NovelToon NovelToon
SAHABATKU MENJADI PENGANTI MAMAKU

SAHABATKU MENJADI PENGANTI MAMAKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Daesy.Rf

Selama ini Mamaku nampak sehat-sehat saja, namun hari ke hari tubuh mama nampak kurus dan sakit-sakitan. Entah karena menahan sakit atau karena isu perselingkuhan Papa yang membuat Mama sakit.Tapi Mama tidak tahu siapa selingkuh Papa, yang sebenarnya ada di depan batang hidungku sendiri, ibarat musang berbulu domba itulah yang dihadapi keluargaku, dan aku baru tahu siapa selingkuh Papa setelah Mama tiada.

cerita ini sangat menarik penuh intrik dan pengkhianatan yang tak terduga datang dari orang terdekatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daesy.Rf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 MENINGGALNYA NENEK AINI

Sehabis pulang kerja Dinar yang sedikit telat menunggu Bobby, Meja kerja yang sudah selesai dibereskan, hanya menunggu Office Boy yang akan mengangkat barang-barangnya ke ruangannya yang baru. Para pegawai kantor sudah berangsur pulang.Tiba-tiba terdengar suara seringan telpon dari tasnya.

" Dinar aku sudah sampai diparkiran"

"Baik Dinar keluar dulunya Bob" Dinar mengambil. Tas nya dan beranjak dari mejanya, sehabis mengambil absen pulang, Dinar turun kebawah menuju lantai satu dan parkiran.

"Maaf aku sedikit telat kamu pasti capek nunggu aku ya, macet semua jam pulang"

"Ngak Apa" yang penting kamu datang dan menemani aku kerumah"

"Ya Pasti dong" Bobby melajukan mobilnya kearah jalan menuju Rumah Dinar. Setelah melalui beberapa kemacetan di jalan akhirnya mereka sampai didepan rumah yang terbilang mewah bergaya minimalis. Hari sudah menjelang magrib.

"Kok pintu pagar dikunci ya Bob, taman ngak ke urus" Dinar turun dari mobil Bobby.

"Pa.... Papa..." Dinar memanggil Pak Rudiansyah, namun tak Ada sahutan.

"Dinar.... kamu Dinar" Tiba-tiba seorang ibu dan pria menyapa Dinar. "Kamu Dinar kan anak Pak Rudiansyah?"

"Iya Pak, Buk... ini Pak Ustad Hamzah...?"Dinar ingat bahwa kedua orang didepannya adalah Pak Ustad Hamzah yang menolong Mamanya dulu.

"Alhamdulillah kamu akhirnya datang juga setelah sekian lama tidak kesini Nak" Bobby yang melihat Dinar bicara dengan dua orang warga turun dari mobilnya menghampiri Dinar.

"Kami mencoba menelpon kamu tapi nomor kamu sudah tidak aktif lagi,ke mana saja kamu Nak dan kenapa kamu tidak pulang-pulang" Dinar bingung harus menjawab apa.

"Bapak sama ibu sudah tahu persoalan keluarga kamu, pernikahan Papa kamu dengan Cucu Nenek Aini yang kamu tentang, hingga kamu meninggalkan rumah ini disusul oleh Nak Iqbal dan Pak Sukri, Ibu Ani"

"Iya Pak Ustad, saya sudah meninggal rumah ini sangat lama hampir satu tahun lebih, Kami kemari untuk melihat rumah ini dan Papa saya yang sudah tidak bisa dihubungi lagi" kedua suami istri itu saling menatap. Pak Ustad Hamzah mengangguk kepada istri dan pergi berlari ke arah rumah nya.

"Kamu tidak tahu Dinar dimana Papa kamu sekarang?" Pak Ustad Hamzah kembali bertanya. Sebaiknya kalian kerumah saya dulu kita sholat Magrib bareng, nanti saya akan menceritakan semua. Azan terdengar dari mesjid dekat kompleks tersebut. Dinar dan Bobby mengikuti Pak Ustad Hamzah yang tepat bersebelahan pagar dengan rumah Dinar.

