NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romantis / Tamat
Popularitas:36.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.

Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.

Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.

Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.

Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEJUTAN YANG MANIS.

Suara isak tangis di seberang telepon terdengar semakin histeris, memecah keheningan kamar yang semula terasa begitu hangat. Haikal masih menempelkan ponselnya di telinga dengan rahang yang mengeras.

"Haikal... tolong aku, Haikal," ratap suara wanita di seberang sana, tersedu-sedu. "Aku tahu aku salah karena dulu selalu mengejarmu dengan cara yang salah. Tapi malam ini aku benar-benar butuh bantuanmu. Mobilku mogok di jalanan sepi, dan aku ketakutan sekali. Tolong datang kemari, Kal... aku mohon..."

Ardiah yang duduk di samping Haikal bisa mendengar suara itu dengan samar. Dadanya mendadak berdesir aneh. Ada sedikit rasa cemas yang menyelinap, bukan karena takut pada wanita itu, melainkan takut jika fokus Haikal akan teralih dari pernikahan mereka yang baru saja membaik.

Namun, reaksi Haikal sungguh di luar dugaan. Tanpa ada keraguan sedikit pun, pria itu menjauhkan ponsel dari telinganya, menekan tombol loudspeaker agar Ardiah bisa mendengar percakapan mereka secara transparan, lalu berbicara dengan nada suara yang teramat dingin dan datar.

"Nadia, dengarkan aku baik-baik," potong Haikal tajam, menghentikan tangisan wanita bernama Nadia tersebut. "Jika mobilmu mogok, hubungi layanan derek resmi atau polisi. Jangan hubungi aku. Aku adalah suami orang, dan tidak pantas bagi seorang pria beristri mendatangi wanita lain di larut malam seperti ini."

"Tapi, Haikal! Kita kan pernah..."

"Kita tidak pernah punya hubungan apa-apa, Nadia," sergah Haikal lagi, kali ini nadanya semakin tegas dan tidak terbantah. "Sejak dulu, saat kamu mengejarku mati-matian, jawabanku selalu sama. Hatiku tidak pernah beralih pada siapa pun. Dari dulu, sekarang, hingga masa depan nanti, di hatiku hanya ada satu nama wanita, yaitu Ardiah, istri sahku. Jadi, tolong hapus nomorku dan jangan pernah meneleponku lagi."

Pip.

Haikal langsung memutus panggilan secara sepihak. Tanpa membuang waktu, jemarinya bergerak lincah di atas layar ponsel untuk memblokir nomor tidak dikenal tersebut secara permanen. Setelah selesai, ia melempar ponselnya begitu saja ke atas meja nakas, seolah benda itu adalah sampah yang tidak penting.

Ardiah tertegun di tempatnya, menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya. Ketegasan Haikal dalam menolak wanita dari masa lalunya benar-benar membuat hati Ardiah bergetar hebat. Tidak ada keraguan, tidak ada basa-basi, dan tidak ada celah sedikit pun yang ditinggalkan pria itu untuk wanita lain.

Haikal memutar tubuhnya menghadap Ardiah. Begitu matanya beradu dengan netra mata sang istri, ekspresi wajahnya yang semula sedingin es instan mencair, berganti dengan tatapan yang teramat lembut dan hangat. Ia meraih kedua tangan Ardiah, menggenggamnya erat-erat.

"Kak, maaf ya karena panggilan tidak penting tadi sempat merusak suasana kita," ucap Haikal pelan, ibu jarinya mengusap punggung tangan Ardiah dengan penuh kasih sayang. "Aku tidak mau Kakak berpikir yang tidak-tidak. Nadia itu hanya wanita masa lalu yang tidak pernah kuharapkan kehadirannya. Bagiku, di dunia ini tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisi Kak Diah di hidupku."

Ardiah merasakan sudut matanya mendadak hangat. Rasa tidak aman yang sempat menyelinap di dadanya kini menguap tak bersisa, digantikan oleh rasa percaya yang semakin mengakar kuat. "Terima kasih, Haikal... terima kasih karena selalu menjagaku, bahkan dari ketakutan yang belum sempat kuucapkan."

Haikal tersenyum manis, lalu mengecup kening Ardiah dengan begitu lama dan penuh kasih sayang, menyalurkan seluruh rasa cinta yang ia punya ke dalam kecupan suci tersebut.

Keesokan harinya, rutinitas kantor kembali berjalan seperti biasa. Namun, ada yang berbeda dengan perlakuan Haikal di tempat kerja. Meskipun di depan para karyawan mereka tetap menjaga profesionalitas antara CEO dan Kepala Divisi Desain, Haikal selalu mencari cara kecil untuk membuat hari-hari Ardiah dipenuhi dengan hal-hal romantis yang manis.

Siang itu, saat Ardiah sedang sibuk memeriksa cetak biru proyek terbaru di meja kerjanya, seorang petugas resepsionis mengetuk pintu ruangannya sembari membawa sebuah buket bunga mawar putih yang sangat indah dan wangi.

"Ibu Ardiah, ada kiriman bunga untuk Ibu," ucap petugas tersebut sembari meletakkan buket besar itu di atas meja.

Ardiah mengernyitkan dahi, mengambil kartu ucapan kecil yang terselip di antara kelopak bunga. Begitu membuka lipatannya, tulisan tangan yang sedikit berantakan namun familiar langsung menyapa matanya:

Semangat kerjanya, Kepala Divisi utusan hatiku. Jangan lupa makan siangnya, ya. Kalau telat makan nanti lambungku ikut sakit memikirkanmu. Dari suamimu yang paling tampan sedunia.

