Liora terpaksa menandatangani perjanjian pranikah dan dinikahkan dengan Alexander, seorang pria berkebutuhan khusus yang diasingkan keluarganya di sebuah desa terpencil. Ia pun pergi ke desa itu untuk merawat suaminya yang asing baginya. Namun, semakin lama merawat Alex, Liora mulai menyadari ada keanehan dan ketakutan dari warga sekitar terhadap pria itu. Ia pun curiga, jangan-jangan Alex tidak seperti yang terlihat. Di balik keterbatasannya, Alex ternyata menyimpan rahasia besar yang menjadi alasan keluarganya membuangnya. Liora kini harus mengungkap kebenaran di balik pengasingan suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Gairah di Balik Sutra Hitam
Liora berdiri di tengah ruang keluarga, dengan baju sutra hitam yang sangat tipis membungkus tubuhnya. Kain itu jatuh lembut di atas kulitnya, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang selama ini ia sembunyikan. Bahunya terbuka, dan kain di bagian bawah hanya menutupi pahanya hingga beberapa sentimeter di atas lutut.
Ia merasa sangat malu. Tangannya mencoba menarik kain sutra itu sedikit ke bawah, tetapi bahan itu terlalu licin dan selalu kembali ke posisi semula. Ia menunduk, tidak berani menatap Alex.
Namun, Alex tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Alex berdiri di hadapan Liora, matanya terpaku pada Liora. Matanya yang biasanya polos dan seperti anak kecil, kini berubah menjadi tatapan yang sangat berbeda. Ada kekaguman di dalamnya, tetapi juga ada sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang membuat Liora merasakan jantungnya berdegup semakin kencang.
Alex perlahan mendekat. Langkahnya pelan, tetapi pasti. Ia berhenti tepat di depan Liora, hanya berjarak beberapa sentimeter.
"Liora," bisik Alex, suaranya lebih rendah dan lebih berat dari biasanya. "Kau sangat cantik."
Liora mengangkat wajahnya, dan matanya bertemu dengan mata Alex. Ia melihat tatapan Alex yang begitu intens, begitu berbeda dari Alex yang biasanya ia kenal.
"Alek... Alex, jangan..." gumam Liora, tetapi suaranya tidak tegas.
Alex tidak mendengarkan. Ia mengangkat tangannya, dan jari-jarinya yang besar dan kokoh menyentuh pipi Liora. Sentuhannya sangat lembut, tetapi ada getaran yang membuat Liora menggigil.
Alex menunduk, dan bibirnya bertemu dengan bibir Liora. Ciuman itu lembut, tetapi penuh dengan perasaan yang tidak bisa ia sembunyikan. Liora merasakan bibir Alex yang hangat, dan ia merasakan napas Alex yang berdesah di dekatnya.
Liora ingin melepaskan diri, tetapi tubuhnya seolah membeku. Ia tidak bisa bergerak. Dan semakin lama, ia merasa semakin sulit untuk menolak.
Ciuman itu berlanjut. Alex tidak hanya mencium bibir Liora, tetapi ia mulai mencium pipi Liora, lalu rahangnya, dan kemudian lehernya.
Liora menggigil saat bibir Alex menyentuh lehernya. "Alex... jangan... kita di ruang keluarga..."
"Tidak ada orang lain, Liora. Hanya kita," bisik Alex di antara ciumannya.
Liora merasa napasnya semakin sesak. Tubuhnya terasa semakin panas, dan ia merasakan hasrat yang mulai membara di dalam dirinya.
Alex menarik Liora lebih dekat, tubuh mereka saling menempel. Liora merasakan dada Alex yang bidang, dan ia merasakan detak jantung Alex yang berdegup sangat kencang.
"Alex..." desah Liora.
Alex tidak menjawab. Ia terus mencium leher Liora, meninggalkan jejak-jejak ciuman yang membuat Liora semakin melemah.
Liora tidak tahu berapa lama mereka berciuman. Yang ia rasakan, ia semakin tenggelam dalam Alex. Ia tidak lagi memikirkan baju seksi itu, tidak lagi memikirkan malu. Ia hanya merasakan Alex.
Alex perlahan membawa Liora ke sofa. Liora terbaring di atas sofa, dengan Alex di atasnya. Alex menatap Liora dengan tatapan yang penuh gairah.
"Liora, aku ingin kau," kata Alex, suaranya tegas.
Liora menatap Alex. Wajah Alex tidak lagi polos. Wajahnya adalah wajah seorang pria dewasa yang sedang dikuasai oleh hasrat. Liora melihat keringat yang mulai membasahi dahi Alex, dan ia melihat napas Alex yang mulai tidak teratur.
"Alex..." Liora tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya bisa menatap Alex.
Alex tersenyum tipis. "Jangan takut, Liora. Aku tidak akan menyakitimu."
Ia menunduk, dan ciuman itu berlanjut. Alex mencium bibir Liora, lalu pipinya, lalu lehernya, dan turun ke bahunya yang terbuka oleh baju sutra hitam itu.
Liora merasakan sentuhan Alex di kulitnya, dan ia merasakan tubuhnya yang semakin panas. Ia ingin menolak, tetapi ia juga tidak bisa.
Malam itu, mereka kembali melakukan hubungan suami istri. Tidak di atas tempat tidur, tetapi di atas sofa ruang keluarga. Alex memperlakukan Liora dengan lembut, tetapi ada gairah yang tidak bisa ia sembunyikan.
Liora merasakan Alex yang mendominasi, tetapi ia juga merasakan Alex yang sangat menjaga. Alex memperlakukan Liora seperti sesuatu yang sangat berharga, dan Liora merasakan bahwa ia benar-benar diinginkan.
Saat semuanya selesai, mereka berdua terbaring di atas sofa, saling berpelukan. Napas mereka masih tidak teratur, dan keringat masih membasahi tubuh mereka.
Liora menatap langit-langit ruang keluarga. Tubuhnya masih terasa lelah, tetapi ada perasaan aneh yang mengisi hatinya.
Alex menatap Liora dari samping. Wajahnya kembali seperti Alex yang biasanya—polos dan sayu. Namun, ada senyuman kecil di bibirnya.
"Liora," bisik Alex.
"Ya, Alex?"
Alex tersenyum. "Alex sangat menyukai Liora."
Liora tersenyum. "Liora juga menyukai Alex."
Mereka berpelukan di atas sofa, dalam keheningan malam. Lampu kristal di atas ruang keluarga masih menyala, menerangi mereka dengan cahaya kuning yang hangat.
Malam itu, Liora merasakan bahwa hubungannya dengan Alex telah berubah. Mereka bukan lagi suami istri yang canggung. Mereka telah menjadi suami istri yang sebenarnya.
Dan meskipun masih ada banyak rahasia yang belum terungkap, Liora merasa bahwa ia sudah siap untuk menghadapi apa pun, selama Alex ada di sisinya.
saling support sabi kali😉