NovelToon NovelToon
Jalanan Di Bawah Sayap Hitam

Jalanan Di Bawah Sayap Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: ArdaKings

Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.

Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Suara dari Kegelapan

Tiga hari berikutnya terasa lebih sunyi dari biasanya — tapi bukan ketenangan yang menenangkan, melainkan keheningan sebelum badai yang selalu terasa lebih berat. Tidak ada lagi laporan tentang orang asing yang terlihat berkeliling, tidak ada lagi tanda-tanda aktivitas mencurigakan di jalanan. Semua seolah kembali normal, tapi bagi mereka yang sudah terlatih membaca situasi, keheningan ini justru menjadi tanda bahwa musuh sudah selesai mengatur posisi dan tinggal menunggu waktu yang tepat untuk bergerak.

Di dalam ruang tengah pabrik tua itu, suasana tetap sibuk namun teratur. Setiap orang tahu tugasnya, dan tidak ada yang berbicara berlebihan — hanya cukup untuk menyampaikan informasi dan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.

Pagi itu, saat matahari baru saja terbit dan menyinari puncak-puncak pohon di kejauhan, Arda tiba-tiba berdiri tegak, matanya terpejam seolah sedang merasakan sesuatu yang tidak terlihat oleh mata biasa. Tubuhnya sedikit menegang, dan di dahinya terlihat butiran keringat halus meski udara pagi masih terasa sejuk.

Kael yang duduk di dekatnya segera menyadari perubahan itu. Ia berdiri dan mendekat dengan hati-hati. “Ada apa, Arda? Kau merasakan sesuatu?”

Arda perlahan membuka matanya, tatapannya masih terfokus ke arah timur, tempat lembah yang disebutkan Bastian dan Lio beberapa hari lalu. “Ada perubahan… energi di sana semakin kental, dan rasanya makin tidak wajar. Dulu energi yang menyimpang seperti ini hanya terasa seperti asap yang mengganggu, tapi sekarang terasa seperti beban yang menekan dada, seolah ingin menyerap segala sesuatu yang ada di sekitarnya.”

Alden dan Kaelin juga segera mendekat, wajah mereka serius. “Apakah artinya ritual mereka sudah hampir selesai?” tanya Alden dengan nada hati-hati.

“Bisa jadi,” jawab Arda perlahan. “Semakin lama mereka melakukannya, semakin kuat energi itu akan menjadi. Kalau mereka berhasil menyelesaikannya sepenuhnya, kekuatan yang mereka miliki akan melampaui apa yang bisa kita bayangkan. Kita tidak bisa menunggu sampai mereka benar-benar siap — kita harus tahu persis apa yang sedang mereka lakukan, seberapa banyak pasukan yang mereka miliki, dan siapa pemimpin yang sebenarnya mengatur mereka di sini.”

Kael mengangguk setuju, lalu menoleh ke arah Niko. “Kau dan tim terbaikmu harus pergi ke lembah itu malam ini. Hanya mengamati, jangan sampai terlibat atau membuat keributan. Cukup bawa kembali gambaran yang jelas, jangan ambil risiko yang tidak perlu.”

Niko mengangguk mantap, matanya berbinar dengan keyakinan. “Siap. Kami sudah hafal jalur sembunyi di sekitar sana, dan tahu titik mana yang paling aman untuk mengintai tanpa terlihat. Kami akan kembali sebelum fajar menyingsing.”

Malam itu, saat kegelapan sudah menyelimuti seluruh wilayah dan hanya cahaya bintang yang menerangi samar, Niko bersama tiga orang yang paling bisa diandalkan bergerak diam-diam meninggalkan pabrik. Mereka mengenakan pakaian berwarna gelap, berjalan menyusuri jalur sempit di antara semak belukar dan pepohonan, menghindari jalan utama yang terbuka.

Perjalanan memakan waktu hampir dua jam, persis seperti yang dikatakan pedagang tua itu. Saat mereka mulai mendekati pinggiran lembah, suara alam yang biasanya terdengar jelas — kicau serangga, desir angin, dan aliran air sungai kecil — perlahan menghilang, digantikan oleh keheningan yang terasa menyesakkan.

Dari balik rimbunnya pohon-pohon besar, mereka bisa melihat dengan jelas ke tengah lembah. Di sana, dikelilingi oleh pohon-pohon yang seolah membentuk lingkaran alami, berdiri lingkaran api yang tidak menyala seperti api biasa — apinya berwarna ungu gelap, memancarkan cahaya yang membuat bayangan terlihat melengkung dan bergerak tidak wajar.

Di tengah lingkaran itu, sekitar dua puluh orang mengenakan jubah hitam berdiri berbaris rapi, kepala mereka tertunduk dan tangan terangkat ke atas. Di depan mereka, berdiri sosok yang lebih tinggi, mengenakan jubah yang lebih tebal dengan hiasan logam berwarna perak yang memantulkan cahaya ungu. Dari mulutnya terdengar suara yang rendah dan berulang, seperti bacaan kuno yang tidak dikenal, dan setiap kali ia mengucapkan satu kalimat, cahaya ungu itu akan berdenyut lebih terang dan energi di sekitarnya terasa makin berat.

Niko dan teman-temannya bersembunyi diam-diam, mengamati setiap gerakan, menghitung jumlah orang, dan mencatat tanda-tanda apa pun yang terlihat. Mereka melihat bahwa di sudut-sudut lembah itu dipasang tiang-tiang batu yang diukir dengan simbol-simbol aneh, seolah berfungsi sebagai penyalur energi. Di belakang lingkaran utama, terlihat tumpukan kotak-kotak besar yang tertutup kain, dan di dekatnya berdiri beberapa orang bersenjata lengkap yang bertugas menjaga.

