Teratai Di Atas Abu
Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.
Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.
Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.
Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Teratai Di Atas Abu
Bab 16 — Nama yang Mulai Terdengar
Berita tentang satu pukulan itu menyebar bagai api yang membakar hutan kering. Hanya dalam waktu sehari, seluruh Sekte Gunung Awan Putih, dari murid rendahan di lereng bawah hingga penghuni aula utama di puncak gunung, sudah mengetahui nama Lian Hua.
Semua orang terkejut tak percaya. Bagaimana mungkin pemuda yang selama ini dianggap sampah, yang bakatnya dinilai terendah dalam sejarah ujian masuk, yang bertahun-tahun hanya dikenal sebagai anak yang diam dan diinjak-injak, bisa menjatuhkan Zhao Feng — murid senior yang berbakat, punya dasar kuat, dan dikenal sebagai salah satu yang terbaik di angkatannya — hanya dengan satu gerakan sederhana?
Pendapat pun terbelah dua. Sebagian besar murid rendahan dan murid baru merasa puas dan kagum. Selama ini, mereka pun sering diperlakukan semena-mena oleh murid-murid angkatan atas yang sombong, terutama pengikut Zhao Feng. Kemenangan Lian Hua seolah menjadi kemenangan mereka juga. Di kediaman bawah, nama Lian Hua sering disebut dengan nada hormat. Ada yang bilang ia menyembunyikan kekuatan, ada yang bilang ia memiliki rahasia latihan khusus, ada pula yang mulai berdatangan ingin mengenal lebih dekat.
"Kau lihat tidak? Pukulan itu... cepat dan berat sekali. Bukan tenaga biasa itu!"
"Dulu aku sempat kasihan padanya, ternyata dia yang paling pandai bersembunyi. Diam-diam saja sudah sehebat ini."
"Mulai sekarang, jangan ada yang berani memandang rendah Lian Hua lagi. Dia bukan orang sembarangan."
Namun di sisi lain, kelompok murid inti dan pengikut Zhao Feng merasa tak terima dan iri hati. Bagi mereka, kejadian ini adalah penghinaan besar. Bagaimana bisa seorang anak kampung, murid luar, mengalahkan orang yang mereka anggap tinggi derajatnya? Mereka berusaha mencari celah, menyebarkan kabar bahwa Zhao Feng lengah, atau Lian Hua menggunakan senjata rahasia atau ilmu hitam, bahkan ada yang berani bilang pertarungan itu tak adil. Tapi tak ada yang bisa membantah kenyataan di depan mata: Zhao Feng terbaring sakit, tulang dadanya retak, dan butuh waktu lama untuk pulih.
Di tengah keramaian dan pandangan beragam itu, Lian Hua tetap sama seperti biasanya. Ia tak berubah sikap sedikit pun. Ia tetap tinggal di gubuk reyotnya, tetap bangun sebelum fajar, tetap melakukan tugas-tugasnya, dan tetap berlatih sendirian di tempat sepi. Jika ada yang menyapanya dengan hormat, ia membalas dengan sopan namun singkat. Jika ada yang menatap sinis atau bergumam menghina, ia pura-pura tak dengar dan berlalu saja. Ia tahu, kekaguman atau kebencian mereka tak ada artinya baginya. Ia tak peduli apa yang mereka pikirkan. Baginya, semua ini hanya langkah kecil dalam perjalanan panjang menuju tujuannya: kekuatan mutlak, dan pembalasan dendam.
Hanya satu orang yang ia perlakukan berbeda. Setiap kali berpapasan dengan Gu Qing Cheng, matanya akan melembut sedikit. Gadis itu tetap sama, tak berubah sikapnya. Ia tak ikut memuji berlebihan, tapi juga tak pernah menoleh ke lain arah. Kadang mereka berpapasan di jalan, hanya saling bertukar pandang dan anggukan kecil, namun di antara keduanya kini terjalin rasa saling percaya yang diam-diam menguat.
