang tajam layaknya sengatan listrik tiba-tiba menghantam pangkal otak Vina. Penglihatannya mengabur selama beberapa detik, dan sebuah bayangan fragmen memori yang sangat asing, buram, dan tertutup kabut tebal mendadak terlintas dan berputar paksa di dalam ingatannya.
Suara tawa anak-anak yang samar, tangisan di balik pagar kayu, dan panggilan nama yang sangat jauh... terdengar bergaung riuh di dalam kepala Vina, membuat napasnya seketika tercekat.
takut mlh di usirr😭😭🙏
itu mas dimas mau buat skenario sendiri kah😭
mba vina sini mba cerita, aku nanti yg tanya tanya deh ke mas Radit sama mas dimas nya😭🙏