Namun yang paling membuat mereka merinding adalah apa yang terjadi pada tanah dan tumbuhan di sekitar lingkaran itu — rumput-rumput layu dan berubah warna menjadi cokelat kehitaman, batang pohon terlihat kering dan retak, seolah energi yang dipakai itu menyedot seluruh kehidupan dari tempat itu.

Saat mereka terus mengamati, tiba-tiba sosok pemimpin itu mengangkat tangannya lebih tinggi, dan suaranya menguat sampai terdengar jelas meski dari jarak yang cukup jauh.

“Kekuatan yang selama ini terpendam akan segera menjadi milik kita!” serunya dengan suara yang bergema, bukan hanya terdengar di telinga tapi terasa bergetar di udara. “Benda yang dijaga oleh mereka yang mengaku benar itu tidak akan bisa menahan kita lagi. Dengan energi ini, kita akan mengambilnya, dan menggunakannya untuk menguasai segalanya — tidak ada lagi yang bisa menghalangi jalan kita!”

Mendengar itu, orang-orang di sekitarnya mengangkat suara mereka serentak, menciptakan nada yang menyatu dengan cahaya ungu itu, membuatnya membesar dan menyebar ke segala arah dalam bentuk asap gelap yang perlahan naik ke langit.

Niko segera memberi isyarat kepada teman-temannya untuk mundur perlahan, tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Mereka bergerak mundur selangkah demi selangkah, tetap menjaga jarak aman, sampai akhirnya keluar dari batas pengaruh energi itu dan kembali ke jalur yang aman.

Perjalanan pulang terasa lebih cepat karena mereka sudah hafal jalan, dan hati mereka terasa berdebar bukan karena takut, tapi karena membawa informasi yang sangat penting. Mereka tiba kembali di pabrik tua saat langit baru mulai berubah warna menjadi kelabu, sebelum matahari terbit sepenuhnya.

Semua orang sudah menunggu di ruang tengah, wajah mereka terlihat cemas namun tenang. Begitu melihat Niko dan rombongannya kembali dengan selamat, mereka segera mendekat untuk mendengar laporannya.

Niko menceritakan semuanya secara rinci — posisi mereka, jumlah orang, cara mereka melakukan ritual, tanda-tanda energi yang terlihat, sampai kata-kata yang diucapkan pemimpin mereka. Saat ia selesai bercerita, suasana menjadi hening sejenak, setiap orang mencerna informasi itu dengan kepala dingin.

Alden menghela napas panjang, lalu menggeleng perlahan. “Mereka benar-benar berani menggunakan cara terlarang itu. Energi yang mereka kumpulkan itu bukan kekuatan yang tumbuh dari dalam hati atau kesatuan, melainkan kekuatan yang dipaksa keluar dari kehidupan dan alam sekitar. Itu sebabnya rasanya begitu berat dan menyiksa — ia tidak seimbang, dan akan terus meminta lebih banyak untuk mempertahankan dirinya.”

Arda mengangguk setuju, matanya terlihat lebih serius dari sebelumnya. “Kekuatan seperti ini memang bisa meledak menjadi sangat besar dalam waktu singkat, tapi ia punya kelemahan besar — ia tidak tahan dengan kekuatan yang murni dan seimbang. Kalau kita bisa membuat mereka kehilangan fokus, atau mengganggu aliran energi itu sebelum mereka menyelesaikannya sepenuhnya, kekuatan itu akan kembali tidak teratur dan justru bisa berbalik menyakiti mereka sendiri.”

Kaelin yang sejak tadi mendengarkan dengan saksama akhirnya berbicara, suaranya mantap dan penuh pengalaman. “Mereka pikir dengan mengumpulkan kekuatan sebanyak mungkin mereka akan menang. Tapi mereka lupa bahwa kekuatan yang tidak memiliki dasar yang kuat akan mudah runtuh. Kita tidak perlu bertarung dengan kekuatan yang sama seperti mereka — kita cukup mengandalkan kesatuan kita, dan memanfaatkan kelemahan yang pasti ada pada setiap cara yang salah.”

Kael menatap mereka semua, lalu mengangkat suaranya dengan tegas namun tenang. “Kita tahu sekarang apa yang mereka lakukan, dan apa yang akan mereka harapkan. Kita tidak akan menunggu mereka datang menyerang kita di sini, tapi kita juga tidak akan menyerang secara sembarangan. Kita akan menunggu saat yang tepat — saat mereka merasa paling kuat, saat mereka paling lengah karena merasa yakin diri. Saat itulah kita akan bertindak, bukan dengan kekerasan semata, tapi dengan cara yang membuat rencana mereka hancur dari dalam.”

Seharian itu mereka habiskan untuk menyusun rencana yang lebih rinci, membagi tugas dengan lebih jelas, dan memastikan setiap orang memahami apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Mereka tahu bahwa pertarungan yang akan datang ini bukan hanya soal kekuatan fisik, tapi juga soal kepercayaan, ketenangan pikiran, dan keyakinan pada jalan yang benar.

Saat malam tiba lagi, suasana di pabrik terasa lebih tenang namun juga lebih terjaga. Di lembah yang jauh itu, cahaya ungu itu terus menyala makin terang, seolah menandakan bahwa kekuatan yang dikumpulkan semakin mendekati puncaknya. Namun di dalam tempat perlindungan itu, mereka tidak merasa takut atau ragu — mereka sudah tahu apa yang dihadapi, sudah mempersiapkan segala sesuatunya, dan tahu bahwa selama mereka tetap bersatu dan memegang prinsip yang benar, mereka akan mampu melewati ujian ini.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!