Setelah Sholat Magrib Bareng, Dinar dan Bobby duduk diruangan tamu mereka disuguhkan teh dan kue oleh Buk Hamzah. "Bacalah ini Dinar" Pak Ustad Hamzah memberikan dua pucuk surat kepada Dinar satu Amplop bertuliskan Laboratorium Angkasa Sejahtera dan satu lagi amplop bertuliskan untuk Putriku Dinar.

Dengan gemetar Dinar mengambil surat tersebut pertama dia membuka surat yang dari Papanya tulisan itu singkat tapi membuat jantung Dinar berdegup kencang. " Dinar Maafkan Papa, Ternyata Papa masuk ke sarang harimau yang tega menghabisi nyawa Mamamu sendiri, Papa. berdosa kepadamu Nak".

"Apa maksud Papa ini pak Ustad" Dinar membuka kembali amplop yang kedua disana tertulis nama Mamanya sebagai orang yang mengajukan pengecekan laboratorium terhadap lepat Poci satu tahun lalu sebelum Mama meninggal yang dinyatakan positif mengandung racun tidak berbau dan tidak nampak" Mata Dinar terbelalak setelah membaca laporan itu.

"Apa... ja... jadi lepat poci yang sering Mama beli dari Nenek Aini mengandung Racun yang bisa membunuh jaringan tubuh hingga hancur secara berlahan. Ma... maksudnya Mama diracun Pak Ustadz?"

"Ya inilah yang terjadi sesungguhnya dengan Mama kamu dan Papa kamu menemukan surat hasil Lab ditumpukan baju Meta saat mencari rekening bank perusahaan yang tiba-tiba saja lenyap. Papa kamu mengkonfirmasi kembali ke Lab dimana Mama kamu memeriksa ternyata mereka sudah dua kali mengirim surat pertama saat Mama kamu sehat dan kedua di handphone Mama kamu yang tidak aktif dan yang ketiga saat Mama kamu meninggal seseorang menerima surat ini.Tapi tak pernah sampai ke tangan kamu dan Papamu. Jadi siapa yang menerima surat ini. Kami tidak tahu yang pasti ada dilemari Meta.

"Saat Papa kamu melihat surat ini ternyata pertengkaran hebat terjadi Meta tidak mengakui dengan Nenek Aini dan mereka diusir dari rumah, tapi ternyata mereka memang biadab mereka menjebak Papa kamu dan saat diperiksa badan keuangan terdapat aliran dana pajak hilang sebanyak Tiga milliar dan itu ditemukan direkening pribadi Papa kamu yang sudah ditarik atas nama Papa, sementara beliau tidak tahu Dana itu"

"Maksudnya Papa dIjebak?"

"Bisa jadi, kalau Papa kamu pelakunya kenapa dia tidak tahu dana itu dan terlalu bodoh uang itu disimpan direkening pribadi beliau." dan Tiga bulan lalu Papa kamu ditangkap polisi.

"Apa....Papa ditangkap Polisi Pak Ustad" Dinar kaget mendengar kabar duka Papanya. Tiba-tiba saja tangisnya pecah.

"Benar dan Pak Rudiansyah menyerahkan surat dan kunci rumah ini kepada kami. Papa kamu tidak ingin kamu tahu kejadian ini karena dia tahu kamu sedang promosi kerja.

"Lalu Meta dimana Pak Ustad?"Meta melarikan diri dengan Uang Pak Rudiansyah yang dia tipu, sedangkan Nenek Aini ditinggal oleh Meta sampai meninggal dan tadi sore kami menemukan mayatnya yang diduga sudah semalaman karena sakit selama ditinggal Meta.

"Apa.... Nenek Aini meninggal !!" Dinar dan Bobby sangat kaget.

"Iya kami tadi mau kesana sebelum melihat kamu datang yang sudah lama kami tunggu"

" Papa dipenjara dimana Pak ustad" Dinar menangis melihat tragis nasib Papanya."

"Papa kamu di penjara dikantor polisi bagian Barat"

 "Nenek Aini hari ini meninggal dan Meta tidak diketahui keberadaanya.

