NovelToon NovelToon
Ayah Balqis

Ayah Balqis

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Penyelamat
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.

Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.

Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.

Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LIndungi Balqis

BAB 32: LINDUNGI BALQIS

Hujan malam itu turun seolah ikut menangisi nasib rumah kecil di sudut Cirebon ini. Angin berhembus kencang, mengetuk-ngetuk jendela kayu yang catnya sudah mengelupas, membawa hawa dingin yang menyusup hingga ke tulang-tulang Rudini yang masih lumpuh separuh.

Di atas kasur tipis, Balqis tidur pulas. Napasnya teratur, wajahnya bersih dari kerut kekhawatiran. Ia bermimpi indah, mungkin tentang sekolah baru, atau tentang mainan yang belum pernah ia minta pada Ayah.

Rudini menatap anaknya lekat-lekat. Tangannya yang gemetar akibat sisa serangan stroke terulur pelan, ingin mengusap rambut Balqis, tapi berhenti di tengah jalan. Takut tangannya yang kaku justru membangunkan si kecil.

"Apa aku cukup kuat?" bisik hatinya, suaranya parau tertelan sepi. "Jika suatu hari badai itu datang lebih kencang, jika obat-obatan ini habis, jika tanganku lumpuh total... siapa yang akan melindungimu, Nak?"

Tiba-tiba, ingatan itu datang lagi. Seperti pisau tumpul yang mengiris dada perlahan.

Wajah istrinya. Suara pintu yang tertutup rapat minggu lalu. Kata-kata terakhir yang masih bergema di telinga Rudini hingga hari ini: "Maaf, Din. Aku nggak bisa hidup begini. Stroke-mu... kita nggak punya masa depan lagi. Aku harus cari jalan keluarku sendiri."

Dan kemudian, keluarga... saudara-saudara kandungnya sendiri. Mereka yang dulu sering tertawa bersama di meja makan, kini menjauh seolah Rudini membawa wabah mematikan. Telepon tidak diangkat. Pesan tidak dibalas. Mereka memilih buta dan tuli terhadap perjuangan seorang ayah tunggal yang sedang bertarung nyawa demi anaknya.

Rudini mencoba mengepalkan tangan kanannya. Sakit. Jarinya kaku. Ia mencoba mengangkatnya lagi. Masih sakit. Air mata tanpa sadar menetes di pipinya yang keriput, jatuh membasahi bantal. Bukan karena sakit fisik. Tapi karena perihnya dikhianati oleh darah daging sendiri saat paling butuh.

"Mereka bilang aku tidak punya masa depan," gumam Rudini, suaranya bergetar menahan isak. "Mereka bilang stroke adalah akhir dari segalanya. Mereka pergi satu per satu, meninggalkan aku dan Balqis sendirian di dunia yang kejam ini."

Rudini menoleh ke arah foto lama Almarhum Ayahnya yang tergantung miring di dinding. Wajah sang Ayah tampak tenang, seolah tersenyum menyemangati.

"Ayah..." panggil Rudini dalam hati. "Dulu Ayah selalu bilang, ujian terbesar bukan saat kita dijatuhkan, tapi saat kita ditinggalkan orang terdekat saat terjatuh. Ternyata Ayah benar. Mereka pergi karena takut susah. Mereka buta melihat harta karun yang Kau titipkan padaku: hati yang sabar dan cinta pada Balqis."

Rudini menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa tenaga dan harga dirinya. Ia menatap Balqis lagi. Tatapan itu berubah. Dari sedih, menjadi tajam. Menjadi baja.

"Tapi mereka salah besar," desisnya, kali ini dengan nada tegas. "Mereka pikir dengan pergi, aku akan hancur? Mereka pikir dengan menjauh, aku akan menyerah?"

Rudini memandangi langit-langit kamar yang bocor, seolah menantang seluruh alam semesta.

"Dengar baik-baik, wahai dunia yang menjadi saksi! Saksikanlah kekejaman kalian yang tanpa perasaan pada aku dan anakku! Catatlah setiap langkah kaki kalian yang menjauh! Tapi ketahuilah satu hal..."

Air matanya kering. Matanya berapi-api.

"Justru karena kalian pergi, aku dipaksa untuk terbang sendiri! Justru karena kalian menganggapku tidak punya masa depan, aku akan menciptakan masa depan itu dengan tanganku sendiri! Dengan setiap kata yang aku tulis! Dengan setiap napas yang masih Allah izinkan!"

Rudini meraih laptop tuanya di atas meja. Jari-jarinya yang kaku mulai menari di atas keyboard. Klik. Klik. Klik. Suaranya terdengar seperti detak jantung baru baginya.

"Aku tidak butuh belas kasihan kalian. Aku tidak butuh persetujuan kalian. Cukup Allah yang menyertaiku. Cukup Balqis yang membutuhkanku. Cukup doa Almarhum Ayah yang melindungiku dari sana."

Malam itu, di tengah hujan deras dan kesepian yang mencekam, seorang ayah tunggal yang divonis sakit keras justru merasa paling sehat. Sehat karena hatinya penuh tujuan. Sehat karena ia tahu, selama ia masih bisa menulis, Balqis akan selalu terlindungi. Tulisan-tulisannya akan menjadi benteng kokoh yang tidak bisa ditembus oleh kekejaman manusia mana pun.

Fajar mulai menyingsing. Hujan reda. Rudini menutup laptopnya dengan lelah tapi puas. Ia berjalan tertatih mendekati tempat tidur Balqis, lalu membungkuk perlahan mencium kening anaknya.

"Tidurlah, Nak," bisiknya lembut, air mata bahagia kini menggantikan air mata sedih. "Ayah mungkin tidak bisa menjanjikan dunia yang sempurna. Ayah mungkin tidak bisa menjanjikan kekayaan mendadak. Tapi Ayah berjanji, selama napas masih ada, Ayah akan terus menulis, terus berjuang, dan terus menjadi perisaimu. Biarkan mereka pergi. Biarkan mereka menyesal nanti. Karena Ayah akan buktikan, cinta seorang ayah jauh lebih kuat daripada apapun."

Balqis tersenyum dalam tidurnya, seolah mendengar janji itu.

Dan Rudini? Ia kembali ke mejanya, siap menyambut hari baru. Siap melawan dunia, demi satu senyuman itu.

1
Wawan
Semangat ✍️
Ray Penyu: Terima kasih, Mas Wawan. Komentar "Semangat" dari Mas berarti banget buat saya. Cerita ini adalah kisah nyata saya — istri saya sedang disiksa di Malaysia, ayah saya baru meninggal, dan saya sakit stroke. Tapi saya terus menulis karena saya percaya Allah tidak meninggalkan hamba-Nya yang berjuang. Doakan istri saya selamat. Doakan saya kuat. Terima kasih sudah peduli. 🙏
total 1 replies
Ray Penyu
Siap, Kak Alana! 👍 Terima kasih sudah menemani sampai bab ini. Bab selanjutnya sedang dalam proses. Doakan lancar ya perjalanan Ayah Balqis ini. Salam hangat! ✨
Alana kalista
lanjut
Ray Penyu
baca sampai habis yah kak 🙏
Hasyim Syawal
Okeh Nice karya nya bagus sekali kak
Ray Penyu: makasih kak🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!