Ardiah tidak bisa menahan kedutan di bibirnya. Sebuah senyuman manis nan lebar langsung terukir di wajah cantiknya. Tingkah tengil namun super romantis dari Haikal sukses membuat seluruh rasa lelah akibat pekerjaan mendadak sirna begitu saja.

Tidak berhenti sampai di situ, tepat saat jam makan siang tiba, pintu ruangan Ardiah tiba-tiba terbuka tanpa diketuk. Sosok Haikal melangkah masuk dengan santai, namun kedua tangannya tampak penuh membawa dua kotak bekal makanan premium dari restoran bintang lima.

"Selamat siang, Ibu Desainer," sapa Haikal jenaka sembari mengunci pintu ruangan kerja Ardiah dari dalam.

Ardiah menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang suami. "Haikal, ini di kantor. Kalau ada karyawan yang melihatmu mengunci pintu kamar kerja bawahan, nanti jadi gosip."

"Biar saja, kan bosnya aku," sahut Haikal cuek tanpa beban. Ia menata makanan di atas meja sofa ruangan kerja Ardiah, lalu menarik tangan istrinya agar duduk di sampingnya. "Lagipula, aku ke sini untuk menunaikan tugasku sebagai suami, yaitu memastikan makmumku ini tidak telat makan dan mendapatkan asupan gizi terbaik."

Haikal menyendokkan sepotong daging sapi panggang yang lembut, lalu mengarahkannya tepat di depan bibir Ardiah. "Ayo, buka mulutnya, Sayang. Aku suapi."

Wajah Ardiah kembali merona merah. Perlakuan manis yang bertubi-tubi dari Haikal sejak semalam membuat benteng pertahanan di dalam hatinya benar-benar luluh, runtuh tak bersisa. Ia tidak lagi menolak atau memprotes. Dengan perlahan, Ardiah menerima suapan dari suaminya sembari menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata elang yang selalu menatapnya dengan penuh pemujaan itu.

"Bagaimana? Enak?" tanya Haikal dengan binar mata cerah setelah Ardiah menelan makanannya.

Ardiah mengangguk perlahan, senyumannya merekah begitu indah. "Iya, sangat enak. Terima kasih, Haikal."

Haikal terpaku menatap senyuman tulus istrinya yang kini terasa begitu lepas, tanpa ada lagi bayang-bayang keraguan atau ketakutan masa lalu di sana. Pria itu meletakkan sendoknya, lalu membawa wajahnya mendekat ke arah Ardiah, menatap bibir ranum sang istri yang masih menyisakan lengkungan senyum manis.

"Kak... bolehkah aku meminta hadiah karena sudah menjadi suami yang baik dan penurut hari ini?" bisik Haikal lirih dengan nada suara yang mendadak berubah serak dan penuh godaan, membuat atmosfer di dalam ruangan kantor yang tertutup itu mendadak berubah menjadi sangat intim dan mendebarkan. Apakah Ardiah akan memberikan hadiah yang diinginkan suaminya?

1
sunaryati jarum
Jika sudah lahir jadi pangera,ya Banyak yang ikut merawat dan melayani
sunaryati jarum
Semoga sehat bayi dan ibunya
sunaryati jarum
Bu anak jika sudah berumah tangga jangan disetir atau ikut campur jika bukan untuk mendamaikan,saat kurang akur.Serta jangan asal nuduh sebelum ada bukti akurat.
Lia siti marlia
apa thorr udah tamat aja kok gak kerasa yah aku bacanya 🤭🤭🤭saking seru haru nya cerita haikal sama ardiah makasih thorr di tunggu judul barunya 🥰🥰🥰
Lia siti marlia
ais haikal bisa aja 🤭🤭🤭
memang yah bu nurul kalau penyesalan pasti datang terlambat 😁😁😁
Lia siti marlia
bener bener yah c haikal.kalau aku jadi ardiah udah aku jambak kamu 😁😁😁
Lia siti marlia
ardiah yang mau lahiran aku yang deg degan 🤭🤭🤭🤗🤗
Lia siti marlia
cie ikal dapat jagoan🤗🤗 nanti jagoan mu kalau udah lahir kamu jamgam cemburu yah karna di duain istrimu 🤭🤭🤭
Danny Muliawati
rasain nenek tua angkuh d sombong kena lo
Jaya Fandi
mantap Haikal,,lgsg dasdes,,
Lia siti marlia
hahaha bagus haikal orang sombong harus di balas dengan cara elegan supaya tahu diri 😁😁😁
sunaryati jarum
Nanti sifat anaknya niru siapa,Ya.
sunaryati jarum
Selamat semoga sehat baby dan ibunya
Eliermswati
haikal nnti q ksh permen y jangan nangis oke😂😂😂 dah mau jd ayah sifatnya g berubah ikal q jd ikut ketawa😂😂smngt thor up nya
Lia siti marlia
udah mau jadi ayah masih aja manja ikal ikal 🤭🤭🤭
Lia siti marlia
selamat yah haikal ardian kalian akan jadi orang tua 🤗🤗🤗 🥺🥺🥺
Jaya Fandi
m7dah mudahan hamil anak jembar kal
Danny Muliawati
hamil spt nya yah
Anonim
Cepet² ya updatenya thor
sunaryati jarum
Sudah tumbuh kecebong kamu Haikal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!