"Ya itulah yang terjadi sekarang, dan warga kampung yang akan menguburkan Nenek Aini besok pagi"

Dinar tak kuat menahan airmatanya ternyata kenapa Papanya sudah lost kontak ternyata Papa dipenjara.

"Kami mau kerumah Nenek Aini, Jika kamu ingin ikut mari kita kesana Dinar" Dinar mengangguk.

"Baik Pak Ustad, dan Terima kasih yang sebesarnya Pak Ustad sudah menceritakan ini dan menjaga pesan Papa Dinar"

"Itu kewajiban kami sesama muslim Nak." Dinar, Bobby bersama Pak Ustad serta istrinya pergi kerumah Nenek Aini yang ditemukan meninggal tadi sore.

Hati Dinar terasa sakit kini segala masalah mulai dia ketahui dan dirinci dalam otak nya. Helaan nafas panjang pada setiap kejadian mulai terungkap akibat Papa dan Meta atau siapa yang harus disalahkan pada semua keadaan ini akhirnya berhenti pada titik Takdir yang harus dilalui oleh keluarganya.

Dinar sampai dirumah Nenek Aini, beberapa warga melihat Dinar yang dibawa oleh Pak Ustad. "Dinar itu Dinar anak Pak Rudiansyah, dia sudah ditemukan" ucapan warga yang seakan tahu setiap detail peristiwa keluarganya yang kini berantakan dalam puing-puing yang tak bisa lagi dia susun.

Dinar tersenyum kecup pada warga ketika memasuki rumah Nenek Aini. "Anak Pak Rudi sudah datang Pas Nenek Aini Meninggal" bisik seorang warga disana. Pak Ustad membuka penutup muka Nenek Aini, Dinar dan Bobby kaget melihat wajah Nenek Aini yang merah mengelupas. "Astaga" Dinar terperanjat dan mundur memegang Bobby beberapa langkah. Dinar memejamkan mata, semua hanya rahasia Allah yang tahu bagaimana kejadian yang dialami oleh Nenek Aini.

"Kamu duduk saja dulu" kata Pak Ustad kepada Dinar. Dinar mengangguk sedikit gemetar melihat mayat Nenek Aini mengenaskan. Sekitar dua jam duduk disana tanpa.bicara dan berkata, akhirnya Dinar pamit kepada Pak Ustad yang masih sibuk. mengurus rencana pemakaman.

Dimobil Dinar nampak terdiam, besok aku akan berkunjung melihat Papa Bob bersama Dut dan Pak Sukri, kemudian kami akan kerumah, habis serah Terima jabatan aku akan izin.

"Baik itu bagus aku akan susul besok siang kebetulan aku off sehabis kuliah, kamu yang sabar ya" Dinar memeluk Bobby dan menangis. "Kenapa jadi begini keluarga aku Bob, Papa dipenjara dan ternyata Mama meninggal karena kejahatan Nenek Aini dan Meta, apa salah keluargaku Bobby sampai mereka tega menyakiti kami semua"

"Hmm... menangislah Dinar jika itu membuat kamu tenang, aku tidak tahu apa motif Meta dan Nenek Aini yang sudah tua tega mendukung kejahatan cucunya dan akhirnya dia ditinggal lari oleh cucunya sendiri.

"Apa ini Karma ya Bob karena Mama tidak pernah mendengar pesan Kakek aku dulu, jauhi keluarga Nenek Aini, kakek pernah berpesan itu, tapi Mama tidak mengindahkan dan akupun juga tidak me dengarkan pesan tersebut, malah aku berbaik kepada keluarga mereka dan Meta menjadi sahabatku, ternyata ini akibat kami tak pernah mendengar pesan kakek.

"Sudah jangan berpikir lagi nanti kita cari ada apa dengan semua ini, dan kita harus cari tahu dimana Meta, Tapi yang terpenting kita harus melihat Papa kamu besok"

"iya benar Bobby" Mobil Bobby sampai kerumah Dinar ada kepedihan yang dibawanya masuk kerumah itu setelah mengetahui semuanya berita tentang Papanya.

1
Delsi Irma
Hai singgah dinovel perdanaku ya....saling support Sabahat Novel toon semua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!