Di hari anniversary mereka yang ketiga tahun, Grizla ingin menaikkan jabatan suaminya dari Manager menjadi CFO dalam diam.
Tapi malam itu, ia terpaksa mengurung niatnya karena ibu dan adiknya ikut campur di hari perayaan anniversary mereka.
Dan lebih menyakitkan lagi, mertuanya itu membawa wanita asing bersama mereka yang membuat ia tidak nyaman dan membuat ia ragu harus menyerah posisi itu.
Lama kelamaan, suaminya mulai bersikap dingin, tidak ada keharmonisan ruma tangga yang ia dambakan. Akhirnya suaminya selingkuh dengan wanita tersebut yang ternyata satu kantor dengannya, alasan selingkuhnya adalah ia menginginkan seorang anak.
Plot twist-nya adalah, perusahaan itu miliknya, yang mengangkat suaminya sebagai manager adalah dirinya melalui orang Kepercayaan yang menjadi CEO sementara di perusahaan G' Jaya.
"Hari ini buka matamu lebar-lebar, siapa yang telah mengangkat derajatmu!" - Grizla
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Mendengar pertanyaan bernada dingin dan merendahkan itu keluar langsung dari mulut Nyonya G, tenggorokan Antonio mendadak terasa kering.
Napasnya tertahan di dada. Suara itu… entah mengapa terdengar begitu mirip dengan seseorang, namun getaran otoritas yang ada di dalamnya membuat Antonio urung berspekulasi lebih jauh.
"B-bukan begitu, Nyonya G," jawab Antonio terbata-bata, mencoba meredam egonya yang terluka. "Saya hanya merasa dedikasi saya selama ini seperti tidak dihargai. Saya sudah mengorbankan banyak waktu untuk draf proyek ini."
Grizla di balik kacamata hitamnya tersenyum menyeringai. Ia menyandarkan kembali punggungnya ke kursi kebesaran, lalu mengetuk-ngetukkan jari atas meja kayu jati.
Tok... tok... tok...
Bunyi yang teratur itu terasa seperti detak jam kematian bagi karier Antonio.
"Dedikasi?" Nyonya G terkekeh lagi, kali ini terdengar lebih sinis.
"Pak Antonio, jangan mencampuradukkan waktu yang Anda buang dengan hasil kerja yang nyata. Saya sudah membaca draf yang Anda agung-agungkan itu sebelum saya tiba di sini. Isinya? Berantakan. Banyak celah kerugian yang hampir saja meloloskan dana perusahaan ke tempat yang salah. Justru Boni, asisten yang Anda sepelekan itu, yang merombak dan menyelamatkan draf tersebut hingga layak dipresentasikan," kata Grizla menatap Antonio sinis.
Wajah Antonio seketika memerah, antara malu dan murka karena dikuliti habis-habisan di depan Siska. "Itu... itu pasti ada kesalahpahaman, Nyonya. Boni pasti memanipulasi data di depan Anda agar terlihat..."
"Cukup, Antonio!" potong Siska dengan suara meninggi, tidak memberi ruang bagi Antonio untuk memfitnah Boni.
"Jaga bicaramu. Di depanmu ini adalah pemilik sah perusahaan, bukan teman sebayamu yang bisa kau tipu dengan bualan!" kata Siska dengan tegas.
Antonio tersentak mundur satu langkah. Kepalanya mulai berputar. Kehilangan proyek ini berarti ia kehilangan bonus besar, dan yang lebih buruk, posisinya di perusahaan terancam merosot di bawah bayang-bayang Boni, asistennya sendiri, adalah tamparan paling keras bagi harga dirinya.
Sambil meraba ego yang hancur, mata Antonio kembali tertuju pada bibir Nyonya G yang terpoles lipstik merah tua. "Senyuman itu... kenapa mirip sekali dengan senyum meremehkan yang sering kubayangkan jika Grizla berani melawanku? Tapi tidak mungkin. Grizla itu penakut, dia bodoh, dan dia tidak punya uang sepeser pun. Mana mungkin dia mengenakan pakaian semahal ini dan duduk di sini?" batinnya menyangkal keras.