Peristiwa ini tak hanya mengguncang murid-murid, tapi juga menarik perhatian para tetua di aula utama.
Sore itu, di Ruang Dewan yang megah dan tenang, lima orang tetua duduk melingkar di meja batu. Di antaranya ada Tetua Bai, yang dulu menerima Lian Hua, dan Tetua Utama yang berwajah serius. Di tengah ruangan, berdiri pengurus bagian catatan yang sedang memaparkan segala hal yang diketahui tentang pemuda bernama Lian Hua.
"Menurut catatan pendaftaran, Lian Hua berasal dari daerah terpencil di utara. Ia datang sendirian, tak ada keluarga, tak ada guru, tak ada ikatan apa pun. Saat ujian masuk, pengukuran bakatnya menunjukkan nilai terendah, hampir tak ada hawa sama sekali. Namun sejak masuk, ia selalu mengerjakan tugas berat tanpa mengeluh, bertahan ujian tangga seribu anak dengan kondisi luar biasa, dan baru saja... mengalahkan Zhao Feng yang berada di tingkat Dasar Penyempurnaan."
Tetua utama mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, wajahnya penuh keraguan. "Ada yang aneh di sini. Seseorang yang bakatnya nyaris tak ada, tak punya guru, dan tak diajari ilmu sekte... mustahil bisa mencapai tingkat ini dalam waktu singkat. Pukulan yang dilaporkan saksi bukan sekadar kuat, tapi memiliki kepadatan raga yang jarang dimiliki bahkan oleh murid inti. Tenaganya berat, dalam, dan sangat murni. Ini bukan hasil latihan biasa."
Tetua Bai yang sejak awal diam, akhirnya bersuara pelan namun tegas. "Aku sudah mengamati dia lama. Anak ini menyimpan banyak rahasia. Matanya tak pernah berkilau oleh ambisi kosong, tapi penuh keteguhan yang dalam. Dan saat ia dihukum di Halaman Angin Utara, kalian semua pasti merasakannya... aliran energi spiritual seluruh gunung bergolak hebat, berpusat tepat di tempat ia berlutut. Itu bukan kemampuan anak biasa."
Tetua lainnya saling pandang, wajah mereka serius.
"Jika dia memang menyembunyikan bakat besar, atau mewarisi ilmu kuno dari aliran yang hilang... maka dia bisa menjadi aset terbesar sekte kita," ujar salah satu tetua. "Tapi jika dia membawa niat buruk, atau berasal dari aliran sesat... maka dia adalah bahaya besar yang bersembunyi di tengah kita."
"Selidiki semuanya," perintah Tetua Utama dengan suara berat. "Cari tahu asal-usulnya yang sebenarnya, dari mana ia belajar, apa teknik yang dipakainya, dan apa tujuan sesungguhnya ia masuk ke sini. Jangan ada satu hal pun yang terlewat. Anak ini... bukan sembarangan murid luar. Dan nama Lian Hua... mulai hari ini, harus diawasi dengan saksama."
Di luar aula, angin gunung bertiup tenang. Lian Hua berjalan menyusuri jalan setapak menuju gubuknya, tak tahu bahwa di balik dinding batu tebal itu, para penguasa sekte sedang membicarakan nasibnya. Ia hanya tahu satu hal: topengnya sudah sedikit terbuka. Ia tak bisa lagi bersembunyi selamanya di balik bayang-bayang. Mulai hari ini, ia harus berjalan dengan kepala tegak, karena matanya kini tertuju oleh banyak orang — baik yang ingin membantunya, maupun yang ingin menjatuhkannya.
Dan di dalam hatinya, ia tersenyum dingin. Biarkan saja mereka menyelidiki. Biarkan saja mereka tahu. Karena semakin banyak yang tahu siapa aku... semakin cepat nama Klan Teratai Suci bangkit kembali, dan semakin dekat saat aku akan menuntut darah yang terhutang.