Cerita ini bukan tentang siapa yang tercepat menjadi terkuat, melainkan tentang bagaimana seseorang yang dianggap paling lemah belajar memahami kekuatan yang sesungguhnya: kesabaran, ketahanan, kemampuan menahan badai tanpa tumbang, dan perlahan tumbuh melampaui batas yang dianggap mustahil oleh semua orang. Ia akan bertemu teman yang setia, menghadapi musuh yang meremehkannya, dan akhirnya mengungkap mengapa jalan kuno itu dihapus dari sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cldazxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Jejak Orang Tua
Perjalanan ke utara semakin sulit dilalui. Tanah semakin tandus, energi semakin tipis, dan di mana-mana terdapat pos pemeriksaan Sekte Langit Kakuasaan yang semakin ketat. Lin Mo dan kawan-kawan memilih berjalan melalui jalur pegunungan tersembunyi, mengandalkan kemampuan Lin Mo membaca getaran tanah untuk menghindari jebakan dan patroli musuh.
Sore itu, mereka tiba di sebuah lembah sunyi yang tertutup kabut abu-abu. Tidak ada suara burung, tidak ada aliran air—hanya keheningan yang menindih hati. Namun saat Lin Mo menapakkan kaki ke tanah, jantungnya berdegup kencang. Tanah di sini menyimpan jejak yang sangat akrab, jejak yang sering ia bayangkan dalam mimpi sejak kecil.
"Di sini... pernah ada orang tuaku," bisiknya pelan.
Ia berjalan perlahan ke tengah lembah, menekan telapak tangannya ke permukaan tanah yang dingin. Kesadarannya menyusun kembali jejak masa lalu yang tertanam di sana bertahun-tahun silam. Pemandangan lama perlahan terbentuk di benaknya: dua orang muda yang memakai lencana akar, duduk di atas batu besar, tersenyum bahagia sambil menatap ke arah selatan—ke arah tempat kelahiran Lin Mo dulu.
"Kami harus pergi ke Istana Langit Mengambang," kata bayangan ayahnya dalam ingatan itu. "Segel kuno di sana mulai retak. Jika tidak diperbaiki, seluruh benua akan runtuh. Tapi jika kami tidak kembali... ingatlah ini: Jalan Akar bukan tentang bertahan hidup sendirian. Ini tentang menjaga agar tanah tetap aman untuk semua anak cucu."
"Dan jika kami punya anak," tambah bayangan ibunya lembut, "ajarkan dia untuk tidak membenci langit yang tinggi. Ajarkan dia untuk menumbuhkan akar yang cukup kuat agar langit dan tanah tidak pernah terpisah lagi."
Air mata menetes di pipi Lin Mo. Selama ini ia hanya tahu bahwa orang tuanya pergi demi tugas suci dan tidak pernah kembali. Kini ia mengerti: mereka bukan lari dari bahaya, melainkan berjalan menuju bahaya terbesar demi menyelamatkan dunia. Dan kemungkinan besar... jejak mereka berakhir di sana.
"Lin Mo..." Meng Chao mendekat pelan, tidak ingin mengganggu namun ingin memberikan dukungan.
"Aku baik-baik saja," Lin Mo mengusap air matanya, matanya kini berkilat lebih teguh dari sebelumnya. "Mereka tidak meninggalkanku. Mereka hanya menanamkan harapan di sini, menungguku datang menyelesaikan apa yang mereka mulai."
Ia terus mencari jejak lebih dalam. Di bawah batu besar di tengah lembah, ia menemukan kotak kayu yang sudah lapuk namun terlindungi oleh lapisan tanah yang dipadatkan dengan teknik kuno. Di dalamnya terdapat surat yang ditulis tangan orang tuanya, serta sebuah peta retak yang menunjuk lokasi rahasia di dalam Istana Langit Mengambang—tempat di mana inti segel penekan dan sumber kekuatan gelap tersimpan.
Namun ada satu pesan terakhir yang membuat bulu kuduk merinding: "Kekuatan yang menguasai sekte itu bukan manusia. Ia adalah makhluk yang lahir dari ketidakseimbangan, yang membenci segala sesuatu yang menetap dan berakar. Ia menyebut dirinya 'Penguasa Tanpa Fondasi'. Ia tidak bisa dikalahkan dengan kekuatan yang sama dengannya. Ia hanya bisa... diakar dan disatukan kembali."
Saat mereka sedang merenungi pesan itu, tiba-tiba udara di lembah berubah dingin. Bayangan hitam merayap dari celah batu, membentuk sosok-sosok tanpa wajah yang memegang tombak kabut. Aura mereka bukan milik manusia—kosong, dingin, dan memusuhi segala kehidupan.
"Penjaga sisa jejak," bisik Guru Shan gemetar. "Mereka dikirim untuk menghapus setiap kenangan tentang Jalan Akar."
Sosok-sosok itu menyerang tanpa suara. Setiap tombak yang menghantam tanah langsung menyedot sisa-sisa kehidupan, membuat tanah menjadi abu kering seketika.
"Jangan biarkan mereka menyentuh jejak orang tuaku!" seru Lin Mo. Ia tidak melawan dengan kekerasan. Ia menyalurkan energi hangat ke seluruh lembah, membiarkan tanah mengingat kembali kehidupan yang pernah ada di sini. Rumput hijau tumbuh seketika, akar menjalar melilit tombak bayangan, dan cahaya keemasan menyelimuti jejak langkah orang tuanya agar tidak terhapus.
"Kalian bisa menghancurkan batu," katanya lantang pada bayangan itu. "Tapi kalian tidak bisa menghapus apa yang sudah tertanam di hati dan di bumi itu sendiri."
Dengan bantuan teman-temannya, Lin Mo perlahan menyatukan energi akar dengan cahaya jejak masa lalu. Bayangan-bayangan itu meraung pelan, lalu perlahan meleleh dan lenyap, karena mereka tidak bisa bertahan di hadapan kenangan yang begitu kuat dan tulus.
Setelah suasana tenang, Lin Mo menutup kotak itu kembali dan menanamnya di tempat yang paling aman di lembah, ditandai dengan pohon muda yang ia tanam sendiri.
"Istirahatlah dengan tenang," bisiknya. "Aku akan pergi ke sana. Aku akan menyatukan kembali langit dan tanah, seperti yang kalian harapkan."
Mereka meninggalkan lembah itu saat senja mulai turun. Beban di hati Lin Mo tidak lagi berat dengan kesedihan—melainkan penuh dengan tekad yang berakar kuat. Ia kini tahu tujuan akhirnya, ia tahu musuh aslinya, dan ia tahu bahwa ia tidak berjalan sendirian.
Di kejauhan, di puncak menara tertinggi Istana Langit Mengambang, sebuah mata raksasa yang terbuat dari kabut gelap perlahan terbuka, menatap ke arah lembah itu.
"Akhirnya benih itu menemukan akarnya," suara berat bergema tanpa sumber. "Datanglah. Aku akan tunjukkan padamu betapa rapuhnya segala sesuatu yang mencoba berakar di dunia yang terus berubah."