"Kenapa Anda terus menatap saya seperti itu, Pak Antonio?" tanya Grizla dingin, memecah kecamuk pikiran suaminya. "Apa ada sesuatu di wajah saya yang menarik perhatian Anda?"
"Ma-maaf, Nyonya G. Saya hanya... merasa Anda mirip dengan seseorang yang saya kenal," aku Antonio jujur, tak mampu lagi menahan rasa penasarannya.
"Oh? Benarkah?" Grizla sedikit memiringkan kepalanya, berpura-pura tertarik. "Siapa? Kekasihmu? Atau... istrimu?"
Mendengar kata 'istri', Antonio mendadak merasa bersalah dan gugup. "Bukan, Nyonya. Hanya orang asing yang tidak penting. Lupakan saja."
"Baguslah kalau tidak penting. Karena saya tidak suka disamakan dengan sembarang orang," sahut Grizla tajam, menusuk tepat di ulu hati Antonio.
Grizla kemudian menegakkan tubuhnya, memberi isyarat kepada Siska. Siska yang paham langsung mengambil sebuah map dokumen dari laci meja dan meletakkannya tepat di depan Antonio.
"Ini apa, Bu Siska?" tanya Antonio bingung.
"Itu adalah surat keputusan resmi," jawab Siska dengan senyum formal yang penuh kemenangan. "Mulai hari ini, posisi Anda dipindahkan untuk membantu divisi operasional lapangan di bawah pengawasan Boni. Anda tidak lagi memegang draf atau keputusan strategis apa pun terkait proyek Arwana Group."
"Apa?! Menjadi bawahan Boni?!" Antonio membelalakkan mata. "Ini keterlaluan! Saya tidak bisa menerima ini! Saya ini manajer!"
"Kalau Anda tidak bisa menerima keputusan pemilik perusahaan," Grizla menyela, suaranya kini sedingin es di kutub, "pintu keluar gedung ini terbuka sangat lebar untuk Anda, Pak Antonio. Anda boleh menulis surat pengunduran diri Anda sekarang juga. Perusahaan ini tidak kekurangan orang berbakat yang tahu cara menghormati atasan."
Antonio membeku di tempat. Pilihannya hanya dua: turun jabatan menjadi bawahan asistennya sendiri dan menahan malu setengah mati, atau keluar dari perusahaan ini dan menjadi pengangguran tanpa sepeser pun uang di kantong, terutama di saat ia sedang membutuhkan dana besar untuk cicil rumah dan menghidupi orangtua dan adiknya.
Dengan tangan gemetar karena menahan amarah yang meledak-ledak di dalam dada, Antonio meraih map tersebut.
Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan kilat kebencian di matanya.
"Baik... saya menerima keputusan ini," ucap Antonio dengan suara bergetar menahan geram.
"Bagus. Silakan keluar dan temui Boni. Dia sudah menunggu laporan dari Anda," usir Siska tanpa perasaan.
Antonio berbalik dan melangkah cepat meninggalkan ruangan dengan perasaan campur aduk. Begitu pintu kayu itu tertutup rapat di belakang Antonio, keheningan ruangan itu pecah.
Grizla perlahan membuka kacamata hitamnya, lalu melepas topi pantai yang menutup wajahnya.
Sepasang matanya yang indah kini memancarkan kepuasan yang luar biasa setelah melihat suaminya bertekuk lutut tanpa daya.
"Bagaimana rasanya, Nyonya Grizla?" tanya Siska sambil tersenyum tulus.
Grizla menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit ruang kerja dengan senyum kemenangan. "Ini baru permulaan, Siska. Aku ingin melihat seberapa lama bajingan itu bisa bertahan merangkak di bawah kakiku sebelum aku benar-benar menghancurkannya hidup-hidup."
kuy.. yg banyak geh ...😭
yg banyak lagi to Les... nanggung bacanya..
tak kasih kopi nih.. biar terang kontestrasinya... 😂😂🤭
yg semangat upnya, tak kirim kopi..💪
jgn kelamaan grizla yg disiksa di rumah hantu itu..